MENDULANG PELAJARAN KISAH NABI YUSUF-2
Diterbitkan pertama kali pada: 15-Jun-2020 @ 21:45
7 menit membacaMendulang Pelajaran Kisah Nabi Yusuf (lanjutan)
Rizal Yuliar Putrananda
23 Muharam 1441H
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
Nabi Yusuf adalah Nabi yang memiliki kekhususan, putra seorang Nabi, Cucu Seorang Nabi, Cicit seorang Nabi sekaligus kekasih Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya; “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling mulia?”. Beliau menjawab: “Orang yang paling taqwa”. Mereka berkata; “Bukan itu yang kami tanyakan”. Beliau berkata: “Kalau begitu Yusuf Nabi Allah, putra dari Nabi Allah putra Khalilullah (kekasih Allah, Ibrahim Alaihissalam) “.
Mereka berkata lagi; “Bukan itu yang kami tanyakan”. Beliau berkata: “Apakah yang kalian maksudkan tentang kalangan bangsa Arab?. Orang yang terbaik di zaman Jahiliyyah akan menjadi yang terbaik pula di masa Islam jika mereka memahami Islam”.
HR Bukhari.
Keunikan lain kisah Nabi Yusuf adalah Allah menyatukan semua kisah perjalanan Nabi Yusuf hanya di dalam 1 surat, yaitu surat Yusuf.
Berbeda dengan kisah Nabi lain yang tersebar di beberapa surat.
Ayat 50.
وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ فَلَمَّا جَاءَهُ الرَّسُولُ قَالَ ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ مَا بَالُ النِّسْوَةِ اللاتِي قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ إِنَّ رَبِّي بِكَيْدِهِنَّ عَلِيمٌ
Pelayan raja yang dulu mimpinya pernah ditakwil oleh Nabi Yusuf dan benar, setelah Raja Mesir mencari tafsir mimpi tentang tujuh sapi gemuk yang dimakan sapi kurus.
Melihat kebenaran tafsir mimpinya pelayan oleh Nabi Yusuf, raja menawarkan kebebasan kepada Nabi Yusuf namun tidak langsung diterima oleh Nabi Yusuf.
Nabi Yusuf berkata kepada pelayan, “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. (Apa kesimpulan Raja)
Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka.
Nabi Yusuf yang digoda wanita-wanita bangsawan lebih memilih penjara.
Hikmah ayat ini adalah seorang penyeru kebaikan apabila dituduh atau dicela yang merusak nama baiknya (padahal tidak benar), seyogyanya melakukan klarifikasi untuk mencari hakikat kebenaran yang terjadi.
Sehingga tuduhan dapat dibersihkan dan dakwah bisa diteruskan (diterima).
Gelar kasus akhirnya dilaksanakan oleh Raja.
{قَالَ مَا خَطْبُكُنَّ إِذْ رَاوَدْتُنَّ يُوسُفَ عَنْ نَفْسِهِ}
Raja berkata (kepada wanita-wanita itu), “Bagaimanakah keadaan kalian ketika kalian menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepada kalian)?” (Yusuf: 51)
{مَا خَطْبُكُنَّ}
Bagaimanakah keadaan kalian. (Yusuf: 51)
{إِذْ رَاوَدْتُنَّ يُوسُفَ عَنْ نَفْسِهِ}
ketika kalian menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepada kalian)? (Yusuf: 51)
Yakni ketika istri Al-Aziz menjamu mereka.
{قُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ مِنْ سُوءٍ}
Mereka berkata, “Mahasempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan pun darinya.” (Yusuf: 51)
Mereka mengaku salah.
Maka pada saat itu juga istri Al-Aziz berkata:
{قَالَتِ امْرَأَةُ الْعَزِيزِ الآنَ حَصْحَصَ الْحَقُّ}
Istri Al-Aziz berkata. Sekarang jelaslah kebenaran itu.” (Yusuf 51).
Artinya, bahwa seorang hamba yang masih ada kebaikan pada fitrah nya maka dia akan merasa tersiksa dengan perbuatan buruknya walaupun berusaha ditutupi.
{أَنَا رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ}
akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar. (Yusuf: 51)
Seperti ayat berikut,
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. QS Fussilat 34.
