Diterbitkan pertama kali pada: 25-Jul-2023 @ 18:00

11 menit membaca

*Kisah Nabi YUSYA’ BIN NUN ‘alaihissalam*
Ustadz Dr Firanda Andirja, Lc MA
6 Muharam 1445H/23.07.2023
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Beliau adalah Nabi yang melanjutkan tugas estafet dari Nabi Musa dan Nabi Harun alaihimassalam.

Nama beliau adalah ; Yusya’ bin Nun bin Afariim bin Yusuf bin Yakub bin Inshak bin Ibrahim Al Kholil alaihissalam. (Ibnu Katsir – Al Bidayah wa An Nihayah).

Dia adalah seorang nabi yang disepakati oleh seluruh ahlu kitab. Karena setelah Nabi Musa mulai ada yang tidak sepakat tentang kenabian seorang nabi. Bahkan firqoh Syamiroh tidak mengakui seorang nabi pun setelah Nabi Musa kecuali Yusya bin Nuun.

❓❓Kenapa disepakati? Karena termaktub dalam perjanjian lama. Kalau kita buka, tanda merah adalah perjanjian baru, sedangkan tanda biru itu perjanjian lama yang isinya Taurat yang berisi kitab sejarah dan lainnya.

Kalau dalam Bibel namanya Yoshua bin Nun. Setelah Taurat ada surat khusus yaitu Yoshua.

Orang Yahudi tidak beriman dengan perjanjian baru (INJIL – Mateus, Yohanes, Lukas, Markus). Empat injil ini isinya Nabi Isa alaihissalam dan tidak diimani oleh Yahudi.

Orang Yahudi pun ada firqoh-firqoh dan tidak semua beriman dengan isi perjanjian lama. Kalau orang Nasrani beriman dengan seluruhnya (perjanjian lama, perjanjian baru).

✅ Taurat itu ada 5 kitab atau surat:

1. Kitab kejadian (tentang penciptaan dan lainnya)
2. Kitab keluaran (keluarnya Nabi Musa dari Mesir)
3. Kitab imamat
4. Kitab bilangan (tentang perhitungan Bani Israil)
5. Kitab ulangan

Kisah Nabi Yoshua ada juga dalam kitab keluaran, bilangan dan ulangan. Dan kitab khusus..
Setelah itu langsung kitab Yoshua yang sangat tebal , dari Yoshua 1 sampai Yoshua 24. Setiap kitab Yoshua ada sekitar 20 an ayat. Jadi kisah Nabi YUSYA ini di Taurat lebih banyak daripada dalam hadits dari Rasulullah ﷺ dalam Al Qur’an.

Kisah Yusya bin Nun dimulai dalam surat Al Kahfi ketika Allah berfirman.

وَاِ ذْ قَا لَ مُوْسٰى لِفَتٰٮهُ لَاۤ اَبْرَحُ حَتّٰۤى اَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ اَوْ اَمْضِيَ حُقُبًا

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya (Yusya bin Nun) , “Aku akan terus berjalan sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 60)

Makna فَتٰٮهُ adalah pembantu atau budak (karena berguru) , murid yaitu Nabi Yusya bin Nun.

Ini adalah raihlah Nabi Musa saat menuntut ilmu untuk bertemu Nabi Khodir.

فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوْتَهُمَا فَا تَّخَذَ سَبِيْلَهٗ فِى الْبَحْرِ سَرَبًا
“Maka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 61)

Ikan itu adalah bekal mereka berdua. (Musa dan Yusya).
Ketika ikan itu hilang, Yusya menunda kasih tahu Nabi Musa yang sedang istirahat (tapi malah lupa)

فَلَمَّا جَاوَزَا قَا لَ لِفَتٰٮهُ اٰتِنَا غَدَآءَنَا ۖ لَقَدْ لَقِيْنَا مِنْ سَفَرِنَا هٰذَا نَصَبًا
“Maka ketika mereka telah melewati (tempat itu), Musa berkata kepada pembantunya, “Bawalah kemari makanan kita; sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 62)

فَلَمَّا جَاوَزَا قَا لَ لِفَتٰٮهُ اٰتِنَا غَدَآءَنَا ۖ لَقَدْ لَقِيْنَا مِنْ سَفَرِنَا هٰذَا نَصَبًا
“Maka ketika mereka telah melewati (tempat itu), Musa berkata kepada pembantunya, “Bawalah kemari makanan kita; sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 62)

Musa letih karena sengaja dibuat Allah. Supaya mereka tidak berjalan terlalu jauh dari titik pertemuan dengan Nabi Khodir.

