Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc MATematik

KAIDAH-KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QUR’AN BAGIAN-4

This entry is part 4 of 12 in the series Kaidah Kehidupan Dalam AlQuran

Diterbitkan pertama kali pada: 07-Nov-2020 @ 11:07

6 menit membaca

KAIDAH-KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QUR’AN BAGIAN-4
Ustadz Dr Firanda Andirja Lc M.A.
20 Rabi’ul Awal 1442H

Kaidah ke 10

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ}

Sesungguhnya benar-benar Allah akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya (Al-Hajj: 40)

{إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ}

Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Al-Hajj: 40)

{الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ (41) }

(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.
(Al-Hajj: 41)

Ada beberapa penekanan:

1. Lam taukid
2. Nun taukid
3. Penguat secara lafazh
4. Penguat secara maknawi (Maha Kuat lagi Perkasa)
5. Penguat secara maknawi (kepada Allah-lah kesudahan segala urusan)

Ini kaidah sangat agung,

Sesungguhnya benar-benar Allah akan menolong orang yang menolong Nya.

Ayat lainnya,

إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. QS. Muhammad : 7

Ada fiil syarat dan fiil jawab.

Kaidah ini berkaitan secara umum ataupun kehidupan sehari-hari.

Allah tidak perlu ditolong, tapi bagi siapa yang berjuang untuk agama Allah, maka Allah akan menolongnya. Contohnya dakwah.

Jika tidak mau menolong agama Allah maka Allah akan memilih orang lain.

Orang liberal sering mengatakan Allah tidak perlu ditolong, agama Allah tidak perlu ditolong, jika maksudnya kita disuruh diam maka ini adalah perkataan yang batil.

Ini adalah bahasa kiasan. Bahasa kiasan yang lain adalah bila kita memberi pinjaman kepada Allah maka pasti Allah akan ganti.

Pertolongan Allah mencakup pertolongan secara umum atau pertolongan secara personal.

Namun keadaan sekarang sulit untuk diterapkan secara umum (kaum muslimin secara umum) karena kondisi masyarakat yang beragam.

Bagaimana kita mau ditolong Allah sementara kita jauh dari agama Allah.

Dalam hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah (, mengikuti ekor sapi (maksudnya: sibuk dengan peternakan – dunia ), ridha dengan bercocok tanam (maksudnya: sibuk dengan pertanian – dunia) dan meninggalkan jihad (yang saat itu fardhu ‘ain), maka Allah akan menguasakan kehinaan atas kalian. Allah tidak akan mencabutnya dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud no. 3462. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat ‘Aunul Ma’bud, 9: 242).

Kaum muslimin terpuruk dari jaman dulu karena malu menjalankan syariat Islam.
Banyak riba, dukun, syirik, dan kemaksiatan lain..

Allah menjelaskan kriteria yang akan Allah tolong,

(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar;

Kalau kita secara umum susah, maka kita usahakan perbaikan person.

Imam Al Qurthubi (abad 7) , mengatakan, “Akan tetapi niat-niat yang buruk yang kita lakukan menahan kita untuk mendapatkan pertolongan sampai jumlah pasukan kita yang banyak gugur/hancur di hadapan musuh yang sedikit sebagaimana kita saksikan berulang-ulang, dan ini semua akibat ulah kita sendiri (kita hina di hadapan musuh, rendah di hadapan musuh) .”

Beliau menjelaskan bahwa Abu Darda pernah berkata,” Sesungguhnya kalian berperang dengan amal sholeh kalian,”

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata,” Dan tidaklah kalian diberi rezeki dan ditolong oleh Allah karena orang-orang lemah diantara kalian”

Dan Imam Qurthubi melanjutkan, “Sementara amalan kita kacau balau, sementara orang lemah dibiarkan, dan kesabaran sedikit dan penandaran kepada Allah lemah dan ketakwaan hilang”

Selengkapnya beliau membawa ayat-ayat.

Allah berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱصْبِرُوا۟ وَصَابِرُوا۟ وَرَابِطُوا۟ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.
QS. Ali ‘Imran : 200

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا
Dan hanya kepada Allah lah kalian bertawakal

إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوا۟ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.QS. An-Nahl : 128

Dan saat ini syarat itu telah hilang karena banyak kerusakan.. Dan Islam hanya tersisa namanya..

