Diterbitkan pertama kali pada: 06-Nov-2023 @ 21:56

12 menit membaca

*KEMILAU INDAH AQIDAH IMAM SYAFI’I*
Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawy
21 Rabi’ul Akhir 1445H / 04.11.2023

Majelis ilmu adalah salah satu nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang harus kita rawat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ

“Barangsiapa yang berangkat ke masjid yang ia inginkan hanyalah untuk belajar ilmu/kebaikan atau mengajarkan ilmu/kebaikan, ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya.” (HR. Thabrani).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda – keuntungan dari majelis dzikir (salah satunya majelis ilmu) adalah Jannah.

Dahulu sahabat Muadz bin Jabal kalau jumpa sahabat lain berkata, “Ayo kita duduk-duduk untuk menambah iman”.

➡️ Tujuan kita mencari ilmu.
1. Al Yaqin – bebas dari kerancuan
2. Menumbuhkan rasa takut kepada Allah untuk melawan penyakit syahwat.

Karena kerusakan di dunia ditimbulkan dari dua penyakit yaitu syubhat (obatnya ilmu) dan syahwat (obatnya rasa takut kepada Allah dan sabar).

❓Kenapa kita bahas aqidah Imam Syafi’i? Karena Imam Syafi’i Rahimahullahu termasuk ulama yang harum namanya. Dan banyak orang yang menisbahkan kepada Imam Syafi’i.

➡️ Di negeri ini banyak yang mengatakan – dalam fikih kami bermahdzab Syafii, tapi dalam Aqidah bermahdzab Asyari, Maturidi dan lain sebagainya.

Kita sebaiknya menjadi pengikut imam Syafi’i dengan betul yaitu dengan ilmu, bukan hanya sebatas pengakuan.

✅ Pokok-Pokok penting aqidah Imam Syafi’i.

♦️ Prinsip-prinsip Imam Syafi’i dalam aqidah.

Seperti ulama salaf (ahlu sunnah) lainnya, mereka menjadikan sumber aqidah adalah Al Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat radhiallahu’anhum.

Imam Syafi’i berkata : “Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kebenaran itu ada di dalam Al Kitab (Al Qur’an) dan dalam sunnah Nabi Muhammad ﷺ. Maka siapapun yang menginginkan keberkahan dalam hidup (aqidah, ibadat, akhlak) nya hendaknya dia mengambil agamanya dari sumbernya yaitu Al Qur’an dan Sunnah.”

Oleh karena itu dalam setiap khutbah (khutbathu Hajjah) Nabi ﷺ selalu menekankan – sebaik-baik ucapan adalah Al Qur’an dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi ﷺ.

Orang yang ambil agama bukan dari Al Qur’an dan Sunnah, tetapi dari sumber yang lain (akal, filsafat, mimpi, hadits palsu, perasaan, apa kata orang banyak) maka akan tersesat jalannya.

Ibnu Taimiyyah berkata – siapa yang meninggalkan dalil maka akan tersesat jalan.

Oleh karena itu Imam Syafi’i juga ingatkan untuk tidak ambil sumber diluar dalil, misalnya akal karena akal itu terbatas.

Imam Syafi’i berkata – sesungguhnya akal itu memiliki batas, sebagaimana pandangan mata memiliki batas.

Maka jangan ambil agama (aqidah) hanya berdasar akal (Apalagi jika bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah Nabi ﷺ), niscaya bagian bawah sepatu lebih utama diusap daripada bagian atasnya. Tapi agama bukan berdasar akal, buktinya Nabi ﷺ mengusap sepatu bagian atasnya.

➡️ Poin-poin Aqidah Imam Syafi’i.

1️⃣ Dalam masalah Tauhid.

Tauhid adalah masalah yang sangat penting. Karena tauhid lah,

1. Allah ciptakan kita
2. Allah utus para nabi dan rasul
3. Allah turunkan kitab-kitab nya.

Nikmat terbesar adalah kita diberi kemudahan untuk mempelajari tauhid.

