KITAB TAUHID#32-TAWAKKAL (2)
- KITAB TAUHID #25 – DUKUN, TUKANG RAMAL DAN SEJENISNYA
- KITAB TAUHID #26- NUSYRAH
- KITAB TAUHID#27 – HUKUM TATHOYYUR
- KITAB TAUHID#28 – ILMU PERBINTANGAN
- KITAB TAUHID # 29- MENISBATKAN TURUNNYA HUJAN KEPADA BINTANG
- KITAB TAUHID#32-TAWAKKAL (2)
- KITAB TAUHID #35 – RIYA lanjutan(2)
- KITAB TAUHID#31-TAKUT KEPADA ALLAH
- KITAB TAUHID#32 TAWAKKAL (1)
- KITAB TAUHID#33 MERASA AMAN DARI SIKSA ALLAH DAN PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH
Diterbitkan pertama kali pada: 11-Jul-2020 @ 17:35
4 menit membacaSyarah Kitab Tauhid =Tawakal 2
Ustadz Dr Firanda Andirja Lc MA
5 Dzulqaidah 1440H
Menjelaskan dalil2 tawakal..
Firman Allah Subhanahu wata’ala :
وعلى الله فتوكلوا إن كنتم مؤمنين
“Dan hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (QS. Al Maidah, 23).
Tentang kisah Nabi Musa dan kaumnya menuju negeri yang suci, yaitu Palestina.
Yang mana di negeri tersebut ada manusia-manusia yang kuat dan dzalim. Dan Nabi Musa ajak kaumnya untuk jihad tapi mereka menolak.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
{قَالَ رَجُلانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا}
Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya. (Al-Maidah: 23)
Ketika kaum Bani Israil menolak untuk taat kepada Allah dan menolak mengikuti rasul-Nya —yaitu Nabi Musa ‘alaihissalam—, mereka digerakkan oleh dua orang lelaki yang telah mendapat nikmat yang besar dari Allah; keduanya termasuk orang-orang yang taat kepada perintah Allah dan takut terhadap siksaan-Nya.
Yusak bin Nun dan Kalif bin Yufannaa adalah 2 orang shaleh tersebut.
Kedua orang itu berkata, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:
{ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ}
Serbulah mereka melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kalian memasukinya, niscaya kalian akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman. (Al-Maidah: 23)
Yakni jika kalian bertawakal kepada Allah dan mengikuti perintah-Nya serta mendukung rasul-Nya, niscaya Allah akan menolong kalian terhadap musuh-musuh kalian, Dia akan mendukung kalian serta memenangkan kalian atas musuh-musuh kalian, dan kalian pasti akan memasuki negeri yang telah ditetapkan oleh Allah buat kalian.
Akan tetapi, hal tersebut tidak memberi pengaruh sedikit pun pada mereka, sebagaimana disebutkan oleh firman selanjutnya:
{قَالُوا يَا مُوسَى إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُون}
Mereka berkata, “Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya Karena itu, pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (Al-Maidah: 24)
Ini merupakan sikap pembangkangan mereka yang tidak mau berjihad dan menentang rasul mereka serta menolak untuk berperang dengan Musuh mereka.
Disebutkan bahwa ketika mereka menolak berjihad dan bertekad untuk berangkat kembali menuju ke negeri Mesir, maka Musa dan Harun sujud (kepada Allah) di hadapan sejumlah pemimpin dari kalangan Bani Israil karena sangat keberatan dengan apa yang mereka niatkan itu. Kemudian Yusya’ ibnu Nun dan Kalib ibnu Yufana merobek bajunya sendiri (sebagai ungkapan kekesalan) dan mencaci kaumnya yang bersikap demikian itu (menolak berjihad). Menurut suatu kisah, mereka (kaum Bani Israil) merajam Yusya’ dan Kalib, dan terjadilah suatu peristiwa yang sangat besar serta krisis yang sangat parah.
وعلى الله فتوكلوا إن كنتم مؤمنين
“Dan hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (QS. Al Maidah, 23)
Susunan kalimat diatas adalah mendahulukan objek nya sehingga maknanya menjadi pembatasan = hanya.
Tawakal adalah ibadah dan hanya kepada Allah.
Ayat ini ada dua sisi Pendalilan
1. Di dahulu kan objek atas predikat sehingga maknanya “Hanya kepada Allah kalian tawakal”
2. Tawakal adalah syarat keimanan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman menceritakan tentang Musa, bahwa ia berkata kepada kaum Bani Israil:
{يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ}
Hai kaumku, jika kalian beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya saja, jika kalian benar-benar orang yang berserah diri / muslim. (Yunus: 84)
Di sini Allah menggabungkan syarat Iman
1. Tawakal merupakan syarat Iman dan Islam
Tawakal yang benar adalah dengan usaha bukan hanya menunggu.
Dalil berikutnya adalah.
إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم وإذا تليت عليهم آياته زادتهم إيمانا وعلى ربهم يتوكلون
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman (dengan sempurna) itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka karenanya, serta hanya kepada Rabbnya mereka bertawakkal” (QS. Al Anfal 2)
Sifat orang beriman disebutkan dalam surat Al Anfal.
{أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا}
Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. (Al-Anfal: 4)
1. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
2. Jika disebut Allah mereka takut
3. Jika dibaca ayat-ayat Allah bertambah imannya. (kita diberi indikator dalam hati mengenal iman naik turun)
4. Bertawakal kepada Allah
5. Shalat dan berinfaq
Dalam hadits disebutkan orang yang masuk surga tanpa hisab adalah orang yang bertawakal.
{وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ}
dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (Al-Anfal: 2)
Didahulukan objek atas predikat memberikan Faidah hashr = makna.
Dalil berikutnya
يا أيها النبي حسبك الله ومن اتبعك من المؤمنين
“Wahai Nabi, cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu, dan kaum mu’minin yang mengikutimu” (QS. Al Anfal, 64).
Tafsir ada 2,
1. Cukuplah Allah bagimu dan bagi kaum mukminin (jumhur ulama)
2. Cukuplah bagimu Allah dan kaum mukminin.
(ini tafsir yang salah menurut Ibnul Qayyim).
Jika hanya Allah cukup bagi Nabi dan kaum mukminin maka wajib bagi mereka untuk bertawakal kepada Allah.
ومن يتوكل على الله فهو حسبه
“ … dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. At tholaq, 3).
وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا۟ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَقَالُوا۟ حَسْبُنَا ٱللَّهُ سَيُؤْتِينَا ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ وَرَسُولُهُۥٓ إِنَّآ إِلَى ٱللَّهِ رَٰغِبُونَ
Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata:
“Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,” (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).
Qs Taubah 59.
حسبنا الله ونعم الوكيل
“Cukuplah Allah bagi kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung” (QS. Ali Imran, 173).
Kalimat ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim saat beliau dicampakkan ke dalam kobaran api, dan diucapkan pula oleh Nabi Muhammad disaat ada yang berkata kepada beliau : “Sesungguhnya orang-orang quraisy telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, tetapi perkataan itu malah menambah keimanan beliau …” (QS. Ali Imran, 173).
Saat Rasulullah shallallahu alaihi ditakut-takuti.
Pada perang Uhud.
Tawakal itu perlu hati dan keimanan..
Bila sudah mentok usaha maka ucapkan dengan keyakinan yang mantap..
حسبنا الله ونعم الوكيل
“Cukuplah Allah bagi kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung” (QS. Ali Imran, 173).
##$$-aa-$$##


