Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #8 Adab Bermajelis
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB #1
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB #2 (Minta izin)
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB #3 Adab Makan
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB #4 Adab Berbicara
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #5 Adab Tidur
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #6 Adab Bersin
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #7 Adab Menguap
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #8 Adab Bermajelis
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #9 ADAB DI JALAN
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #10 – Adab Berpakaian
Diterbitkan pertama kali pada: 24-Okt-2020 @ 21:13
7 menit membacaSyarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #8 Adab Bermajelis
Ustadz Dr Abdullah Roy, Lc M.A
8 Rabi’ul Awwal 1442H
Kedelapan: Apabila engkau mendatangi sebuah majelis maka ucapkan salam, duduklah diakhir majelis, jangan duduk diantara panas dan bayangan, jangan memisahkan antara dua orang kecuali dengan izin keduanya, jangan menyuruh orang lain berdiri dari majelisnya, luaskan bagi orang yang baru masuk, ingatlah kepada Allah dalam majelis tersebut, minimal engkau membaca kaffarah majelis yaitu: Subhaanakallahumma wa bihamdika Asyhadu allaa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaika”
Majelis adalah duduk satu dengan yang lain.
Bisa dalam keluarga juga.
Ada 8 adab dalam majelis, dan ini bukan pembatasan..
1. Mengucap salam
2. Duduk di akhir majelis
3. Tidak duduk diantara panas dan bayangan
4. Jangan memisahkan dua orang kecuali dengan izin keduanya
5. Jangan menyuruh orang lain berdiri dari majelisnya
6. Meluaskan majelis bagi yang baru datang
7. Mengingat Allah dalam majelis tersebut
8. Membaca kaffaratul Majelis
1. Mengucap salam..
Dalam sebuah hadits,
عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إذا انتهى أحدكم إلى مجلس فليسلم فإن بدا له أن يجلس فليجلس ثم إذا قام فليسلم فليست الأولى بأحق من الآخرة . رواه الترمذي ( 2706 ) وأبو داود ( 5208 ) .
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila salah seorang diantara kalian mendatangi majelis maka ucapkanlah salam, apabila ingin duduk maka hendaklah dia duduk, kemudian ketika akan pergi hendaklah mengucapkan salam, karena salam yang pertama tidak lebih berhak daripada yang kedua (HR. At Tirmidzi dan Abu Dawud, hasan shahih)
Ucapkan salam dalam majelis termasuk sebarkan salam.
Dalam hadits lain disebutkan,
روى مسلم عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((لا تدخلوا الجنة حتى تُؤمنوا، ولا تُؤمنوا حتى تحابوا، أولا أدلكم على شيء إذا فعلتموه تحاببتم، أفشوا السلام بينكم))
“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidak akan sempurna iman kalian hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kalian pada sesuatu yang jika kalian lakukan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54).
Mendatangi majelis ilmu, saat perlu konsentrasi… Apakah perlu salam?
Padahal jumlah yang hadir bisa ratusan bahkan ribuan…
Khilaf ulama:
1. Umum, tetap ucapkan salam.
2. Kalau misalnya dikhawatirkan mengganggu majelis ilmu maka tidak perlu keras kan suara dalam ucapkan salam.
(cukup salam kepada yang duduk disekitarnya)
2. Duduk di akhir majelis.
عن جابر بن سمرة قال : كنا إذا أتينا النبي صلى الله عليه وسلم جلس أحدنا حيث ينتهي . رواه الترمذي ( 2725 ) وأبو داود ( 4825 ) .
Dari Jabir bin Samurah beliau berkata: Kami dahulu jika mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, salah seorang diantara kami duduk di akhir majelis” (HR. At Tirmidzi dan Abu Dawud, shahih)
Jaman dahulu orang arab rapi,yang datang belakang di belakang – tidak seperti sekarang.
Dalam hal majelis tidak rapi, tidak harus duduk di belakang.
3. Tidak duduk diantara terik matahari dan bayangan
عن ابن بريدة عن أبيه أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى أن يقعد بين الظل والشمس . رواه ابن ماجه ( 3722 )
Dari Ibnu Buraidah dari bapaknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang duduk antara bayangan dan terik matahari (HR. Ibnu Majah, shahih)
Sebagian badan kita kena bayangan, sebagian kena matahari. Jaman dulu majelis di luar ruangan.
