KITAB TAUHID #35 – RIYA lanjutan(2)
- KITAB TAUHID #25 – DUKUN, TUKANG RAMAL DAN SEJENISNYA
- KITAB TAUHID #26- NUSYRAH
- KITAB TAUHID#27 – HUKUM TATHOYYUR
- KITAB TAUHID#28 – ILMU PERBINTANGAN
- KITAB TAUHID # 29- MENISBATKAN TURUNNYA HUJAN KEPADA BINTANG
- KITAB TAUHID #35 – RIYA lanjutan(2)
- KITAB TAUHID#32-TAWAKKAL (2)
- KITAB TAUHID#31-TAKUT KEPADA ALLAH
- KITAB TAUHID#32 TAWAKKAL (1)
- KITAB TAUHID#33 MERASA AMAN DARI SIKSA ALLAH DAN PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH
Diterbitkan pertama kali pada: 11-Jul-2020 @ 17:46
4 menit membacaSyarah Kitab Tauhid Bab Riya (Lanjutan)
Ustadz Dr Firanda Andirja, Lc MA
15 Shafar 1441 H
Firman Allah Subhanahu wata’ala :
قل إنما أنا بشر مثلكم يوحى إلي أنما إلهكم إله واحد، فمن كان يرجو لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربه أحدا
“Katakanlah : “sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku : “bahwa sesungguhnya sesembahan kamu adalah sesembahan yang Esa”, maka barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah ia mengerjakan amal sholeh dan janganlah ia berbuat kemusyrikan sedikitpun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al Kahfi, 110).
Sisi Pendalilan,
Sesembahan kalian Maha Esa
Barangsiapa yang berharap bertemu dengan Rabbnya (ingin melihat wajah Allah) maka beramal dengan amal shaleh maka jangan berbuat syirik dalam peribadatan pada seorang pun.
ولا يشرك
Mengandung masdar isyrak.. Nakhirah, umum sehingga mencakup syirik akbar dan syirik ashghar (termasuk riya).
أحدا
Juga mengandung keumuman, tidak boleh mensekutukan Allah dengan siapapun
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu dalam hadits marfu’, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
“أنا أغنى الشركاء عن الشرك، من عمل عملا أشرك معي فيه غيري تركته وشركه ” رواه مسلم.
“Aku adalah Dzat Yang Paling Tidak butuh dengan Syarikat (Partner) . Barang siapa yang mengerjakan amal apapun lantas berbuat syirik dengan mensekutukanKu, maka Aku tinggalkan ia dan kesyirikannya (dalam riwayat lain Aku tinggalkan dia dengan partner tersebut) ” (HR. Muslim).
عمل
Isim Nakhirah (tanwin), amalan apapun.
Mencakup lisan, jawarih anggota tubuh yang lain, amal berkaitan dengan harta.
Diriwayatkan dari Abu Said Radhiallahu’anhu dalam hadits marfu’ bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“ألا أخبركم بما هو أخوف عليكم عندي من المسيح الدجال ؟”, قالوا : بلى يا رسول الله، قال : ” الشرك الخفي يقوم الرجل فيصلي فيزين صلاته لما يرى من نظر رجل إليه ” رواه أحمد.
“Maukah kalian aku beritahu tentang sesuatu yang bagiku lebih aku khawatirkan terhadap kamu dari pada Al Masih Ad dajjal ?”, para sahabat menjawab : “baik, ya Rasulullah.”,
kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “syirik yang tersembunyi, yaitu ketika seseorang berdiri melakukan sholat, ia perindah sholatnya itu karena mengetahui ada orang lain yang melihatnya” (HR. Ahmad).
أخوف عليكم عندي من المسيح الدجال
Yang lebih Aku kuatir kan terhadap kalian dari pada fitnah Al Masih Ad Dajjal (Dusta).
Dajjal Disebut Al Masih, maknanya
1. Yang berjalan di bumi dengan cepat selama 40 hari
2. Yang dibukakan matanya.
الشرك الخفي
Syirik tersembunyi.
Dalam riwayat lain syrku sarair (tersembunyi)
Dajjal terjadi akhir zaman, sedangkan riya
1. Bisa terjadi sekarang setiap saat, dalam shalat sehari bisa 5x sehari
2. Menimpa orang-orang shaleh
Tujuan syetan adalah membuat orang yang beramal dengan riya.
