BIJAK DALAM BERDAKWAH #2 – Kriteria Juru Dakwah
- BIJAK DALAM BERDAKWAH #1 – Muqaddimah
- BIJAK DALAM BERDAKWAH#3 – Kriteria Juru Dakwah Bagian ke-2
- BIJAK DALAM BERDAKWAH #4 – Kriteria Juru Dakwah Bagian ke-3
- BIJAK DALAM BERDAKWAH#5 Hak-Hak Orang Yang Kita Dakwahi
- BIJAK DALAM BERDAKWAH#6 Hak-Hak Yang Didakwahi
- BIJAK DALAM BERDAKWAH #2 – Kriteria Juru Dakwah
- BIJAK DALAM BERDAKWAH#7 Hak-Hak Yang Didakwahi
- BIJAK DALAM BERDAKWAH#8 – Kewajiban Orang Yang Hijrah (1)
- BIJAK DALAM BERDAKWAH#9 Kewajiban Orang yang Hijrah#2
- BIJAK DALAM BERDAKWAH#10 *Mendakwahi Orang Islam#1*
Diterbitkan pertama kali pada: 11-Sep-2020 @ 20:52
6 menit membacaBIJAK DALAM BERDAKWAH #2 – Kriteria Juru Dakwah
(Syarah Kitab dari Syaikh Prof. Dr. Hamud bin Ahmad Ar Ruhaily).
Ustadz Dr Syafiq Riza Basalamah, MA
24 Muharam 1442H
Indonesia sedang dihadapkan pada dua masalah ekonomi dan kesehatan, namuk yang lebih penting dari keduanyacadalah masalah dakwah.
Supaya orang yang tersesat bisa diselamatkan dari api neraka yang siksanya tidak terbayangkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إنَّ أهْوَنَ أهل النارِ عذاباً مَنْ لَهُ نَعْلانِ وشِرَاكانِ من نارٍ يَغلي منهما دماغُه كما يغلي المِرْجَل ما يَرَى أنَّ أحداً أشدُّ منهُ عَذَاباً وإنَّهُ لأهْونُهمْ عذاباً
”Penduduk neraka yang paling ringan siksaannya di neraka adalah seseorang yang memakai dua sandal neraka yang memiliki dua tali. Kemudian otaknya mendidih karena panasnya sebagaimana mendidihnya air di kuali. Orang tersebut merasa tidak ada orang lain yang siksanya lebih pedih dari siksaannya. Padahal siksaannya adalah yang paling ringan diantara mereka” (HR. Muslim no. 213).
Syaikh menyebutkan kriteria juru dakwah.
1. Dai harus punya ilmu. Bukan semangat saja.
Bila tidak punya ilmu maka perubahan justru ke arah negatif.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.
Qs Muhammad ayat 19.
Di sini Allah menyuruh Nabi Nya berilmu dulu.
Imam Bukhari membuat kitab dengan bab khusus berilmu sebelum beramal.
Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar Asqolani menjelaskan maksud Imam Bukhari di atas adalah ilmu merupakan syarat sah nya ucapan dan perbuatan.
Ilmu akan memperbaiki niat..
Ilmu yang benar adalah ilmu yang bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, karena ini adalah wahyu dari Allah yang tidak mungkin salah.
Allah berfirman,
بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ ۗ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,
Qs An Nahl ayat 44.
Allah perintahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk menjelaskan ayat-ayat Allah dan menyuruh manusia berfikir.
Seorang juru dakwah tidak akan sukses kecuali dengan ilmu agama.
Bila tidak maka bisa menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan bahkan kesyirikan.
Keutamaan orang berilmu dibanding ahli ibadah seperti keutamaan malam bulan purnama dibanding bintang2.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ سَلَكَ طَرِيْـقًـا يَبْـتَغِي فِيْهِ عِلْمًا سَهَّـلَ اللهُ لَهُ طَرِيْـقًـا إِلَى الْجَنَّـةِ، وَإِنَّ الْمَـلاَئِـكَةَ لَتَضَعُ أَجْـنِحَـتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَصْنَعُ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَـسْـتَغْـفِـرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَـا وَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى الْحِـيْتَـانُ فِي الْمَـاءِ .
Artinya: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya orang yang berilmu benar-benar dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang berada di dalam air.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud).
