KAIDAH-KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QUR’AN BAGIAN-8
- KAIDAH-KAIDAH Kehidupan Dalam Al-Qur’an #1
- KAIDAH-KAIDAH Kehidupan Dalam Al-Qur’an #2
- KAIDAH-KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QUR’AN BAGIAN#3
- KAIDAH-KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QUR’AN BAGIAN-4
- KAIDAH-KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QUR’AN BAGIAN-5
- KAIDAH-KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QUR’AN BAGIAN-8
- KAIDAH-KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QUR’AN BAGIAN-6
- KAIDAH-KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QUR’AN BAGIAN-7
- KAIDAH-KAIDAH Kehidupan Dalam Al-Qur’an #9
- KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QUR’AN #10
Diterbitkan pertama kali pada: 08-Jan-2021 @ 22:12
8 menit membaca 📖 KAIDAH-KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QUR’AN BAGIAN-8
👤Ustadz Dr Firanda Andirja MA
🗓️ 23 Jumadil Ula1442H
Kita lanjutkan, kali ini untuk kehidupan rumah tangga.
➡️ KAIDAH 28 Pergaulilah dengan cara yang ma’ruf.
Allah ﷻ berfirman,
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ
Dan pergaulilah istri-istri kalian dengan cara yang ma’ruf (baik) . Qs An Nisa ayat 19.
Selengkapnya Allah menjelaskan,
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Dan bergaullah dengan mereka secara baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.
Bisa jadi Allah jadikan banyak kebaikan dibalik kebencian terhadap para istri.
Sebab turun ayat ini, di dalam hadis,
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ } قَالَ كَانُوا إِذَا مَاتَ الرَّجُلُ كَانَ أَوْلِيَاؤُهُ أَحَقَّ بِامْرَأَتِهِ إِنْ شَاءَ بَعْضُهُمْ تَزَوَّجَهَا وَإِنْ شَاءُوا زَوَّجُوهَا وَإِنْ شَاءُوا لَمْ يُزَوِّجُوهَا فَهُمْ أَحَقُّ بِهَا مِنْ أَهْلِهَا فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ فِي ذَلِكَ
Dari Ibnu ‘Abbas mengenai firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka (Annisa: 19). Dahulu apabila seorang suami meninggal, maka wali-nya laki-laki tersebut lebih berhak terhadap istrinya si mayyit, apabila si wali berkehendak untuk menikahi istri si mayyit untuk dirinya maka dia akan menikahinya atau menikahkannya kepada orang lain atau tidak menikahkannya sama sekali. Maka turunlah ayat ini.
Jadi saat itu yang berhak mengurus adalah keluarga laki-laki.
Allah tetap menyuruh suami berbuat baik kepada istri walaupun sedang tidak suka kepada istri, maka bagaimana lagi bila istri yang sholehah..
Inilah landasan berbuat baik kepada istri kita.
Sebagian ulama seperti Ibnul Arabi, dll
Makna,
وَعَاشِرُو
Ada isyarat kesempurnaan.
Berusaha bersikap yang terbaik.
Itulah diterapkan oleh Nabi ﷺ,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي
Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluarga/istri ku. HR Tirmidzi.
Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda,
أَكْمَل الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ … رواه الترمذي وغيره
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-sebaik kamu adalah orang yang paling baik kepada istrinya” HR Tirmidzi
Nabi ﷺ gandengkan iman dan akhlaq, dan contohnya adalah akhlak kepada istri.
Saat ini ajaran buruk dari luar. Wanita yang taat digambarkan wanita yang terbelakang. Dan Allah dan Rasul-Nya telah mengajarkan cara terbaik dalam pergaulan kepada istri.
❓Bagaimana cara berbuat baik terhadap istri?
Allah menggunakan kata Al Ma’ruf, yaitu kebaikan yang dikembalikan pada tradisi masyarakat, bagaimana bemuamalah yang baik.
Dan ada beberapa ayat Al Qur’an yang menjelaskan,contohnya..
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
Dan para wanita mempunyai hak yang sebagaimana dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.
Juga ayat yang sedang kita bahas.
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ
Dan pergaulilah istri-istri kalian dengan cara yang ma’ruf (baik)
Allah Ta’ala berfirman,
الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ
“Cerai (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik” (QS. Al Baqarah: 229).
Allah berfirman dalam ayat yang lain,
وَإِذَا طَلَّقْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍۢ ۚ وَلَا تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًۭا لِّتَعْتَدُوا۟ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُۥ ۚ وَلَا تَتَّخِذُوٓا۟ ءَايَـٰتِ ٱللَّهِ هُزُوًۭا ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمَآ أَنزَلَ عَلَيْكُم مِّنَ ٱلْكِتَـٰبِ وَٱلْحِكْمَةِ يَعِظُكُم بِهِۦ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۭ
Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula). Qs Al-Baqarah (2) Ayat 231
Ayat ini banyak dilanggar umat muslim, hampir tidak ada perceraian yang baik.
