TAFSIR QS AL A’RAF#18: AYAT 144-151
- TAFSIR QS AL A’RAF#1 : AYAT 1-11
- TAFSIR QS AL A’RAF#2: AYAT 12-22
- TAFSIR QS AL A’RAF#3: AYAT 22-30
- TAFSIR QS AL A’RAF#4: AYAT 31-37
- TAFSIR QS AL A’RAF#5: AYAT 38-43
- TAFSIR QS AL A’RAF#18: AYAT 144-151
- TAFSIR QS AL A’RAF#6: AYAT 44 -51
- TAFSIR QS AL A’RAF#7: AYAT 52 -56
- TAFSIR QS AL A’RAF#8: AYAT 57-64
- TAFSIR QS AL A’RAF#9: AYAT 65-72
Diterbitkan pertama kali pada: 22-Agu-2021 @ 21:04
6 menit membaca📖 TAFSIR QS AL A’RAF#18: AYAT 144-151
👤Ustadz Dr Firanda Andirja MA
🗓️ 14 Muharam 1443H
🕌 Masjid AlIkhlas Dukuh Bima (zoom)
KISAH NABI MUSA #5
Sebelumnya Nabi Musa ingin melihat langsung dengan Allah namun tidak mampu.
✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قَا لَ يٰمُوْسٰۤى اِنِّى اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّا سِ بِرِسٰلٰتِيْ وَ بِكَلَا مِيْ ۖ فَخُذْ مَاۤ اٰتَيْتُكَ وَكُنْ مِّنَ الشّٰكِرِيْن
“(Allah) berfirman, “Wahai Musa! Sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) engkau dari manusia yang lain (pada masamu) untuk membawa risalah-Ku dan firman-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 144)
Ini adalah hiburan Allah kepada Nabi Musa,yang tidak bisa melihat Allah. Yaitu Allah bicara langsung dengan Nabi Musa tanpa perantara.
Nabi Harun juga seorang rasul namun hanya sebagai pembantu dalam urusan dakwah Nabi Musa.
📐Nabi Musa lebih spesial.
Nabi Musa juga diajak secara langsung tanpa perantara malaikat Jibril.
Nabi lain yang bicara langsung dengan Allah tanpa perantara adalah Nabi Adam saat masih di surga. Dalam banyak ayat ada beberapa ayat (Yaa Adam).
Juga Nabi Muhammad ﷺ saat Mi’raj.
فَأَوْحَىٰٓ إِلَىٰ عَبْدِهِۦ مَآ أَوْحَىٰ
Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.
Surat An-Najm (53) Ayat 10
Namun Nabi Muhammad tidak melihat langsung Allah.
Rasul tidak satu derajat, ada yang dilebihkan.
Kemudian Allah memerintahkan Musa untuk istiqomah dan menaikkan level qonaah dan bersyukur.
Kalimullah adalah Nabi yang diajak berbicara langsung oleh Allah.
✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَكَتَبْنَا لَهٗ فِى الْاَ لْوَا حِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَّوْعِظَةً وَّتَفْصِيْلًا لِّـكُلِّ شَيْءٍ ۚ فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ وَّأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُوْا بِاَ حْسَنِهَا ۗ سَاُ ورِيْكُمْ دَا رَ الْفٰسِقِيْنَ
“Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada lauh-lauh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan untuk segala hal; maka (Kami berfirman), “Berpegang teguhlah kepadanya dan suruhlah kaummu berpegang kepadanya dengan sebaik-baiknya, Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang fasik.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 145)
الْاَ لْوَا حِ
Adalah lembaran yang berisi tentang firman Allah.
مَّوْعِظَةً
Adalah wejangan (motivasi dan ancaman).
وَّتَفْصِيْلًا لِّـكُلِّ شَيْءٍ
Yaitu segala sesuatu yang dibutuhkan pada risalah tersebut.
فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ وَّأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُوْا بِاَ حْسَنِهَا ۗ سَاُ ورِيْكُمْ دَا رَ الْفٰسِقِيْنَ
Kerjakanlah kandungan nya dengan semaksimal mungkin. Nabi Musa harus kerjakan yang lebih hebat diri daripada kaumnya.
Umar bin Khaththab sikap nya tegas kepada orang lain tetapi dia lebih tegas terhadap dirinya sendiri. Ini harus jadi renungan pada seorang dai.
