HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-18)
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – perhiasan bagi penuntut ilmu (bagian-1)
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – perhiasan bagi penuntut ilmu. (bagian-2)
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-3)
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-4)
- *HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-5)
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-18)
- *HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-6 )
- *HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-7 )
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-8 )
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-9 )
Diterbitkan pertama kali pada: 05-Jun-2022 @ 06:14
2 menit membaca*HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-18)
Karya Syaikh Bakar Abu Zaid
Ustadz Muhammad Anwar, Lc MPd
5 Dzulqaidah 1443H
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
Para penuntut ilmu dalam hal ibadah tidak boleh lepas dari tuntunan Al Qur’an dan Sunnah sesuai penjelasan para salafus Shalih, yaitu para sahabat radhiyallahu anhum, para Tabiin serta tabiut Tabiin..
Kita lanjutkan..
➡️ *43 Menyempurnakan peringkat setiap perangkat Ilmu*
Seseorang tidak mungkin menjadi ahli dalam menuntut ilmu bila tidak mempunyai kelengkapan alat dalam ilmu tersebut, seperti unta masuk lubang jarum.
Misalnya dalam fiqih, kita harus memadukan antara ushul fiqih dan fiqih itu.
Ilmu hadits harus dengan memadukan ilmu riwayat, diroyah, ulumul hadits dst..
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
{الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاوَتِهِ}
Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya. (Al-Baqarah: 121)
➡️ *44. HIASI diri dengan amal*
🖍️Tanyakanlah pada diri kita, sejauh mana kita punya tanda-tanda ilmu yang bermanfaat..
1. Mengamalkan ilmu
2. Tidak suka dipuji, tidak suka direkomendasikan, bahkan sombong
3. Semakin tinggi rasa tawadhu setiap kali bertambah ilmu (ilmu padi).
4. Menghindari sifat ambisius terhadap jabatan kepemimpinan, popularitas dan dunia
5. Menghindari klaim sebagai ulama (hindari kata-kata ‘saya lebih tahu’)
6. Berprasangka buruk kepada diri sendiri dan berprasangka baik kepada orang lain, berhati-hati jangan sampai mencela mereka.
🔸Abdullah bin Mubarak, jika disebutkan akhlak para salaf, beliau bersenandung dengan syair.
“Jangan bandingkan keadaan kita dengan keadaan mereka. Orang sehat ketika berjalan tidaklah seperti orang cacat misalnya lumpuh”.
Ibnul Mubarak adalah ulama besar dari kalangan Tabiin.
➡️ *45. ZAKAT/infak ILMU*
Zakat ilmu yaitu dengan mengajarkannya.
Dengan cara menyampaikan kebenaran, amar ma’ruf nahi munkar, dengan mempertimbangkan antara kemaslahatan dan kemudharatan, ajarkan ilmu atas dasar kecintaan memberi manfaat, memanfaatkan kedudukan kita (jabatan) untuk kebaikan, dan memberikan pertolongan kepada kaum muslimin dalam menghadapi berbagai musibah dalam kebenaran dan kebajikan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu):
sedekah jariyah,
ilmu yang bermanfaat,
atau anak yang sholeh yang akan mendoakannya” (HR. Muslim)
Para ulama menjelaskan bahwa ketiga hal (diatas) tidak akan terhimpun kecuali pada diri seseorang yang ajarkan ilmunya.
Perhiasan ini (zakat ilmu) adalah modal utama bagi penuntun ilmu.
Ilmu akan bertambah bila disampaikan dan ilmu akan berkurang bila ditahan dan menyembunyikan ilmu adalah suatu kecacatan.
Jangan punya anggapan bahwa jaman yang rusak ini, banyaknya kaum fasik menjadi penghalang kita menyampaikan ilmu.
➡️ *46. MEMULIAKAN para Ulama*
Diantara hal paling penting ketika menghormati ulama adalah dengan menjaga ilmu yang diajarkan ulama.
Rasulullah ﷺ bersabda :
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta mencabutnya dari hati manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ‘ulama. [Al-Bukhari ; Muslim]
Menulis dan menyebarkan ilmu yang diajarkan ulama adalah bentuk penjagaan ilmu tersebut, bentuk dalam memuliakan ulama.
Semoga bermanfaat..
##$$-aa-$$##

