This entry is part 15 of 16 in the series Tafsir AlAnam

Diterbitkan pertama kali pada: 21-Mar-2021 @ 20:57

5 menit membaca

📖 TAFSIR QS AL AN’AM#15 : AYAT 148-153
👤Ustadz Dr Firanda Andirja MA
🗓️ 9 Syaban 1442H
🕌 Masjid AlIkhlas Dukuh Bima (zoom)

Kita lanjutkan..

✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

سَيَـقُوْلُ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْا لَوْ شَآءَ اللّٰهُ مَاۤ اَشْرَكْنَا وَلَاۤ اٰبَآ ؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ  ۗ كَذٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتّٰى ذَا قُوْا بَأْسَنَا  ۗ قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِّنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوْهُ لَـنَا  ۗ اِنْ تَتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِ نْ اَنْـتُمْ اِلَّا تَخْرُصُوْنَ

“Orang-orang musyrik akan berkata, “Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan mempersekutukan-Nya, begitu pula nenek moyang kami, dan kami tidak akan mengharamkan apa pun.” Demikian pula orang-orang sebelum mereka yang telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan azab/siksaan Kami. Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu mempunyai pengetahuan yang dapat kamu kemukakan kepada kami? Yang kamu ikuti hanya persangkaan belaka, dan kamu hanya mengira.”” (QS. Al-An’am 6: Ayat 148)

Ayat ini rentetan dari perdebatan Rasulullah ﷺ dengan kaum musyrikin Mekah, dan akhirnya mereka berdalil dengan takdir untuk membenarkan kelakuan mereka.

Perihalnya sama dengan yang disebutkan di dalam ayat lain, yaitu oleh firman-Nya:

{وَقَالُوا لَوْ شَاءَ الرَّحْمَنُ مَا عَبَدْنَاهُمْ}

Dan mereka berkata, “Jikalau Allah Yang Maha Pemurah meng­hendaki, tentulah kami tidak menyembah (mereka).” (Az-Zukhruf: 20)

Dan orang-orang sebelum mereka juga ditimpa azab Allah yang juga berdalil dengan takdir.

Mereka hanya ikuti sangkaan belaka.

Jabariyah, ikuti kaum musyrikin yang berdalil dengan takdir untuk membenarkan kesalahan mereka, bahwa mereka berbuat maksiat karena sudah takdir.

Syaikh As Sa’di, tidak wajibkan manusia bila tidak mampu.
Dan kita melakukan amalan baik atau buruk tidak ada paksaan, itu sesuai dengan pilihan mereka.

Tiap orang bisa bedakan apa yang dia mampu atau tidak (terpaksa).

Sesungguhnya orang-orang yang berdalil dengan takdir untuk membenarkan kemaksiatan mereka, tapi mereka tidak konsisten apabila ada orang lain berbuat dzalim kepada mereka. Mereka akan marah karena tidak terima atas kezaliman kepada mereka dan tidak berdalil dengan takdir (lagi).

Kita tidak tahu dengan takdir kita.

Boleh berdalil dengan takdir bila untuk menyesali dan kembali ke jalan Allah, seperti yang dilakukan oleh Nabi Musa sampai takut memberi syafaat di akhirat kelak.

✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ فَلِلّٰهِ الْحُجَّةُ الْبَا لِغَةُ   ۚ فَلَوْ شَآءَ لَهَدٰٮكُمْ اَجْمَعِيْنَ
“Katakanlah (Muhammad), “Alasan/Hujjah yang kuat hanya pada Allah. Maka, kalau Dia menghendaki, niscaya kamu semua mendapat petunjuk.””
(QS. Al-An’am 6: Ayat 149)

Hujjah-hujjah banyak dan kuat yang membenarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Irodah Kauniyyah/Kehendak adalah semua yang Allah kehendaki termasuk yang buruk tetapi ada hikmah di dalamnya.
Contoh, Islam terpecah 73 golongan.
Adanya bencana alam, Allah ciptakan.. Agar manusia merasakan hukuman Allah dan ada yang kembali kepada ketaatan.

Adanya iblis juga banyak hikmah, adanya orang yang rela berjuang dalam ketaatan.

Irodah Syariah, Allah kehendaki yang baik.

Orang-orang liberal ikut berdalil dengan takdir, dan berdalil dengan ayat-ayat Allah.
Misalnya Allah berkehendak ada beberapa agama dan dibenarkan oleh dai liberal.

Boleh juga berdalil dengan takdir dalam rangka taubat seperti Nabi Adam Alaihissalam.

✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ هَلُمَّ شُهَدَآءَكُمُ الَّذِيْنَ يَشْهَدُوْنَ اَنَّ اللّٰهَ حَرَّمَ هٰذَا  ۚ فَاِ نْ شَهِدُوْا فَلَا تَشْهَدْ مَعَهُمْ  ۚ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَآءَ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰ يٰتِنَا وَا لَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِا لْاٰ خِرَةِ وَهُمْ بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Bawalah saksi-saksimu yang dapat membuktikan bahwa Allah mengharamkan ini.” Jika mereka memberikan kesaksian, engkau jangan (ikut pula) memberikan kesaksian bersama mereka. Jangan engkau ikuti keinginan/hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, dan mereka mempersekutukan Rabb.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 150)

Allah menurunkan banyak ayat untuk membantah kesalahan orang-orang musyrikin.