Allah menyuruh Nabi Musa supaya kaumnya memegang yang terbaik.
▶️ Tafsir nya adalah
1. Syariat Allah adalah yang terbaik.
2. Ism tafdhil, pilih yang terbaik diantara dua pilihan yang terdapat dalam Taurat.
Contoh
1. Qishah boleh atau memaafkan (dipilih)
2. Balas atau sabar (yang dipilih)
Kita tidak boleh membalas yang lebih karena ini dzalim.
▶️ Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang fasik, tafsir nya ada khilaf.
1. Negeri yang sudah Allah binasakan
2. Neraka Jahanam (Ustadz cenderung pada pendapat ini)
✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
سَاَ صْرِفُ عَنْ اٰيٰتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِى الْاَ رْضِ بِغَيْرِ الْحَـقِّ ۗ وَاِ نْ يَّرَوْا كُلَّ اٰيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوْا بِهَا ۚ وَاِ نْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًا ۚ وَّاِنْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًا ۗ ذٰلِكَ بِاَ نَّهُمْ كَذَّبُوْا بِاٰ يٰتِنَا وَكَا نُوْا عَنْهَا غٰفِلِيْنَ
“Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku) orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. Kalaupun mereka melihat setiap tanda (kekuasaan-Ku) mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak (akan) menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 146)
Ini adalah balasan sesuai perbuatan. Jika menyimpang maka Allah simpang kan hati mereka.
Pilihan awal akan sangat penting yang menentukan pilihan selanjutnya.
Kecuali bila kebenaran namun tidak mampu melakukan pilihan tersebut karena udzur, bukan meninggalkan kebenaran karena hawa nafsu.
Diantara sebab tidak dapat hidayah adalah kesombongan.
Sombong tanpa hak adalah sifat lazimah, kaena orang sombong memang tidak berhak. Yang boleh sombong adalah Allah.
♦️Dan dalam salah satu hadits qudsi Allah berkata melalui lisan Rasulullah ﷺ : “Kesombongan itu adalah kain selendang-Ku dan kebesaran itu kain sarung-Ku. Barangsiapa melawan Aku pada salah satu dari keduanya, niscaya Aku melemparkannya ke dalam neraka Jahannam.”
Sebagian ulama menjelaskan bahwa ayat terkait kesombongan ini maksudnya orang-orang Yahudi.
Maka dari itu tidak heran, bila ada orang yang menyembah hewan, mayat, patung dll..
✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا لَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰ يٰتِنَا وَلِقَآءِ الْاٰ خِرَةِ حَبِطَتْ اَعْمَا لُهُمْ ۗ هَلْ يُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Dan orang-orang yang mendustakan tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan (mendustakan) adanya pertemuan akhirat, sia-sialah amal mereka. Mereka diberi balasan sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 147)
❕❕Amalan mereka gugur karena tidak dibangun diatas tauhid. Allah jadikan debu beterbangan.
Penjelasan Nabi ﷺ terhadap sebagian kebaikan yang masih ada di dalam zaman Jahiliyyah. Kebaikan ‘Abdullāh bin Jud’ān tidaklah bermanfaat karena dia tetap masuk neraka Jahannam, sebagaimana dalam Shahīh Muslim tatkala ‘Āisyah bertanya kepada Nabi ﷺ:
يَا رَسُولَ اللهِ، ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ، وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ، فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ؟ قَالَ: ” لَا يَنْفَعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا: رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ
Wahai Rasulullāh, Ibnu Jud’ān pada masa jahiliyyah suka menyambung silaturrahīm dan memberi makan orang-orang miskin, apakah hal itu bermanfaat baginya: Rasūlullāh ﷺ bersabda: “Tidak akan bermanfaat untuknya, (sebab) seharipun dia tidak pernah mengatakan, ”Wahai Rabbku ampunilah dosa-dosaku di hari kiamat nanti.” (HR Muslim no 214)
⛔Kebaikan Ibnu Jud’ān tidaklah bermanfaat sedikitpun karena dia terjerumus dalam kesyirikan.
