This entry is part 5 of 7 in the series ks.kaidah

Diterbitkan pertama kali pada: 21-Jul-2020 @ 19:18

4 menit membaca

Tafsir dan Tadabur Al Qur’an
Ustadz Kholid Syamhudi
25 Dzulhijjah 1440 H

Alhamdulilah kita masih Allah beri kita nikmat di jalan menuju kebaikan.
Ilmu merupakan wasilah dalam memperbaiki dan penyucian jiwa.
Muhasabah akan berhasil dengan baik bila dilakukan dengan ilmu.

Allah memerintahkan kita untuk meminta tambahan ilmu.

وَقُل رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًۭا
katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”.

Sarana ilmu adalah membaca dan tulisan.

Oleh karena itu ayat pertama yang turun adalah perintah membaca..
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Qs Al Alaq 1-5.

Yaitu pentingnya membaca ciptaan Allah dan membaca apa yang ditulis (dengan pena),yaitu Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Ciptaan Allah semua teratur, matahari, bulan langit, dll.
Demikian pula keadaan tubuh kita, banyak sekali pengetahuan yang sangat banyak.

Banyak yang mampu mempelajari ciptaan Allah namun tidak sampai bisa melihat bagaimana makna Allah menciptakannya.

Ilmu adalah sebuah keniscayaan, Ilmu adalah harga mati.

Pejuang2 kemerdekaan memulai perjuangan dengan ajarkan baca dan tulis sehinga para pejuang sadar, maka tidak heran bila para penjajah berusaha membodohi rakyat yang dijajahnya. Tidak hanya di Indonesia tapi juga di negara lain seperti Aljazair.

Sarana utama perbaikan diri adalah ilmu, yang bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Yang harus dibaca, dipahami, dihafal dan diamalkan.

Sehinga mengajak manusia untuk membaca, memahami, menghafal kitab Al Qur’an untuk diamalkan adalah jalan untuk keselamatan jiwa manusia.

Para sahabat dulu mempelajari Al Qur’an tiap 10 ayat, dan baru ke ayat selanjutnya bila 10 ayat tersebut dipahami (untuk diamalkan).

Barangsiapa yang ingin naik ke permukaan dan ingin maju harus membaca.

Namun kadang kita gagal dalam membaca dan gagal memperbaiki jiwa dan ini banyak.

Sebab kegagalan ini adalah lemahnya keinginan yang kuat dari manusia.

{وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَى آدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا (115)

Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu) dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.  Qs Thaha 115.

Dalam ayat yang lain,

۞ وَإِذَا مَسَّ ٱلْإِنسَـٰنَ ضُرٌّۭ دَعَا رَبَّهُۥ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُۥ نِعْمَةًۭ مِّنْهُ نَسِىَ مَا كَانَ يَدْعُوٓا۟ إِلَيْهِ مِن قَبْلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَندَادًۭا لِّيُضِلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا ۖ إِنَّكَ مِنْ أَصْحَـٰبِ ٱلنَّارِ
Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka”.
Qs Az Zumar 8.

Sebab utamanya adalah lupa karena tidak ada keinginan kuat (jadinya malas)

{فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ}

Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (Al-‘Ankabut: 65)

Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:

{وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ}

Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia me­nyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. (Al-Isra: 67), hingga akhir ayat.

Dan dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:

{فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ}

maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah). (Al-Ankabut: 65)

Manusia dalam keadaan susah atau kritis akan muncul kesadaran tauhid dan semangat untuk berbuat baik.
Namun setelah selamat, manusia akan lupa (akan kebaikan) dan akan ikuti hawa nafsu.

Gagal itu karena lemah keinginan..

Keinginan kuat untuk berbuat sesuatu .. Tidak lepas dari 3 hal:

1. Karena cinta akan ilmu (Syaikh Al-Albani sanggup baca buku di atas tangga selama 2 jam)

2. Rasa takut, semakin tinggi rasa takut maka semakin kuat keinginan berbuat baik. (Khawarij beribadah hanya dengan rasa takut)

3. Roja. (harapan). Harapan akan timbul kekuatan..

Bila terdapat salah satu dari ketiga nya maka akan timbul keinginan.

Kalau ingin semangat beribadah maka rasa takut kepada Allah (atau siksaan neraka) dan cinta kepada Allah dinaikkan.

Kita gagal dalam ilmu pun karena 3 hal itu, tidak ada rasa cinta pada IImu, tidak takut pada Allah dan tidak ada harapan kepada Allah.

Ibnul Qayyim : peningkatan ibadah harus dilandasi rasa takut dan harapan yang disertai kecintaan.

Ilmu ada derajat dan tingkatan,
Ilmu yang hanya berupa pengetahuan itu lemah dan tidak akan memberikan kebaikan,tidak cukup untuk membangkitkan untuk berbuat baik dan meningkalkan kemungkaran.

Harus disertai dengan cinta, khauf, harapan untuk menimbulkan keinginan dalam beramal shaleh.

Misal, sakit kanker, bila tidak ada keinginan sembuh maka kita tidak akan mau berobat.

Untuk bangkitkan keinginan maka kita harus tingkatan pengetahuan kita.

Kita harus selalu Muhasabah diri dan berusaha untuk meningkatkan mutu amal shaleh kita.
Contoh aplikasi nya adalah saat Ramadhan, kita harus Muhasabah dan membuat amalan yang lebih baik dari pada Ramadhan sebelumnya,karena lupa.

Muhasabah tidak akan timbul tanpa ilmu sehinga tidak ada keinginan untuk memperbaiki diri.

Syetan banyak menjerumuskan manusia dari sifat lupa manusia ini.

Solusi nya adalah berusaha istiqomah.

Takwa akan membawa kepada sifat istiqomah.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.
Qs Ali Imran 102.

Istiqomah akan membawa kepada Husnul Khatimah.

{أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ}

Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra’d: 28)

##$$-AA-##$$

ks.kaidah

KAIDAH TADABUR ALQUR’AN TAFSIR & TADABUR – KAIDAH DARI (AS SA’DI)
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?