Ayat ini ingatkan kita untuk berhati-hati dalam berbicara agama, jangan menghukumi dengan perasaan.

Produk orang-orang musyrikin didasari dengan hawa nafsu dan kesyirikan.

Ibnu Abbas mengatakan ayat 151,152,153 adalah ayat yang muhkam, turun di Madinah.
Muhkam = jelas.

Ibnu Mas’ud mengatakan 3 ayat ini intisari dakwah Nabi ﷺ, seperti wasiat Nabi ﷺ.

Seluruh Nabi juga menyerukan inti sari dari tiga ayat ini.

Ini juga tercantum dalam kitab Taurat (perjanjian lama)

✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ تَعَا لَوْا اَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ اَ لَّا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْئًـــا وَّبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا  ۚ وَلَا تَقْتُلُوْۤا اَوْلَا دَكُمْ مِّنْ اِمْلَا قٍ  ۗ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَاِ يَّاهُمْ  ۚ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَا حِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ  ۚ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِا لْحَـقِّ  ۗ ذٰ لِكُمْ وَصّٰٮكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. (1) Jangan mempersekutukan-Nya dengan apa pun, (2) berbuat baik kepada ibu bapak, (3) janganlah membunuh anak-anakmu karena miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; (4) janganlah kamu mendekati perbuatan yang keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, (5) janganlah kamu membunuh orang/jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu mengerti.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 151)

Ada 10 wasiat seakan-akan intisari agama.
Larangan syirik ini umum
Berbakti dengan orang tua dengan sebakti-baktinya..

Allah katakan pertama larangan, tapi kepada orang tua Allah katakan bukan larangan (durhaka), karena yang dituntut adalah berbakti.

وَلَا تَقْتُلُوْۤا اَوْلَا دَكُمْ مِّنْ اِمْلَا قٍ  ۗ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَاِ يَّاهُمْ

Dalam surat lain,

{وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ}

Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut kemiskinan. (Al-Isra: 31)

Dalam Al Anam 151,karena orang tua miskin
Dalam Al Isra 31, orang tua tidak miskin tapi takut miskin.

Al Anam 151, rizki anak lewat orang tua
Al Isra 31, rezeki orang tua karena ada anak.

⛔Faidah, haram batasi anak jika takut nggak bisa kasih makan.⛔❗❗

Menjarangkan kelahiran dibolehkan, dalil nya Rasulullah ﷺ membolehkan sahabat melakukan azal (buang di luar).

Jiwa yang boleh dibunuh, antara lain..

1. Sudah menikah zina
2. Qishash
3. Murtad
4. Khalifah lebih dari 1,yang terakhir
5. Liwath yang saling ridho
6. Perampok yang membangkang.

✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوْا مَا لَ الْيَتِيْمِ اِلَّا بِا لَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ حَتّٰى يَبْلُغَ اَشُدَّهٗ  ۚ وَاَ وْفُوْا الْكَيْلَ وَا لْمِيْزَا نَ بِا لْقِسْطِ  ۚ لَا نُـكَلِّفُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا  ۚ وَاِ ذَا قُلْتُمْ فَا عْدِلُوْا وَلَوْ كَا نَ ذَا قُرْبٰى  ۚ وَبِعَهْدِ اللّٰهِ اَوْفُوْا  ۗ ذٰ لِكُمْ وَصّٰٮكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ  ۙ 

“Dan (6) janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, sampai dia mencapai (usia) dewasa. Dan (7) sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. (8) Apabila kamu berbicara, bicaralah sejujurnya, sekalipun dia kerabat(mu) dan (9) penuhilah janji Allah. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu ingat.””
(QS. Al-An’am 6: Ayat 152)

Kelola harta yatim harus dengan cara yang ma’ruf.

اَشُدَّهٗ
Sampai cerdas urus harta sendiri.

Hati-hati dalam kumpulin harta untuk anak yatim.

Bila ada kesalahan pada kerabat maka ingatkan dengan cara yang ma’ruf.

Allah akhiri dengan.
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Supaya ingat, karna pelakunya mampu tapi lupa.

✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاَ نَّ هٰذَا صِرَا طِيْ مُسْتَقِيْمًا فَا تَّبِعُوْهُ  ۚ وَلَا تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖ  ۗ ذٰ لِكُمْ وَصّٰٮكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! (10) Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 153)

Abdullah ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ , membuat sebuah garis dengan tangannya (di tanah), kemudian bersabda: “Ini jalan Allah yang lurus.” Lalu beliau Shalallahu’alaihi Wasallam membuat garis di sebelah kanan dan kirinya, kemudian bersabda, “Ini jalan-jalan lain, tiada suatu jalan pun darinya melainkan terdapat setan yang menyerukan kepadanya.” Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam membacakan firman-Nya: dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Kuyang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan­Nya. (Al-An’am: 153)

❔❔Tanya jawab.

1. Apakah doa bisa merubah takdir?

Jawab. Takdir yang di Lauhul Mahfudz tidak akan berubah, yang berubah adalah yang ada di catatan malaikat.

Semoga bermanfaat,

$$##-aa-##$$

Tafsir AlAnam

TAFSIR QS AL AN’AM#14 : AYAT 141-147 TAFSIR QS AL AN’AM#16 : AYAT 154-165
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?