TematikUstadz Muhammad Anwar, Lc MPd

*HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-6 )

This entry is part 6 of 21 in the series Hilyah_thalibil_ilmi

Diterbitkan pertama kali pada: 21-Nov-2021 @ 05:52

5 menit membaca

*HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-6 )
Karya Syaikh Bakar Abu Zaid
Ustadz Muhammad Anwar, Lc MPd
15 Rabi’ul Akhir 1443H

Yang telah dipelajari Qonaah, zuhud, hiasi diri dengan ilmu, santun, sopan… Memiliki sifat laki-laki, tidak mudah menyerah

Kita lanjutkan dengan

➡️ *Meninggalkan kemewahan dunia*

Agar tetap konsentrasi dalam menuntut ilmu.

Seperti mengirimkan anak ke pesantren yang mana tidak setiap yang anak inginkan ia dapatkan di dalamnya.

Sesungguhnya kesederhanaan itu bagian keimanan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْبَذَاَةَ مِنَ الْإيْمَانِ

Sesungguhnya hidup sederhana termasuk cabang dari iman. Ash-Shahihah

Umar bin Khaththab mengajarkan anaknya sifat kesederhanaan padahal saat itu Umar berhasil menaklukkan dua kerajaan besar.

Umar bin Khaththab sering blusukan malam dan sempat mendengar pembicaraan antara seorang anak perempuan dan ibunya (atau neneknya). Ibu tersebut ingin mencampur susu jualannya dengan air. Namun anak perempuan itu menolak karena takut kepada Allah ﷻ.

Maka Umar akhirnya menikahkan anaknya dengan anak perempuan tersebut dan lahirlah dari perempuan itu keturunan yang bernama Umar bin Abdul Aziz. Yang terkenal akan keadilan, kemakmuran dst.

Rasulullah ﷺ selalu mendapat bagian ghanimah yang besar namun Rasulullah ﷺ selalu mendidik putri-putrinya dengan kesederhanaan.

Fatimah radhiallahu anhaa, putri Rasulullah ﷺ juga sederhana, mengerjakan pekerjaan rumah sampai tangannya kapalan.

Dalam sebuah hadits,

قَالَ عَلِيٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلاَمُ شَكَتْ مَاتَلْقَى مِنْ أَثَرِالرَّحَى فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ، فَاْنَطَلَقَتْ فَلَمْ تَجِدْهُ، فَوَجَدَتْ عَائِشَةَ، فَأَخْبَرَتْهَا، فَلَمَّا جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ عَائِشَةُ بِمَجِِئِ فَاطِمَةَ فَجَاءَ النَّبِىُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْنَا، وَقَدْ اَخَذْنَا مَضَا جِعَنَا، فَذَ هَبْتُ لاِقُوْمَ، فَقَالَ : عَلَى مَكَا نِكُمَا، فَقَعَدَ بَيْنَنَا، حَتَّى وَجَدْتُ بُرْدَ قَدَمَيْهِ عَلَى صَدْرِى، وَقَالَ : أَلاَ أُعَلِّمُكُمَا خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتُمَانِى؟! إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا، تُكَبِّرَا أَرْبَعًا وَ ثَلاَثِيْنَ، وَتُسَبِّحَاثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ، وَتَحْمَدَا ثَلاَثَةً وَثَلاَثِيْنَ، فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ.

“Ali berkata, Fathimah mengeluhkan bekas alat penggiling yang dialaminya. Lalu pada saat itu ada seorang tawanan yang mendatangai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Fathimah bertolak, namun tidak bertemu dengan beliau. Dia mendapatkan Aisyah. Lalu dia mengabarkan kepadanya. Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba, Aisyah mengabarkan kedatangan Fathimah kepada beliau. Lalu beliau mendatangi kami, yang kala itu kami hendak berangkat tidur. Lalu aku siap berdiri, namun beliau berkata. ‘Tetaplah di tempatmu’. Lalu beliau duduk di tengah kami, sehingga aku bisa merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku. Beliau berkata. ‘Ketahuilah, akan kuajarkan kepadamu sesuatu yang lebih baik dari pada apa yang engkau minta kepadaku. *Apabila engkau hendak tidur, maka bertakbirlah 34 kali, bertasbihlah 33 kali, dan bertahmidlah 33 kali, maka itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu*“. HR Bukhari dan Muslim

Ali bin Abi Thalib tidak pernah meninggalkan dzikir tersebut walaupun dalam keadaan genting sekalipun. Ali dan Fatimah mengatakan bahwa setelah itu mereka bisa mengatasi kesulitan demi kesulitan, semua terasa mudah atas pertolongan Allah ﷻ.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan kepada shahabat untuk sederhana, sesekali tidak pakai alas kaki..

Dari Tabi’in yang Mulia Abdullah bin Buraidah rahimahullah,

أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ رَحَلَ إِلَى فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ وَهُوَ بِمِصْرَ، فَقَدِمَ عَلَيْهِ. فَقَالَ : أَمَا إِنِّي لَمْ آتِكَ زَائِرًا، وَلَكِنِّي سَمِعْتُ أَنَا وَأَنْتَ حَدِيثًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ رَجَوْتُ أَنْ يَكُونَ عِنْدَكَ مِنْهُ عِلْمٌ. قَالَ : وَمَا هُوَ؟ قَال َ: كَذَا وَكَذَا. قَالَ: فَمَا لِي أَرَاكَ شَعِثًا وَأَنْتَ أَمِيرُ الْأَرْضِ؟ قَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَنْهَانَا عَنْ كَثِيرٍ مِنَ الإِرْفَاهِ. قَالَ: فَمَا لِي لَا أَرَى عَلَيْكَ [حِذَاء]؟ قَال َ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَأْمُرُنَا أَنْ نَحْتَفِيَ أَحْيَانًا

“Ada seorang sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang melakukan perjalanan jauh untuk menjumpai sahabat Fadhalah bin Ubaid yang ada di Mesir.