Ada dendam, anak-anak terlantar..
Tidak ingat masa lalu mereka yang indah.
۞ وَٱلْوَٰلِدَٰتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَـٰدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ ٱلرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى ٱلْمَوْلُودِ لَهُۥ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. QS Al-Baqarah (2) Ayat 233
Seorang ayah seharusnya menanggung rezeki dari ibunya yang menyusui dengan cara yang ma’ruf.
Berbuat ma’ruf pada istri, misalnya.
1. Beri hadiah
2. Murah senyum
3. Sisihkan waktu untuk ngobrol, jalan-jalan
4. Kita hargai keluarga istri
5. Dst..
Ini adalah ibadah kepada Allah.
Kita harus berbuat baik kepada istri dan anak kita,
Kalau kita dzalim kepada mereka akan ada pertanggungjawaban di akhirat kelak.
فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ (33) يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (36) لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (37)
Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Qs Abasa 33-37
Salah satu tafsiran adalah karena takut dituntut oleh orang terdekat kita karena kita lalai dengan tanggung jawab kita.
Rasulullah ﷺ ingatkan kita di hari Arafah,
Bertakwalah kepada Allah terhadap istri-istri kalian karena kalian telah menikahinya dengan perlindungan Allah. Kalian telah menghalalkan faraj (kemaluan) mereka dengan kalimat Allah.’
‘Sedangkan hak kalian atas mereka adalah mereka tidak boleh membawa seorang pun yang kamu benci ke dalam rumah.’
‘Apabila mereka melakukan hal tersebut, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras lagi tidak menyakiti.’
‘Sementara hak mereka atas kalian adalah mendapatkan rezeki dan pakaian yang baik.’
Beliau ﷺ wasiatkan ini saat jamaah haji sekitar 100 ribu.
Rasulullah ﷺ ingatkan juga bila tabiat wanita itu tidak baik,
إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ, لَنْ تَسْتَقِيْمَ لَكَ عَلَى طَرِيْقَةٍ, فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اِسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيْهَا عِوَجٌ, وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلاَقُهَا
“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak bisa lurus untukmu di atas satu jalan. Bila engkau ingin bernikmat-nikmat dengannya maka engkau bisa bernikmat-nikmat dengannya namun padanya ada kebengkokan. Jika engkau memaksa untuk meluruskannya, engkau akan memecahkannya. Dan pecahnya adalah talaknya.” (HR. Muslim)
Tulang bengkok maksudnya lisan wanita yang sering menyakiti suami, sulit diluruskan maka wajib sabar bagi suami.
Suami harus berakhlak yang mulia bagi istri.
Prioritas kita harus lebih tinggi untuk istri dari pada orang lain. Jangan ramah kepada orang lain tapi tidak kepada istri dan anak.
Ingatlah bahwa sikapi istri adalah ladang pahala, ajarin anak juga pahala maka kita harus bersabar.
➡️ KAIDAH 29 Carilah surga dengan duniamu.
Allah berfirman,
وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْـَٔاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) untuk negeri akhirat (surga), dan janganlah kamu melupakan jatahmu dari dunia. QS Al-Qashash (28) Ayat 77
Ini kaidah yang asalnya dari orang sholeh yang menasihati Qarun,yang sangat kaya raya.
Orang yang kaya punya banyak kesempatan untuk mencari surga dengan hartanya.
Bukan berarti tinggalkan dunia semuanya.
Allah melanjutkan,
{وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ}
dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. (Al-Qashash: 77)
Ini isyarat bahwa bila ingin berkelanjutan maka harus berbuat baik kepada orang lain.
{وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ}
dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. (Al-Qashash: 77)
{إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ}
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al-Qashash: 77)
Namun Qarun malah sombong dengan mengatakan,
{قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي}
Qarun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (Al-Qashash: 78)
Seakan-akan Qarun menuduh orang-orang sholeh tersebut hasad.
Sebagian orang kalau dinasihati, merasa tinggi, tidak pantas untuk dinasihati.
❗Ada dua tafsir ayat ini.
1. Qarun merasa pandai dagang sehingga pantas untuk kaya.
2. Seakan-akan dia berkata, Memang Allah tahu memang Saya pantas jadi orang kaya.
Ini kata-kata yang merasa ujub, dan memandang rendah orang lain.