Diantara hikmahnya: merusak Kesehatan
سنن أبي داود (4/ 257)
4821 – حَدَّثَنَا ابْنُ السَّرْحِ، وَمَخْلَدُ بْنُ خَالِدٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ، قَالَ: حَدَّثَنِي مَنْ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ: قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ فِي الشَّمْسِ»، وَقَالَ مَخْلَدٌ: «فِي الْفَيْءِ فَقَلَصَ عَنْهُ الظِّلُّ، وَصَارَ بَعْضُهُ فِي الشَّمْسِ، وَبَعْضُهُ فِي الظِّلِّ فَلْيَقُمْ»
____
[حكم الألباني] : صحيح
Dalam riwayat lain, dari Abu Iyadh, dari salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengatakan,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ نَهَى أَنْ يُجْلَسَ بَيْنَ الضِّحِّ وَ الظِّلِّ وَ قَالَ مَجْلِسُ الشَّيْطَانِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang duduk di antara tempat yang terkena panas dan tempat yang terkena naungannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Itu adalah tempat duduknya setan.’ ” (HR. Ahmad 15421 dan dishahihan Syuaib al-Arnauth)
Dari Abu Hurairah Radhiyaahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ فِي الشَّمْسِ فَقَلَصَ عَنْهُ الظِّلُّ، فَصَارَ بَعْضُهُ فِي الشَّمْسِ وَبَعْضُهُ فِي الظِّلِّ فَلْيَقُمْ
Jika kalian berada di tempat yang panas, lalu tiba-tiba bayangan bangunan menutupi kita sebagian sehingga terkena teduh, maka hendaknya dia pindah. (HR. Abu Daud 4823 dan dishahihkan al-Albani)
4. *Tidak memisahkan dua orang kecuali dengan izin keduanya*hal ini mengganggu dan bahkan bisa menyakiti mereka.
عن عبد الله بن عمرو أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : لا يحل للرجل أن يفرِّق بين اثنين إلا بإذنهما . رواه الترمذي ( 2752 ) وأبو داود ( 4844 ) .
Dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidak halal bagi seseorang memisahkan antara dua orang kecuali dengan izin keduanya (HR. At Tirmidzi dan Abu Dawud, hasan shahih)
Keduanya = dua orang yang sedang duduk.
Ini kalau keduanya dekat, tapi kalau memang sudah jauh jarak keduanya maka tidak perlu izin dari keduanya.
5. Jangan menyuruh orang lain berdiri dari majelisnya
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang orang duduk disuruh berdiri dan tempat duduknya ditempati.
Jalan keluarnya adalah hendaklah kalian lapangkan..
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : قَال رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( لاَ يُقِيْمَنَّ أَحَدُكُمْ رَجُلاً مِنْ مَجْلِسِهِ ثُمَّ يَجْلِسُ فِيهِ ، وَلكِنْ تَوَسَّعُوْا وَتَفَسَّحُوْا )) وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا قَامَ لَهُ رَجُلٌ مِنْ مَجْلِسِهِ لَمْ يَجْلِسْ فِيهِ . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang di antara kalian menyuruh berdiri lainnya dari tempat duduknya kemudian ia sendiri duduk di situ. Tetapi berikanlah keluasan tempat serta kelapangan (pada orang lain yang baru datang).” Ibnu Umar apabila ada seorang yang berdiri dari tempat duduknya karena menghormatinya, ia tidak suka duduk di tempat orang tadi itu. (Muttafaq ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6270 dan Muslim, no. 2177]
Kecuali kalau memang sudah dikhususkan untuk orang tertentu, untuk fatwa atau orang yang mengajarkan.
6. meluaskan majelis
Kita berusaha untuk meluaskan majelis sehingga bisa menampung banyak orang.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ﴿١١﴾
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
QS. Al Mujadalah (58) : 11
Makna meluaskan ada dua
1. Meluaskan secara hakiki (merapat)
2. Meluaskan secara makna, menjadikan orang yang duduk dekat kita merasa nyaman.
Umar bin Khaththab, mengatakan ada tiga hal yang menambah erat hubungan persahabatan :
1. Memberi salam ketika bertemu
2. Memberi tempat duduk kepadanya dalam sebuah majelis
3. Memanggilnya dengan nama yang disukai.
Afnaf, menjelaskan untuk meluaskan majelis dengan cara bergerak.
Syaikh Albani, mengatakan bahwa orang yang dalam majelis berdiri dan menyuruh orang lain duduk di tempatnya adalah bukan adab Islami, karena yang diperintahkan adalah dengan meluaskan.
7. Mengingat Allah
Makna nya bisa dengan hati,
عن عبد الله بن عمرو قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما من قوم جلسوا مجلسا لم يذكروا الله فيه إلا رأوه حسرة يوم القيامة . رواه أحمد ( 7053 ) .
Dari Abdullah bin Amr beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah sebuah kaum duduk dalam satu majelis yang mereka tidak mengingat Allah di dalamnya kecuali mereka akan melihat penyesalan di hari kiamat” (HR. Ahmad)
Diantara bentuk dzikirnya:
1. membaca Alquran
2. istighfar
Dari Ibnu Umar, beliau mengatakan bahwa jika kami menghitung dzikir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majelis, beliau mengucapkan,
رَبِّ اغْفِرْ لِى وَتُبْ عَلَىَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
‘Robbigfirliy wa tub ‘alayya, innaka antat tawwabur rohim’ [Ya Allah ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang] sebanyak 100 kali. (HR. Abu Dawud).
