ALKABAIR – HATI DAN LISAN#44
- ALKABAIR-#01 – MUQADIMAH
- ALKABAIR-#02 – Dosa terbesar
- ALKABAIR-3
- Alkabair-4
- Alkabair-5 (Riya’ dan Sum’ah)
- ALKABAIR – HATI DAN LISAN#44
- Alkabair-6 – GEMBIRA YANG TERLAKNAT
- Alkabair-7 : PUTUS ASA DARI RAHMAT Allah Dan Merasa Aman dari Adzab Allah
- Alkabair-8 :BAB PENYEBUTAN Buruk Sangka terhadap Allah
- Alkabair-9 :BAB PENYEBUTAN keinginan bertindak sewenang-wenang dan berbuat kerusakan
🗞️ *ALKABAIR – HATI DAN LISAN#44*
✒️ Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
🎤 Ustadz Dr Firanda Andirja Lc MA
🗓️ 23 Rajab 1447H/ 11 Januari 2026
Ba’da Maghrib
➡️ *BAB MERENDAHKAN ORANG YANG PUNYA KEMULIAAN*
Terutama terkait keutamaan agama. Karena meremehkan simbol-simbol agama.
Dari Abdillah bin Amr radhiallahu anhu secara marfu ;
ليس منا من لم يَرحمْ صغيرنا، ويَعرفْ شَرَفَ كبيرنا
“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil (anak muda) di antara kami dan tidak mengetahui kemuliaan orang-orang besar di antara kami.” HR Tirmidzi
Harus sayang kepada yang lebih kecil dan hormat pada orang yang lebih tua.
Dosa besar merendahkan orang yang ada kemuliaan apalagi mencela.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri (maksudnya, janganlah kamu mencela orang lain, pen.). Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk). Seburuk-buruk panggilan ialah (penggilan) yang buruk (fasik) sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11)
Dan firman Allah subhānahu wa Ta’ala,
الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Orang-orang (munafik) yang suka mengejek orang-orang mukmin yang memberikan sedekah dengan sukarela dan yang (mencela) orang-orang yang tidak mendapatkan (untuk disedekahkan) selain kesanggupannya (tenaganya), lalu mereka mengejek orang-orang itu. Allah akan membalas ejekan mereka dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS. At-Taubah [9]: 79)
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرَ الْغَالِي فِيْهِ وَالْجَافِي عَنْهُ وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ
“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah adalah
1. menghormati seorang muslim yang beruban (sudah tua),
2. pembawa Al-Qur’an yang tidak berlebih-lebihan padanya (dengan melampaui batas) dan tidak menjauh (dari mengamalkan) Al-Qur’an tersebut,
3. serta memuliakan penguasa yang adil.” HR Abu Dawud.
Orang beruban yang lebih dahulu beribadah, yaitu muslim yang taat.
Yang dimaksud penghafal Qur’an adalah hafal dan amalkan Quran.
Al Qur’an itu bisa jadi pembela bila diamalkan. Dan jadi bumerang bila tidak diamalkan.
Dalam sebuah hadits,
وَعَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَقُوْلُ : (( يُؤْتَى يَوْمَ القِيَامَةِ بِالقُرْآنِ وَأهْلِهِ الَّذِيْنَ كَانُوا يَعْمَلُونَ بِهِ فِي الدُّنْيَا تَقْدُمُهُ سُوْرَةُ البَقَرَةِ وَآلِ عِمْرَانَ ، تُحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ .
Dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pada hari kiamat, Al-Qur’an akan didatangkan dan juga para ahli Al-Qur’an yaitu orang-orang yang mengamalkannya di dunia. Didahului oleh surah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran, keduanya menjadi hujjah bagi orang yang membacanya.” HR Muslim.
Yang ketiga adalah memuliakan pemimpin yang adil.
Dan dalam riwayat Imam Ahmad dengan sanad jayyid,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua dari kami, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak seorang yang alim (guru).”HR Ahmad.
Seorang harus mengetahui hak orang alim.
Kita harus memuliakan para ulama.
Keutamaan seorang ahli ilmu lebih mulia daripada ahli ibadah. Ahli ibadah itu buat dirinya sendiri. Ulama punya hak untuk dihormati.
➡️ *MEMBUAT SUAMI MARAH*
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَلرِّجَا لُ قَوَّا مُوْنَ عَلَى النِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَاۤ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَا لِهِمْ ۗ فَا لصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ ۗ وَا لّٰتِيْ تَخَا فُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَا جِعِ وَا ضْرِبُوْهُنَّ ۚ فَاِ نْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَلِيًّا كَبِيْرًا
“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Maha Tinggi, Maha Besar.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 34)
🔸Model wanita, ada dua
1. Sholehah (taat beribadah.
Qonitat – Qunut – rajin ibadah,diantara khusyu.
