This entry is part 14 of 29 in the series Bulughul-maram
6 menit membaca

📖 *BULUGHUL MARAM-14*
🖋️ Ibnu Hajar as-Asqalani
Ustadz Muhammad Anwar, Lc MPd
21 Shafar 1447H/16 Agustus 2025
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Kitab ini berisi 1350 an hadits yang berkaitan dengan fikih.

🔸 Tentang Haid

➡️ *HADITS KE-116*

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( إِنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ كَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَقَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ دَمَ اَلْحَيْضِ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِي مِنَ اَلصَّلَاةِ فَإِذَا كَانَ اَلْآخَرُ فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ وَاسْتَنْكَرَهُ أَبُو حَاتِم

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Fatimah binti Abu Hubaisy sedang keluar darah penyakit (istihahlah). Maka bersabdalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam kepadanya : Sesungguhnya darah haid adalah darah hitam yang telah dikenal. Jika memang darah itu yang keluar maka berhentilah dari shalat namun jika darah yang lain berwudlulah dan shalatlah. Riwayat Abu Dawud dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim. Abu Hatim mengingkari hadits ini.

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah menyuruh kepadaku mengenakan kain dan aku laksanakan lalu beliau menyentuhkan badannya kepadaku padahal aku sedang haid. Muttafaq Alaihi.

🔹Faidah

1. Cerita darah haid dan istihadhah, dan cara membedakan.

Ada 3 darah
1. 1. Haid (kehitaman, bau tidak sedap, kental)
1.2. Nifas
1.3. Istihadhah karena penyakit. (warna merah, bau biasa, encer).

2. Bila wanita sakit berbulan-bulan, ada kemungkinan darah haid dan darah istihadhah. Seorang muslimah sebaiknya mampu membedakan antara darah haid dan darah istihadhah. Kalau susah dibolehkan mengikuti kebiasaan.

3. Jika darah istihadhah, suami boleh mendatangi.

4. Wanita yang sedang kena darah istihadhah harus bersihkan darah sebelum wudhu
Karena begitu darah keluar, wudhunya batal. Bila darah itu keluar terus menerus, ini termasuk darurat – sehingga kalau mau wudhu harus saat masuk waktu sholat (habis wudhu langsung sholat).

➡️ *HADITS KE-117*

وَفِي حَدِيثِ أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ: ( لِتَجْلِسْ فِي مِرْكَنٍ فَإِذَا رَأَتْ صُفْرَةً فَوْقَ اَلْمَاءِ فَلْتَغْتَسِلْ لِلظُّهْرِ وَالْعَصْرِ غُسْلاً وَاحِدًا وَتَغْتَسِلْ لِلْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ غُسْلاً وَاحِدًا وَتَغْتَسِلْ لِلْفَجْرِ غُسْلاً وَتَتَوَضَّأْ فِيمَا بَيْنَ ذَلِكَ )

Dalam hadits Asma binti Umais menurut riwayat Abu Dawud : Hendaklah dia duduk dalam suatu bejana air. Maka jika dia melihat warna kuning di atas permukaan air hendaknya ia mandi sekali untuk Dhuhur dan Ashar mandi sekali untuk Maghrib dan Isya’ dan mandi sekali untuk shalat subuh dan berwudlu antara waktu-waktu tersebut.

Faidah.

1. Mandi nya seperti mandi besar – mandi wajib.
2. Hadits ini terkait wanita istihadhah. Dan mandi untuk 2x sholat. Digabung dengan hadits Aisyah – hukum mandi disini adalah sunnah.

➡️ *HADITS KE-118*

وَعَنْ حَمْنَةَ بِنْتِ جَحْشٍ قَالَتْ: ( كُنْتُ أُسْتَحَاضُ حَيْضَةً كَبِيرَةً شَدِيدَةً فَأَتَيْتُ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَسْتَفْتِيهِ فَقَالَ: إِنَّمَا هِيَ رَكْضَةٌ مِنَ اَلشَّيْطَانِ فَتَحَيَّضِي سِتَّةَ أَيَّامٍ أَوْ سَبْعَةً ثُمَّ اِغْتَسِلِي فَإِذَا اسْتَنْقَأْتِ فَصَلِّي أَرْبَعَةً وَعِشْرِينَ أَوْ ثَلَاثَةً وَعِشْرِينَ وَصُومِي وَصَلِّي فَإِنَّ ذَلِكَ يُجْزِئُكَ وَكَذَلِكَ فَافْعَلِي كَمَا تَحِيضُ اَلنِّسَاءُ فَإِنْ قَوِيتِ عَلَى أَنْ تُؤَخِّرِي اَلظُّهْرَ وَتُعَجِّلِي اَلْعَصْرَ ثُمَّ تَغْتَسِلِي حِينَ تَطْهُرِينَ وَتُصَلِّينَ اَلظُّهْرَ وَالْعَصْرِ جَمِيعًا ثُمَّ تُؤَخِّرِينَ اَلْمَغْرِبَ وَتُعَجِّلِينَ اَلْعِشَاءِ ثُمَّ تَغْتَسِلِينَ وَتَجْمَعِينَ بَيْنَ اَلصَّلَاتَيْنِ فَافْعَلِي. وَتَغْتَسِلِينَ مَعَ اَلصُّبْحِ وَتُصَلِّينَ. قَالَ: وَهُوَ أَعْجَبُ اَلْأَمْرَيْنِ إِلَيَّ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيَّ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ اَلْبُخَارِيّ