قَا لَ اَرَءَيْتَ اِذْ اَوَيْنَاۤ اِلَى الصَّخْرَةِ فَاِ نِّيْ نَسِيْتُ الْحُوْتَ ۖ وَ مَاۤ اَنْسٰٮنِيْهُ اِلَّا الشَّيْطٰنُ اَنْ اَذْكُرَهٗ ۚ وَا تَّخَذَ سَبِيْلَهٗ فِيْ الْبَحْرِ عَجَبًا

“Dia (pembantunya) menjawab, “Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya kecuali setan, dan (ikan) itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 63)

قَا لَ ذٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ ۖ فَا رْتَدَّا عَلٰۤى اٰثَا رِهِمَا قَصَصًا 

“Dia (Musa) berkata, “Itulah (tempat) yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula,”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 64)

Dan akhirnya mereka balik ke tempat pertemuan dua laut untuk bertemu Nabi Khodir.

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَا دِنَاۤ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا
“lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 65)

Ada khilaf apakah Yusya bin Nun ikut Nabi Musa dan Nabi Khodir, tapi dhahir nya Allah hanya menceritakan dua orang.

Makna فَانْطَلَقَا adalah mereka berdua berjalan (Musa dan Khodir). Mengunakan dhomir mutsanna (berdua).

Kalau bertiga maka akan menjadi
فَانْطَلَقُو

Jadi Yusya bin Nuun tidak ikut pergi dengan Nabi Musa dan Nabi Khodir.

✅ Setelah Nabi Israil ditenggelamkan, Nabi Musa diperintahkan Allah untuk membawa Bani Israil yang di Mesir kembali ke Palestina.

Setelah itu nabi Musa ‘alaihissalam membawa Bani Israil ke Bitul Maqdis di Palestina untuk hidup kembali di kampung nenek moyang mereka yaitu Ya’qub ‘alaihissalam. Tatkala mereka telah sampai di Baitul Maqdis, ternyata di dalamnya terdapat bangsa yang lain yang kuat-kuat. Maka nabi Musa memerintahkan mereka untuk berjihad melawan orang-orang tersebut. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا وَآتَاكُمْ مَا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ (20)

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain“. (QS. Al-Maidah : 20)

Sebelum nabi Musa ‘alaihissalam memerintahkan Bani Israil untuk berjihad, nabi Musa mengingatkan kepada mereka tentang seluruh nikmat-nimat yang Allah berikan kepada mereka. terjadilah percakapan antara nabi Musa dan kamunya. Nabi Musa ‘alaihissalam berkata,

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ (21)

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Maidah : 21)

✅ Mereka tidak mau jihad.

قَالُوا يَا مُوسَى إِنَّ فِيهَا قَوْمًا جَبَّارِينَ وَإِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا حَتَّى يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنَّا دَاخِلُونَ (22)

“Mereka (Bani Israil) berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya“. (QS. Al-Maidah : 22)

قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (23)

“Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman“. (QS. Al-Maidah : 23)

Para ulama menyebutkan salah dari kedua orang yang menasehati Bani Israil adalah Yusya’ bin Nun. Dan satunya Khalid bin Yufanna. Mereka berdua takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

قَالُوا يَا مُوسَى إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ (24)

“Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja“. (QS. Al-Maidah : 24)

Pada ayat ini kembali menunjukkan membangkannya Bani Israil kepada nabi Musa ‘alaihissalam. Musa dibuat Jengkel oleh kelakuan Bani Israil.