Seorang wanita tidak akan bisa tunaikan hak Allah kecuali.
حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ
– menjaga hak suami ketika suami tidak ada. Yaitu jaga kesucian diri dan harta suami.
Allah memuji Maryam yang jaga kemaluan secara sempurna.
2. Wanita lakukan nusyuz.
Nusyuz – angkat suara. Ada pembangkangan. Nasihati istri dengan tulus, sebutkan dalil Al Qur’an dan Sunnah.
Boikot istri hanya di rumah, bukan diluar rumah. Pukul dalam hal ini pukulan mendidik. Pukulan pada bagian yang tidak sensitif.
Dikisahkan pada zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang wanita yang datang dan mengadukan perlakuan suaminya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dari Hushain bin Mihshan, bahwasanya saudara perempuan dari bapaknya (yaitu bibinya) pernah mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam karena ada suatu keperluan. Setelah ia menyelesaikan keperluannya, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau telah bersuami?” Ia menjawab, “Sudah.” Beliau bertanya lagi, “Bagaimana sikapmu kepada suamimu?” Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi (haknya) kecuali yang aku tidak mampu mengerjakannya.”
Maka, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
“Perhatikanlah bagaimana hubunganmu dengannya karena suamimu (merupakan) Surgamu dan Nerakamu.”
HR Al Hakim.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu secara marfu’ :
Nabi ﷺ bersabda :
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهَا، فَتَأْبَى عَلَيْهِ، إِلَّا كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا
“Demi Yang jiwaku berada di tanganNya, tidaklah seorang suami mengajak istrinya untuk digauli lantas sang istri enggan, kecuali Yang di langit marah kepada sang istri hingga suaminya ridho kepadanya”
وفي رواية __ الا عَنَتْهَا المَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ
Dalam sebuah riwayat, “melainkan para malaikat melaknat sang istri sampai pagi.”
HR Bukhari dan Muslim
Ini adalah dalil bahwa suami itu punya kebutuhan biologis.
Dan fitnah terbesar bagi laki-laki adalah wanita.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اَلْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اِسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ، وَإِنَّهَا لاَتَكُوْنُ أَقْرَبَ إِلَى اللهِ مِنْهَا فِيْ قَعْرِ بَيْتِهَا
Wanita itu aurat, jika ia keluar dari rumahnya maka setan mengikutinya. Dan tidaklah ia lebih dekat kepada Allah (ketika shalat) melainkan di dalam rumahnya
HR Thabrani.
dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seorang wanita, kemudian beliau langsung menemui istrinya Zainab, yang ketika itu sedang membersihkan kulit untuk disamak. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan keinginannya dengan istrinya. Kemudian beliau menemui para sahabat dan bersabda, “Sesungguhnya wanita itu dilihat dari depan dihiasi setan dan dilihat dari belakang juga dihiasi setan. Apabila kalian melihat seorang wanita (dan tertarik), maka hendaknya dia menemui istrinya. Karena hal itu akan menghilangkan keinginan dalam dirinya.” (HR. Muslim).
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Kalau seandainya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada seorang yang lain maka akan aku perintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya” HR Tirmidzi, shahih.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu secara marfu,
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهَا فَتَأْبَى عَلَيْهِ إِلاَّ كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا زَوْجُهَا وفي رواية _ إلا لعنتها الملائكة حتى تصبح _ أخرجا ه
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak ajakan suaminya melainkan yang di langit (penduduk langit) murka pada istri tersebut sampai suaminya ridha kepadanya.” dalam sebuah riwayat ; “melainkan para malaikat melaknat sang istri sampai pagi.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
لَوْ كُنْتُ آمِرًا لِأَحَدٍ أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.” HR Tirmidzi
Dahulu sebelum syariat Nabi Muhammad ﷺ, boleh sujud kepada manusia, sujud tahiya (penghormatan) – bukan sujud ibadah-, seperti disebutkan dalam surat Yusuf.
Ini menunjukkan hak paling besar yang harus ditunaikan istri adalah hak suaminya.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
الرِّجالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّساءِ
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. (An-Nisa: 34)
Ibnu Abbas menafsirkan Para suami adalah para amir, maka suami yang merasa jadi amir itu adalah istri sholehah.
Taat suami karena Dzat mungkin susah, tapi kalau karena Allah Insya Allah bisa.
Nasihat ini buat para istri tapi suami harus sholeh.
Carilah surga dengan mencari ridho suami.
Semoga bermanfaat.
#alkabaair #sunnah #salaf #dosabesar #istri #sholehah #surga #neraka #hujjah
##$$-aa-$$##