Jadi bila Islam akan jaya adalah bila kita kembali kepada agama Allah. Harus semangat memberi ilmu kepada masyarakat, sesuai kemampuan kita..

Syaikh Abdurahman As Sa’di berkata, “Iman yang lemah, hati yang tercerai-berai, pemerintah yang tercerai-berai, permusuhan kebencian, membuat kaum muslimin semakin jauh diantara mereka, musuh-musuh kaum muslimin terus bekerja untuk hancurkan agama Islam ini,karena pandangan muslim banyak yang tertipu ke materi”

Makin yakin dan ikhlas kan niat untuk berjuang di jalan Allah.

KAIDAH KE-11 Penyihir itu tidak beruntung dari mana saja asal nya.

Firman Allah,

وَلَا يُفْلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ

Dan tidak akan beruntung/menang pesihir (umum) itu, dari mana pun ia datang.”
QS. Ta Ha : 69

Jika dinafikan falah, biasanya dalam Al Qur’an untuk orang-orang kafir..

{إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ}

Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan. (Al-An’am: 21)

ٱلسَّاحِرُ
Tukang sihir

حَيْثُ
Keumuman, dari mana ia datang.

Tidak beruntung karena ia kafir.
Penyihir hukumnya kafir, syariat hukumnya dibunuh.

Penyihir itu pekerjaannya,

* memisahkan keluarga
* memisahkan suami istri
* Saling membunuh

Dan kaum muslimin mudah terpengaruh penyihir. Kadang dihormati..

Penyihir melakukan Syirik yang memberi kemudhorotan kepada kaum muslimin (kafir).

KAIDAH KE- 12 Sesunguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa) , kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.
QS. Al-Hujurat : 13

Ini adalah diantara keistimewaan Islam.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kalian.

Faidah dari ayat ini :

1. Islam tidak mengenal kasta, karena semua berasal dari Adam dan Hawa.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa)

2. Islam tidak membedakan warna kulit dan suku.
Contoh,
Bilal yang kulit hitam
Salman Al Farisi (suku Persia)

Islam tidak mengangkat derajat seseorang dari perkara yang tidak dia mampui tetapi berdasar perkara yang dia mampui.

Contoh yang tidak mampu : warna kulit, paras, tinggi – pendek, suku.

Yang dimampui :

~ amal sholeh
~ niat yang baik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ 

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).

3. Jangan merendahkan orang lain, karena kita tidak tahu bagaimana kedudukannya di sisi Allah.

Betapa banyak pembantu lebih mulia di sisi Allah daripada majikannya.

Allah melarang dalam ayat berikut,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. QS. Al-Hujurat : 11

Oleh karena itu Allah menyuruh Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabar bersama orang-orang miskin.

وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًا

Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.
QS. Al-Kahf : 28

Ayat ini turun saat orang kafir meminta Nabi shallallahu alaihi wasallam meninggalkan orang-orang yang miskin.

Juga dalam ayat lain,

وَلَا تَطْرُدِ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِم مِّن شَىْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِم مِّن شَىْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

Janganlah engkau mengusir orang-orang miskin yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari, mereka mengharapkan keridaan-Nya. Bukan urusanmu terhadap perbuatan mereka dan mereka tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan engkau (berhak) mengusir mereka, sehingga engkau termasuk orang-orang yang zalim.

QS. Al-An’am : 52

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda:

رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالْأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ

“Berapa banyak orang kusut dan tertolak dipintu-pintu yang seandainya bersumpah atas nama Allah, pasti Allah tunaikan.”

Karena dia mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

KAIDAH KE-13

وأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا (11)

Orang tua kalian dan anak-anak kalian , kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah kewajiban / ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. QS An Nisa ayat 11.

Ayat ini berkaitan dengan hukum waris karena ada kejahilan sebelummya.
Ini masalah yang rawan dan Allah sebutkan hitungan secara detail.

Maksud nya, terimalah apa yang Allah takdirkan untuk kalian.

Anak kita yang terbaik untuk kita, bisa jadi dia jadi sarana buat menambah pahala kita.

Kita harus husnudzon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga bermanfaat..

##$$-aa-$$##

Kaidah Kehidupan Dalam AlQuran

KAIDAH-KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QUR’AN BAGIAN#3 KAIDAH-KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QUR’AN BAGIAN-5
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?