This entry is part 32 of 32 in the series Bulughul-maram
6 menit membaca

📖 *BULUGHUL MARAM-34*
🖋️ Ibnu Hajar as-Asqalani
Ustadz Muhammad Anwar, Lc MPd
21 Dzulhijjah 1447H/7 Juni 2026
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Kitab ini berisi 1350 an hadits yang berkaitan dengan fikih.

✅ SIFAT SHOLAT

Sujud tilawah, bisa dilakukan pada saat sholat maupun di luar sholat.
Sujud syukur dilakukan di luar sholat.

✅ Sujud Tilawah.
Adalah sujud dimana mendapati ayat-ayat Al Qur’an (juga saya mendengarkan dengan fokus) dan melakukan sujud.

Ada 15 tempat ayat Al Qur’an.

🔹 HADITS KE-275

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم سَجَدَ بِالنَّجْمِ رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sujud sewaktu membaca surat Al-Najm Riwayat Bukhari.

Yaitu dibagian akhir surat.

Berarti ini ada pilihan.
1. Tidak sujud
2. Sujud, bangun tanpa baca lagi trus ruku dst
3. Sujud, bangun, baca surat berikutnya dan ruku dst

🔹 HADITS KE-276

وَعَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رضي الله عنه قَالَ : ( قَرَأْتُ عَلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم اَلنَّجْمَ فَلَمْ يَسْجُدْ فِيهَا ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Zaid Ibnu Tsabit Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku pernah membaca surat Al-Najm di hadapan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam namun beliau tidak sujud waktu itu Muttafaq Alaihi

Seakan-akan dua hadits ini bertentangan.

Ada kaidah – penetapan amalan berdasar dalil shahih didahulukan dari pada dalil shahih yang Nabi ﷺ tidak melakukan amalan tersebut.

Misalnya.
Ibnu Umar mengatakan Nabi ﷺ angkat tangan ketika akan ruku’.
Sedangkan Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa Nabi ﷺ tidak angkat tangan ketika akan ruku’.

Maka sesuai kaidah di atas – amalan angkat tangan lebih didahulukan.

Dalam surat Al Hajj ada 2 tempat sujud tilawah yaitu ayat 18 dan ayat 77.

Ada hadits lain, Nabi ﷺ mengatakan bila ketemu ayat sujud tilawah tapi gak sujud, sebaiknya gak usah baca ayat tersebut. Ini menjelaskan sangat dianjurkannya amalan sujud tilawah.

🔹 HADITS KE-277

وَعَنْ عُمَرَ رضي الله عنه قَالَ : ( يَا أَيُّهَا اَلنَّاسُ إِنَّا نَمُرُّ بِالسُّجُودِ فَمَنْ سَجَدَ فَقَدْ أَصَابَ وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ وَفِيهِ : ( إِنَّ اَللَّهَ] تَعَالَى [ لَمْ يَفْرِضْ اَلسُّجُودَ إِلَّا أَنْ نَشَاءَ ) وَهُوَ فِي اَلْمُوَطَّأِ

Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Wahai orang-orang kita melewati bacaan ayat-ayat sujud maka barangsiapa sujud ia telah mendapat (pahala) dan barangsiapa tidak sujud tidak mendapat dosa.

Diriwayatkan oleh Bukhari Dalam hadits itu disebutkan: Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan sujud kecuali jika kita menghendaki Hadits itu termuat dalam al-Muwaththa’

Ini menunjukkan bahwa Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu menguatkan bahwa sujud tilawah tidak wajib hukumnya.

Bacaan sujud tilawah –

سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِي خَلَقَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ، فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Wajahku bersujud kepada Dzat yang menciptakannya, yang membelah pendengaran dan penglihatannya dengan daya dan kekuatan-Nya. Maha Suci Allah, sebaik-baik Pencipta.”

Bila belum hafal, boleh baca dengan bacaan yang sama dengan sujud yang biasanya.

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى
“Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi.”