Nama lain dari surat An Nahl adalah An Ni’ab (nikmat-nikmat). Karena dalam surat tersebut Allah sebutkan banyak nikmat tetapi yang Allah sebutkan yang pertama adalah nikmat tauhid.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

أَنْ أَنْذِرُوا أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاتَّقُونِ

“Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwa tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka hendaklah kalian bertakwa kepada-Ku.”
Qs An Nahl ayat 2.

Tauhid adalah penentu kelak, apakah kita di surga atau neraka.

Imam Syafi’i : mustahil Rasulullah ﷺ menjelaskan qodhoul hajjah tetapi tidak menjelaskan masalah tauhid.

Imam Syafi’i menekankan pentingnya tauhid ini, baik tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyah maupun tauhid asma wa sifat.

Karena tauhid secara penelitian terhadap dalil-dalil terbagi dalam tiga tauhid tersebut sehingga bukan bid’ah.

Diantaranya QS Maryam ayat 65.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الْاَ رْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَا عْبُدْهُ وَا صْطَبِرْ لِـعِبَا دَتِهٖ ۗ هَلْ تَعْلَمُ لَهٗ سَمِيًّا
“(Dia adalah ) Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya (Rububiyah) , maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya (Uluhiyah) . Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya? (asma wa sufaty)”
(QS. Maryam 19: Ayat 65)

♦️Tauhid
1 Rububiyah – mengesakan Allah dalam perbuatan.
2. Uluhiyah – mengesakan Allah dalam perbuatan hamba.
3. Asma wa sifat – menetapkan nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa merupakan dengan makhluk.

Ketiga tauhid ini sangat ditekankan oleh Imam Syafi’i.

🔸Tauhid Rububiyah – Syair Imam Syafi’i – dalam segala sesuatu terdapat tanda yang menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah esa.

🔸Tauhid Uluhiyah – beliau sangat bersemangat menjelaskan dan memberi peringatan akan kesyirikan.
Misalnya ingatkan bangun kuburan secara berlebihan, ngalap berkah dengan sesuatu yang tidak ada dalil. Misalnya beliau ingkari orang yang ambil berkah dengan peci Imam Malik. Saat ini banyak yang ngalap berkah dari foto, dari badan kyai, puntung rokok kyai, bekas minuman kyai dll.

🔸Imam Syafi’i menetapkan nama dan sifat Allah tanpa menyerupakan dengan makhluk.
Diantaranya adalah sifat Al ‘Ulu (tinggi nya Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas langit). Beliau sering membawa kan hadits jariyah (budak wanita) dalam kitab-kitabnya, dan sering ditegaskan oleh murid-murid Imam Syafi’i seperti Al Qumaidi, Al Muzani, Al Baihaqi,.

ﻋَﻦْ ﻣُﻌَﺎﻭِﻳَﺔَ ﺑْﻦِ ﺍْﻟﺤَﻜَﻢِ ﺃَﻧَّﻪُ ﻟَﻤَّﺎ ﺟَﺎﺀَ ﺑِﺘِﻠْﻚَ ﺍْﻟﺠَﺎﺭِﻳَﺔِ ﺍﻟﺴَّﻮْﺩَﺍﺀَ ﻗﺎَﻝَ ﻟَﻬَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻳْﻦَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻗَﺎﻝَ ﻣَﻦْ ﺃَﻧَﺎ ﻗَﺎﻟَﺖْ ﺃَﻧْﺖَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻋْﺘِﻘْﻬَﺎ ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﻣُﺆْﻣِﻨَﺔٌ

“Dari Mu’awiyah bin al-Hakam bahwasanya dia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa seorang budak wanita hitam. Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bertanya pada budak wanita tersebut: ’Di mana Allah?’ Budak itu menjawab, ’Di atas langit’. Rasul bertanya lagi, ’Siapakah aku?’ Budak itu menjawab, ’Engkau adalah utusan Allah’. Maka Rasul berkata: ’Merdekakanlah ia karena ia adalah mukminah (wanita beriman)’”. HR Ahmad, Muslim, Nasai dll.

Imam Syafi’i juga menetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala punya sifat turun pada sepertiga malam terakhir sebagaimana ditegaskan dalam hadits-hadits yang shahih bahkan mutawatir.

