This entry is part 27 of 57 in the series Hisnul Muslim

Diterbitkan pertama kali pada: 23-Des-2023 @ 05:52

6 menit membaca

*MAKNA DOA DAN DZIKIR – 35*
Ustadz Muhammad Anwar, Lc MPd
10 Jumadil Akhir 1445H/23.12.2023
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kita adalah Allah mudahkan kita duduk di majelis ilmu.

➡️ *Kita lanjutkan dengan membaca kitab Hisnul Muslim*

4️⃣5️⃣ *Do’a saat mengalami sesuatu yang tidak diinginkan* (takdir buruk)

قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

Qadarallaahu wa maa syaa’a fa’ala.

“Allah telah mentaqdirkannya dan apa yang Dia kehendaki Dia lakukan”.

 
Dalam sebuah hadits disebutkan,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ ، اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَـيْءٌ فَـلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِـّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَـذَا ، وَلَـكِنْ قُلْ: *قَـدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَل* ، فَإِنَّ لَوْ تَـفْـتَـحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allah, dan Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan. HR Muslim.

Kata Qadarullah jangan diucapkan bila alasannya karena kelalaian kita sendiri.
Misalnya Qadarullah saya telat karena saya kelamaan nongkrong.

✅ FAIDAH

1. Islam memotivasi kita untuk jadi muslim yang kuat (produktif untuk kemanfaatan diri, orang lain).

2. Kata kuat adalah kekuatan iman (Imam Nawawi Rahimahullahu).

3. Iman pada Qodho dan Qodhar.
Memang ada khilaf pada definisi.
Bila berkumpul dalam satu kalimat maka maknanya berbeda, bila terpisah maka maknanya sama.

Bila berpisah.. Ustadz lebih memilih pendapat.

Qodho = satu persatu takdir yang terjadi secara terperinci.
Qodhar = takdir yang ditetapkan Allah pada zaman azali.

4. Penggunaan kalimat لَوْ seandainya
Lihat motif – bila karena keluh kesah atau kecewa atau sedih karena tidak menyukai apa yang Allah tetapkan ➡️ maka tidak boleh.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَقَالُوا۟ لِإِخْوَٰنِهِمْ إِذَا ضَرَبُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ أَوْ كَانُوا۟ غُزًّۭى لَّوْ كَانُوا۟ عِندَنَا مَا مَاتُوا۟ وَمَا قُتِلُوا۟ لِيَجْعَلَ ٱللَّهُ ذَٰلِكَ حَسْرَةًۭ فِى قُلُوبِهِمْ ۗ وَٱللَّهُ يُحْىِۦ وَيُمِيتُ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌۭ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: “Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh”. Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan. Surat Ali-Imran (3) Ayat 156

📍Motif yang dibolehkan
🔸 Untuk menjelaskan. Seperti ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan empat kelompok manusia.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadist yang menggambarkan golongan manusia menurut harta dan ilmu yang dimilikinya.   

إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيْهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيْهِ رَحِـمَهُ وَيَعْلَمُ ِللهِ فِيْهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْـمَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَـمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّـيَّـةِ يَقُوْلُ: لَوْ أَنَّ لِـيْ مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُـمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَلَـمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًـا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيْهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيْهِ رَحِـمَهُ وَلَا يَعْلَمُ ِللهِ فِيْهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْـمَنَازِلِ وَعَبْدٍ لَـمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًـا فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِـيْ مَالًا لَعَمِلْتُ فِيْهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُـمَا سَوَاءٌ

“…..Sesungguhnya dunia diberikan untuk empat orang: 

Seorang hamba yang Allah berikan ilmu dan harta, kemudian dia bertaqwa kepada Allah dalam hartanya, dengannya ia menyambung silaturahmi, dan mengetahui hak Allah di dalamnya. Orang tersebut kedudukannya paling baik (di sisi Allah). 

Seorang hamba yang Allah berikan ilmu namun tidak diberikan harta, dengan niatnya yang jujur ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan Si Fulan.’ Ia dengan niatnya itu, maka pahala keduanya sama. 