🔹 HADITS KE-278

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- ] قَالَ [ : ( كَانَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ عَلَيْنَا اَلْقُرْآنَ فَإِذَا مَرَّ بِالسَّجْدَةِ كَبَّرَ وَسَجَدَ وَسَجَدْنَا مَعَهُ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِسَنَدٍ فِيهِ لِيِنٌ

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam selalu membacakan Al-Qur’an pada kami maka apabila melewati bacaan ayat sajadah beliau bertakbir dan sujud lalu kami sujud bersama beliau Riwayat Abu Dawud dengan sanad yang lemah

✅ Sujud syukur

🔹 HADITS KE-279

وَعَنْ أَبِي بَكْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ( كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرٌ يَسُرُّهُ خَرَّ سَاجِداً لِلَّهِ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيَّ

Dari Abu Bakrah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila menerima kabar gembira beliau segera sujud kepada Allah Diriwayatkan oleh Imam Lima kecuali Nasa’i

Pelajaran : setiap mendapatkan kabar gembira maka dianjurkan sujud syukur.

Posisi awal berdiri, terus sujud,seperti dalam ayat..

خَرُّوا سُجَّدًا

Kaab bin Malik – sujud syukur saat dapat kabar gembira kalau taubat nya diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sujud syukur – tidak perlu dalam keadaan suci dan tidak perlu harus hadap kiblat.

🔹 HADITS KE-280

وَعَنْ عَبْدِ اَلرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ رضي الله عنه قَالَ : ( سَجَدَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَأَطَالَ اَلسُّجُودَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَقَالَ : إِنَّ جِبْرِيلَ آتَانِي فَبَشَّرَنِي فَسَجَدْت لِلَّهِ شُكْرًا ) رَوَاهُ أَحْمَدُ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

Abdul Rahman Ibnu Auf Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah sujud beliau melamakan sujud itu setelah mengangkat kepala beliau bersabda: Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan membawa kabar gembira maka aku bersujud syukur kepada Allah Riwayat Ahmad dan dinilai shahih oleh Hakim

🔹 HADITS KE-281

وَعَنْ اَلْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم بَعَثَ عَلِيًّا إِلَى اَلْيَمَنِ – فَذَكَرَ اَلْحَدِيثَ – قَالَ : فَكَتَبَ عَلِيٌّ رضي الله عنه بِإِسْلَامِهِمْ فَلَمَّا قَرَأَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم اَلْكِتَابَ خَرَّ سَاجِدًا ) رَوَاهُ اَلْبَيْهَقِيُّ وَأَصْلُهُ فِي اَلْبُخَارِيِّ

Dari al-Barra’ Ibnu Azib Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah mengutus Ali ke negeri Yaman

Kemudian hadits itu menyebutkan: Ali lalu mengirim surat tentang ke-Islaman mereka Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam membaca surat itu beliau langsung sujud syukur kepada Allah atas berita tersebut Hadits riwayat Baihaqi yang asalnya dari Bukhari

✅ Tentang Sholat Tathawwu

Sholat sunnah,
1. Mutlak – tidak ada sebab, bebas. Asal di luar 3 waktu terlarang sholat. Sholat ini bebas waktu, bebas rakaat.
2. Sholat dengan sebab. Misal tahiyatul Masjid, sholat wudhu, dst.

Dibagi dua.
2.1 Rawatib – tetap dan terus menerus. Sholat qabliyah dan sholat Ba’diyah.
2.1.1 Muakadah – ditekankan
2.1.2 Ghairu Muakadah – tidak ada penekanan.

2.2 selain Rawatib – dhuha, witir dst.

🔹 HADITS KE-282

عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ كَعْبٍ الْأَسْلَمِيِّ -رِضَى اَللَّهُ عَنْهُ- قَالَ : ( قَالَ لِي اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم سَلْ . فَقُلْتُ : أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي اَلْجَنَّةِ . فَقَالَ : أَوَغَيْرَ ذَلِكَ ؟ ، قُلْتُ : هُوَ ذَاكَ ، قَالَ : ” فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ اَلسُّجُودِ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ .

Rabiah Ibnu Malik al-Islamy Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda padaku: “Mintalah (padaku).” Aku menjawab: Aku memohon dapat menyertai baginda di syurga.

Beliau ﷺ bertanya: “Apakah ada yang lain?” Aku menjawab: Hanya itu saja. Beliau ﷺ bersabda: “Tolonglah aku untuk mendoakan dirimu dengan banyak sujud.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Perbanyak sujud maksudnya adalah perbanyak sholat, yaitu sholat sunnah mutlak.

🔹 HADITS KE-283

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : ( حَفِظْتُ مِنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم عَشْرَ رَكَعَاتٍ : رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ اَلظُّهْرِ , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اَلْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اَلْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ , وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ اَلصُّبْحِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ لَهُمَا : ( وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اَلْجُمْعَةِ فِي بَيْتِهِ ).
وَلِمُسْلِمٍ : ( كَانَ إِذَا طَلَعَ اَلْفَجْرُ لَا يُصَلِّي إِلَّا رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ )

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku menghapal dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam 10 rakaat yaitu: dua rakaat sebelum Dhuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah maghrib di rumahnya, dua rakaat setelah Isya’ di rumahnya, dan dua rakaat sebelum Shubuh. Muttafaq Alaihi.

Dalam suatu riwayat Bukhari-Muslim yang lain: Dan dua rakaat setelah Jum’at di rumahnya.

Dalam suatu riwayat Muslim: Apabila fajar telah terbit beliau tidak sholat kecuali dua rakaat yang pendek.

Sholat Qabliyah subuh itu pendek-pendek. Dan sebaiknya dikerjakan di rumah.

Sholat ini masuk katagori sholat sunnah sangat ditekankan.

Adakah sholat qabliyah Jumat? Pendapat yang lebih kuat tidak ada. Silakan perbanyak sholat mutlak sampai khatib naik mimbar.

Sholat Ba’diyah jumat? Ada dua pendapat. Yaitu 2 atau 4 rakaat.

Pendapat yang gabung adalah
2 rakaat di rumah
4 rakaat di masjid

🔹 HADITS KE-284

وَعَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- : أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ( كَانَ لَا يَدَعُ أَرْبَعًا قَبْلَ اَلظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ اَلْغَدَاةِ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak meninggalkan (sholat sunat) empat rakaat sebelum Dhuhur dan dua rakaat sebelum Shubuh. Riwayat Bukhari.

🔹 HADITS KE-285

Saat Safar, Nabi ﷺ tetap melakukan sholat Fajar.

وَعَنْهَا قَالَتْ : ( لَمْ يَكُنْ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَى شَيْءٍ مِنْ اَلنَّوَافِلِ أَشَدَّ تَعَاهُدًا مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيْ اَلْفَجْرِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
وَلِمُسْلِمٍ : ( رَكْعَتَا اَلْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ اَلدُّنْيَا وَمَا فِيهَا )

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak pernah memperhatikan sholat-sholat sunat melebihi perhatiannya terhadap dua rakaat fajar. Muttafaq Alaihi.
Menurut riwayat Muslim: Dua rakaat fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.

Sholat 4 rakaat sebelum Dhuhur adalah sunnah muakadah, boleh 4 rakaat langsung atau 2 x 2 rakaat.

🔹 HADITS KE-286

وَعَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ أُمِّ اَلْمُؤْمِنِينَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ : سَمِعْتَ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : ( مَنْ صَلَّى اِثْنَتَا عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي اَلْجَنَّةِ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ . وَفِي رِوَايَةٍ ” تَطَوُّعًا”
وَلِلتِّرْمِذِيِّ نَحْوُهُ , وَزَادَ : ( أَرْبَعًا قَبْلَ اَلظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اَلْمَغْرِبِ , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اَلْعِشَاءِ , وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ اَلْفَجْرِ )
وَلِلْخَمْسَةِ عَنْهَا : ( مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعٍ قَبْلَ اَلظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اَللَّهُ عَلَى اَلنَّارِ )

Ummu Habibah Ummul Mu’minin Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa melakukan sholat dua belas rakaat dalam sehari semalam niscaya dibangunkan sebuah rumah baginya di surga.” Hadits riwayat Muslim. Dan dalam suatu riwayat: “Sholat sunat.”