Nabi Yusuf tidak membalas dendam.
Perbuatan buruk yang dibalas kebaikan akan memberikan hasil yang sangat baik. Permusuhan berubah menjadi berbaikan.
Ada kemuliaan Akhlaq.
{ذَلِكَ لِيَعْلَمَ أَنِّي لَمْ أَخُنْهُ بِالْغَيْبِ}
Yang demikian itu agar dia (Al-Aziz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya. (Yusuf: 52)
Supaya diketahui bahwa Nabi Yusuf tidak berkhianat.
وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي كَيْدَ الْخَائِنِينَ
dan bahwa Allah tidak meridai tipu daya orang-orang yang berkhianat.
Hiknah, kejujuran.
{وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ (53) }
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Nabi Yusuf pun memberi pernyataan bahwa beliau tidak suci.
Saat godaan wanita Nabi Yusuf juga terhasrat, Namun Allah menyelamatkannya.
Kita juga harus meminta perlindungan Allah.
Allah berfirman,
قُلْ لِلْمُؤْمِنينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصارِهِمْ وَ يَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذلِكَ أَزْكى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبيرٌ بِما يَصْنَعُونَ
Katakanlah kepada 0rang-0rang beriman (laki-laki) itu, supaya mereka menekurkan sebahagian pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka. Yang demikian adalah lebih bersih bagi mereka, Sesungguhnya Tuhan Allah lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan.
Qs An Nur 30.
وَ قُلْ لِلْمُؤْمِناتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصارِهِنَّ وَ يَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدينَ زينَتَهُنَّ إِلاَّ ما ظَهَرَ مِنْها وَ لْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدينَ زينَتَهُنَّ إِلاَّ لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبائِهِنَّ أَوْ آباءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنائِهِنَّ أَوْ أَبْناءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوانِهِنَّ أَوْ بَني إِخْوانِهِنَّ أَوْ بَني أَخَواتِهِنَّ أَوْ نِسائِهِنَّ أَوْ ما مَلَكَتْ أَيْمانُهُنَّ أَوِ التَّابِعينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلى عَوْراتِ النِّساءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ ما يُخْفينَ مِنْ زينَتِهِنَّ وَ تُوبُوا إِلَى اللهِ جَميعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Dan katakan pula kepada 0rang- orang yang beriman (perempuan) supaya mereka pun , menekurkan pula sebahagian pandang mereka dan memelihara kemaluan mereka. Dan janganlan mereka perlihatkan perhiasan mereka kecuali kepada yang nampak saja (mahram) . Dan hendaklah mereka menutup dada mereka dengan selendang. Dan janganlah mereka nampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka sendiri atau kepada ayah mereka , atau bapa dari suami mereka, atau anak mereka sendiri, atau anak-anak dan suami mereka (anak tiri) atau saudara laki-laki mereka , atau anak dari saudara laki-laki mereka , atau anak dan saudara perempuan mereka, atau sesama mereka perempuan atau siapa-siapa yang dimiliki oleh tangan mereka, atau pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan atau anak-anak yang belum melihat aurat perempuan. Dan janganlah mereka hentak kan kaki mereka supaya diketahui orang perhiasan mereka yang tersembunyi.
*Dan taubatlah kamu sekalian kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar supaya kalian beruntung*
Qs An Nur 31.
Nafsu syahwat bisa ditanggulangi dengan menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan.
Seseorang tidak boleh menganggap dirinya suci.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
{فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ}
maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. (An-Najm: 32)
Yakni memuji diri sendiri dan merasa besar diri serta membanggakan amal sendiri.
{هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى}
Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (An-Najm: 32)
Setelah gelar perkara, Nabi Yusuf pun dikeluarkan dari penjara.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan perihal Raja Mesir ketika telah nyata baginya kebersihan nama dan kehormatan Nabi Yusuf ‘alaihissalam dari tuduhan yang dilancarkan terhadap dirinya, bahwa si raja berkata:
{ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي}
Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat (dekat) kepadaku.” (Yusuf: 54)
Maksudnya, aku akan mengangkatnya menjadi orang terdekatku dan juru pemberi nasihatku.
