BULUGHUL MARAM-15
📖 *BULUGHUL MARAM-15*
🖋️ Ibnu Hajar as-Asqalani
Ustadz Muhammad Anwar, Lc MPd
28 Shafar 1447H/23 Agustus 2025
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
Kitab ini berisi 1350 an hadits yang berkaitan dengan fikih.
🔸 Tentang Haid
Wanita yang haid dilarang tawaf :
1. Syarat dalam kondisi suci. Ada ulama lain yang mengatakan karena memang wanita haid yang dilarang masuk masjid (tapi tidak kuat).
➡️ *HADITS KE-126*
وَعَنْ مُعَاذٍ رضي الله عنه ( أَنَّهُ سَأَلَ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم مَا يَحِلُّ لِلرَّجُلِ مِنِ اِمْرَأَتِهِ وَهِيَ حَائِضٌ؟ قَالَ: مَا فَوْقَ اَلْإِزَارِ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَضَعَّفَه
Dari Muadz Ibnu Jabal Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia bertanya kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tentang apa yang dihalalkan bagi seorang laki-laki terhadap istrinya yang sedang haid. Beliau menjawab : Apa yang ada di atas kain. Diriwayatkan dan dianggap lemah oleh Abu Dawud.
Faidah.
1. Suami boleh bercumbu dengan istri saat haid.
➡️ *HADITS KE-127*
وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( كَانَتِ اَلنُّفَسَاءُ تَقْعُدُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم بَعْدَ نِفَاسِهَا أَرْبَعِينَ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيَّ وَاللَّفْظُ لِأَبِي دَاوُد
وَفِي لَفْظٍ لَهُ ( وَلَمْ يَأْمُرْهَا اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِقَضَاءِ صَلَاةِ اَلنِّفَاسِ ) وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِم
Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anhu berkata : Wanita-wanita yang sedang nifas pada masa Nabi ﷺ meninggalkan shalat selama 40 hari semenjak darah nifasnya keluar. Riwayat Imam Lima kecuali Nasa’i dan lafadznya dari Abu Dawud.
Faidah.
1. Maksimal darah nifas adalah 40 hari.
Dalam lafadz lain menurut riwayat Abu Dawud: Dan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak menyuruh mereka mengqadha shalat yang mereka tinggalkan saat nifas. Hadits ini shahih menurut Hakim.
Tidak ada waktu minimal berhentinya darah nifas.
✅ *BAB SHOLAT*
🔸*WAKTU-WAKTU SHOLAT*
➡️ *HADITS KE-128*
عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِوٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ نَبِيَّ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( وَقْتُ اَلظُّهْرِ إِذَا زَالَتْ اَلشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ اَلرَّجُلِ كَطُولِهِ مَا لَمْ يَحْضُرْ اَلْعَصْرُ وَوَقْتُ اَلْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ اَلشَّمْسُ وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبْ اَلشَّفَقُ وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اَللَّيْلِ اَلْأَوْسَطِ وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ اَلْفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعْ اَلشَّمْسُ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ
وَلَهُ مِنْ حَدِيثِ بُرَيْدَةَ فِي اَلْعَصْرِ: (وَالشَّمْسُ بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ )
وَمِنْ حَدِيثِ أَبِي مُوسَى: ( وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ )
Dari Abdullah Ibnu Amr Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Waktu Dhuhur ialah jika matahari telah condong (ke barat) dan bayangan seseorang sama dengan tingginya selama waktu Ashar belum tiba waktu Ashar masuk selama matahari belum menguning waktu shalat Maghrib selama awan merah belum menghilang waktu shalat Isya hingga tengah malam dan waktu shalat Shubuh semenjak terbitnya fajar hingga matahari belum terbit.” Riwayat Muslim.
Hadits ini adalah tentang waktu sholat.
Dhuhur dimulai ketika matahari tergelincir. Saat matahari di atas kepala adalah waktu terlarang untuk sholat. Yaitu saat bayangan kita ada di bawah kita. Ketika bayangan mulai ke arah timur maka mulai waktu sholat Dhuhur.
