HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – perhiasan bagi penuntut ilmu (bagian-1)
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – perhiasan bagi penuntut ilmu. (bagian-2)
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-3)
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-4)
- *HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-5)
- *HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-6 )
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – perhiasan bagi penuntut ilmu (bagian-1)
- *HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-7 )
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-8 )
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-9 )
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-10 )
Diterbitkan pertama kali pada: 19-Sep-2021 @ 06:43
4 menit membacaHILYAH THOLIBIL ‘ILMI – perhiasan bagi penuntut ilmu (bagian-1)
Karya Syaikh Bakar Abu Zaid
Ustadz Muhammad Anwar, Lc MPd
12 Safar 1443H
Ini adalah kitab kecil (kutaib). Syaikh lahir di Najed, KSA.
Sebagai penuntut ilmu hendaknya dihiasi dengan adab yang Syaikh utarakan dalam kutaib ini.
Perhiasan ini harusnya membuat terlihat indah bagi orang lain.
Kitab ini telah disyarah oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, ditulis oleh Khauri Said.
Kitab ini sangat penting bagi penuntut ilmu, karena berisi adab-abad sebagai penuntut ilmu (dengan teman, kepada guru, terhadap ilmu dst).
ADAB adalah 2/3 ilmu. Karena disetiap disiplin ilmu ada adabnya.
Para ulama terdahulu, lebih menekankan adab dalam menuntut ilmu.
Seorang ulama mengatakan bahwa beliau belajar adab selama 40 tahun.
Ibnul Mubarok berkata,
تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين
“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”
Dahulu, para penuntut ilmu mengeluarkan biaya dan usaha yang tidak sedikit untuk mendapatkan ilmu, namun ilmu mereka berkah.
Sekarang ini mudah bagi kita akses ilmu namun ilmunya tidak berkah…
ADAB akan menghiasi penuntut ilmu di tengah-tengah masyarakat (awam), dan ini akan mempermudah dakwah kepada orang-orang awam.
ADAB penuntut ilmu terkait diri sendiri
➡️ 1. Yakini bahwa ilmu (yang sedang dipelajari) adalah ibadah.
Syaikh Bakar Abu Zaid mengatakan Pokok dasar dari perhiasan pada diri penuntut ilmu adalah kita harus paham betul bahwa ilmu adalah ibadah. Sampai-sampai seorang ulama mengatakan ilmu adalah sholat, dan ilmu adalah ibadah hati (jiwa).
Menuntut ilmu bagian dari jihad.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
۞ وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةًۭ ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍۢ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌۭ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
Surat At-Taubah (9) Ayat 122
Dan Rasulullah ﷺ menjelaskan,
مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ
“Barang siapa keluar dalam rangka menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah sampai ia kembali.”
Duduknya kita dalam majelis ilmu adalah dalam rangka membela agama Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama (ini).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Namun kita perlu hati-hati dalam memilih majelis ilmu.
Ilmu tidak ada sesuatu apapun (ibadah sunnah) yang bisa menandingi menuntut ilmu asal niatnya benar (Imam Ahmad).
Niat dikatakan benar bila ketika dia niatkan untuk angkat kebodohan dirinya dan orang lain (dengan cara disampaikan).
▶️Matan lanjutan: “Syarat nya adalah ikhlas, memurnikan hanya untuk Allah”
Allah berfirman,
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.
Surat Al-Bayyinah (98) Ayat 5
dari umar bin khattab bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرىء ما نوى
“Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat; dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
▶️ Matan lanjutan : Ketika seorang penuntut ilmu hilang keikhlasan, maka ada perubahan dari sebaik-baiknya ibadah menjadi seburuk-buruknya pelanggaran dalam Islam.
Dalam sebuah hadits ada tiga golongan yang pertama kali diseret ke dalam neraka, salah satunya adalah penuntut ilmu yang tidak ikhlas.
▶️ TIDAK ada yang bisa menghancurkan ikhlas dalam menuntut ilmu kecuali riya dan summah.
✳️ Riya biasa terjadi sebelum dan sedang beramal
✳️ Summah terjadi setelah beramal.
❕Riya ada dua..
📌Riyatul syirik, adalah riya yang sebagian karena Allah dan sebagian bukan karena Allah.
📌Riyatul Ikhlas, 100% bukan karena Allah.
Ikhlas adalah perintah Allah
⏩ Dikatakan seseorang Ikhlas (Syaikh Utsaimin)
♦️1. Niatkan saat menuntut ilmu adalah ini adalah perintah Allah.
♦️2. Niatkan untuk menjaga syariat Allah
♦️3. Niatkan untuk membela syariat Allah
♦️4. Niatkan untuk ikuti semua yang disampaikan oleh Nabi ﷺ
▶️ Matan lanjutan : pastikan kita hindari sesuatu yang dapat mencemari niat kita.
Seperti cinta kepada popularitas, terlihat menonjol, cari ilmu untuk cari harta dunia.
Adanya larangan ulama akan hal “seorang penuntut ilmu supaya terkenal”
📌Tergelincirnya para penuntut ilmu kadang terjadi bila dia ingin bahas sesuatu yang buat dia terkenal.
Sufyan Ats Tsauri, “Dulu kami dimudahkan paham Al Qur’an, tapi setelah aku sering terima hadiah dari pemimpin maka sekarang aku sulit memahami Al Qur’an.”
Itulah sebabnya para ulama yang sholeh tidak mudah menerima hadiah dari pemimpin.
▶️ Matan lanjutan : maka berpegang teguh dengan tali yang kokoh supaya tidak tercemar niat ikhlas kita.
Kerahkan segala kemampuan untuk ikhlas. Dan harus ada ketakutan yang besar agar tidak jatuh kepada hal yang hilangkan keikhlasan.
Tidak ada sesuatu yang berat yang aku obati kecuali menjaga keikhlasan (Imam Ats Tsauri).
Insya Allah berlanjut..
Semoga bermanfaat,
##$$-aa-$$##