2️⃣ Aqidah Imam Syafi’i dalam masalah Al Qur’an.

Imam Syafi’i : Al Qur’an adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan bukan makhluk.

Kita harus meyakini bahwa salah satu sifat Allah adalah Kalam.

{وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا}

Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan sebenar-benarnya. (An-Nisa: 164)

Dan salah satu sifat Kalam Allah adalah Al Qur’an.

Sehingga kita agungkan Al Qur’an, kita muliakan, kita berhujjah dengan Nya.

Dikisahkan Ahmad bin Nashr pernah meruqyah seseorang. Saat ruqyah jin nya keluar dan berkata – wahai imam biarkan saya mencekik-cekik orang ini, karena dia berkeyakinan bahwa Al Qur’an itu makhluk.

Dahulu Imam Ahmad mengalami siksaan berat untuk pertahankan aqidah ini.
Salah satu murid Imam Syafi’i yaitu Al Buwaity meninggal dalam keadaan di rantai karena mempertahankan aqidah ini.

3️⃣ Iman pada hari akhir.

Imam Syafi’i : Sesungguhnya adzab kubur itu benar adanya, dan pertanyaan kepada ahli kubur itu benar adanya, hari kebangkitan dan hisab, surga dan neraka serta hal-hal lain yang ada dalilnya dari sunnah dan dijelaskan oleh para ulama di negeri kaum muslimin semuanya adalah benar adanya.

Imam Ahmad berkata – adzab kubur itu benar adanya tidak ada yang mengingkari kecuali orang yang sesat.

4️⃣ Meyakini rukyatullah di hari kiamat.

Yaitu beriman bahwa orang-orang beriman akan bisa melihat Allah di hari akhirat kelak.

Rukyatullah adalah nikmat penduduk surga yang paling tinggi.

Imam Syafi’i Berdalil dengan surat Al Muthaffifiin ayat 15.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

كَلَّاۤ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَ 
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb-nya.”
(QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 15)

Imam Syafi’i – kalau orang-orang kafir terhalang melihat Allah maka orang-orang beriman bisa melihat Allah.

Imam Syafi’i mengambil dalil ini dengan sangat mendalam, Kewajiban kita adalah mengimani rukyatullah, hadits-hadits nya juga mutawatir (diriwayatkan Oleh para sahabat dengan jalur yang banyak sekali, tidak mungkin mereka bersepakat dalam kemaksiatan).

✅ Faidah beriman dengan rukyatullah adalah kita akan berusaha berlomba-lomba bagaimana kita bisa melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Caranya adalah dengan,
1. Beriman kepada Allah ﷻ
2. Ihsan, berbuat baik kepada Allah dan manusia.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوا الْحُسْنٰى وَزِيَا دَةٌ 

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah).”
(QS. Yunus 10: Ayat 26)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ، كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ، لاَ تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ

“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (pada hari kiamat), sebagaimana kalian melihat bulan ini (purnama). Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihat-Nya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hubungan antara Shalat dan Melihat Wajah Allah Ta’ala

 oleh M. Saifudin Hakim

 

 24 September 2020

 

Waktu Baca: 5 menit

Melihat wajah Allah: nikmat terbesar penduduk surga

Nikmat dan karunia terbesar bagi penduduk surga adalah ketika mereka bisa melihat wajah Allah Ta’ala. Inilah nikmat terbesar yang akan dirasakan oleh penduduk surga di akhirat kelak, melebihi nikmat surga lainnya. 

Dari sahabat Shuhaib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ: يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ، وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ

“Apabila penduduk surga telah masuk ke surga, maka Allah berfirman, “Apakah kalian ingin sesuatu yang perlu Aku tambahkan kepada kalian?”

Mereka (penduduk surga) menjawab, “Bukankah Engkau telah membuat wajah-wajah kami putih? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?” 

