Qodariah: Sejarah, Syubhat-Syubhat dan Bantahan-bantahannya
Diterbitkan pertama kali pada: 15-Des-2020 @ 11:47
5 menit membaca Qodariah: Sejarah, Syubhat-Syubhat dan Bantahan-bantahannya
Ustadz Dr Firanda Andirja, M.A
13 Rabi’ul Awwal 1442H
Takdir adalah pembahasan tentang hikmah rahasia Allah – dan kita wajib beriman dan wajib menerima takdir, baik itu takdir baik maupun takdir buruk.
Akal sama dengan indera, yaitu punya keterbatasan dalam kemampuan.
Telinga terbatas dalam kemampuan pendengaran, begitu juga mata terbatas dalam penglihatan, misalnyat tidak mampu melihat virus dll.
Terbatasnya kemampuan indera ini tidak menafikan keberadaan hal yang tidak mampu diinderai.
Begitu juga penemuan sesuatu juga sedikit-demi sedikit menunjukkan keterbatasan tersebut. Dan Allah buka ilmu itu sedikit demi sedikit.
Imam Abu Hanifah berkata bicara tentang takdir seperti melihat matahari, semakin ditatap semakin tidak mampu.
Qodariah, penyimpangan dimulai dari menggunaan akal untuk memahami takdir.
Allah ditanya apa yang Allah kerjakan tetapi manusia yang akan ditanya.
Rasulullah ﷺ ingatkan akan munculnya Qodariah, sebagaimana dalam sabda beliau ﷺ:
الْقَدَرِيَّةُ مَجُوْسُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِنْ مَرِضُوْا فَلاَ تَعُوْدُوْهُمْ وَإِنْ مَاتُوْا فَلاَ تَشْهَدُوْهُمْ
“Al-qodariah itu Majusi umat ini. Jika mereka sakit, maka jangan dijenguk. Dan jika meninggal dunia, jangan disaksikan (dihadiri) jenazahnya.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim)
➡️Qodariah adalah majusi umat ini. Karena majusi – meyakini pencipta ada dua, yaitu:
1. Tuhan Cahaya/Api – pencipta kebaikan
2. Tuhan Kegelapan – pencipta kegelapan.
Qodariah meyakini kebaikan dikehendaki dan diciptakan oleh Allah, adapun keburukan tidak dikehendaki dan tidak diciptakan oleh Allah.
Kalau bukan Allah, lantas siapa?
Allah hanya menciptakan manusia dan Allah biarkan manusia ciptakan perbuatannya sendiri.mereka mengatakan perbuatan manusia adalah bukan ciptaan Allah – berarti ada dualisme Tuhan.
✔️Sejarah Qodariah
Penyimpangan mereka karena menggunakan akal diluar ranah akal.
➡️Al Qodariah di bagi dua:
1️⃣. Ghulatul Qodariah – Qodariah ekstrim (dikafirkan para ulama) – pertama kali muncul di tangan Ma’bad al Juhani yang diikuti oleh Ghoilan ad-Dimasyqi , kedua berpendapat menolak ilmu Allah yang Azali.
Mereka mengatakan. “Semua terjadi tanpa ditetapkan dalam ilmu Allah sebelumnya”
Muncul ini di zaman Ibnu Umar radhiallauanhu.
Ini semua sebenarnya tujuannya baik, yaitu untuk bisa menjelaskan keadilan Allah.
Ghoilan ini akhirnya disalib (karema murtad dengan mengingkari takdir Allah) pada zaman Hisyam bin Abdul Malik (walaupun sebelumnya selamat pada jaman khalifah Umar bin Abdul Aziz dan khalifah sesudahnya) dan mahdzab ini saat ini sudah punah.
2️⃣. Qodariah mu’tazilah (tidak dikafirkan para ulama) – tidak menolak ilmu Allah tapi menolak campur tangan Allah dalam terjadinya keburukan. mahdzab ini masih kokoh sampai sekarang.
Adalah murid Imam Hasan Al Bashri – Wasil bin Atho’ Al Ghozzal dan Amir bin Ubaid.
Saat Majelis di Hasan Al Bashri – ada pertanyaan hukum terhadap pelaku dosa besar?
Hasan Al Bashri belum jawab, tepai Wasil bin Atho’ menjawab – ini tidak kafir dan tidak mukmin (Manzila baina manzilatain).
Akhirnya mereka menyempal (I’tazalah – yang akhirnya menjadi Mu’tazilah), awalnya tidak bicara takdir dan diikuti oleh Amr bin Ubaid, yang orangnya zuhud sekali dan dikagumi oleh khalifah sehingga banyak orang terpedaya dengan kezuhudannya.
Dan Jamansekarang, mereka bangga disebut Mu’tazilahlah karena sebagian ayat AlQuran menjelaskan tentang i’tizal.
Namun mereka tidak mau disebut qodariah karena ada hadits qodariah adalah majusi umat ini.mereka inilah yang menjalankan pemikiran qodariah.
Mulai banyak tersebar saat khalifah Al Abassi Al Ma’mun yang banyak terjemahkan buku-buku yunani ke bahasa arab.