Tatkala berjumpa dengannya ia berkata, ‘Maksud kedatanganku ke sini bukanlah sekedar mengunjungimu. Akan tetapi aku dan engkau telah mendengar sebuah hadits dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Aku berharap engkau memiliki ilmu tentang hadits tersebut.’ Fadhalah berkata, ‘Hadits apa itu?’ Dia menjawab, ‘Hadits yang begini dan begini.’

Setelah itu selesai maka beliau berkata kepada Fadhalah, ‘Mengapa engkau terlihat berpakaian lusuh padahal engkau pemimpin di wilayah ini?’

Fadhalah menjawab, ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wassallam melarang kita untuk banyak berpenampilan mewah’.

Beliau bertanya lagi, ‘Mengapa engkau terlihat tidak memakai alas kaki?’

Fadhalah menjawab, ‘Dahulu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah memerintahkan kita untuk berjalan tanpa alas kaki sesekali waktu’.” [HR. Abu Dawud dan Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud]

Bukan hal yang haram atau makruh untuk memakai sesuatu yang mewah, namun hal ini untuk hiasi diri sebagai penuntut ilmu..supaya mudah konsentrasi dalam menuntut ilmu.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاَ مَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).”
(QS. Ad-Duha 93: Ayat 11)

Sederhana itu bukan tampak kumal, pakaian compang comping.

Hadits Umar bin Khaththab, Jibril yang menjelma dalam bentuk manusia yang memakai pakaian putih bersih, rambut bersih.

➡️ *Menghiasi diri dengan berpaling dari majelis-majelis sia-sia*

Sia-sia asa dua macam.
1. tidak memberi mudhorot
2. Akan membahayakan akhirat (ini yang dimaksudkan).

Syaikh berkata, “Jangan lewat (bahkan duduk) di majelis atau forum yang ada pembicaraan kemungkaran, karena itu adalah perbuatan bodoh. Sungguh ini adalah dosa kamu dan fitnah bagi para penuntut ilmu”.

Misalnya.. Seorang yang ngajar di majelis ilmu terlihat oleh orang-orang awam di suatu bioskop.. Maka fitnah akan ilmu dan penuntut ilmu..

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS. Al Maidah: 2).

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آَيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.” (QS. An Nisa’: 140).

Karena jika seseorang duduk bersama-sama dalam acara maksiat, maka ia akan semisal dengan mereka dan akan mendapatkan hukuman serta dihukumi bermaksiat.

Bila seseorang nongkrong dengan orang-orang yang suka minum khamr, maka dia harus tinggalkan mereka, bukan hanya duduk walaupun hatinya mengingkari perbuatan tersebut.

➡️ *Jauhi hal-hal yang kacau*

Pasar/mal adalah tempat yang dibenci Allah. Banyak ucapan palsu, transaksi riba di dalamnya.
Kalau ke pasar seperlunya nya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا ، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا

Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar. (HR. Muslim).

Imam Syafi’i pernah terganggu hafalan nya karena berjalan lewat pasar. Maka beliau selanjutnya mencari jalan lain yang tidak melewati pasar.

Tempat kacau lainnya adalah tempat demo,apalagi bila sampai anarkis

Jauhilah tempat-tempat semacam ini, karna kesalahan bisa dimulai dari tempat tersebut.

➡️ *Hendaknya menghiasi diri dengan kelemahlembutan*

Lemah lembut tapi tegas. Tegas itu jelas, pasti, gak basa-basi.

Rasulullah ﷺ adalah sosok yang paling memiliki sifat lemah lembut dan sangat tegas.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah ﷺ ketika dakwah Juga lembut..

Beliau ﷺ berkata, “Wahai orang-orang kafir”
Wahai adalah panggilan yang lembut
Dan tegas dengan menyatakan bahwa mereka kafir.

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)

Katakanlah, “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah men]adi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku.”

Dan dipertegas pada ayat-ayat berikutnya.

Syaikh Bakar menjelaskan ucapan penuntut ilmu yang lembut akan menjinakkan jiwa yang liar (yang akan dinasihati).

يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيْقٌ يُحِبُ الرِّفْقَ وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعطِِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَالاَ يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

“Wahai Aisyah, sesunguhnya Allah itu Mahalembut dan mencintai kelembutan. Allah memberi kepada kelembutan hal-hal yang tidak diberikan kepada kekerasan dan sifat-sifat lainnya” HR Muslim

Nabi ﷺ juga bersabda,

إِنَّالرِّفْقَ لاَيَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَ عُ مِنْ شَيءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Sungguh, segala sesuatu yang dihiasi kelembutan akan nampak indah. Sebaliknya, tanpa kelembutan segala sesuatu akan nampak jelek.

Semoga bermanfaat..

$$##-aa-##$$

Hilyah_thalibil_ilmi

*HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-5) *HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-7 )
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?