This entry is part 16 of 28 in the series Bulughul-maram
5 menit membaca

📖 *BULUGHUL MARAM-16*
🖋️ Ibnu Hajar as-Asqalani
Ustadz Muhammad Anwar, Lc MPd
27 Rabi’ul Awal 1447H/20 September 2025
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Kitab ini berisi 1350 an hadits yang berkaitan dengan fikih.

✅ *BAB SHOLAT*

🔸*WAKTU-WAKTU SHOLAT*

➡️ *HADITS KE-134*

Larangan waktu sholat (mutlak), bukan sholat karena sebab.

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتَ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ( لَا صَلَاةَ بَعْدَ اَلصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ اَلشَّمْسُ وَلَا صَلَاةَ بَعْدَ اَلْعَصْرِ حَتَّى تَغِيبَ اَلشَّمْسُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَلَفْظُ مُسْلِمٍ: ( لَا صَلَاةَ بَعْدَ صَلَاةِ اَلْفَجْرِ )

Dari Abu Said Al-Khudry bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak ada shalat (sunat) setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit dan tidak ada shalat setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam.” Muttafaq Alaihi. Dalam lafadz

Riwayat Muslim: “Tidak ada shalat setelah shalat fajar.”

Dua waktu pelaksanaan sholat sunnah mutlak, yang tidak ada sebab.

Kalau sholat sunnah muqoyad maka boleh, misal sholat setelah wudhu.
Demikian juga sholat qadha. Misal qabliyah subuh yang sudah jadi kebiasaan,maka boleh dilakukan saat waktu terlarang. Nabi ﷺ sholat dua rakaat sholat setelah Ashar sebagai qadha sholat ba’diyah Dhuhur yang belum dilaksanakan karena kesibukannya.

🔹HADITS KE-135

وَلَهُ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ: ( ثَلَاثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّي فِيهِنَّ وَأَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا: حِينَ تَطْلُعُ اَلشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ اَلظَّهِيرَةِ حَتَّى تَزُولَ اَلشَّمْسُ وَحِينَ تَتَضَيَّفُ اَلشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ )
وَالْحُكْمُ اَلثَّانِي عِنْدَ “اَلشَّافِعِيِّ” مِنْ: حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ. وَزَادَ: ( إِلَّا يَوْمَ اَلْجُمْعَةِ )
وَكَذَا لِأَبِي دَاوُدَ: عَنْ أَبِي قَتَادَةَ نَحْوُهُ

Dalam riwayat Muslim dari Uqbah Ibnu Amir: Tiga waktu dimana Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang kami melakukan shalat dan menguburkan mayit yaitu:
1. ketika matahari terbit hingga meninggi 2. ketika tengah hari hingga matahari condong ke barat dan
3. ketika matahari hampir terbenam.

Ulama menjelaskan waktu pertama tersebut adalah keluarnya matahari diantara tanduk setan. Dan orang-orang kufar melaksanakan sholat.

Waktu kedua adalah saat panas-panasnya api neraka. Karena neraka Jahanam dinyalakan dan pintunya dibuka.

Dan hukum kedua menurut Imam Syafi’i dari hadits Abu Hurairah dengan sanad yang lemah ada tambahan: Kecuali hari Jum’at.

Begitu juga menurut riwayat Abu Dawud dari Abu Qotadah terdapat hadits yang serupa.

🔹HADITS KE-136

وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لَا تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا اَلْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ]أَ] وْ نَهَارٍ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ

Dari Jubair Ibnu Muth’im bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Wahai Bani Abdu Manaf janganlah engkau melarang seseorang melakukan thawaf di Baitullah ini dan melakukan shalat pada waktu kapan saja baik malam maupun siang.” Riwayat Imam Lima dan shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban.

Di Kabah tidak ada waktu larangan untuk tawaf dan sholat.

Jadi dua pengecualian.
1. Waktu yaitu hari jumat
2. Tempat yaitu sekitar Kabah (Masjidil Haram).

🔹HADITS KE-137

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( اَلشَّفَقُ اَلْحُمْرَةُ ) رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَغَيْرُهُ وَقْفَهُ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Syafaq ialah awan merah.” Riwayat Daruquthni. Shahih menurut Ibnu Khuzaimah selain menyatakannya mauquf pada Ibnu Umar.

