4 menit membaca

📜 *TAFSIR As Sa’di JUZ ‘AMMA – 15*
✒️ Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’ di.
🎤Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary
Ahad, 2 Rabi’ul Akhir 1448 H/13 September 2026

Tafsir Al Qur’an Surat Al Muthoffifin.
Termasuk surat Madaniyah.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ (7) وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌ (8) كِتَابٌ مَرْقُومٌ (9) وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ (10) الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (11) وَمَا يُكَذِّبُ بِهِ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ (12) إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ (13) كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (14) كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ (15) ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُو الْجَحِيمِ (16) ثُمَّ يُقَالُ هَذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ (17)

Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam Sijjin. Tahukah kamu apakah Sijjin itu? (Ialah) kitab yang bertulis. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan. Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.-Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan (kepada mereka), “Inilah azab yang dahulu selalu kalian dustakan.”

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ}

sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam Sijjin. (Al-Muthaffifin: 7)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan bahwa catatan orang-orang yang berbuat kemaksiatan ada di dalam Sijjin.

إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ

Ini umum, mencakup semua jenis kefajiran.

سِجِّينٍ

Adalah kitab yang terkumpul seluruh kefajiran : kafir dengan segala jenisnya, munafik dan fasiq (pelaku dosa besar).

Sijjin adalah tempat yang sempit, tempat adzab yang menyakitkan.
Ada ulama yang menjelaskan Sijjin ini adalah tempat yang terletak di bawah perut bumi lapis yang ketujuh.

{كِتَابٌ مَرْقُومٌ}
(Ialah) kitab yang bertulis. (Al-Muthaffifin: 9)

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ}

Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (Al-Muthaffifin: 10)

Ad Diin, beberapa makna
1. Ganjaran
2. Amal ibadah
3. Agama/Aqidah

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, menjelaskan siapa orang-orang yang berdusta, pendurhaka, lagi kafir itu:

{الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ}
(yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan. (Al-Muthaffifin: 11)

Mereka tidak percaya akan kejadiannya, tidak meyakini keberadaannya, dan menganggap mustahil perkara itu terjadi.

Kemudian dalam ayat berikutnya disebutkan:

{وَمَا يُكَذِّبُ بِهِ إِلا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ}
Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan settap orang yang melampaui batas lagi berdosa. (Al-Muthaffifin: 12)

Yaitu melampaui batas dalam amal perbuatannya, misalnya gemar mengerjakan hal-hal yang diharamkan dan melampaui batas dalam menggunakan hal-hal yang diperbolehkan, lagi berdosa dalam semua ucapannya; jika berbicara, dusta; jika berjanji, menyalahinya; dan jika bertengkar, curang (melampaui batas).

Ada dua tafsir.

1. Karena banyak dosa sehingga mendustakan hari kiamat.
2. Karena mendustakan hari kiamat maka hati jadi sempit akhirnya banjak berdosa.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ}
yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat kami, ia berkata, “Itu adalah dongengan-dongengan orang-orang yang dahulu.” (Al-Muthaffifin: 13)

Karena mendustakan hari kiamat akhirnya menolak kebenaran.

Sombong : menolak kebenaran dan meremehkan manusia.

Menolak kebenaran lebih buruk dari pada meremehkan manusia.

Rasulullah ﷺ bersabda,

 لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ.

“Tidak akan masuk surga orang yang ada kesombongan seberat biji sawi di dalam hatinya.” 

{كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. (Al-Muthaffifin:14)

Hati tertutup karena kemaksiatan. Karena itu, di akhirat mereka tidak akan melihat Allah.

{كَلا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ}

Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka. (Al-Muthaffifin: 15)

Ada 3 siksa..
1. Neraka jahannam
2. Siksa celaan/hinaan
3. Tidak bisa melihat Allah.

Tidak bisa melihat Allah itu lebih berat dari pada siksa api neraka itu sendiri.

Sedangkan bagi orang yang beriman kelezatan paling besar pagi penghuni surga adalah kelezatan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنْ النَّارِ قَالَ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَزَادَ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

“Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, (yang artinya) “Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga)?”

Maka mereka menjawab, “Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka?”

Maka (pada waktu itu) Allah membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai dari pada melihat (wajah) Allah Azza wa Jalla”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat tersebut di atas. (HR. Muslim).

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُو الْجَحِيمِ}

Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. (Al-Muthaffifin: 16)

Kemudian mereka (orang-orang kafir itu) selain dihalangi dari melihat Tuhan mereka Yang Maha Pemurah, juga meteka dimasukkan ke dalam neraka dan menjadi penghuni tetapnya.

{ثُمَّ يُقَالُ هَذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ}
Kemudian, dikatakan (kepada mereka), “Inilah azab yang dahulu selalu kalian dustakan.” (Al-Muthaffifin: 17)

Ada peringatan keras dari berbuat kemaksiatan, kemaksiatan adalah kebalikan dari ketaatan. Atau meremehkan dosa atau menormalisasi dosa.

Kemaksiatan itu melalaikan perintah dan melakukan larangan.
Dosa dan maksiat itu menutup hati.

Hati yang sudah tertutup gak bisa masuk cahaya dan tidak bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

Ketika nikmat itu berkurang, hisab lah diri sendiri….

Orang-orang yang menghuni surga sudah tercatat (‘lliyyin) , begitu juga orang-orang yang menguji neraka (Sijjin).

Tingkatkan menolak kebenaran.
1. Ujub
2. Sombong (menolak kebenaran)

Pelajaran lainnya adalah ada 3 hukuman bagi orang-orang yang mendustakan hari akhirat.

Cara melihat Allah kelak. Tidak berdesakan.

Nikmat terbesar penghuni surga adalah memandang wajah Allah.

Semoga bermanfaat.

#tafsir #AhmadZainuddin #albanjary #akhirat #wajah #fajir #maksiat #dosa

$$##-aa-##$$

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?