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lalu Allah membukakan hijab pembatas, lalu tidak ada satu pun yang dianugerahkan kepada mereka yang lebih dicintai daripada anugerah (dapat) memandang Rabb mereka.” (HR. Muslim no. 181) 

Baca Juga: Sikap Terhadap Pencela Allah, Pencela Nabi Atau Pencela Islam

Hubungan antara shalat dan melihat wajah Allah Ta’ala

Terdapat hubungan antara shalat dan melihat wajah Allah Ta’ala. Jika selama di dunia seseorang itu memperhatikan dan menjaga shalat, maka tentu dia layak untuk melihat wajah Allah Ta’ala. Sebaliknya, jika selama di dunia dia menyia-nyiakan shalat, maka tentu dia layak untuk terhalang dari melihat wajah Allah Ta’ala.

Hubungan antara dua hal ini Allah Ta’ala jelaskan dalam Al-Qur’an dan juga dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Adapun Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ (22) إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ (23) وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ بَاسِرَةٌ (24) تَظُنُّ أَنْ يُفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ (25) كَلَّا إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ (26) وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ (27) وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ (28) وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ (29) إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ (30) فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّى (31) وَلَكِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّى (32)

“Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhan-nya mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram. Mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat. Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya), “Siapakah yang dapat menyembuhkan?” Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia). Dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan). Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al Qur’an) dan tidak mau mengerjakan shalat. Tetapi ia mendustakan (Rasul) dam berpaling (dari kebenaran).” (QS. Al-Qiyaamah [75]: 22-32)

Baca Juga: Janji Allah Akan Menolong Orang yang Menikah Untuk Menjaga Kehormatan

Pada bagian pertama, Allah Ta’ala sebutkan kondisi orang-orang mukmin yang berbahagia dan berseri-seri wajahnya. Hal ini karena “Kepada Tuhan-nya mereka melihat”, yaitu melihat dengan mata kepala secara langsung. 

Setelah itu Allah Ta’ala sebutkan kondisi orang-orang kafir yang berwajah muram. Kemudian Allah Ta’ala sebutkan perbuatan apa yang mereka lakukan selama di dunia. Dan salah satu sebabnya adalah “tidak mau mengerjakan shalat.” 

Dalam sebuah hadits, dari sahabat Jarir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Pada suatu malam, kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau lalu melihat ke arah bulan purnama. Kemudian beliau bersabda, 

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنْ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا

“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Dan kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya. Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan untuk melaksanakan shalat sebelum terbit matahari (subuh) dan sebelum terbenam nya (Ashar) , maka lakukanlah.”

Kemudian Jarir membaca ayat,

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ

“(Dan bertasbihlah sambil memuji Rabb-mu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya).” (QS. Qaaf: 39). (HR. Bukhari dan Muslim)

5️⃣ Beriman pada takdir.

Termasuk rukun iman. Dan tidak sah iman seseorang yang tidak beriman dengan takdir.

Dahulu saat muncul orang yang ingkari takdir – qadariyah yang muncul di Bashrah, lalu ada dua Tabiin yang mengadu pada Ibnu Umar. Maka Ibnu Umar berkata – sampaikan kepada mereka bahwa aku berlepas diri diri dari mereka dan mereka berlepas diri dari aku. Wallahi, seandainya mereka infak emas sebesar gunung Uhud, Allah tidak akan menerima sedekah mereka sampai mereka beriman kepada takdir.

Karena Allah tidak menerima amal orang kafir.

✅ Imam Syafi’i pernah berkata : Apa Yang Kau kehendaki terjadi walaupun aku tak menghendaki terjadi, maka akan terjadi.
Apa yang aku kehendaki jika engkau tidak menghendaki maka tidak akan terjadi.

Dengan meyakini takdir, hidup menjadi tenang, mantap, dan tidak diganggu dengan was-was dst.

6️⃣ Aqidah Imam Syafi’i dalam masalah iman.

Iman adalah sumber kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

✅ Imam Syafi’i : iman itu mencakup ucapan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang.

Ucapan dengan lisan dan keyakinan dalam hati.
Iman bertambah dengan amal sholeh. (saat ramadhan, saat umrah, haji hati lebih tenang).
Iman berkurang dengan dosa.