Hamnah binti Jahsy berkata: Aku pernah mengeluarkan darah penyakit (istihadhah) yang banyak sekali. Maka aku menghadap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam untuk meminta fatwanya.

Beliau ﷺ bersabda : Itu hanya gangguan dari setan (ingin buat bingung) . Maka anggaplah enam atau tujuh hari (ambil kebiasaan) sebagai masa haidmu kemudian mandilah. Jika engkau telah bersih shalatlah 24 atau 23 hari berpuasa dan shalatlah karena hal itu cukup bagimu.

Kerjakanlah seperti itu setiap bulan sebagaimana wanita-wanita yang haid. Jika engkau kuat untuk mengakhirkan shalat dhuhur dan mengawalkan shalat Ashar (maka kerjakanlah) kemudian engkau mandi ketika suci dan engkau shalat Dhuhur dan Ashar dengan jamak. Kemudian engkau mengakhirkan shalat maghrib dan mengawalkan shalat Isya’ lalu engkau mandi pada waktu subuh dan shalatlah. Beliau bersabda : Inilah dua hal yang paling aku sukai. Diriwayatkan oleh Imam Lima kecuali Nasa’i. Shahih menurut Tirmidzi dan hasan menurut Bukhari.

Syetan ini bermaksud ganggu manusia dengan membuat bingung muslimah.

Jamak sholat disini adalah jamak syuri – masih dalam waktu masing-masing.

Inilah kemudahan yang Rasulullah ﷺ berikan bagi muslimah yang sedang keluar darah istihadhah.

➡️ *HADITS KE-119*

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; ( أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ بِنْتَ جَحْشٍ شَكَتْ إِلَى رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم اَلدَّمَ فَقَالَ: اُمْكُثِي قَدْرَ مَا كَانَتْ تَحْبِسُكِ حَيْضَتُكِ ثُمَّ اِغْتَسِلِي فَكَانَتْ تَغْتَسِلُ كُلَّ صَلَاةٍ ) رَوَاهُ مُسْلِم
وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ: ( وَتَوَضَّئِي لِكُلِّ صَلَاةٍ ) وَهِيَ لِأَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ.

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Ummu Habibah binti Jahsy mengadukan pada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tentang darah (istihadhah). Beliau bersabda : Berhentilah (dari shalat) selama masa haidmu menghalangimu kemudian mandilah. Kemudian dia mandi untuk setiap kali shalat. Diriwayatkan oleh Muslim.
Dalam suatu riwayat milik Bukhari: Dan berwudlulah setiap kali shalat. Hadits tersebut juga menurut riwayat Abu Dawud dan lainnya dari jalan yang lain.

Jadi sesuai dengan kebiasaan.

➡️ *HADITS KE-120*

وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( كُنَّا لَا نَعُدُّ اَلْكُدْرَةَ وَالصُّفْرَةَ بَعْدَ اَلطُّهْرِ شَيْئًا ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ وَأَبُو دَاوُدَ وَاللَّفْظُ لَه
Ummu Athiyyah Radliyallaahu ‘anhu berkata : Kami tidak menganggap apa-apa terhadap cairan keruh dan warna kekuningan setelah suci. Riwayat Bukhari dan Abu Dawud. Lafadznya milik Abu Dawud.

Sebagian ulama menjelaskan kekeruhan itu adalah sisa darah haid. Darah haid sudah habis. Sehingga kalau keluar jadi keruh (kekuningan) maka itu bukan haid.

Ini beda bila cairan ini keluar saat dalam waktu kebiasaan haid, misal saat hari ketiga atau keempat.

Ini terjadi umumnya pada wanita yang konsumsi obat penahan haid.

➡️ *HADITS KE-121*

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه ( أَنَّ اَلْيَهُودَ كَانُوا إِذَا حَاضَتْ اَلْمَرْأَةُ لَمْ يُؤَاكِلُوهَا فَقَالَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم اِصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا اَلنِّكَاحَ ) رَوَاهُ مُسْلِم

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa orang yahudi jika ada seorang perempuan di antara mereka yang haid mereka tidak mengajaknya makan bersama. Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Kerjakanlah segala sesuatu kecuali bersetubuh. Diriwayatkan oleh Muslim.

