TAFSIR AYAT-AYAT PILIHAN-17
*TAFSIR AYAT-AYAT PILIHAN-17*
Karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Ustadz Dr Firanda Andirja Lc MA
3 Rabi’ul Akhir 1448H / 13 September 2026
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima Bekasi
🔹 Lanjutan QS Al Baqarah ayat 133.
**﴿أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ ٱلْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ ءَابَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ﴾**
*”Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Yakub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kalian sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya.”* (QS. Al-Baqarah: 133)
❋ **Kedelapan:** Penegasan anak-anak Yaqub bahwa berislam itu hanya untuk Allah semata tanpa sekutu bagi-Nya. Bukan untukmu wahai ayahku (Yaqub) dan bukan pula untuk nenek moyangmu (Ibrahim).
Nabi ﷺ tidak tahu hal yang ghaib seperti dalam kisah tertuduh nya Aisyah berbuat zina oleh orang-orang munafik.
Yang akhirnya Allah firmankan dalam surat Nur tentang kebenaran bahwa Aisyah tidak berzina. Ada hikmah ketauhidan Aisyah yang sangat tinggi.
Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,
“Pada hari itu aku menangis. Air mataku terus menetes tiada henti dan aku tidak tidur sama sekali. Kedua orang tuaku beranggapan bahwa tangisan dapat membelah hatiku.”
Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan,
“Ketika keduanya sedang duduk di sampingku sedangkan aku sedang menangis, tiba-tiba seorang perempuan dari kalangan Anshar meminta izin kepadaku, lalu aku pun memberi izin kepadanya sehingga ia duduk seraya menangis di sampingku. Ketika kami masih dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kemudian duduk. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah duduk di sampingku sejak beredarnya isu tersebut. Dan telah sebulan penuh tidak ada wahyu turun mengenai perkaraku ini. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kesaksian pada saat beliau duduk seraya berkata, ‘Amma ba’du, wahai Aisyah! Sungguh, telah sampai kepadaku isu demikian dan demikian mengenai dirimu. Jika engkau memang bersih dari tuduhan tersebut, pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membebaskanmu. Dan jika engkau melakukan dosa, maka memohonlah ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaubatlah kepada-Nya, karena sesungguhnya seorang hamba yang mau mengakui dosanya dan bertaubat, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima taubat-Nya.”
Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,
“Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai menyampaikan sabdanya ini, maka derai air mataku mulai menyusut, sehingga aku tidak merasakan satu tetes pun. Lalu aku berkata kepada ayahku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Selanjutnya aku berkata kepada ibuku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku juga tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu aku berkata, ‘Aku adalah seorang perempuan yang masih belia. Demi Allah, aku tahu bahwa kalian telah mendengar berita ini sehingga kalian simpan di dalam hati dan kalian membenarkannya. Makanya, jika kukatakan kepada kalian bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut Allah Maha Mengetahui bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut, maka kalian tidak mempercayaiku. Dan jika aku mengakui sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui bahwa aku terbebas darinya, malah kalian sungguh-sungguh mempercayaiku. Demi Allah, aku tidak menjumpai pada diriku dan diri kalian suatu perumpamaan selain sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Yusuf ‘alaihis salam,
فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ
“Maka hanya sabar yang baik itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf: 18)
“Kemudian aku berpaling, aku berbaring di atas tempat tidurku.”
Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,
“Aku–wallahu a’lam–ketika itu terbebas dan Allah-lah yang melepaskanku dari isu tersebut. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah menyangka akan diturunkan suatu wahyu yang akan selalu dibaca perihal persoalanku ini. Sungguh persoalanku ini terlalu remeh untuk difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi sesuatu yang akan selalu dibaca. Sebenarnya yang aku harapkan ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermimpi di dalam tidurnya yang di dalam mimpi tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala membebaskanku dari tuduhan tersebut.”
Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan,
“Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum sempat beranjak dari tempat duduknya dan belum ada seorang pun dari anggota keluargaku yang keluar sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa berat ketika menerima wahyu. Sampai-sampai beliau bercucuran keringat bagaikan mutiara padahal ketika itu sedang musim penghujan. Hal ini lantaran beratnya wahyu yang diturunkan kepada beliau.”
Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan,
“Kontan, kesusahan telah lenyap dari hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tersenyum bahagia. Kalimat yang kali pertama beliau katakan ialah, ‘Bergembiralah Aisyah! Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membebaskanmu.’ Lalu ibuku berkata kepadaku, ‘Berdirilah kepada Nabi.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan berdiri kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku tidak akan memuji kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang menurunkan wahyu yang membebaskan diriku. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut,
إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (pula).” (QS. An-Nur: 11)
Sampai sepuluh ayat secara keseluruhan.”
“Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan ayat ini yang menjelaskan tentang kebebasanku, maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anha–beliau adalah orang yang memberikan nafkah kepada Misthah bin Utsatsah radhiyallahu ‘anha karena masih ada hubungan kerabat dan karena ia orang fakir–berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah kepadanya lagi untuk selamanya setelah apa yang ia katakan kepada Aisyah.’ Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut (yang artinya), “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)
“Lantas Abu Bakar radhiyallahu ‘anha berkata, ‘Baiklah. Demi Allah, sungguh aku suka bila Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuniku.’ Kemudian beliau kembali memberi nafkah kepada Misthah yang memang sejak dahulu ia selalu memberinya nafkah. Bahkan ia berkata, ‘Aku tidak akan berhenti memberi nafkah kepadanya untuk selamanya.’ Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai persoalanku. Beliau berkata, ‘Wahai Zainab, apa yang kamu ketahui atau yang kamu lihat?’ Ia menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Aku menjaga pendengaran dan penglihatanku.
Demi Allah, yang aku tahu dia hanyalah baik.’ Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, ‘Dialah di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyaingiku dalam hal kecantikan, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala melindunginya dengan sifat wara’.
Sedangkan saudara perempuannya, Hamnah binti Jahsy radhiyallahu ‘anha bertentangan dengannya. Maka, binasalah orang-orang yang binasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
❋ **Kesembilan:** Paman masuk dalam makna *aba*, karena Ismail adalah paman mereka (Ahlul Kitab). Paman termasuk makna *aba* tidak secara hakiki namun diikutsertakan dengan dominasi penyebutan nenek moyang.
Paman juga sering disebut ayah bila digabung dengan ayah (disebut Aba = bapak-bapak).
❋ **Kesepuluh:** Ayat ini termasuk hujah yang sangat jelas nan tegak atas keturunan Ibrahim dan mereka pun mengakuinya. Akan tetapi mereka para keturunan Ibrahim mengklaim berada di atas agama nenek moyang mereka sambil meninggalkannya dan memusuhi orang yang mengikutinya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِتَّخَذُوْۤا اَحْبَا رَهُمْ وَرُهْبَا نَهُمْ اَرْبَا بًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَا لْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ ۚ وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَـعْبُدُوْۤا اِلٰهًا وَّا حِدًا ۚ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ سُبْحٰنَهٗ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
“Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi), dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga) Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan selain Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 31)
Yaitu Uzair, Isa disembah.
❋ **Kesebelas:** Pada ayat ini terdapat bantahan terhadap mereka, para Ahlul Kitab, dalam satu masalah khusus, yaitu menjadikan para ulama dan rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah.
➡️ Ayat selanjutnya.
**﴿تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُم مَّا كَسَبْتُمْ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾**
“Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 134)
Terdapat beberapa pelajaran dalam ayat ini:
❋ **Pertama:** Termasuk perkara yang banyak menyesatkan banyak manusia adalah anggapan bahwa kesalehan nenek moyang bermanfaat bagi mereka.
Banyak orang tersesat karena mengandalkan nenek moyangnya.
Yang bermanfaat adalah keturunan yang beriman ikuti nenek moyang yang beriman.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَا تَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِ يْمَا نٍ اَلْحَـقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَاۤ اَلَـتْنٰهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْءٍ ۗ كُلُّ امْرِئٍ بِۢمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ
“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.”
(QS. At-Tur 52: Ayat 21)
Nabi ﷺ bersabda,
مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
“Barang siapa yang amalnya memperlambatnya, maka nasabnya tidak akan mempercepatnya.”
HR Muslim.
❋ **Kedua:** Penjelasan bahwa yang bermanfaat bagi manusia adalah amalnya sendiri.