Mereka pun kemudian menyuruh nabi Musa ‘alaihissalam dan Allah yang memerangi orang-orang tersebut. Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, (Musa berdoa).

قَالَ رَبِّ إِنِّي لَا أَمْلِكُ إِلَّا نَفْسِي وَأَخِي فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ (25)

“Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu“. (QS. Al-Maidah : 25)

Tafsir.
1. Dipisahkan
2. Hukuman yang berbeda.

Dan Allah kabulkan doa Nabi Musa.

قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ أَرْبَعِينَ سَنَةً يَتِيهُونَ فِي الْأَرْضِ فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ (26)

“Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu“. (QS. Al-Maidah : 26)

Allah hukum mereka. Ada khilaf pendapat, yang terkuat Musa ada bersama mereka.

Tempat itu antara Mesir Dan Syam – lokasi dekat laut merah. Lokasi yang tidak luas.

Nabi Yusya bin Nun tidak disebutkan namanya dalam Al-Qur’an tetapi diisyaratkan dalam beberapa ayat. Tekah dibahas diatas. Dalam masa itu Nabi Musa dan Nabi Harun wafat.

Ketika keluar dari situ keluarlah Nabi Yusya bin Nun dan membawa Bani Israil untuk jihad yang kedua kalinya.

Yang membangkang ketika itu, kebanyakan meninggal. Yang ikut jihad kedua ini generasi kedua/baru. (versi Bibel mereka semua disunat).

Ibnu Katsir berkata – Nabi Musa ketika menjelang 40 tahun berharap bahwa dialah yang akan berjihad menaklukkan Baitul Maqdis.
Dan Musa sudah persiapan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَا قَ بَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ ۚ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيْبًا ۗ وَقَا لَ اللّٰهُ اِنِّيْ مَعَكُمْ ۗ لَئِنْ اَقَمْتُمُ الصَّلٰوةَ وَاٰ تَيْتُمُ الزَّكٰوةَ وَاٰ مَنْتُمْ بِرُسُلِيْ وَعَزَّرْتُمُوْهُمْ وَاَ قْرَضْتُمُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا لَّاُكَفِّرَنَّ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ

“Dan sungguh, Allah telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan Kami telah mengangkat dua belas orang wakil dari 12 suku di antara mereka.

Dan Allah berfirman, “Aku bersamamu.” Sungguh, jika kamu melaksanakan sholat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan/sedekah kepada Allah pinjaman yang baik, pasti akan Aku hapus kesalahan-kesalahanmu.””
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 12)

Kedua belas suku itu semua keturunan Nabi Yakub dari 3 Ibu. Dan semua nya menjadi 12 suku.

Nabi Musa disuruh oleh Allah untuk memilih wakil dari 12 suku tersebut. Masing-masing disebut Naqib.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أُرْسِلَ مَلَكُ الْمَوْتِ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَلَمَّا جَاءَهُ صَكَّهُ فَفَقَأَ عَيْنَهُ فَرَجَعَ إِلَى رَبِّهِ فَقَالَ أَرْسَلْتَنِى إِلَى عَبْدٍ لاَ يُرِيدُ الْمَوْتَ – قَالَ – فَرَدَّ اللَّهُ إِلَيْهِ عَيْنَهُ وَقَالَ ارْجِعْ إِلَيْهِ فَقُلْ لَهُ يَضَعُ يَدَهُ عَلَى مَتْنِ ثَوْرٍ فَلَهُ بِمَا غَطَّتْ يَدُهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ سَنَةٌ قَالَ أَىْ رَبِّ ثُمَّ مَهْ قَالَ ثُمَّ الْمَوْتُ. قَالَ فَالآنَ فَسَأَلَ اللَّهَ أَنْ يُدْنِيَهُ مِنَ الأَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ رَمْيَةً بِحَجَرٍ

Malaikat maut diutus untuk mendatangi Musa ‘alaihis salam. Ketika sampai di tempatnya Musa, beliau memukul malaikat itu, sampai lepas matanya. Kemudian Malaikat ini kembali menemui Rabnya. Beliau mengadu, “Engkau mengutusku untuk menemui hamba yang tidak menghendaki kematian.”