Seorang hamba yang Allah berikan harta namun tidak diberikan ilmu. Lalu ia tidak dapat mengatur hartanya, tidak bertaqwa kepada Allah dalam hartanya, tidak menyambung silaturahmi dengannya, dan tidak mengetahui hak Allah di dalamnya. Kedudukan orang tersebut adalah yang paling jelek (di sisi Allah). Dan 

Seorang hamba yang tidak Allah berikan harta tidak juga ilmu, ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan Si Fulan.’ Ia berniat seperti itu dan keduanya sama dalam mendapatkan dosa.”  HR Ahmad.

Begitu juga saat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan kisah Nabi Musa saat bertemu Khidir, beliau ﷺ berkata – Seandainya Nabi Musa lebih sabar maka akan lebih banyak ilmu….

4️⃣7️⃣ Ucapan bagi orang yang mendapatkan kelahiran dan jawabannya

Ini adalah atsar dari Hasan al Bashri.
Atsar adalah kutipan selain dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Walaupun ada khilaf terkait derajat atsar ini.

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي الْمَوْهُوبِ لَكَ، وَ شَكَرْتَ الْوَاهِبَ، وَبَلَغَ أَشُدَّهُ، وَرُزِقْتَ بِرَّهُ

Baarokallohulaka fiil mauhuubilaka, wa syakartal waahiba, wa balagho asyuddahu, wa ruziqta birrohu.

“Semoga Allah memberkahi-mu atas pemberiannya kepadamu, engkau layak bersyukur, (semoga) anakmu cepat dewasa dan engkau diberi rezki berupa baktinya kepadamu”.

📍Catatan
1. Ada doa keberkahan.
 Dalam memberi hadiah maka boleh cantumkan nama. Dalam hal hadiah makin jelas pemberi hadiah lebih baik.
Pemberian nama ini untuk memperkuat ikatan cinta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَهَادُوا تَحَابُّوا

“Hendaklah kalian saling memberi hadiah, Niscaya kalian akan saling mencintai“. HR Bukhari

Sedangkan sedekah lebih baik disembunyikan.

2. Saling mensyukuri, bersyukur kepada sang pemberi yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Mendoakan anak tumbuh sehat, kuat.

4. Mendoakan supaya anak tersebut berbakti kepada orang tuanya.

Kadang dijumpai anak baru berbakti saat orang tua sudah meninggal dunia.

✅ Bagi yang diberi ucapan selamat, ia membalasnya dengan mengucapkan (doa) :

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا، وَرَزَقَكَ اللَّهُ مِثْلَهُ، وَأَجْزَلَ ثَوَابَكَ

Baarokallohulaka wa baaroka’alaika, wa jazaakallohu khoiron, wa rozaqokallohu mitslahu, wa ajzala tsawaabaka.

“Semoga Allah memberkahimu dan membalasmu dengan kebaikan dan engkau diberi rezki seperti itu dan balasanmu dilipatgandakan”.

✅ Faidah.
1. Disunnahkan kita untuk memuji dan mensyukuri nikmat Allah. Salah satu bentuk rasa syukur adalah berdoa.

2. Islam menghapus kebiasaan orang-orang jahiliyah, yaitu mereka tidak bahagia bila diberi anak perempuan. Sebagian dari mereka bahkan membunuh anak perempuan.

3. Seringkali kita jumpai Allah gandeng perintah mentauhidkan Allah dan berbakti kepada orang tua.

Misalnya

وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًۭٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَـٰنًۭا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa,
Surat An-Nisa (4) Ayat 36

Alasan, diantaranya
1. Allah beri rezeki dan saat kecil melalui orang tua.
2. Allah beri nikmat dan kita wajib bersyukur dengan beribadah.
Begitu juga kita bisa seperti ini adalah bagian perjuangan orang tua.

4️⃣8️⃣ Do’a perlindungan bagi anak

أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

U’iidzukuma bi kalimaatillaahit taammah min syarri kulli syaithaanin wa haammah, wa min kulli ‘ainin laammah.

Adalah Rasulullah ﷺ pernah berdo’a untuk perlindungan Hasan dan
 Husain, beliau berkata: “Aku berlindung  kepada Allah untukmu berdua dengan 
kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari setan, binatang 
yang berbisa dan ‘ain  yang menimpanya”  [HR. Bukhari ]

Tinggal diganti kata ganti kuma dengan subjek doa kita. Ka untuk satu anak laki-laki, ki untuk satu anak perempuan.