7️⃣ Mencintai para sahabat Radhiallahu’anhum.

➡️ Sahabat adalah orang yang bertemu dengan Nabi ﷺ, beriman kepada Nabi ﷺ dan mati dalam keadaan beriman.

Sahabat nabi adalah orang-orang yang dipuji Allah dan dipuji Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagai orang-orang yang terbaik.

Imam Syafi’i melarang untuk mencela para sahabat : jangan kamu mencela para sahabat Nabi, karena kelak yang akan kamu hadapi adalah Rasulullah ﷺ.

Mencela para sahabat sejatinya menyakiti Nabi ﷺ, oleh karena itu waspada dengan pemikiran syiah rafidhah yang banyak mencela para sahabat.

🔸Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah berkata – mencintai sahabat Anshar itu adalah keimanan dan membenci mereka adalah kemunafikan.

Bahkan Nabi ﷺ bersabda : barangsiapa yang mencela para shahabat ku, maka dia akan dilaknat oleh Allah, dilaknat malaikat dan dilaknat oleh semua manusia.

8️⃣ Tentang Rafidhah

Imam Syafi’i berkata : saya tidak mendapati seorang pun dari pengekor hawa nafsu yang lebih pendusta daripada kaum rafidhah.

Sampai-sampai ulama berkata – iblis pun perlu belajar bohong kepada Syiah.

Ibnu Katsir dalam tafsir Qs Jin berkata – pada ayat tentang jin yang berkelompok.
Jin berkata – kelompok jin rafidhah adalah yang paling pendusta diantara mereka.

9️⃣ Sikap terhadap pemimpin.

Dalam buku-buku aqidah para ulama menekankan untuk taat kepada pemimpin, tidak boleh menvekay, tidak boleh memberontak. Kewajiban kita untuk sabar dan mendoakan kebaikan untuk mereka.

Imam Syafi’i – dan hendaknya taat kepada pemimpin selagi mereka masih sholat (maksud nya muslim).

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda –

السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِي الْأَرْضِ، فَمَنْ أَكْرَمَهُ أَكْرَمَهُ اللهُ، وَمَنْ أَهَانَهُ أَهَانَهُ اللهُ

“Penguasa itu naungan Allah di muka bumi. Barang siapa memuliakannya, Allah pun memuliakannya. Barang siapa menghinakannya, Allah akan menghinakannya pula.”

Dalam Islam, mencela hewan saja tidak boleh, apalagi mencela manusia.

Rasulullah ﷺ bersabda,

لَا تَسُبُّوا الدِّيكَ فَإِنَّهُ يُوقِظُ لِلصَّلَاةِ»

 “Janganlah kalian mencela ayam jantan, sebab ia membangunkan (orang) untuk shalat.” HR Abu Dawud.

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,

لو أني أعلم أن لي دعوة مستجابة لصرفتها للسلطان

“Seandainya aku tahu bahwa aku memiliki doa yang mustajab , maka aku akan gunakan untuk mendoakan penguasa.”

Baik nya pemimpin akan kembali kepada rakyat.

🔟 Wali dan Karomah

Imam Syafi’i berkata : “Jika kalian melihat seseorang berjalan di atas air dan terbang di atas udara maka janganlah terpedaya olehnya hingga kalian menimbang perkaranya di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah”

Artinya jangan tertipu dengan kedigdayaan yang ditampilkan sebagian orang. Walaupun sebagian orang mengklaim nya.

❓Lihat dulu –

1. Apakah orang itu beriman,?
2. apakah orang itu bertakwa.?
3. Apakah dia orang yang bertauhid?
4. Apakah dia orang yang ikuti sunnah nabi?
5. Apakah dia melaksanakan perintah-perintah Allah?

Kita harus bisa bedakan antara wali Allah (beriman dan bertakwa) dan Wali setan (tidak beriman dan tidak bertakwa).

Bahkan ada orang gila, rokok, dibilang wali padahal gak pernah sholat, gak pernah puasa.

Semoga bermanfaat,

##$$-aa-$$##

#imamSyafi’i #aqidah #Asyariah
#Syiah #rafidhah

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?