Abu Musa Al Anshary ingin membaguskan suara bacaan Al Qur’an untuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bukan berarti riya tapi ingin menyenangkan hati Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Di antara contoh kreatif riya’ tersebut adalah:
Pertama: Seseorang menceritakan keburukan orang lain, seperti pelitnya orang lain, atau malas shalat malamnya, tidak rajin menuntut ilmu, dengan maksud agar para pendengar paham bahwa ia tidaklah demikian. Namun ia adalah seorang yang dermawan, rajin shalat malam dan rajin menuntut ilmu. Secara tidak langsung ia ingin supaya para pendengar mengetahui akan amal ibadahnya.
Macam yang pertama ini adalah model riya’ terselubung yang paling buruk, di mana ia telah terjerumus dalam dua dosa; yaitu mengghibah saudaranya sekaligus riya’. Dan keduanya merupakan dosa besar. Selain itu ia telah menjadikan saudaranya yang ia ghibah menjadi korban demi memamerkan amalan shalihnya.
Kedua: Seseorang menceritakan nikmat dan banyaknya karunia yang telah Allah ﷻ berikan kepadanya, akan tetapi dengan maksud agar para pendengar paham bahwa ia adalah seorang yang shalih. Karena hal itulah maka ia juga berhak untuk dimuliakan oleh Allah ﷻ dengan memberikan banyak karunia kepadanya.
Ketiga: Memuji gurunya dengan pujian setinggi langit agar ia juga terkena imbas pujian tersebut, karena ia adalah murid sang guru yang ia puji setinggi langit tersebut. Pada hakikatnya ia sedang berusaha untuk memuji dirinya sendiri, bahkan terkadang ia memuji secara langsung tanpa ia sadari. Seperti ia mengatakan, “Syaikh Fulan atau Ustadz Fulan memang luar biasa ilmunya.. Sangat tinggi ilmunya, mengalahkan syaikh-syaikh atau ustadz-ustadz yang lain. Alhamdulillah, saya telah menimba ilmunya tersebut selama sekian tahun.”
Keempat: Merendahkan diri tetapi dalam rangka untuk riya’, agar dipuji bahwa ia adalah seorang yang low profile alias rendah hati. Inilah yang disebut dengan “merendahkan diri demi meninggikan mutu”.
Kelima: Menyatakan kegembiraan akan keberhasilan dakwah, seperti banyaknya orang yang menghadiri pengajian, atau banyaknya orang yang mendapatkan hidayah dan sadar, akan tetapi dengan niat untuk menunjukkan bahwa keberhasilan tersebut karena kepintaran dirinya dalam berdakwah.
Keenam: Ia menyebutkan bahwa orang-orang yang menyelisihinya telah mendapatkan musibah. Ia ingin menjelaskan kepada orang-orang bahwa ia adalah seorang wali Allah yang tidak layak diganggu. Sebab, barangsiapa yang mengganggunya pasti akan disiksa atau diadzab oleh Allah ﷻ. Ini adalah bentuk tazkiyah (merekomendasi) diri sendiri dengan cara yang terselubung.
Ketujuh: Ia menunjukkan dan memamerkan kedekatannya terhadap para da’i atau para ustadz, seakan-akan bahwa dengan dekatnya dia dengan para ustadz itu menunjukkan ia adalah orang yang shalih dan disenangi para ahli ilmu. Padahal kemuliaan di sisi Allah ﷻ bukan diukur dari dekatnya seseorang terhadap ustadz atau syaikh, akan tetapi dari ketakwaannya. Ternyata kedekatan terhadap ustadz juga bisa menjadi ajang pamer dan persaingan.
Kedelapan: Seseorang yang berpoligami lalu ia memamerkan poligaminya tersebut. Jika ia berkenalan dengan orang lain, serta merta ia akan sebutkan bahwa istrinya ada 2 atau 3 atau 4. Ia berdalih ingin menyiarkan sunnah, akan tetapi ternyata dalam hatinya ingin pamer dan riya’. Poligami merupakan ibadah, maka memamerkan ibadah juga termasuk dalam riya’.
Inilah sebagian bentuk riya’ yang terselubung, semoga Allah ﷻ melindungi kita dari terjerumus dalam bentuk-bentuk riya’ terselubung tersebut. Tidak perlu kita menuduh orang terjerumus dalam riya’ dan meninggikan diri sendiri. Akan tetapi tujuan dari tulisan ini adalah agar kita sadar dan mau mengoreksi diri sendiri sebelum mengoreksi orang lain.
Hanya kepada Allah ﷻ tempat meminta hidayah dan taufik.
#Abu Fadhillah
##$$-aa-$$##


