KITAB TAUHID#31-TAKUT KEPADA ALLAH
- KITAB TAUHID #25 – DUKUN, TUKANG RAMAL DAN SEJENISNYA
- KITAB TAUHID #26- NUSYRAH
- KITAB TAUHID#27 – HUKUM TATHOYYUR
- KITAB TAUHID#28 – ILMU PERBINTANGAN
- KITAB TAUHID # 29- MENISBATKAN TURUNNYA HUJAN KEPADA BINTANG
- KITAB TAUHID#31-TAKUT KEPADA ALLAH
- KITAB TAUHID #35 – RIYA lanjutan(2)
- KITAB TAUHID#32-TAWAKKAL (2)
- KITAB TAUHID#32 TAWAKKAL (1)
- KITAB TAUHID#33 MERASA AMAN DARI SIKSA ALLAH DAN PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH
Diterbitkan pertama kali pada: 11-Jul-2020 @ 17:40
4 menit membacaKitab Tauhid Bab 32 – *Takut Kepada Allah*
Ustadz Dr Firanda Andirja
13 Syawal 1440 H
Termasuk ibadah hati, tidak boleh diserahkan kepada selain Allah.
1. Penting untuk mengenal sifat2 Allah, untuk memupuk rasa takut kepada Allah.
Sesunguhnya yang takut kepada Allah,
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir:28)
Ibnu Abbas, Ilmu itu adalah takut kepada Allah.
2. Juga mempelajari ancaman-ancaman Allah.
3. Menyadari kekurangan ibadah kepada Allah.
4. Allah kirim bencana dan hukuman untuk memberi rasa takut kepada hamba-hamba-Nya.
5. Takut atas maksiat yang kita lakukan.
6. Takut akan Terjerumus pada kemaksiatan yang sekarang dan yang akan datang.
Sering baca doa jauh dari kesyirikan..
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ
Allahumma innii a’uudzu bika an usyrika bika wa anaa a’lamu, wa astaghfiruka limaa laa a’lamu
“Yaa Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari berbuat kesyirikan ketika aku mengetahuinya dan aku memohon ampunan Mu ketika aku tidak mengetahuinya”. (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad).
7. Takut meninggal dalam suul khatimah.
Rukun ibadah hati.. Seimbang antara takut dan harapan…
1. TAKUT (kepada Allah)
2. ROJA (berharap kepada Allah)
3. Ditambah dengan Cinta kepada Allah
Kata para ulama..
Khauf (takut) saja akan jadi khawarij
Roja saja akan jadi Murji’ah
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguk seorang pemuda yang sedang menjelang sakaratul maut (saat menjelang kematian), maka beliau bertanya kepada pemuda tersebut:
«كَيْفَ تَجِدُكَ؟». قَالَ: وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّى أَرْجُو اللَّهَ وَإِنِّى أَخَافُ ذُنُوبِي. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ «لاَ يَجْتَمِعَانِ فِى قَلْبِ عَبْدٍ فِى مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ» رواه الترمذي وابن ماجه وغيرهما.
“Apa yang kamu rasakan (dalam hatimu) saat ini?”.
Dia menjawab: “Demi Allah, wahai Rasulullah, sungguh (saat ini) aku (benar-benar) mengharapkan (rahmat) Allah dan aku (benar-benar) takut akan (siksaan-Nya akibat dari) dosa-dosaku”.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah terkumpul dua sifat ini (berharap dan takut) dalam hati seorang hamba dalam kondisi seperti ini kecuali Allah akan memberikan apa yang diharapkannya dan menyelamatkannya dari apa yang ditakutkannya”
HR Tirmidzi, shahih.
*Macam-macam takut*
1. *Takut yang disyariatkan*, yaitu takut kepada Allah dan Sebab-sebabnya.
2. *Takut yang haram*, ada 2.
2.1 takut yang syrik, takut sesuatu tanda sebab dhahirnya (contoh kalau gak kasih sajen maka….)
Ancaman kaum Hud kepada Nabi Hud. (dukun akan santet)
Kaum musyrikin menakuti kaum muslimin dengan sesembahan mereka.
Ini berkaitan dengan Uluhiyah dan Rubbubiyah.