3. Tasbih dan tahmid
Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki malaikat-malaikat yang berkelana di jalan-jalan mencari Ahli Dzikir . Jika mereka telah mendapatkan sekelompok orang yang berdzikir kepada Allah, mereka duduk bersama dengan orang-orang yang berdzikir. Mereka saling mengajak: ‘Kemarilah kepada hajat kamu’. Maka para malaikat mengelilingi orang-orang yang berdzikir dengan sayap mereka sehingga langit dunia . Kemudian Allah Azza wa Jalla bertanya kepada mereka, sedangkan Dia lebih mengetahui daripada mereka, ’Apa yang diucapkan oleh hamba-hambaKu?’ Para malaikat menjawab, ’Mereka mensucikan-Mu (mengucapkan tasbih: Subhanallah), mereka membesarkanMu (mengucapkan takbir: Allah Akbar), mereka memujiMu (mengucapkan Alhamdulillah), mereka mengagungkan-Mu’ . Allah bertanya, ’Apakah mereka melihatKu?’ Mereka menjawab,’Tidak, demi Alah, mereka tidak melihatMu’. Allah berkata,’Bagaimana seandainya mereka melihatKu?’ Mereka menjawab,’Seandainya mereka melihatMu, tentulah ibadah mereka menjadi lebih kuat kepadaMu, lebih mengagungkan kepadaMu, lebih mensucikan kepadaMu’. Allah berkata,’Lalu, apakah yang mereka minta kepadaKu?’ Mereka menjawab, ’Mereka minta surga kepadaMu’. Allah bertanya, ’Apakah mereka melihatnya?’ Mereka menjawab,’Tidak, demi Alah, Wahai Rabb, mereka tidak melihatnya’. Allah berkata,’Bagaimana seandainya mereka melihatnya?’ Mereka menjawab,’Seandainya mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih semangat dan lebih banyak meminta serta lebih besar keinginan’.” Allah berkata: “Lalu, dari apakah mereka minta perlindungan kepadaKu?” Mereka menjawab,”Mereka minta perlindungan dari neraka kepadaMu.” Allah bertanya,”Apakah mereka melihatnya?” Mereka menjawab,”Tidak, demi Allah, wahai Rabb. Mereka tidak melihatnya.” Allah berkata, ”Bagaimana seandainya mereka melihatnya?” Mereka menjawab,”Seandainya mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih menjauhi dan lebih besar rasa takut (terhadap neraka).” Allah berkata, ”Aku mempersaksikan kamu, bahwa Aku telah mengampuni mereka.” Seorang malaikat diantara para malaikat berkata,”Di antara mereka ada Si Fulan. Dia tidak termasuk mereka (yakni tidak ikut berdzikir, Pent). Sesungguhnya dia datang hanyalah karena satu keperluan.” Allah berkata,”Mereka adalah orang-orang yang duduk. Teman duduk mereka tidak akan celaka (dengan sebab mereka).”
HR Bukhari.
4. meminta surga dan berlindung dari neraka
8. Doa kafaratul Majelis, yaitu doa untuk menebus kesalahan selama Bermajelis. Ini untuk semua majelis.
عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من جلس في مجلس فكثر فيه لغطه فقال قبل أن يقوم من مجلسه ذلك سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك إلا غفر له ما كان في مجلسه ذلك . رواه الترمذي ( 3433 ) .
Dari Abu Hurairah beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang duduk di sebuah majelis, dan banyak di dalamnya kesalahan, kemudain dia berkata sebelum berdiri dari majelisnya: Subhanakallahumma ….kecuali akan diampuni apa yang terjadi di majelis tersebut (HR. At Tirmidzi, shahih)
-Biasanya di dalam majelis banyak kesalahan, maka disunnahkan membaca doa ini.
Harus diucapkan dengan hati….
Adab lain dalam bermajelis ..
1. Mencari teman duduk yang baik.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
2. Kalau dia Kembali maka dia lebih berhak.
Misalnya ada sudah duduk, ada perlu keluar (misal untuk wudhu) dan kembali.
3. Tidak menyakiti teman duduk
4. Mencuri pendengaran
5. Berbicara berdua dan meninggalkan yang ketiga (bisa bersedih)
6. Tidak boleh memotong pembicaraan
7. Menjaga rahasia (harus amanah)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
الرَّجُلُ إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلَ بِحَدِيْثٍ ثُمَّ الْتَفَتَ عَنْهُ فَهِيَ أَمَانَةٌ
“Jika seseorang mengabarkan kepada orang lain suatu kabar, kemudian ia berpaling dari orang yang dikabari tersebut maka kabar itu adalah amanah (atas orang yang dikabari) (HR At-Tirmidzi, shahih.)
8. Mengambil faidah dari ahlul ilmi
9. Tidak saling membanggakan diri.
Imam Ahmad selama 50 tahun tidak pernah membanggakan diri.
Semoga bermanfaat.
##$$-aa-$$##


