BULUGHUL MARAM-10
📖 *BULUGHUL MARAM-10*
🖋️ Ibnu Hajar as-Asqalani
Ustadz Muhammad Anwar, Lc MPd
12 Dzulhijjah 1446 H/8 Juni 2025
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
Kitab ini berisi 1350 an hadits yang berkaitan dengan fikih.
🔸 *Tata cara buang hajat*
➡️ *HADITS KE-80*
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اِتَّقُوا اَللَّاعِنِينَ: اَلَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ اَلنَّاسِ أَوْ فِي ظِلِّهِمْ ) رَوَاهُ مُسْلِم
زَادَ أَبُو دَاوُدَ عَنْ مُعَاذٍ ( وَالْمَوَارِدَ )
وَلِأَحْمَدَ; عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: ( أَوْ نَقْعِ مَاءٍ ) وَفِيهِمَا ضَعْف
أَخْرَجَ اَلطَّبَرَانِيُّ اَلنَّهْيَ عَن ْ تَحْتِ اَلْأَشْجَارِ اَلْمُثْمِرَةِ وَضَفَّةِ اَلنَّهْرِ الْجَارِي. مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ بِسَنَدٍ ضَعِيف
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Jauhkanlah dirimu dari dua perbuatan terkutuk yaitu suka buang air di jalan umum atau suka buang air di tempat orang berteduh.” Riwayat Imam Muslim.
Jalan umum – sering dilewati manusia dan tempat istirahat – yang bila terganggu yang sering memancing manusia keluar kata-kata sumpah serapah (laknat).
Hukum asal laknat orang adalah dilarang. Namun hadits ini maknanya ada kondisi dimana dibolehkan melaknat. Yaitu doa buruk yang menimpa orang yang dilaknat.
Pendapat yang mana kondisi tertentu seseorang boleh melaknat maksudnya orang yang jadi sebab seseorang melaknat juga mendapat bagian dosa.
🔹Abu Dawud menambahkan dari Muadz radhiyallahu anhu: “Dan tempat-tempat sumber air.”
Lafadznya ialah: “Jauhkanlah dirimu dari tiga perbuatan terkutuk yaitu buang air besar di tempat-tempat sumber air di tengah jalan raya dan di tempat perteduhan.”
Sumber air adalah sumber kehidupan.
Tempat perteduhan mungkin bisa rest area.
🔹Dalam riwayat Ahmad Ibnu Abbas radhiyallahu anhu: “Atau di tempat menggenangnya air.” Dalam kedua hadits di atas ada kelemahan.
Imam Thabrani mengeluarkan sebuah hadits yang melarang buang air besar di bawah pohon berbuah dan di tepi sungai yang mengalir. Dari hadits Ibnu Umar dengan sanad yang lemah.
➡️ *HADITS KE-81*
وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا تَغَوَّطَ اَلرَّجُلَانِ فَلْيَتَوَارَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَنْ صَاحِبِهِ وَلَا يَتَحَدَّثَا. فَإِنَّ اَللَّهَ يَمْقُتُ عَلَى ذَلِكَ ) رَوَاهُ. وَصَحَّحَهُ اِبْنُ اَلسَّكَنِ وَابْنُ اَلْقَطَّانِ وَهُوَ مَعْلُول
Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Apabila dua orang buang air besar maka hendaknya masing-masing bersembunyi dan tidak saling berbicara sebab Allah mengutuk perbuatan yang sedemikian.”
Diriwayatkan oleh Ahmad hadits shahih menurut Ibnus Sakan dan Ibnul Qathan. Hadits ini ma’lul.
Ngobrol yang ada kebutuhan dibolehkan,menurut sebagian ulama. Ini pendapat pertengahan.
➡️ *HADITS KE-82*
وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ وَلَا يَتَمَسَّحْ مِنْ اَلْخَلَاءِ بِيَمِينِهِ وَلَا يَتَنَفَّسْ فِي اَلْإِنَاءِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِم
Dari Abu Qotadah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
“Janganlah sekali-kali seseorang di antara kamu menyentuh kemaluannya dengan tangan kanan ketika sedang kencing jangan membersihkan bekas kotorannya dengan tangan kanan dan jangan pula bernafas dalam tempat air.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Muslim.
