This entry is part 40 of 40 in the series Bulughul-maram
3 menit membaca

📖 *BULUGHUL MARAM-41*
🖋️ Ibnu Hajar as-Asqalani
Ustadz Muhammad Anwar, Lc MPd
23 Shafar 1448H/8 Agustus 2026
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Kitab ini berisi 1350 an hadits yang berkaitan dengan fikih.

✅ Tentang Sholat Musafir Dan Yang Sakit

Musafir mendapat keringanan dalam sholat yaitu qashar. Bukan berarti harus jamak. Jamak sholat tidak harus dengan alasan Safar. Jamak sholat tidak ada hubungan dengan Safar.

Misalnya dokter sedang dapat jadwal operasi pasien yang lama dan bisa lewat sholat maka dia boleh jamak sholat.

🔹 HADITS KE-343

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( أَوَّلُ مَا فُرِضَتْ اَلصَّلَاةُ رَكْعَتَيْنِ , فَأُقِرَّتْ صَلَاةُ اَلسَّفَرِ وَأُتِمَّتْ صَلَاةُ اَلْحَضَرِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه
وَلِلْبُخَارِيِّ: ( ثُمَّ هَاجَرَ, فَفُرِضَتْ أَرْبَعًا, وَأُقِرَّتْ صَلَاةُ اَلسَّفَرِ عَلَى اَلْأَوَّلِ )وَلِلْبُخَارِيِّ: ( ثُمَّ هَاجَرَ, فَفُرِضَتْ أَرْبَعًا, وَأُقِرَّتْ صَلَاةُ اَلسَّفَرِ عَلَى اَلْأَوَّلِ )
زَادَ أَحْمَدُ: ( إِلَّا اَلْمَغْرِبَ فَإِنَّهَا وِتْرُ اَلنَّهَارِ, وَإِلَّا اَلصُّبْحَ, فَإِنَّهَا تَطُولُ فِيهَا اَلْقِرَاءَةُ )

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Sholat itu awalnya diwajibkan dua rakaat, lalu ia ditetapkan sebagai sholat dalam perjalanan, dan sholat di tempat disempurnakan (ditambah). Muttafaq Alaihi.

Sholat Dhuhur, Ashar dan Isya mulai ditetapkan 4 rakaat saat Nabi Muhammad ﷺ sudah hijrah ke Madinah.

Menurut riwayat Bukhari: Kemudian beliau hijrah, lalu diwajibkan *sholat empat rakaat*, dan sholat dalam perjalanan ditetapkan seperti semula.

Jadi sekitar 2-3 tahun di Makkah, sholat Dhuhur, Ashar, Isya dikerjakan dengan 2 rakaat.

Ahmad menambahkan: Kecuali Maghrib karena ia pengganjil sholat siang dan Shubuh karena bacaannya dipanjangkan.

Jamak sholat hubungannya dengan kebutuhan mendesak, karena ada kesulitan.

Seringkali orang Safar juga menjamak sholat, karena Safar biasanya ada kesulitan.

Dalam sebuah hadits,

:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:
«السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ، فَإِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ مِنْ وَجْهِهِ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ»

“Safar (perjalanan) adalah sebagian dari adzab. Ia menghalangi seseorang dari makanannya, minumannya, dan tidurnya. Maka apabila salah seorang dari kalian telah menyelesaikan urusannya dalam perjalanan, hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya.”
HR Bukhari dan Muslim.

🔸 Khilaf hukum qashar saat Safar.
1. Wajib, sebagaimana dulu wajib nya sholat di awal turunnya perintah sholat.
2. Sekedar sunnah tapi lebih Afdhal disempurnakan. (Hanafiyah). Sebagaimana yang dilakukan Utsman bin Affan radhiyallahu anhu Dan Aisyah radhiyallahu anhaa.

3. Sunnah, tapi Afdhal nya sholat dengan qashar.
Ini adalah sedekah pemberian Allah.
Pendapat ini Insya Allah paling tepat. Dan dalam riwayat, dalam kondisi Safar, Nabi tidak pernah sholat tanpa qashar sholat.

Beda kalau sedang bermakmum dengan orang mukim, harus ikut imam dengan 4 rakaat.

🔹 HADITS KE-344

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقْصُرُ فِي اَلسَّفَرِ وَيُتِمُّ, وَيَصُومُ وَيُفْطِرُ ) رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ, وَرُوَاتُهُ ثِقَاتٌ. إِلَّا أَنَّهُ مَعْلُول ٌوَالْمَحْفُوظُ عَنْ عَائِشَةَ مِنْ فِعْلِهَا, وَقَالَتْ: ( إِنَّهُ لَا يَشُقُّ عَلَيَّ ) أَخْرَجَهُ اَلْبَيْهَقِيّ ُ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam adakalanya mengqashar sholat dalam perjalanan dan adakalanya tidak, kadangkala puasa dan kadangkala tidak. Riwayat Daruquthni. Para perawinya dapat dipercaya, hanya saja hadits ini ma’lul.

Adapun yang mahfudh dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu adalah dari perbuatannya, dan dia berkata: Sesungguhnya hal itu tidak berat bagiku. Dikeluarkan oleh Baihaqy

Aisyah Radhiyallahu anhaa bila Safar nya ringan, maka sholat nya sempurna. Begitu juga Aisyah radhiyallahu anhaa juga puasa.
Namun riwayat ini tidak berdasar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tetapi pribadi atas inisiatif Aisyah radhiyallahu anhaa.
Bila Safar berat maka Aisyah radhiyallahu anhaa maka sholat nya qashar..

Nabi ﷺ tidak mencela perbuatan Aisyah radhiyallahu anhaa.

Namun riwayat ini menjadi perbincangan para ulama perihal keshahihannya.

🔹 HADITS KE-345

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِنَّ اَللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ, وَابْنُ حِبَّانَ وَفِي رِوَايَةٍ: ( كَمَا يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى عَزَائِمُهُ )

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah suka bila rukhshoh (keringanan)-Nya dilaksanakan sebagaimana Dia benci bila maksiatnya dilaksanakan.” Riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Dalam suatu riwayat: “Sebagaimana Dia suka bila perintah-perintah-Nya yang keras dilakukan.”

🔹 HADITS KE-346

وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُ قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا خَرَجَ مَسِيرَةَ ثَلَاثَةِ أَمْيَال ٍ أَوْ فَرَاسِخَ, صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Anas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Adalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila keluar bepergian sejauh tiga mil atau farsakh, beliau sholat dua rakaat. Riwayat Muslim.

Semoga bermanfaat,

#sholat #bulughulmaram #Safar #ghasar

##$$-aa-$$##

Bulughul-maram

BULUGHUL MARAM-40
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?