✅ CATATAN

1. Boleh berlindung pada sifat Allah.
2. Berlindung dari setiap syetan (baik berwujud manusia atau jin).
3. Berlindung dari hewan berbahaya
4. Berlindung supaya tidak terkena ‘ain.

📍 ‘ain = penyakit dari tatapan mata karena kebencian.
Bahkan tatapan mata karena kekaguman bisa jadi sebab ‘ain.

🔸Adapun dalil bahwa pandangan mata kagum bisa menimbulkan ‘ain pada orang yang dikagumi, adalah hadits panjang riwayat Imam Malik tentang Sahl bin Hunaif yang dilihat dengan penuh kekaguman oleh Amir bin Rabi’ah radhiallahu’anhuma. Dari Abu Umamah bin Sahl, ia berkata:

اغتسل أَبِي سَهْلُ بْنُ حُنَيْفٍ بِالْخَرَّارِ، فَنَزَعَ جُبَّةً كَانَتْ عَلَيْهِ وَعَامِرُ بْنُ رَبِيعَةَ يَنْظُرُ، قَالَ: وَكَانَ سَهْلٌ رَجُلاً أَبْيَضَ، حَسَنَ الْجِلْدِ، قَالَ: فَقَالَ عَامِرُ بْنُ رَبيعَةَ: مَا رَأَيْتُ كَالْيَوْمِ وَلا جِلْدَ عَذْرَاءَ، فَوُعِكَ سَهْلٌ مَكَانَهُ، فَاشْتَدَّ وَعْكُهُ، فَأُتِي رَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – فَأُخْبِرَ أَنَّ سَهْلاً وُعِكَ وَأَنَّهُ غَيرُ رَائِحٍ مَعَكَ يَا رسول الله، فَاَتَاهُ رَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ سَهْل بالَّذِي كَانَ مِنْ شَأنِ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ، فَقَالَ رَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: “عَلاَمَ يَقْتُلُ أًحَدُكمْ أَخَاهُ؟ أَلا بَرَّكْتَ؟، إِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ، تَوَضَّأْ لَهُ”. فَتَوَضَأَ لَهُ عَامِرُ بْنُ رَبِيعَةَ، فَرَاحَ سَهْل مَعَ رَسُولِ الله – صلى الله عليه وسلم – لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ

“Suatu saat ayahku, Sahl bin Hunaif, mandi di Al Kharrar. Ia membuka jubah yang ia pakai, dan ‘Amir bin Rabi’ah ketika itu melihatnya. Dan Sahl adalah seorang yang putih kulitnya serta indah. Maka ‘Amir bin Rabi’ah pun berkata: “Aku tidak pernah melihat kulit indah seperti yang kulihat pada hari ini, bahkan mengalahkan kulit wanita gadis”. Maka Sahl pun sakit seketika di tempat itu dan sakitnya semakin bertambah parah. Hal ini pun dikabarkan kepada Nabi ﷺ , “Sahl sedang sakit dan ia tidak bisa berangkat bersamamu, wahai Rasulullah”. Maka Rasulullah ﷺ pun menjenguk Sahl, lalu Sahl bercerita kepada Rasulullah tentang apa yang dilakukan ‘Amir bin Rabi’ah. Maka Rasulullah ﷺ  bersabda, “Mengapa seseorang menyakiti saudaranya? Mengapa engkau tidak mendoakan keberkahan? Sesungguhnya penyakit ‘ain itu benar adanya, maka berwudhulah untuknya!”. ‘Amir bin Rabi’ah lalu berwudhu untuk disiramkan air bekas wudhunya ke Sahl. Maka Sahl pun sembuh dan berangkat bersama Rasulullah , (HR. Malik).

Dan ‘ain bisa sebabkan kematian setelah takdir Allah.

🔸Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

أكثرُ مَن يموت بعدَ قضاءِ اللهِ وقَدَرِهِ بالعينِ

“Sebab paling banyak yang menyebabkan kematian pada umatku setelah takdir Allah adalah ain” (HR. Al Bazzar)

Semoga bermanfaat.

#ain #sedekah #benteng

##$$-aa-$$##

Hisnul Muslim

MAKNA DOA DAN DZIKIR – 34 MAKNA DOA DAN DZIKIR – 36
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?