Kemudian Allah mengembalikan matanya, dan berfirman,

“Kembali temui Musa, sampaikan kepadanya, ‘Silahkan dia letakkan tangannya di punggung sapi, maka usia Musa akan ditambahkan sejumlah bulu yang ditutupi tangannya, setiap satu bulu dihitung satu tahun.’

Musa bertanya,
“Wahai Rabku, lalu setelah itu apa yang terjadi?”

Allah menjawab,
“Setelah itu, mati.”

Musa berkata,
“Kalau begitu, sekarang saja.”

Lalu Musa memohon kepada Allah agar didekatkan ke tanah suci (Baitul Maqdis), sejauh lemparan sebuah batu.
(HR. Bukhari, Muslim dan yang lainnya).

Inilah sebabnya Nabi Musa marah pada malaikat maut tersebut. Namun akhirnya Nabi Yusya bin Nun yang menaklukkan Baitul Maqdis.

Selanjutnya kisah Yusya bin Nun, yang juga seorang mujahid. Allah memberi keistimewaan kepada Nabi Yusya terkait tertahan nya matahari.

Nabi Yusya hanya membawa jihad orang-orang yang serius berjihad, tidak punya urusan duniawi yang kriteria duniawi saat itu adalah..
1. Laki-laki yang baru saja menikah sementara ia belum empat menikmati hari-hari pertamanya
2. Seseorang yang sedang membangun rumahnya, sementara atap belum terpasang.
3. Seseorang yang memiliki kambing atau unta bunting dan ia sedang menanti kelahirannya,

Dikisahkan tatkala beliau hendak masuk dan menyerang ke Baitul Maqdis (versi bibel adalah Yeriko) , ternyata waktu telah masuk waktu ashar dan sebentar lagi akan datang waktu malam.

Sedangkan kode etik peperangan zaman dahulu itu adalah tidak boleh melakukan peperangan di malam hari. Akkhirnya Yusya’ bin Nun tidak ingin berhenti berperang, lalu dia berkata kepada matahari dan berdoa,

إِنَّكِ مَأْمُورَةٌ وَأَنَا مَأْمُورٌ، اللَّهُمَّ احْبِسْهَا عليَّ }تفسير ابن كثير ت سلامة (3/ 80{(

“(Wahai matahari) Sesungguhnya engkau hanya mengikuti perintah Allah, dan aku juga diperintahkan. Ya Allah tahanlah matahari (untuk tidak terbenanm) untukku.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Maka Allah kemudian menahan matahari agar tidak tenggelam. Maka berperanglah Yusya’ bin Nun untuk mengalahkan mereka dan akhirnya dia menguasai Baitul Maqdis. Kemudian Allah memerintahkan mereka (Bani Israil) untuk masuk kedalam Baitul Maqdis.

Matahari ditahan, bisa jadi berhenti atau lambat.

Akhirnya Nabi Yusya bersama pasukan menang.
Pasukan Yusya’ kemudian mengumpulkan ghanimah, harta harta milik musuh. Sebelum masa kenabian Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wasallam, harta ghanimah tidak halal untuk dimiliki. Harta ghanimah harus diserahkan dan dipersembahkan kepada Allah. Caranya? Dengan mengumpulkannya di sebuah lokasi. Kemudian akan ada kobaran api turun dari langit yang untuk menghanguskan dan membakar habis harta tersebut. Kecuali masih ada perbuatan ghulul.

Ghulul adalah menyimpan sebagian harta ghanimah tanpa alasan yang dibenarkan. Saat harta ghanimah telah dikumpulkan oleh para petugas dari pasukan Yusya’dan ditumpuk menggunung, api yang dinanti-nanti benar-benar turun.

