TematikUstadz Muhammad Anwar, Lc MPd

HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-19)

This entry is part 19 of 21 in the series Hilyah_thalibil_ilmi

Diterbitkan pertama kali pada: 19-Jun-2022 @ 06:21

3 menit membaca

*HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-19)
Karya Syaikh Bakar Abu Zaid
Ustadz Muhammad Anwar, Lc MPd
20 Dzulqaidah 1443H
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

➡️ *46. KEMULIAAN ULAMA*

Allah mengangkat ilmu itu tidak dengan mencabut dari dada-dada manusia tapi dengan wafatnya para ulama.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan.“
HR Bukhari

Berhias diri dengan kemuliaan para ulama, dengan sikap menjaga dan menghormati ilmu serta menjaga kemuliaan.

Ulama 4 mahdzab itu sampai sekarang selalu dijaga oleh para pengikutnya..
Padahal selain 4 ulama mahdzab itu ada yang lebih faqih dari mereka..

Sejauh mana seseorang menghormati ulama, adalah sejauh mana orang tersebut menjaga dan mengamalkan ilmu yang diperoleh dari ulama tersebut.

➡️ *47. MENJAGA ILMU*

🖍️ yaitu dengan menjaga agama Allah.

Syaikh berkata, “Jika Engkau sampai pada satu kedudukan yang istimewa, ketahuilah dan ingatlah bahwa engkau bisa sampai pada kedudukan itu dengan ilmu. Itu semua karunia dari Allah kemudian sebab ilmu yang engkau dapatkan”.

Apabila seseorang mendapat kedudukan atau jabatan di suatu pemerintahan maka jagalah ilmu itu. Misalnya jaga tetap jujur dst.

Jangan sampai menjadi orang yang tidak mempertahankan agama nya karena kedudukan itu.. Jangan menjadi berat dalam menyampaikan kebenaran.
Kecintaan kepada jabatan membuat seseorang bisa senang kompromi dengan kebatilan.

🔸Ingatlah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ

Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu.

🔸TuNabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺗَﻌَﺮَّﻑْ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺮَّﺧَﺎﺀِ ﻳَﻌْﺮِﻓُﻚ ﻓِﻲ ﺍﻟﺸِّﺪَّﺓِ

“Kenalilah (ingatlah) Allah  di waktu senang pasti Allah  akan mengenalimu di waktu sempit.” (HR. Tirmidzi)

Janganlah takut untuk kehilangan jabatan karena membela agama Allah dengan mengamalkan ilmu yang diperoleh.

Tidak sedikit orang yang terhalang dari sikap menjaga ilmu saat berkuasa, dan hanya kembali kepada Allah saat pensiun.
Walaupun taubat ini juga taubat yang syari, tetapi kualitas amalan agama orang yang berkuasa itu sama saja dengan tukang sapu atau orang biasa lainnya.
Saat berkuasa dia tidak memanfaatkan kekuasaan supaya agamanya bermanfaat untuk orang lain.

🔸 Ingatlah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam..

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ . رواه بيهقى

Nabi ﷺ bersabda, “Jadilah engkau orang berilmu,
atau (jika tidak mampu) jadilah orang yang menuntut ilmu,
atau (jika tidak mampu) jadilah orang yang mau mendengarkan ilmu,
atau (jika tidak mampu) jadilah orang yang menyukai ilmu.
Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka.” (HR. Baihaqi).

Jadikan jabatan itu untuk menjaga agama Allah.

➡️ *48. BASA-BASI, BUKAN KOMPROMI*

Kompromi dengan kebatilan adalah akhlak yang tercela, adapun basa-basi tidak demikian. Tetapi jangan mencampurkan keduanya karena akan mendorong adanya kemunafikan.

Sikap kompromistis itu mencederai agama.

Basa-basi itu dengan menyampaikan kebenaran secara bertahap. Tunggu saat yang tepat.

Begitu juga yang Rasulullah ﷺ lakukan, mengingkari kemungkaran dimulai dengan kemungkaran yang terbesar..

➡️ *49. SENANG KOLEKSI KITAB*

Ilmu itu mempunyai kemulian, dan kebutuhan kita akan ilmu sangat besar seperti butuhnya badan kita akan nafas.

Kita ini terdiri dari jasad dan jiwa. Kesehatan jiwa adalah dengan ilmu. Ilmu didapatkan dari kitab-kitab (buku).

Kekurangan seseorang akan terlihat seusai kadar kekurangan ilmu.

➡️ *50. NILAI ISI PERPUSTAKAAN*

Kita harus selektif dalam memilih buku untuk kita koleksi.

Syaikh Bakar Abu Zaid memberi referensi untuk koleksi kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim Al Jauziyyah.

Jika tidak bisa diterima oleh keluarga, bisa dengan kitab-kitab dari Ibnu Katsir, Imam Nawawi, Ibnu Hajar Asqolani dst.

➡️ *51. INTERAKSI DENGAN KITAB*

Buku-buku yang sudah kita beli harus ada interaksi dengan kita. *Setiap kita beli buku baru, sebelum kita taruh di rak buku, maka minimal baca dulu Muqaddimah buku tersebut.*
Karena sering dijumpai istilah-istilah dalam kitab itu dijelaskan dalam Muqaddimah.

➡️ *52. PERLAKUAN TERHADAP BUKU*

Setelah baca Muqaddimah, kita baca daftar isi. Karena dengan baca daftar isi kita suatu saat akan membaca buku itu bila kita perlu mengetahui lebih detail suatu bab.

➡️ *52. HINDARI KETIDAKJELASAN TULISAN*

Penuntut ilmu harus berusaha menghilangkan kesalahan-kesalahan dalam tulisan. (terutama tulisan arab)

1. Menulis dengan jelas
2. Menulis berdasarkan kaidah penulisan
3. Memperjelas tanda-tanda huruf (misalnya tanda titik)

Habbata sauda… Bisa tertulis hayyatasauda (ular hitam).

4. Memberi harakat yang jelas

جنة

Bila dibaca
Jannah = surga
Jinnah = kelompok jin
Junnah = perisai

5. Menuliskan tanda penomoran.

Semoga bermanfaat..

##$$-aa-$$##

Digita Template

Hilyah_thalibil_ilmi

HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-18) HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-20)
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?