HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-14 )
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – perhiasan bagi penuntut ilmu (bagian-1)
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – perhiasan bagi penuntut ilmu. (bagian-2)
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-3)
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-4)
- *HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-5)
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-14 )
- *HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-6 )
- *HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-7 )
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-8 )
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-9 )
Diterbitkan pertama kali pada: 20-Feb-2022 @ 06:49
3 menit membaca*HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-14 )
Karya Syaikh Bakar Abu Zaid
Ustadz Muhammad Anwar, Lc MPd
19 Rajab 1443H
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
Kita lanjutkan..
➡️ *32. AMANAH ILMIAH*
🖍️Penuntut ilmu harus amanah, jangan hanya ambil sebagian dalil dan meninggalkan dalil yang lain.
Syaikh mengatakan, “Kesuksesan umat ini ada pada kebaikan amal sholehnya, dan kebaikan amal sholeh tergantung kebenaran ilmunya dan kebenaran ilmu itu hanya diambil dari guru-guru yang amanah yang menyampaikan dan menjelaskan ilmunya. Barangsiapa yang berbicara tentang ilmu tanpa amanah maka ia telah menimpakan keburukan pada ilmu dan membuat lubang di jalan menuju kejayaan umat”.
Orang-orang liberal biasanya mengambil sebagian ayat dan meninggalkan keseluruhan ayat yang lain. Atau memilih ayat yang lengkap namun meninggalkan ayat-ayat yang lain.
Orang-orang yang menuntut ilmu dengan bersandar pada figur atau kelompok tertentu akan menjadi fanatik, dan meninggalkan sifat amanah sebagai penuntut ilmu.
Contoh lain misalnya orang yang menggunakan hadits palsu untuk jualan produk miliknya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Itulah sebabnya para ulama membuat riwayat detail para perawi hadits, sehingga para ulama mempunyai cara untuk meneliti kesahihan suatu hadits.
➡️ *33. JUJUR*
Penuntut ilmu harus jujur. Kebenaran tutur kata adalah indikasi kewibawaan, kemuliaan jiwa, kebersihan hati, motivasi yang tinggi, kekuatan akal, penghantar cinta kepada jama’ah , dan penjagaan agama.
Seorang dai pasti melakukan kesalahan, namun tidak boleh dengan sengaja melakukan kesalahan.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan kita untuk jujur.
Syaikh Bakar mengatakan sifat jujur ini wajib bagi Penuntut Ilmu. Bila tidak jujur maka ini akan menjadi cacat bagi dirinya dan juga mencederai ilmu.
Rasulullah ﷺ sebelum diangkat menjadi Rasul dikenal sebagai pribadi yang jujur.
Walaupun demikian ajaran yang Rasulullah ﷺ sampaikan masih ada yang menolak.
Sifat jujur ini berkaitan dengan muamalah, keseharian.
Dusta hanya boleh pada 3 hal..
1. Dusta kepada istri dalam rangka menjaga keharmonisan rumah tangga, bukan untuk mengurangi hak istri
2. Dusta ketika mendamaikan dua orang atau kelompok yang sedang berseteru.
3. Dalam suatu peperangan, sebagai taktik perang.
Dalam sebuah hadits disebutkan,
ولم أسمعه يرخص في شيء مما يقول الناس إلا في ثلاث: تعني الحرب، والإصلاح بين الناس، وحديث الرجل امرأته، وحديث المرأة زوجها.
“Belum pernah aku dengar, kalimat (bohong) yang diberi keringanan untuk diucapkan manusia selain dalam 3 hal: Ketika perang, dalam rangka mendamaikan antar-sesama, dan suami berbohong kepada istrinya atau istri berbohong pada suaminya (jika untuk kebaikan).” (HR. Muslim)
Sekarang ini banyak orang berdusta dalam banyak hal, dalam bercanda sekalipun.
Ada permainan kata-kata yang dikenal dengan Tawriyah, yaitu menampakkan pada yang diajak bicara tidak sesuai kenyataan, namun dari satu sisi pernyataan yang diungkap itu benar.
Contohnya saat Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar saat hijrah dari Makkah dan ke Madinah. Dimana saat itu Quraisy berusaha untuk menangkap Rasulullah ﷺ.
Dalam perjalanan hijrah tersebut Abu Bakar ketika menjelaskan siapa orang yang bersama nya maka Abu Bakar mengatakan, beliau adalah petunjuk jalan (maksud sebenarnya adalah petunjuk jalan kebenaran dari Allah).
Demikian juga apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim saat ditanyai raja tentang istrinya. Nabi Ibrahim menjawab dia adalah saudaraku (maksudnya saudara seiman).
Namun Tawriyah ini hanya boleh dilakukan saat keadaan darurat.
Imam Auza’i berkata, “Belajarlah pada kejujuran sebelum mempelajari ilmu”.
Imam Waki’ berkata, “apapun pekerjaan tidak akan terangkat pada kedudukan yang tinggi kecuali sifat jujur”.
Dusta itu dosa dan akan melahirkan dosa-dosa yang lain.
Syaikh menjelaskan Jujur adalah seseorang berbicara seusai kenyataan, sesuai dengan yang ia yakini.
Adapun dusta itu lawan dari jujur dan banyak jalan.
🖍️Para ulama membagi dusta menjadi 3:
🔸1. Dusta orang yang ingin ambil muka, dusta yang kenyataan tidak sesuai keyakinan. Misalnya orang yang fasik tapi ingin dianggap sholeh.
🔸2. Dusta orang munafik, menyelisihi keyakinan tapi ungkapan sesuai kenyataan. Munafik jaman Rasulullah ﷺ sebagai contohnya.
🔸3. Dusta orang yang bodoh. Ucapan menyelisihi kenyataan tapi sesuai keyakinan. Misal seseorang yang anggap gurunya adalah orang yang sakti, tahu hal yang ghaib.
Ada tiga perkara yang menjadikan dia rugi bila Penuntut ilmu punya sifat berdusta..
1. Hilang kepercayaan dalam hati orang terhadap dirinya
2. Hilangnya ilmu.
3. Tidak ada yang percaya walaupun dia berbicara jujur.
Jangan dusta meskipun dalam hal sepele.
Jangan bermain Tawriyah, kecuali dalam keadaan darurat.
##$$-aa-$$##


