TematikUstadz Muhammad Anwar, Lc MPd

HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-4)

This entry is part 4 of 21 in the series Hilyah_thalibil_ilmi

Diterbitkan pertama kali pada: 31-Okt-2021 @ 05:49

4 menit membaca

*HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-4)
Karya Syaikh Bakar Abu Zaid
Ustadz Muhammad Anwar, Lc MPd
24 Rabi’ul Awal 1443H

Sebagai penuntut ilmu hendaknya dihiasi dengan adab. Perhiasan ini harusnya membuat terlihat indah bagi orang lain.

✔️Telah kita bahas adab yang terkait pada kejiwaan atau kepribadian
1. Keyakinan bahwa menuntut ilmu adalah ibadah
2. Hendaknya berpegang teguh seperti orang-orang sholeh ketika mereka menuntut ilmu
3. Selalu sertakan rasa takut kepada Allah
4. Selalu merasa diawasi oleh Allah ﷻ

Kita bahas yang berikutnya

➡️ *5. Hendaknya hiasi dengan kerendahan hati dan jauhilah kesombongan*

Jaga kerendahan hati, kesucian diri, santun, sabar. Dan hendaklah rendah hati diatas kebenaran dan tenang seperti seekor burung. (saking khusyu maka burung yang hinggap di pundak kita tidak terbang).

Hendaknya menanggung kesabaran kehinaan penuntut ilmu (di sama ratakan – dari kemuliaan dunia).

▶️ Betapa banyak orang-orang terhalangi menuntut ilmu karena kesombongan dirinya.

Misalnya.. Ah Ustadz lokal, ah sudah pernah ngaji dengan ustadz lain dst.

Syaikh Utsaimin : Seorang penuntut ilmu hendaknya menjaga kemuliaan dirinya dan harus bersabar, saat orang awam merendahkan dirinya, atau gangguan dari teman penuntut ilmu.

Penulis (Syaikh Bakar) mengatakan berhati-hatilah dengan hal-hal yang membatalkan adab ini, yaitu sombong yang akan datangnya dosa dan bukti ada akal yang cacat.

Demikian juga dalam hal amal, karena tidak mau amalkan ilmu karena kesombongan.

Yang ini termasuk kemunafikan.. Karena seakan-akan sudah berpenampilan mengetahui banyak ilmu namun tidak mau mengamalkan ilmu tersebut.

Dulu orang-orang salafus shaleh sangat berhati-hati dalam sikap sombong ini.

Contohnya..
Al Anshy ketika keluar masjid (menuntut ilmu) menempelkan tangan kanan diatas tangan kiri.. Karena beliau kuatir tangan itu melakukan kemunafikan..
Syaikh menjelaskan, hal itu karena Al Anshy menjaga supaya tidak ada ayunan tangan yang terlihat kesombongan..

Syaikh melanjutkan bahwa diantara dosa pertama yang memaksiati Allah adalah ujub dan sombong.

Iblis enggan mengikuti perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam.

Dan terhalang untuk mendapatkan ilmu.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَ سْمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰٓئِكَةِ فَقَا لَ اَنْبِۢـئُوْنِيْ بِاَ سْمَآءِ هٰۤؤُلَآ ءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
“Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 31)

📌Adam lah yang mengajari nama-nama semua benda.

▶️Sikap meremehkan kepada orang-orang yang membawa kebenaran adalah sikap kesombongan.

Pepatah Arab mengatakan : *Ilmu itu adalah musuh bagi orang yang sombong, sebagaimana air tidak mungkin mengalir ke tempat yang lebih tinggi.*

Hendaknya penuntut ilmu selalu menginjakkan kaki ke bumi (tidak sombong).

Kita harus berusaha curiga pada diri sendiri bahwa kita ini banyak kekurangan.

Adab berikutnya
➡️*6. Qonaah dan zuhud*

Qonaah = ridha pada yang telah diberikan Allah kepada kita.
Zuhud = meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat di akhirat
Wara’ = meninggalkan sesuatu yang membahayakan akhirat.

📌 *Jadi zuhud > wara’ (zuhud lebih tinggi)*.

Kita harus berusaha merasa cukup atas apa yang kita dapatkan dari Allah.

Syaikh Bakar mengatakan zuhud pada hakikatnya meninggalkan yang haram dan menjauhkan sesuatu dapat menggenggam yang haram, dan tinggalkan syubhat atas sesuatu yang ada pada orang lain.

Ada praktek yang keliru, misalnya berpakaian lusuh namun untuk makan saja harus meminta-minta.

▶️Zuhud : biasa saja saat mendapat nikmat dunia dan biasa saja saat nikmat tersebut diambil.

Allah berfirman,

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا۟ بِمَآ ءَاتَىٰكُمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍۢ فَخُورٍ
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,
Surat Al-Hadid (57) Ayat 23

Contoh Imam Abu Hanifah yang kaya raya namun sangat dermawan. Sampai-sampai menyediakan asrama, dan segala fasilitas gratis kepada penuntut ilmu yang berguru kepada nya.

Contoh lain adalah Ibnu Mubarok.

Kisah zuhud lainnya adalah Syaikh bin Baz yang menolak fasilitas mubah dari kerajaan dan gajinya banyak digunakan untuk membantu para penuntut ilmu.
Beliau wafat dalam keadaan meninggalkan banyak hutang (yang telah dihalalkan oleh pemberi hutang).

♦️ Atsar dari Imam Syafi’i.. Andai kata ada orang yang mau berwasiat (harta) maka hendaklah dia wasiatkan kepada orang yang cerdas (orang-orang zuhud).

Orang-orang tersebut pasti akan kelola harta tersebut untuk kemuliaan Islam.

Zuhud dalam bermuamalah adalah meninggalkan perkara muamalah yang haram, syubhat..

Di dunia ini carilah sesuatu yang berpahala untuk akhirat..

Allah berfirman,

وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al Qashshash: 77).

Jangan sampai penuntut ilmu yang ingin praktek zuhud tapi malah mencoreng nama diri dan keluarganya.

Syaikh Muhammad Al Singkity (Muritania).. Ulama besar yang dunia nya sedikit, bahkan sampai tidak tahu nilai mata uang.
Beliau tahu jalan untuk mendapatkan dunia dan mampu namun beliau memilih untuk tidak melakukan hal tersebut.

Para shahabat Muhajirin yang ikut hijrah Rasulullah ﷺ meninggalkan harta mereka di Mekkah. Mereka menjadi miskin saat hijrah.
Maka nya ada ahlu shuffah.
Abu Hurairah adalah salah satu Ahlu Shuffah dalam menuntut ilmu.

Mereka Qonaah dan Allah mulia kan dengan ilmu.

ADAB berikutnya adalah penuntut ilmu hiasi diri dengan akhlak yang baik.

##$$-aa-$$##

Hilyah_thalibil_ilmi

HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-3) *HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-5)
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?