2.2 takut haram yang tidak sampai syirik.
Sebenarnya termasuk takut tabiat hanya saja menjerumuskan pada kemaksiatan.
Contoh, takut diejek karena pakai jilbab
Terkadang Terjerumus dalam riya atau syirik.
– berbuat sesuatu supaya dipuji.
Ingat lah perkataan Fudhail bin Iyadh..
*Barang siapa tahu kondisi(hakikat) manusia maka dia akan rileks*.
3. *Takut yang jaiz (boleh)* , secara tabiat, misal takut ketinggian, takut kepada ular, macan dll.
Contoh.
Takutnya Nabi Musa (QS Al Qashash).
Takut akan hantu yang menampakkan diri dalam wujud yang menakutkan.
Dalil-dalil…
Firman Allah Subhanahu wata’ala :
إنما ذلكم الشيطان يخوف أولياءه، فلا تخافوهم وخافوني إن كنتم مؤمنين
“Sesungguhnya mereka itu tiada lain hanyalah syetan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik) karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu saja, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (QS. Ali Imran, 175).
Kawan=wali.
Itu khauf tabiat.
Ayat ini turun setelah perang Uhud.
Allah berfirman..
إنما يعمر مساجد الله من آمن بالله واليوم الآخر وأقام الصلاة وآتى الزكاة ولم يخش إلا الله فعسى أولئك أن يكونوا من المهتدين
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan sholat, membayar zakat, dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah (saja), maka mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat hidayah” (QS. At Taubah, 18).
ومن الناس من يقول آمنا بالله فإذا أوذي في الله جعل فتنة الناس كعذاب الله ولئن جاء نصر من ربك ليقولن إنا كنا معكم أوليس الله بأعلم بما في صدور العالمين
“Dan diantara manusia ada yang berkata : kami beriman kepada Allah, tetapi apabila ia mendapat perlakuan yang menyakitkan karena (imannya kepada) Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai adzab Allah, dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata :“Sesungguhnya kami besertamu” bukankah Allah mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia ?” (QS. Al Ankabut, 10).
Kisah ini pada orang-orang Mekah yang masuk Islam namun tidak kuat imannya.
Mereka anggap siksaan manusia sama seperti siksa Allah, dan akhirnya murtad.
Takut tabiat yang mengantarkan pada kekufuran.
Diriwayatkan dalam hadits marfu’ dari Abu Said, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“إن من ضعف اليقين أن ترضي الناس بسخط الله، وأن تحمدهم على رزق الله، وأن تذمهن على ما لم يؤتك الله، إن رزق الله لا يجره حرص حريص، ولا يرده كراهية كاره”.
“Sesungguhnya termasuk lemahnya keyakinan adalah jika kamu mencari ridho manusia dengan mendapat kemurkaan Allah, dan memuji mereka atas rizki yang Allah berikan lewat perantaraannya, dan mencela mereka atas dasar sesuatu yang belum diberikan Allah kepadamu melalui mereka, ingat sesungguhnya rizki Allah tidak dapat didatangkan oleh ketamakan orang yang tamak, dan tidak pula dapat digagalkan oleh kebenciannya orang yang membenci”.
*Jangan sampai mencari keridhaan manusia dengan bermaksiat kepada Allah.*
Diriwayatkan dari Aisyah, radhiallahu’anha bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“من التمس رضا الله بسخط الناس رضي الله عنه وأرضى عنه الناس، ومن التمس رضا الناس بسخط الله سخط الله عليه وأسخط عليه الناس ” رواه ابن حبان في صحيحه.
“Barangsiapa yang mencari Ridho Allah sekalipun dengan resiko mendapatkan kemarahan manusia, maka Allah akan meridhoinya (mencukupinya) , dan akan menjadikan manusia ridho kepadanya, dan barangsiapa yang mencari ridho manusia dengan melakukan apa yang menimbulkan kemurkaan Allah, maka Allah murka kepadanya, dan akan menjadikan manusia murka pula kepadanya” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab shohehnya).
Itu adalah nasihat Aisyah radhiyallahu anha melalui surat kepada Muawiyah yang meminta nasihat.
##$$-aa-$$##