Menurut riwayat Tirmidzi ada hadits yang serupa dengan tambahan: “Empat rakaat sebelum Dhuhur, dua rakaat setelahnya dan dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah Isya’, dan dua rakaat sebelum Shubuh.”

Menurut riwayat Imam Lima darinya (Ummu Habibah radhiyallahu anhaa): “Barangsiapa memelihara empat rakaat sebelum Dhuhur dan empat rakaat setelahnya niscaya Allah mengharamkan api neraka darinya.”

Jadi ada 12 rakaat.
4 rakaat seteleh Dhuhur.
2 pertama sunnah muakadah
2 tambahan bukan sunnah muakadah.

🔹 HADITS KE-287

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( رَحِمَ اَللَّهُ اِمْرَأً صَلَّى أَرْبَعًا قَبْلَ اَلْعَصْرِ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَأَبُو دَاوُدَ وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ , وَابْنُ خُزَيْمَةَ وَصَحَّحَهُ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “(Semoga) Allah memberi rahmat orang yang sholat empat rakaat sebelum Ashar.” Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi. Hadits hasan menurut Tirmidzi dan shahih menurut Ibnu Khuzaimah.

Qabliyah Ashar ada dua pilihan.
1. 2 rakaat (ghairu muakadah)
2. 4 rakaat (ghairu muakadah)

🔹 HADITS KE-288

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ الْمُزَنِيِّ رضي الله عنه عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( صَلُّوا قَبْلَ اَلْمَغْرِبِ , صَلُّوا قَبْلَ اَلْمَغْرِبِ ” ثُمَّ قَالَ فِي اَلثَّالِثَةِ : ” لِمَنْ شَاءَ ” كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا اَلنَّاسُ سُنَّةً ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ
وَفِي رِوَايَةِ اِبْنِ حِبَّانَ : ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم صَلَّى قَبْلَ اَلْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ )
وَلِمُسْلِمٍ عَنْ أَنَسٍ] قَالَ [ : ( كُنَّا نُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ غُرُوبِ اَلشَّمْسِ , فَكَانَ صلى الله عليه وسلم يَرَانَا , فَلَمْ يَأْمُرْنَا وَلَمْ يَنْهَانَا )

Dari Abdullah Mughoffal al-Muzanny Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sholatlah sebelum Maghrib, sholatlah sebelum Maghrib.” Kemudian beliau bersabda pada yang ketiga: “Bagi siapa yang mau,” Karena beliau takut orang-orang akan menjadikannya sunnat. Diriwayatkan oleh Bukhari.

Dalam suatu riwayat Ibnu Hibban bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sholat sebelum Maghrib dua rakaat.

Menurut riwayat Muslim bahwa Ibnu Abbas berkata: Kami pernah sholat dua rakaat setelah matahari terbenam dan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melihat kami, beliau tidak memerintahkan dan tidak pula melarang kami.

Sholat Qabliyah maghrib tidak ada penekanan.

Dari hadits-hadits di atas tidak disebutkan secara jelas sholat Qabliyah Isya. Tapi ini disebutkan dalam hadits secara umum – antara dua adzan untuk sholat.

Hadits tentang shalat di antara dua adan (maksudnya antara adzan dan iqamah), Nabi ﷺ bersabda,

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ، بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ، بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ، لِمَنْ شَاءَ

“Di antara setiap dua adzan ada shalat, di antara setiap dua adzan ada shalat, di antara setiap dua adzan ada shalat, bagi yang menghendaki.”
Diriwayatkan oleh Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.

Total sholat yang dianjurkan adalah 40 rakaat dalam 1 hari.

Semoga bermanfaat.

#sifat #sholat #qabliyah #Ba’diyah #mutlak #sunnah #muakadah

##$$-aa-$$##

Bulughul-maram

BULUGHUL MARAM-33
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?