🔹HADITS KE-138

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلْفَجْرُ فَجْرَانِ: فَجْرٌ يُحَرِّمُ اَلطَّعَامَ وَتَحِلُّ فِيهِ اَلصَّلَاةُ وَفَجْرٌ تَحْرُمُ فِيهِ اَلصَّلَاةُ – أَيْ: صَلَاةُ اَلصُّبْحِ – وَيَحِلَّ فِيهِ اَلطَّعَامُ ) رَوَاهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَاهُ
وَلِلْحَاكِمِ فِي حَدِيثِ جَابِرٍ رضي الله عنه نَحْوُهُ وَزَادَ فِي اَلَّذِي يُحَرِّمُ اَلطَّعَامَ: ( إِنَّهُ يَذْهَبُ مُسْتَطِيلاً فِي اَلْأُفُقِ ) وَفِي اَلْآخَرِ: ( إِنَّهُ كَذَنَبِ اَلسِّرْحَان )

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Fajar itu ada dua macam yaitu fajar yang diharamkan memakan makanan dan diperbolehkan melakukan shalat dan fajar yang diharamkan melakukan shalat yakni shalat Shubuh dan diperbolehkan makan makanan.” Riwayat Ibnu Khuzaimah dan Hakim hadits shahih menurut keduanya.

Menurut riwayat Hakim dari hadits Jabir ada hadits serupa dengan tambahan tentang fajar yang mengharamkan memakan makanan: “Fajar yang memanjang di ufuk.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Dia seperti ekor serigala.”

Fajar shadiq – tidak boleh makan, sahur – boleh sholat subuh.

Fajar kadzibn (semu) – boleh makan minum dan haram Sholat. Di kita kenal saat waktu Imsa. Cahaya matahari terlihat lurus vertikal.
Bisa dikumandangkan adzan pertama.

🔹HADITS KE-139

وَعَنْ اِبْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَفْضَلُ اَلْأَعْمَالِ اَلصَّلَاةُ فِي أَوَّلِ وَقْتِهَا ) رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ. وَصَحَّحَاهُ. وَأَصْلُهُ فِي “اَلصَّحِيحَيْنِ

Dari Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Perbuatan yang paling mulia ialah shalat pada awal waktunya.” Hadits riwayat dan shahih menurut Tirmidzi dan Hakim. Asalnya Bukhari-Muslim.

Ada beberapa pengecualian, sholat Isya boleh ditunda dan Dhuhur bila sangat panas. Setengah jam mundur itu termasuk awal waktu, tapi dilakukan dengan berjamaah.

🔹HADITS KE-140 sangat lemah.

وَعَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( أَوَّلُ اَلْوَقْتِ رِضْوَانُ اَللَّهُ وَأَوْسَطُهُ رَحْمَةُ اَللَّهِ; وَآخِرُهُ عَفْوُ اَللَّهِ ) أَخْرَجَهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ جِدًّا
وَلِلتِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ نَحْوُهُ دُونَ اَلْأَوْسَطِ وَهُوَ ضَعِيفٌ أَيْضًا

Dari Abu Mahdzurah bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Permulaan waktu adalah ridlo Allah pertengahannya adalah rahmat Allah dan akhir waktunya ampunan Allah.” Dikeluarkan oleh Daruquthni dengan sanad yang lemah.
Menurut Riwayat Tirmidzi dari hadits Ibnu Umar ada hadits serupa tanpa menyebutkan waktu pertengahan. Ia juga hadits lemah.

🔹HADITS KE-141

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( لَا صَلَاةَ بَعْدَ اَلْفَجْرِ إِلَّا سَجْدَتَيْنِ ) أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيُّ. وَفِي رِوَايَةِ عَبْدِ اَلرَّزَّاقِ: ( لَا صَلَاةَ بَعْدَ طُلُوعِ اَلْفَجْرِ إِلَّا رَكْعَتَيْ اَلْفَجْرِ )
وَمِثْلُهُ لِلدَّارَقُطْنِيّ عَنْ اِبْنِ عَمْرِوِ بْنِ اَلْعَاصِ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasululah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak ada shalat setelah fajar kecuali dua rakaat (Shubuh).” Dikeluarkan oleh Imam Lima kecuali Nasa’i. Dalam suatu riwayat Abdur Razaq: “Tidak ada shalat setelah terbitnya fajar kecuali dua rakaat fajar.”
Dan hadits serupa menurut Daruquthni dari Amr Ibnul ‘Ash radhiallahu anhu.