Akhir waktu Dhuhur adalah saat bayangan serupa dengan benda nya.
Waktu Ashar akan selesai setelah matahari menguning.
Waktu Ashar ikhtiary – saat bayangan sama panjang dengan benda sampai bayangan dua kali panjang benda nya.
Kalau sudah menguning berarti waktu sholat Ashar bagi orang yang punya udzur (sakit, tidur, dst).
Berdosa bagi orang yang menunda sholat Ashar sampai cahaya matahari menguning.
Waktu maghrib – masih ada cahaya warna merah.
Bila sudah hilang warna merah – misal sudah hitam maka sudah masuk waktu Isya.
Waktu Isya Ikhtiary – awal waktu sampai pertengahan malam.
Waktu darury- setelah waktu pertengahan malam sampai sebelum subuh, ini bagi yang darurat.
Waktu subuh – terbit fajar.
Fajar kadzib – fajar semu. Cahaya ke atas/vertikal. Seperti ekor selrigala.
Fajar shadiq – cahayanya menyebar.
Jarak antara Fajar Kadzib ke Fajar Shadiq berkisar 30 menit.
Menurut riwayat Muslim dari hadits Buraidah tentang waktu shalat Ashar. “Dan matahari masih putih bersih.”
Artinya belum menguning.
Dari hadits Abu Musa: “Dan matahari masih tinggi.”
➡️ *HADITS KE-129*
وَعَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّيَ اَلْعَصْرَ ثُمَّ يَرْجِعُ أَحَدُنَا إِلَى رَحْلِهِ فِي أَقْصَى اَلْمَدِينَةِ وَالشَّمْسُ حَيَّةٌ وَكَانَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يُؤَخِّرَ مِنْ اَلْعِشَاءِ وَكَانَ يَكْرَهُ اَلنَّوْمَ قَبْلَهَا وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا وَكَانَ يَنْفَتِلُ مِنْ صَلَاةِ اَلْغَدَاةِ حِينَ يَعْرِفُ اَلرَّجُلُ جَلِيسَهُ وَيَقْرَأُ بِالسِّتِّينَ إِلَى اَلْمِائَةِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
وَعِنْدَهُمَا مِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ: ( وَالْعِشَاءَ أَحْيَانًا وَأَحْيَانًا: إِذَا رَآهُمْ اِجْتَمَعُوا عَجَّلَ وَإِذَا رَآهُمْ أَبْطَئُوا أَخَّرَ وَالصُّبْحَ: كَانَ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّيهَا بِغَلَسٍ )
وَلِمُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي مُوسَى: ( فَأَقَامَ اَلْفَجْرَ حِينَ اِنْشَقَّ اَلْفَجْرُ وَالنَّاسُ لَا يَكَادُ يَعْرِفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا )
Abu Barzah al-Aslamy Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah ﷺ pernah setelah usai shalat Ashar kemudian salah seorang di antara kami pulang ke rumahnya di ujung kota Madinah sedang matahari saat itu masih panas. Beliau biasanya suka mengakhirkan shalat Isya’ tidak suka tidur sebelumnya dan bercakap-cakap setelahnya. Beliau juga suka melakukan shalat Shubuh di saat seseorang masih dapat mengenal orang yang duduk disampingnya beliau biasanya membaca 60 hingga 100 ayat. Muttafaq Alaihi.
Para ulama simpulkan bahwa Nabi ﷺ menyegerakan sholat Ashar dan mengakhirkan sholat Isya.
Menurut hadits Bukhari-Muslim dari Jabir: Adakalanya beliau melakukan shalat Isya’ pada awal waktunya dan adakalanya beliau melakukannya pada akhir waktunya. Jika melihat mereka telah berkumpul beliau segera melakukannya dan jika melihat mereka terlambat beliau mengakhirkannya sedang mengenai shalat Shubuh biasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menunaikannya pada saat masih gelap.