Karunia dari Allah yang utama adalah untuk mencari surga.
Ayat ini sering salah terjemah, dengan cari dunia jangan lupa akhirat. ❗❗❗
Dunia ini hina, kecuali yang digunakan untuk akhirat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
“Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata: ‘hadits hasan sahih’)
Karena dunia ini tidak sebanding sayap nyamuk, maka Allah berikan harta sebanyak-banyaknya kepada orang-orang kafir.
Terlalu banyak ayat yang menjelaskan bahwa dunia itu kecil, hina dan akan selesai.
Maka gunakan rezeki dari Allah untuk akhirat. Sehingga dunia menjadi mulia.
Lihatlah,
Harta Nabi Sulaiman untuk keperluan umat
Lihatlah harta Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf yang untuk keperluan kaum muslimin..
Benar bahwa hadits yang menjelaskan bahwa orang-orang kaya akan terlambat masuk surga dibanding orang miskin, Karena harus hisab hartanya, namun bisa jadi dapat surga yang lebih tinggi,karena gunakan rezeki nya untuk akhirat.
🔶Nasihat kedua, Berbuat baik sebagaimana Allah berbuat baik kepada engkau.
Ini sejalan dengan kaidah bahwa Allah akan senantiasa menolong hamba yang senantiasa menolong saudaranya.
Diantara cara jaga karunia dari Allah adalah dengan selalu berbuat baik kepada orang lain.
Dunia tidak tercela kalau digunakan untuk di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
➡️ KAIDAH 30 : Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada Islam
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. QS Al Baqarah ayat 120.
Ini kaidah muamalah dengan orang-orang kafir. Dan orang-orang Yahudi Adalah para pengikut Dajjal.
Allah juga melarang berdebat dengan Ahli kitab, bila tidak dengan cara yang baik.
Makanan dan sembelihan mereka halal buat muslimin. Begitu juga wanita-wanita mereka halal bagi muslim.
Namun harus ada batasan dalam muamalah.
Kita harus berbuat baik, dan tetap adil kepada mereka. Kita dilarang berbuat tidak adil walaupun kita benci mereka..
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Qs Al Maidah ayat 8.
Rasulullah ﷺ pun bermuamalah dengan mereka.
Kita tidak boleh tasyabuh dengan mereka, malah harus menyelisihi mereka baik perkara dunia maupun agama.
Jangan ikuti agama mereka karena agama mereka kesyirikan.
Muamalah baik tapi tidak ikuti mereka.
Bila bertetangga kita harus berbuat baik kepada mereka.
Akan tetapi, Lakum dinukum walyadin.
Allah ingatkan dengan kata,
وَلَنْ
Jangan sampai. (ikuti agama mereka)
Kita interaksi dengan mereka, dan seharusnya di dakwahi semampunya. Jangan sampai mereka nyaman dengan kesyirikannya.
Toleransi itu ada batasnya..
{لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ}
Untuk kalianlah agama kalian dan untukkulah agamaku. (Al-Kafirun: 6)
Renungan ayat, Allah berfirman,
وَدَّ كَثِيرٌۭ مِّنْ أَهْلِ ٱلْكِتَـٰبِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّنۢ بَعْدِ إِيمَـٰنِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًۭا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ ٱلْحَقُّ ۖ فَٱعْفُوا۟ وَٱصْفَحُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ
Sebahagian besar Ahli Kitab berangan-angan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada
Surat Al-Baqarah (2) Ayat 109
Mereka melakukan Kristenisasi dll.
➡️ KAIDAH 31 – Allah dekat
Allah berfirman,
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.
QS Al Baqarah ayat 186.
Ini ayat berkaitan dengan ayat-ayat tentang puasa Ramadhan.
Ayat sebelum dan sesudahnya adalah tentang puasa.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang yang berpuasa doanya mudah dikabulkan.
Salah doa yang dikabulkan adalah saat berpuasa.
Namun ayat ini umum, silakan berdoa kapan saja..
Ayat-ayat lain biasanya Allah menyebutkan dengan kata “Qul = Katakanlah”
Kecuali ayat ini.
Allah jawab langsung sehingga Allah mudah kabulkan doa hamba-hamba-Nya.
Berdoa itu jangan keras-keras karena Allah tidak tuli.
Ayat ini juga isyarat bahwa minta kepada Allah itu langsung tanpa perlu perantara.
Minta dengan segera dan kapan saja.
Ayat ini ingatkan kita selalu butuh kepada Allah, sehingga Rasulullah ﷺ ajarkan banyak doa dalam banyak kegiatan sehari-hari.
Semoga bermanfaat.
##$$-aa-$$##