🔹HADITS KE-142

وَعَنْ أَمْ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم اَلْعَصْرَ ثُمَّ دَخَلَ بَيْتِي فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ: “شُغِلْتُ عَنْ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اَلظُّهْرِ فَصَلَّيْتُهُمَا اَلْآنَ” قُلْتُ: أَفَنَقْضِيهِمَا إِذَا فَاتَتْنَا? قَالَ: “لَا” ) أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ
وَلِأَبِي دَاوُدَ عَنْ عَائِشَةَ بِمَعْنَاهُ

Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam shalat Ashar lalu masuk rumahku kemudian beliau shalat dua rakaat. Maka aku menanyakannya dan beliau menjawab: “Aku sibuk sehingga tidak sempat melakukan dua rakaat setelah Dhuhur maka aku melakukan sekarang.” Aku bertanya: Apakah kami harus melakukan qodlo’ jika tidak melakukannya? Beliau bersabda: “Tidak.” Dikeluarkan oleh Ahmad.
Seperti hadits itu juga terdapat dalam riwayat Abu Dawud dari ‘Aisyah radhiallahu anhaa.

Hal ini dimaksudkan untuk mencegah ada kewajiban baru (qadha sholat).

➡️ Tentang Adzan

Adzan = pengumuman. Pemberitahuan waktu sholat masuk dengan lafadz tertentu.

Awal mula dikumandangkan saat Nabi ﷺ di Madinah. Lafadz dari mimpi sahabat yang disetujui oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Lafadz adzan itu ada beberapa versi yang Nabi ﷺ ajarkan. Ada 3 versi yang cukup dikenal.

Ada 3 muadzin Rasulullah ﷺ.

1. Bilal
2. Abdullah bin Umi Maktum
3. Abu Mahdzurah (Makkah)

🔹HADITS KE-143

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ رَبِّهِ رضي الله عنه قَالَ: ( طَافَ بِي -وَأَنَا نَائِمٌ- رَجُلٌ فَقَالَ: تَقُولُ: “اَللَّهُ أَكْبَرَ اَللَّهِ أَكْبَرُ فَذَكَرَ اَلْآذَانَ – بِتَرْبِيع اَلتَّكْبِيرِ بِغَيْرِ تَرْجِيعٍ وَالْإِقَامَةَ فُرَادَى إِلَّا قَدْ قَامَتِ اَلصَّلَاةُ – قَالَ: فَلَمَّا أَصْبَحْتُ أَتَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: “إِنَّهَا لَرُؤْيَا حَقٍّ…” ) اَلْحَدِيثَ. أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ خُزَيْمَةَ.
وَزَادَ أَحْمَدُ فِي آخِرِهِ قِصَّةَ قَوْلِ بِلَالٍ فِي آذَانِ اَلْفَجْرِ: ( اَلصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ اَلنَّوْمِ )
وَلِابْنِ خُزَيْمَةَ: عَنْ أَنَسٍ قَالَ: ( مِنْ اَلسُّنَّةِ إِذَا قَالَ اَلْمُؤَذِّنُ فِي اَلْفَجْرِ: حَيٌّ عَلَى اَلْفَلَاحِ قَالَ: اَلصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ اَلنَّوْمِ )

Abdullah Ibnu Zaid Ibnu Abdi Rabbih
berkata: Waktu saya tidur (saya bermimpi) ada seseorang mengelilingi saya seraya berkata: Ucapkanlah “Allahu Akbar Allahu Akbar lalu ia mengucapkan adzan empat kali tanpa pengulangan dan mengucapkan qomat sekali kecuali “qod Qoomatish sholaat”. Ia berkata: Ketika telah shubuh aku menghadap Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya ia adalah mimpi yang benar.” Hadits dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud. Shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah.

Ahmad menambahkan pada akhir hadits tentang kisah ucapan Bilal dalam adzan Shubuh: “Shalat itu lebih baik daripada tidur.”

Menurut riwayat Ibnu Khuzaimah dari Anas radhiyallahu anhu ia berkata: Termasuk sunnah adalah bila muadzin pada waktu fajar telah membaca hayya ‘alash sholaah ia mengucapkan assholaatu khairum minan naum

Kalimat Annas bin Malik ini sangat tegas.

Ada khilaf kapan lafadz ini (assholaatu khairum minan naum) dikumandangkan.
1. Adzan pertama.
2. Adzan kedua (jumhur ulama). Imam Syafi’i dan di Masjidil Haram saat ini.

Semoga bermanfaat.

#AlIkhlas #sholat #wudhu #salaf #hadits #adzan #fajar

$$##-aa-##$$

Digita Template

Bulughul-maram

BULUGHUL MARAM-15 BULUGHUL MARAM-17
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?