Kalau ada ajaran yang menjamin surga tanpa amalan itu pasti sesat. Misalnya kalian pasti surga kalau jadi murid saya.
Surga itu terkait dengan amal sholeh dan rahmat Allah.
❋ **Ketiga:** Penjelasan bahwa yang membahayakan dirinya adalah amalnya sendiri, dan maksiat yang dilakukan oleh maksiat ayah atau anaknya tidak memberinya mudarat.
Jadi bukan maksiat bapak atau anaknya kecuali punya andil (ajarin, arahin).
Ibrahim tidak punya andil kekafiran bapaknya.
Nabi Nuh tidak punya andil kekafiran anaknya.
Ada keturunan Nabi ﷺ yang maksiat, minum khamr dst.
Ingatlah Kisah pelajaran saat Yakub alaihi salam mewasiatkan tauhid kepada anak-anak menjelang wafat.
Istri Nuh dan Istri Luth tidak selamat walaupun suami mereka Nabi.
Yang menjamin dan memberi syafaat selamat dari adzab adalah amalan sendiri.
➡️ QS Al Baqarah ayat 135.
**﴿وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَـٰرَىٰ تَهْتَدُوا قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِـمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ﴾**
*”Dan mereka berkata, ‘Jadilah kamu (penganut) Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.’ Katakanlah, ‘(Tidak!) Tetapi (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus dan dia termasuk golongan orang yang mempersekutukan Tuhan.'”* (QS. Al-Baqarah: 135)
Ada istilah
Eksklusifisme – kita yang benar
Inklusifismeb= semua benar
Pluralisme – Semua relatif benar.
Liberal – semua agama masuk surga, ini pembodohan dari dalam. Mereka merusak aqidah dari dasar.
Pada asalnya semua agama itu eksklusif.
Nasrani eksklusif buktinya adanya kristenisasi.
Islam agama yang hanif, asalnya hanif bermakna condong, yaitu condong kepada tauhid.
Sifat agama Ibrahim..
1. Tidak syirik
2. Tidak bersama orang-orang musyrikin.
Pada ayat yang termasuk *jawâmi’ al-kalim* ini, terdapat beberapa pelajaran:
❋ **Pertama:** Barang siapa yang mengajak kepada suatu ajaran agama, yang diklaim sebagai agama yang terpuji dan baik pengikutnya, maka katakanlah kepadanya, “*Ikutilah agama Ibrahim*.” Karena jika ternyata agama yang diklaim baik itu ternyata batil, maka perkaranya jelas. Pun jika ternyata benar, maka sungguh agama Ibrahim lebih utama untuk diikuti, sebagaimana sabda Nabi ﷺ,
**((أَحَبُّ الْأَدْيَانِ إِلَى اللهِ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ))**
*”Agama yang paling dicintai Allah adalah agama hanif yang lapang.”*
Yaitu agama yang tauhid dan yang mudah.
❋ **Kedua:** Perlu diperhatikan bahwa Allah menyifati Ibrahim bahwa ia adalah seorang hanif, berlepas diri dari orang-orang musyrik. Hal ini karena setiap orang mengklaim mengikuti agama Ibrahim. Maka barang siapa yang membenarkan ucapannya dengan perbuatan, dialah yang benar, jika tidak maka ia berdusta.
Dua sifat agama Ibrahim..
Hanif = tauhid dan Berlepas diri dari musyrikin.
Jadi tidak cukup mengatakan saya bertauhid tetapi harus meninggalkan kesyirikan.
Orang yang mengaku ikut agama Ibrahim harus diikuti dengan perbuatan.
❋ **Ketiga:** Hanif berarti condong lari dari setiap agama kecuali Islam dengan menyerahkan diri kepada Allah.
Condong kepada Islam dan jauhi selain agama Islam.
❋ **Keempat:** Di antara manusia ada yang mengaku tidak berbuat syirik dan termasuk orang yang ikhlas. Namun bersamaan dengan itu, ia tidak berlepas diri dari orang-orang musyrik. Padahal agama Ibrahim adalah menggabungkan kedua hal tersebut.
Tauhid dan berlepas diri dari kesyirikan.
Semoga bermanfaat,
#Firanda #Andirja #tafsir #albaqarah #tauhid #syirik #lepas #diri #hanif
##$$-aa-$$##