Kebiasaan buruk yahudi ini termasuk tidak sekamar dengan istri dst.

Dan Islam menghentikan kebiasaan buruk yahudi.

➡️ *HADITS KE-122*

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُنِي فَأَتَّزِرُ فَيُبَاشِرُنِي وَأَنَا حَائِضٌ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah menyuruh kepadaku mengenakan kain dan aku laksanakan lalu beliau menyentuhkan badannya kepadaku padahal aku sedang haid. Muttafaq Alaihi.

Maksudnya Rasulullah ﷺ mencumbui saat Aisyah haid.

➡️ *HADITS KE-123*

وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا عَنِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم -فِي اَلَّذِي يَأْتِي اِمْرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ- قَالَ: ( يَتَصَدَّقُ بِدِينَارٍ أَوْ نِصْفِ دِينَارٍ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ وَابْنُ اَلْقَطَّانِ وَرَجَّحَ غَيْرَهُمَا وَقْفَه

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tentang orang yang mencampuri istrinya ketika dia sedang haid. Beliau ﷺ bersabda : Ia harus bersedakan satu atau setengah dinar. Riwayat Imam Lima. Shahih menurut Hakim dan Ibnul Qaththan dan mauquf menurut yang lainnya.

Sedekah ini adalah kafarah karena suami campuri istri saat haidh. 1 Dinar sekitar 5jt, atau setengah Dinar ~ 2.5jt rupiah.

Apa hukum sedekah dalam hadits ini?

1. Wajib jika memang mampu. Ulama menjelaskan kalau datangi istri saat awal haid maka denda yang lebih besar (1 dinar), bila saat akhir denda nya ¹/² Dinar.

2. Kebanyakan ulama : tidak ada kewajiban bayar denda – karena sebagian ulama hadits nya ada cacat. Tidak sampai pada Nabi ﷺ. Sedangkan hukum asal harta muslim itu terjaga, tidak boleh buat hukum untuk keluarkan harta anak dalil yang jelas.

➡️ *HADITS KE-124*

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ فِي حَدِيث

Dari Abu Said Al-Khudry bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Bukankah wanita itu jika datang haid tidak boleh shalat dan berpuasa. Muttafaq Alaihi dalam hadits yang panjang.

Ini adalah potongan dari hadits panjang terkait wanita yang kurang akal dan agama nya.

Hadits nya,

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ:
خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ إِلَى الْمُصَلَّى، فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ، فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ.
فَقُلْنَ: وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟
قَالَ: تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ.
قُلْنَ: وَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعَقْلِنَا؟
قَالَ: أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ؟
قُلْنَ: بَلَى.
قَالَ: فَذَاكَ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا. أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟
قُلْنَ: بَلَى.
قَالَ: فَذَاكَ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا.

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Rasulullah ﷺ keluar pada hari Idul Adha atau Idul Fitri menuju tempat shalat. Beliau melewati para wanita lalu bersabda:
“Wahai kaum wanita, bersedekahlah, karena aku diperlihatkan bahwa kalian adalah mayoritas penghuni neraka.”
Mereka bertanya: “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Kalian banyak melaknat dan mengingkari kebaikan suami. Aku tidak pernah melihat orang yang kurang akal dan agama yang lebih mampu mengalahkan akal laki-laki yang teguh daripada salah seorang dari kalian.”
Mereka bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud kurang akal dan kurang agama kami?”
Beliau bersabda:
“Bukankah kesaksian seorang wanita setara dengan setengah kesaksian seorang laki-laki?”
Mereka menjawab: “Benar.”
Beliau bersabda:
“Itulah kekurangan akalnya. Bukankah jika ia haid, ia tidak shalat dan tidak puasa?”
Mereka menjawab: “Benar.”
Beliau bersabda:
“Itulah kekurangan agamanya.”
HR Bukhari dan Muslim.

➡️ *HADITS KE-125*

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( لَمَّا جِئْنَا سَرِفَ حِضْتُ فَقَالَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم اِفْعَلِي مَا يَفْعَلُ اَلْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ فِي حَدِيث

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata : Ketika kami telah tiba di desa Sarif (terletak di antara Mekah dan Madinah) aku datang bulan. Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang haji namun engkau jangan berthawaf di Baitullah sampai engkau suci. Muttafaq Alaihi dalam hadits yang panjang.

Solusi ulama – terkait umrah dalam waktu haid.
1. Hari pertama haid saat umrah – lanjutkan semua rangkaian umrah.
2. Ada kemungkinan berhenti haid saat masih di Makkah – tunggu sampai bersih.
Kalau gak bersih saat sudah mau pulang – boleh lanjut umrah.

Semoga bermanfaat.

#haid #istihadlah #istihadhah #nifas #umrah #tawaf

$$##-aa-##$$

Bulughul-maram

BULUGHUL MARAM-13 BULUGHUL MARAM-15
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?