✳️ Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا تَّخَذَ قَوْمُ مُوْسٰى مِنْۢ بَعْدِهٖ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلًا جَسَدًا لَّهٗ خُوَا رٌ ۗ اَلَمْ يَرَوْا اَنَّهٗ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلَا يَهْدِيْهِمْ سَبِيْلًا ۘ اِتَّخَذُوْهُ وَكَا نُوْا ظٰلِمِيْنَ
“Dan kaum Musa, setelah kepergian (Musa ke Gunung Sinai) mereka membuat patung anak sapi yang bertubuh dan dapat melenguh (bersuara) dari perhiasan (emas). Apakah mereka tidak mengetahui bahwa (patung) anak sapi itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan). Mereka adalah orang-orang yang dzalim.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 148)
Ketika Nabi Musa datang kepada Allah, Allah menjelaskan bahwa kaumnya telah diuji.
📐Tafsir tentang dari mana emas tersebut.
1. Pinjam orang Qibty dan dibawa pergi
2. Emas di dapat dari bala tentara Firaun yang binasa
Zamiri, orang yang pandai diantara kaum tersebut, menyuruh mereka untuk buat patung sapi.
Mereka menyembah sapi tersebut karena ada suara nya yang membuat mereka lebih yakin.
Nabi Harun pun ingat kan mereka untuk tidak sembah berhala sapi namun kaumnya meremehkan Nabi Harun dan hampir membunuhnya.
Padahal sapi tersebut tidak bisa berbicara.
Para ulama menjelaskan bahwa syarat Tuhan adalah bisa berbicara.
✳️ Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَـمَّا سُقِطَ فِيْۤ اَيْدِيْهِمْ وَرَاَ وْا اَنَّهُمْ قَدْ ضَلُّوْا ۙ قَا لُوْا لَئِنْ لَّمْ يَرْحَمْنَا رَبُّنَا وَيَغْفِرْ لَـنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
“Dan setelah mereka menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa telah sesat, mereka pun berkata, “Sungguh, jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang rugi.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 149)
سُقِطَ فِيْۤ اَيْدِيْهِمْ
Sangat menyesal.
Kenapa mereka sadar?
Allah jelaskan pada ayat berikutnya..
✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَمَّا رَجَعَ مُوْسٰۤى اِلٰى قَوْمِهٖ غَضْبَا نَ اَسِفًا ۙ قَا لَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُوْنِيْ مِنْۢ بَعْدِيْ ۚ اَعَجِلْتُمْ اَمْرَ رَبِّكُمْ ۚ وَاَ لْقَى الْاَ لْوَا حَ وَاَ خَذَ بِرَأْسِ اَخِيْهِ يَجُرُّهٗۤ اِلَيْهِ ۗ قَا لَ ابْنَ اُمَّ اِنَّ الْـقَوْمَ اسْتَضْعَفُوْنِيْ وَكَا دُوْا يَقْتُلُوْنَنِيْ ۖ فَلَا تُشْمِتْ بِيَ الْاَ عْدَآءَ وَ لَا تَجْعَلْنِيْ مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ
“Dan ketika Musa telah kembali (dari bukit Tursina) kepada kaumnya, dengan marah dan sedih hati dia berkata, “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan selama kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?” Musa pun meletakkan lauh-lauh (Taurat) itu (dan jatuh) dan memegang kepala saudaranya (Harun) sambil menarik ke arahnya. (Harun) berkata, “Wahai anak ibuku! Kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir saja mereka membunuhku, sebab itu janganlah engkau menjadikan musuh-musuh menyoraki melihat kemalanganku, dan janganlah engkau jadikan aku sebagai orang-orang yang zalim.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 150)
Nabi Musa marah karena melihat kelakuan kaum yang ibadah sembah sapi sambil menari-nari.
➡️Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan inilah salaf nya sufi yang ibadah sambil menari (Samiri dan kaumnya)
Samiri telah menyesatkan kaum Nabi Musa.
Allah telah kabar kan keadaan tersebut sebelumnya kepada Musa namun Nabi Musa belum marah karena belum lihat langsung.
Musa adalah adik Nabi Harun.
Nabi Musa tidak melempar Taurat karena itu menghina Taurat. Namun terburu-buru dan Taurat itu jatuh.
✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قَا لَ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِاَ خِيْ وَ اَدْخِلْنَا فِيْ رَحْمَتِكَ ۖ وَاَ نْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ
“Dia (Musa) berdoa, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang dari semua penyayang.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 151)
Akhirnya Nabi Musa sadar dan mendoakan Nabi Harun.
Semoga bermanfaat..
##$$-aa-$$##