Ada tiga larangan dalam hadits ini.
Larangan ini bersifat haram? Ada khilaf, pendapat yang lebih banyak adalah jatuh pada makruh.
Tangan kanan diposisikan pada hal-hal yang bersih. Termasuk makan.
Makan dengan tangan kiri juga dilarang, karena menyerupai syetan walaupun dengan sendok.
➡️ *HADITS KE-83*
وَعَنْ سَلْمَانَ رضي الله عنه قَالَ: ( لَقَدْ نَهَانَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم “أَنْ نَسْتَقْبِلَ اَلْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أَوْ عَظْمٍ” ) رَوَاهُ مُسْلِم
وَلِلسَّبْعَةِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي أَيُّوبَ رضي الله عنه ( لَا تَسْتَقْبِلُوا اَلْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ وَلَا بَوْلٍ وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا )
Salman Radliyallaahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam benar-benar telah melarang kami menghadap kiblat pada saat buang air besar atau kecil atau ber-istinja’ (membersihkan kotoran) dengan tangan kanan atau beristinja’ dengan batu kurang dari tiga biji atau beristinja’ dengan kotoran hewan atau dengan tulang. Hadits riwayat Muslim.
🔹Hukum buang hajat (kecil besar) dengan hadap qiblat atau membelakangi qiblat.
1. Makruh. Karena ada hadits yang membolehkan.
Sebagaimana hadis dari Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,
ارْتَقَيْتُ فَوْقَ ظَهْرِ بَيْتِ حَفْصَةَ لِبَعْضِ حَاجَتِي، فَرَأَيْتُ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَقْضِي حَاجَتَهُ مُسْتَدْبِرَ القِبْلَةِ، مُسْتَقْبِلَ الشَّأْمِ
“Aku pernah naik ke atas rumah Hafshah untuk suatu keperluan. Lalu aku melihat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sedang buang hajat membelakangi kiblat dan menghadap ke arah Syam” (HR. Bukhari dan Muslim).
2. Haram secara mutlak. Baik yang tertutup maupun terbuka.
3. Boleh secara mutlak, dengan dalil hadits larangan itu dihapus. Ini pendapat yang lemah.
4. Ada rincian.
Haram bila buang hajat di tempat terbuka.
Dan boleh bila di dalam ruang tertutup.
Syaikh Sa’di – larangan buang hajat hadap atau belakangi qiblat hanya berlaku di padang pasir (terbuka).
Bisa jadi di ruang terbuka ada malaikat atau jin yang sedang di tempat tersebut.
🔹Hadits menurut Imam Tujuh dari Abu Ayyub Al-Anshari Radliyallaahu ‘anhu berbunyi : “Janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya akan tetapi menghadaplah ke arah timur atau barat.”
Barat timur maksudnya selain arah kiblat dari lokasi di Madinah (saat itu para shahabat).
➡️ *HADITS KE-84*
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( مَنْ أَتَى اَلْغَائِطَ فَلْيَسْتَتِرْ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُد
Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Barangsiapa yang hendak buang air hendaklah ia membuat penutup.” Riwayat Abu Dawud.
Sudah jelas.
➡️ *HADITS KE-85*
وَعَنْهَا; ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنْ اَلْغَائِطِ قَالَ: “غُفْرَانَكَ” ) أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ. وَصَحَّحَهُ أَبُو حَاتِمٍ وَالْحَاكِم
Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam jika telah keluar dari buang air besar beliau berdo’a: “Aku mohon ampunan-Mu.”
Diriwayatkan oleh Imam Lima. Hadits shahih menurut Abu Hatim dan Hakim.
Doa keluar dari buang hajat adalah
غُفْرَانَكَ
Doa lain riwayat Ibnu Majah – Alhamdulilah. Tapi lemah riwayatnya.
Kenapa Nabi ﷺ memohon ampun setelah buang hajat?