Orang yang ajarin kebaikan maka pahala akan mengalir terus bahkan Bila sudah meninggal dunia.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه
“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama (ini).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Syaikh menekankan Agar belajar ilmu agama dan mengambil ilmu dari orang-orang yang diatas pemahaman salafus shaleh.
Kalau ada manusia yang tidak ikuti jalan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para salafus shaleh maka dakwah nya akan gagal.
Juru dakwah harus mengerti, paham, sadar tentang kepada siapa dia menyeru.
Harus ada keimanan..
Firman Allah Ta’ala,
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah (Muhammad): “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik
Qs Yusuf ayat 108.
Follower Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.
1. Berdakwah
2. Memiliki Bashirah (meyakini berdasar ilmu).
Bashirah adalah ilmu yang landasan nya wahyu.
Syaikh menjelaskan, Saat ini (di seluruh dunia), banyak orang-orang yang berdakwah dengan ormas seperti partai politik yang berdakwah untuk kepentingan mereka.
Ancaman kepada dakwah itu bukan hanya external tapi juga dari internal yang bisa lebih buruk akibatnya.
Syaikh mengimbau kepada ormas untuk mengkaji para juru dakwah terdahulu, yaitu para sahabat radhiyallahu anhum,juga para tabiin rahimahullahu.
Juru Dakwah harus berdiri di atas jalan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan pemahaman para sahabat,sambil cari metode yang paling tepat untuk setiap sasaran dakwah.
2. Juru Dakwah harus ikhlas, ini termasuk yang terpenting.
Harus mencari keridhaan Allah. Tidak boleh target dunia, materi, riya, follower, sum’ah.
Syetan senang menghiasi amalan supaya amalannya gugur.
Allah memerintahkan kita beramal secara ikhlas.
قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan ikhlas (mukhlison).
Qs Az-Zumar ayat 11.
Ikhlas adalah tidak berharap kecuali keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16) }
Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. Qs Hud ayat 15-16.
Orang yang harapkan dunia, Allah akan kasih tapi di akhirat tidak dapat apa-apa, bahkan neraka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena niat orang bisa mendapat pahala walaupun tidak melakukan amalan tersebut.
Allah tidak mau disekutukan dengan apapun.
Amalan sholeh itu diperbaiki dengan hati yang baik, namun hati yang baik juga diperbaiki dengan amalan sholeh.
Ibnul Mubarak berkata,
رب عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية
“Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar (pahalanya) karena sebab niat. Dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil (pahalanya) karena sebab niat.” (Al-Jami’ Ulum wal Hikam)
Allah menjelaskan,
وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.
Qs Asy Syua’ara ayat 109.
Amplop boleh diterima tapi bukan tujuan dakwah.
3. Mengikuti – bukan bikin bid’ah
Dakwah seperti ibadah yang diterima dengan syarat Ikhlas dan mutabaah – mengikuti.
Allah berfirman,
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. QS Al Kahfi ayat 110.
Ada dua syarat :
1. Amal sholeh dengan syarat – Ikhlas dan sesuai syariat.
Bila seseorang dakwah tidak ikuti cara Nabi maka bagaimana mau diterima?
Harus mulai dengan ajak manusia kepada tauhid.
Bila dakwah mulai dengan didirikan negara Islam maka ini tidak sesuai dengan contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan akan gagal.
Syaikh Robi bin Hadi – secara akal dan syariat harus ikut jalan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Mengapa?
1. Ini jalan yang paling lurus, metode yang telah Allah tetapkan kepada semua Nabi dan Rasul.
2. Para Nabi telah jalankan perintah tersebut. Tidak ada Nabi yang memulai dakwah dengan tasawuf, filsafat, politik dll.
3. Allah wajibkan ikuti para nabi sebelumnya
4. Ketika dakwah mereka yang paling sempurna tergambarkan pada dakwah Ibrahim alaihissalam.
Para Nabi memiliki perhatian yang satu yaitu Tauhid yang paling awal.
5. Firman Allah… Dalam qs An Nisa ayat 59.
Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Qs An Nisa ayat 59.
Para Nabi dan Rasul dakwah nya memerangi kesyirikan, dan ajak kepada tauhid.
Juru Dakwah harus dipersiapkan
Semoga bermanfaat
##$$-aa-$$##