➡️Ada dua kelompok Qodariah (dari madrosah):
1️⃣. Qodariah – Bashroh dengan tokoh yang terkenal:
1.1 Wasil bin Atho’ Al Ghozzal (wafat 131H)
1.2 Amr bin Ubaid yang wafat 144H (ahli ibadah, sangat zuhud dan disenangi ahli ibadah, dan banyak pengikutnya dan suka berbohong menisbatkan hadits kepada Hasan Al Bashri – sehingga hadits dari Amr bin Ubaid nya di tinggalkan)
1.3 Abu Hudzail wafat 235H
1.4 An Nadhom
1.5 Al Jahid – ahli bahasa, wafat 256H. Al Bukhola 2 jilid (kisah orang2 pelit)
1.6 Abu Ali Al Juba’i, wafat 303H – bapak tiri dari Abul Hasan Al Asyari. Yang Abu Hasan Al Syari belajar mu’tazilah selama 40 tahun dari bapak tirinya ini.
2️⃣. Qodariah – Baghdad,
2.1 Ahmad bin Abi Du’ad – wafat 240H – Inilah yang debat dengan Imam Ahmad ketika Imam Ahmad dipenjara. (Ahmad bin Abi Du’ad dari sisi sifat Allah adalah Jahmiyah, dari sisi takdir adalah qodariah).
2.2 Abdul Jabbar al Hamadzany , wafat 415H yang bukunya Syarah al Ushul Khomsah (2 jilid) dan Al Mughni fii Abwabu Tauhid wal Adl – sekitar 20 jilid.
2.3 Zamaksyah – dalam buku tafsirnya sering memasukkan racun-racun mu’tazilah.
➡️Mu’tazilah punya 5 pokok landasan (mereka sebut Ushul Al Khomsah):
1. Tauhid maksudnya menolak seluruh sifat
2. Adil maksudnya menolak takdir
3. Manzila baina manzilatain – tidak kafir tidak mukmin
4. Pelaku dosa besar kekal di neraka
5. Amar ma’ruf nahi munkar – memberontak kepada pemerintah yang dzalim.
❗❗Syubhat-syubhat Qodariah
1️⃣Syubhat 1. Dibangun di atas menyamakan Allah dengan makhluq dari sisi perbuatan.
menurut mereka, Allah harusnya begini dan begitu…(supaya adil).
Bantahan :
1. Ini qias batil karena semua makhluq milik Allah dan pemilik bebas melakukan apa yang diciptakannya adapun manusia tidak demikian.
2. Qias batil karena hikmah yang sesungguhnya tidak diketahui rahasia Allah, lantas bagaimana bisa diqiaskan dengan perbuatan makhluq.
Qias dibangun diatas ilah (kesamaan), Qias dalam perkara ini salah – yaitu mengqiaskan Allah dengan makhluq.
Jadi qias ini salah dalam dua sisi:
1. Allah melakukan sesuatu terhadap makhluq adalh terserah Allah karena ini semua ciptaan Allah
2. Allah menciptakan ini, hikmahnya kamu (qodariah) tidak tahu.
Kita Ahlusunnah meyakini kalau Allah buka hikmahnya Allah Maha Adil – dan otak kita tidak sampai. semua yang Allah ciptakan ada kebaikan.
2️⃣Syubhat2: Menyatakan bahwa Allah menciptakan hamba dan perbuatannya melazimkan Allah tidak adil (kata mereka) harusnya keburukan tidak dikehendaki Allah dan tidak diciptakan Allah, yaitu Allah tidak ikut campur dalam perbuatan hamba.
Bantahan : Kelazimannya lebih parah , seakan-akan Allah bukan Tuhan, karena berarti ada yang terjadi bukan kehendak Allah dan ada yang tercipta bukan ciptaan Allah.
3️⃣Syubhat3: Mereka berkata makhluq menciptakan perbuatannya sendiri atas kehendaknya (supaya menunjukkan bahwa Allah itu adil)
Inilah yang dibantah oleh Imam Bukhari dalam kitabnya Perbuatan Hamba ciptaan Allah.
Bantahan : seseorang ketika tidak sadar (tidur), jantunganya berdetak terkadang ngigau dan lainnya, itu ciptaan Allah atau ciptaan dia sendiri? (tentu jawabannya ciptaan Allah).
Diskusi antara Qodariah dan Ahlusunnah
Salah satu contoh dari banyak contoh :
Dalam sebuah riwayat dikisahkan ada seorang arab badui yang kehilangan untanya.
Kemudian orang ini datang kepada ‘Amr bin ‘Ubaid, ia adalah tokoh di kalangan qodariah.
Orang badui tadi berkata: “Wahai Amr, unta saya telah dicuri. Tolong doakan kepada Allah agar unta saya kembali”
‘Amr bin ‘Ubaid menengadahkan tangannya lalu berdoa: “Ya Allah, unta orang ini telah dicuri, namun bukan atas kehendak-Mu”
Serta-merta orang badui tadi menahan tangan ‘Amr, ia berkata: “Wahai Syaikh, kalau begitu sekarang biarkan saja unta saya (tidak perlu didoakan)”
‘Amr bin ‘Ubaid bertanya: “Kenapa begitu?”
Orang badui tadi berkata: “Kalau memang Allah tidak berkehendak unta saya dicuri, lalu nyatanya dicuri. Jangan-jangan nanti kalau Allah berkehendak unta saya kembali malah tidak kembali”
Seketika itu ‘Amr bin ‘Ubaid membisu dan tidak menemukan jawaban
Semoga bermanfaat.