Namun, api tersebut tidak membakar dan menghanguskan. Ada apa gerangan? Nabi Yusya’ menegur, “Pasti ada ghulul di antara kalian! Masing-masing suku harus mengirimkan satu orang perwakilannya untuk berbaiat kepadaku!”

Ternyata, ada satu orang di antara mereka yang tangannya lengket di tangan Yusya’. Beliau lalu memastikan, “Di suku kalianlah perbuatan ghulul itu! Sekarang, seluruh prajurit dari suku kalian harus berbaiat kepadaku!” Akhirnya, dari semua anggota suku yang berbaiat ada dua atau tiga dari mereka yang tangannya lengket di tangan Yusya’. Beliau pun memutuskan “Ghulul itu ada pada kalian! Kalianlah yang berbuat ghulul!”

Kemudian, orang-orang tadi mengeluarkan emas sebesar kepala sapi yang disembunyikan sebelumnya. Lalu emas tersebut dikumpulkan menjadi satu dengan harta ghanimah yang telah ada sebelumnya. Api pun turun dari langit dan menghanguskan harta itu semua.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ قُلْنَا ادْخُلُوْا هٰذِهِ الْقَرْيَةَ فَکُلُوْا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَّا دْخُلُوا الْبَا بَ سُجَّدًا وَّقُوْلُوْا حِطَّةٌ نَّغْفِرْ لَـكُمْ خَطٰيٰكُمْ ۗ وَسَنَزِيْدُ الْمُحْسِنِيْنَ
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman, “Masuklah ke negeri tersebut (Baitul Maqdis) maka makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. Dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk dan katakanlah, “Bebaskanlah kami (dari dosa-dosa kami),” niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan Kami akan menambah (karunia) bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 58)

Allah perintahkan Masuk dalam kondisi rukuk dan istighfar.

Kata para ulama, sujud yang dimaksud pada ayat ini adalah ruku’ dan bukan sujud untuk menunjukkan rasa tawadhu. Akan tetapi Bani Israil melakukan pembangkangan lagi. Disebutkan bahwa akhirnya mereka masuk dengan cara membungkuk akan tetapi dengan arah terbalik yaitu berjalan mundur dengan menunjukkan bokong terlebih dahulu. Kemudian tatkala mereka diperintahkan masuk dengan mengucapkan حِطَّةٌ mereka ganti dengan حِنْطَةٌ yang berarti gandum. Lihatlah betapa sungguh luar biasa pembangkangan mereka terhadap perintah Allah Subhanahu wa ta’ala.

Ibnu Mas’ud berkata – mereka mengejek dengan bahasa ibrani.

Akhirnya Allah hukum yang membangkang.

Setelah itu, seterusnya Baitul Maqdis dikuasai oleh Bani lsrail. Yusya bin Nun tetap berada di tengah- tengah mereka untuk membimbing, mengarahkan, dan memimpin sampai beliau meninggal dunia pada usia 127 tahun. Jarak waktu antara wafatnya Musa dengan Yusya’ adalah 27 tahun.

Inilah veri Yusya bin Nun dalam literatur Islam.
Kalau dalam versi bibel kisahnya mengerikan. Ada pembunuhan, penumpasan. Dll.

Dalam bibel juga ada ayat-ayat untuk pembunuhan, memerangi kafir.
Dalam Lukas ada nash permusuhan. Ada ayat jihad di Mateus.

Ayat-ayat Al-Quran yang ada perintah perang adalah untuk memerangi kaum musyrikin yang sering menyerang Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat.
Dan saat Fathu Makkah – Nabi shallallahu alaihi wasallam memaafkan mereka.

Hitler yang non muslim membunuh jutaan orang
Joseph Stalin bunuh 20 juta orang
Mau Tse Sung bunuh 14-20 juta..
G. Bush yang embargo Iraq yang sebabkan 500 ribu orang meninggal
Dst..
Namun mereka tidak dikatakan teroris.

Orang Mesir saat ditaklukkan Islam malah senang karena adanya keadilan.

Semoga bermanfaat.

##$$-aa-$$##

Bagikan Catatan:

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?