Karena Nabi ﷺ lisan nya basah dengan dzikir dan di dalam toilet berhenti dzikir. Dan Nabi ﷺ merasa kekurangan. Sehingga mohon ampun.
Penjelasan kedua adalah berkurangnya kita bersyukur atas nikmat Allah yang kita terima. Bisa buang hajat itu termasuk nikmat.
➡️ *HADITS KE-86*
وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: ( أَتَى اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم اَلْغَائِطَ فَأَمَرَنِي أَنْ آتِيَهُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ فَوَجَدْتُ حَجَرَيْنِ وَلَمْ أَجِدْ ثَالِثًا. فَأَتَيْتُهُ بِرَوْثَةٍ. فَأَخَذَهُمَا وَأَلْقَى اَلرَّوْثَةَ وَقَالَ: “هَذَا رِكْسٌ” ) أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيّ ُ. زَادَ أَحْمَدُ وَاَلدَّارَقُطْنِيُّ: ( ائْتِنِي بِغَيْرِهَا
Ibnu Mas’u d Radliyallaahu ‘anhu berkata: “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam hendak buang air besar lalu beliau menyuruhku untuk mengambilkan tiga biji batu kemudian saya hanya mendapatkan dua biji dan tidak menemukan yang ketiga. Lalu saya membawakan kotoran binatang. Beliau mengambil dua biji batu tersebut dan membuang kotoran binatang seraya bersabda : “Ini kotoran menjijikkan.” Diriwayatkan oleh Bukhari. Ahmad dan Daruquthni menambahkan: “Ambilkan aku yang lain.”
➡️ *HADITS KE-87*
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى “أَنْ يُسْتَنْجَى بِعَظْمٍ أَوْ رَوْثٍ” وَقَالَ: “إِنَّهُمَا لَا يُطَهِّرَانِ” ) رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَه
Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang untuk beristinja’ dengan tulang atau kotoran binatang dan bersabda : “Keduanya tidak dapat mensucikan.” Riwayat Daruquthni dan hadits ini dinilai shahih.
➡️ *HADITS KE-88*
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اِسْتَنْزِهُوا مِنْ اَلْبَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ اَلْقَبْرِ مِنْهُ ) رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيّ
وَلِلْحَاكِمِ: ( أَكْثَرُ عَذَابِ اَلْقَبْرِ مِنْ اَلْبَوْلِ ) وَهُوَ صَحِيحُ اَلْإِسْنَاد
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Sucikanlah dirimu dari air kencing karena kebanyakan siksa kubur itu berasal darinya.” Riwayat Daruquthni.
Menurut riwayat Hakim : “Kebanyakan siksa kubur itu disebabkan (tidak membasuh) air kencing.” Hadits ini sanadnya shahih.
*HADITS KE-89* posisi kaki saat buang hajat.
وَعَنْ سُرَاقَةَ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: ( عَلَّمْنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي اَلْخَلَاءِ: ” أَنَّ نَقْعُدَ عَلَى اَلْيُسْرَى وَنَنْصِبَ اَلْيُمْنَى” ) رَوَاهُ اَلْبَيْهَقِيُّ بِسَنَدٍ ضَعِيف
Suraqah Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengajari kami tentang cara buang air besar yaitu agar kami duduk di atas kaki kiri dan merentangkan kaki kanan. Diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad yang lemah.
➡️ *HADITS KE-90*
وَعَنْ عِيسَى بْنِ يَزْدَادَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا بَالَ أَحَدُكُمْ فَلْيَنْثُرْ ذَكَرَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ) رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَه بِسَنَدٍ ضَعِيف
Dari Isa Ibnu Yazdad dari ayahnya Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah saw bersabda : “Apabila seseorang di antara kamu telah selesai buang air kecil maka hendaknya ia mengurut kemaluannya tiga kali.” Riwayat Ibnu Majah dengan sanad yang lemah.
Semoga bermanfaat.
#salaf #sunnah #hadits #bulughulmaram #air #majelisilmu #wudhu #darah #istihadlah #batal