Rasulullah ﷺ melihat kondisi jama’ah ketika melaksanakan sholat Isya nya. Artinya sesuai kondisi masyarakat.
Beliau ﷺ melaksanakan sholat sholat subuh di awal waktu. (dalam hadits ini).
Menurut Muslim dari hadits Abu Musa: Beliau menunaikan shalat Shubuh pada waktu fajar terbit di saat orang-orang hampir tidak mengenal satu sama lain.
Hadits dari Rafiq – Nabi ﷺ pernah lakukan sholat Maghrib di awal waktu.
➡️ *HADITS KE-130*
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( أَعْتَمَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ لَيْلَةٍ بِالْعَشَاءِ حَتَّى ذَهَبَ عَامَّةُ اَللَّيْلِ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى وَقَالَ: “إِنَّهُ لَوَقْتُهَا لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي” ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ
‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Pada suatu malam pernah Nabi ﷺ mengakhirkan shalat Isya’ hingga larut malam. Kemudian beliau keluar dan shalat dan bersabda: “Sungguh inilah waktunya (yang terbaik) jika tidak memberatkan umatku.” Riwayat Muslim.
Jadi waktu terbaik sholat Isya jika kaum muslimin tidak keberatan adalah saat akhir waktu. Namun hal ini saat ini sangat memberatkan bagi jama’ah.
➡️ *HADITS KE-131*
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا اِشْتَدَّ اَلْحَرُّ فَأَبْرِدُوا بِالصَّلَاةِ فَإِنَّ شِدَّةَ اَلْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila panas sangat menyengat maka tunggulah waktu dingin untuk menunaikan shalat karena panas yang menyengat itu sebagian dari hembusan neraka jahannam.” Muttafaq Alaihi.
Boleh diakhirkan supaya sholat lebih khusyu, karena panas sudah berkurang.
➡️ *HADITS KE-132*
وَعَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَصْبِحُوا بِالصُّبْحِ فَإِنَّهُ أَعْظَمُ لِأُجُورِكُمْ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ
dari Rafi’ Ibnu Khadij Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Lakukanlah shalat Shubuh pada waktu masih benar-benar Shubuh karena ia lebih besar pahalanya bagimu.” Riwayat Imam Lima. Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban.
Hadits ini menerangkan pelaksanaan sholat subuh disegerakan supaya ayat yang dibacakan bisa lebih banyak sehingga lebih banyak pahalanya.
➡️ *HADITS KE-133*
1rakaat yang didapat sebelum waktu habis masih dianggap mendapatkan waktu sholat.
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( مَنْ أَدْرَكَ مِنْ اَلصُّبْحِ رَكْعَةً قَبْلِ أَنْ تَطْلُعَ اَلشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ اَلصُّبْحَ وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ اَلْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ اَلشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ اَلْعَصْرَ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
وَلِمُسْلِمٍ عَنْ عَائِشَةَ نَحْوَهُ وَقَالَ: “سَجْدَةً” بَدَلَ “رَكْعَةً”. ثُمَّ قَالَ: وَالسَّجْدَةُ إِنَّمَا هِيَ اَلرَّكْعَةُ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang telah mengerjakan satu rakaat shalat Shubuh sebelum matahari terbit maka ia telah mendapatkan shalat Shubuh dan barangsiapa yang telah mengerjakan satu rakaat shalat Ashar sebelum matahari terbenam maka ia telah mendapatkan shalat Ashar.” Muttafaq Alaihi.
Menurut riwayat Muslim dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu ada hadits serupa beliau bersabda: “Sekali sujud sebagai pengganti daripada satu rakaat.” Kemudian beliau bersabda: “Sekali sujud itu adalah satu rakaat.”
Faidah.
1. Ketika sholat sudah hampir habis waktunya dan dapat 1 rakaat maka berarti dapat waktu sholatnya.
Semoga bermanfaat,
#waktu #sholat #subuh #Dhuhur #fajar #shadiq #kadzib #
$$##-aa-##$$