{فَلَمَّا كَلَّمَهُ}
Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia. (Yusuf: 54)
Yakni setelah raja berbicara dengannya, mengenalnya dari dekat, mengetahui keutamaan serta keahlian yang dimilikinya, mengetahui pula pribadi dan akhlak serta kesempurnaan dirinya, maka raja berkata kepadanya:
{إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ}
Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami. (Yusuf: 54)
Ulama, menjelaskan bila Nabi Yusuf langsung keluar penjara sebelum klarifikasi maka hanya akan jadi orang berjasa biasa.
Hikmah, kesabaran akan berbuah manis.
Yakni sesungguhnya kamu sejak sekarang diangkat menjadi orang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai.
Maka Yusuf berkata kepada Raja..
{اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الأرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ}
Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan. (Yusuf: 55)
Nasihat Nabi Yusuf sebelumnya untuk menyimpan hasil panen..
Nabi Yusuf punya 3 hal.
Beliau yang paling tahu
Kedudukan yang tinggi
Dibimbing Allah untuk jalankan amanah
Sehingga berani meminta kepada Raja.
*Ayat ini bukan dalil untuk meminta jabatan* karena 3 hal di atas.
Dan beliau adalah Nabi yang diberi petunjuk oleh Allah.
Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang meminta kekuasaan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku,
يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ لاَ تَسْأَلِ الإِمَارَةَ ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا ، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا
“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kekuasaan karena sesungguhnya jika engkau diberi kekuasaan tanpa memintanya, engkau akan ditolong untuk menjalankannya. Namun, jika engkau diberi kekuasaan karena memintanya, engkau akan dibebani dalam menjalankan kekuasaan tersebut.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari).
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
وَإِنَّهَا أَمَانَةُ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا
Sungguh jabatan ini adalah amanah. Pada Hari Kiamat nanti, jabatan itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambil jabatan itu dengan haq dan menunaikan amanah itu yang menjadi kewajibannya (HR Muslim).
أَيُّمَا رَاعٍ اسْتُرْعِيَ رَعِيَّةً فَغَشَّهَا فَهُوَ فِي النَّارِ
Siapapun yang diangkat memegang tampuk kepimpinan atas rakyat, lalu dia menipu mereka, maka dia masuk neraka (HR Ahmad).
Bila sudah punya kedudukan, dan memang punya kemampuan maka boleh menawarkan jasa untuk membantu (bukan meminta jabatan)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
{وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الأرْضِ}
Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri itu. (Yusuf: 56)
Yakni negeri Mesir.
{يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ}
(dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. (Yusuf: 56)
{نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَشَاءُ وَلا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ}
Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (Yusuf: 56)
: 56)
Artinya, Kami tidak akan menyia-nyiakan kesabaran Yusuf yang telah mengalami gangguan yang menyakitkan dari saudara-saudaranya, juga kesabarannya dalam menanggung derita dipenjara karena ulah istri Al-Aziz. Karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya akibat yang terbaik, yaitu diberi kemenangan dan pengukuhan.
{وَلا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ وَلأجْرُ الآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ}
dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. (Yusuf: 56-57)
Hikmah, Nabi Yusuf selalu bergantung kepada Allah.. (tauhid yang kuat) sehingga berbuah manis. Terutama bagi hamba yang beriman dan bertakwa.
Kesabaran ada 3.
1. Sabar dalam Jalankan ketaatan kepada Allah
2. Sabar dalam Menahan diri untuk tidak bermaksiat kepada Allah
3. Sabar atas musibah yang menimpa diri dalam ketetapan takdir.
Sabar mana yang lebih tinggi?
Yaitu sabar saat taat dan sabar tahan maksiat dari pada sabar musibah, karena sabar saat musibah tidak ada pilihan lain.
Balasan sabar.
{إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ}
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (Az-Zumar: 10)
وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ (22) جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ (23) سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ (24) }
(yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian, dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkannya, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan, orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya, dan anak cucunya, sedangkan malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan), “Keselamatan terlimpahkan kepada kalian berkat kesabaran kalian.” Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. Qs Ar Ra’d 22-24.
##$$-aa-$$##


