TAFSIR QS AL MAI’DAH Bagian #17: Ayat 98-109
- TAFSIR SURAT : AL MAIDAH #1 (Ayat 1-3)
- TAFSIR SURAT : AL MAIDAH #2 (ayat 4 -5)
- TAFSIR SURAT : AL MAIDAH #3 (ayat 6)
- TAFSIR AL MAIDAH #4 Ayat 6 – bagian 2 s.d. ayat 11
- TAFSIR AL MAIDAH #5 Ayat 12 – 17
- TAFSIR QS AL MAI’DAH Bagian #17: Ayat 98-109
- TAFSIR AL MAIDAH #6 Ayat 18-26
- TAFSIR SURAT AL MAIDAH #7 Ayat 27 s.d. 32
- TAFSIR SURAT AL MAIDAH #8 Ayat 33 s.d 39
- TAFSIR SURAT AL MAIDAH #9 Ayat 40 s.d 45
Diterbitkan pertama kali pada: 29-Nov-2020 @ 20:42
7 menit membaca📖 TAFSIR QS AL MAI’DAH Bagian #17: Ayat 98-109
👤 Ustadz Dr Firanda Andirja MA
🗓️ 14 Rabi’ul Akhir 1442H
🕌 Masjid AlIkhlas Dukuh Bima (zoom)
Surat Al Maidah kebanyakan masalah hukum, yang turun di akhir-akhir, sehingga tidak ayat yang dimansuh.
Allah berfirman,
ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ وَأَنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Ketahuilah, bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya dan bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. QS. Al-Ma’idah : 98
Ini adalah sifat Allah, kita harus mengetahui sifat-sifat Allah.
Kalau Allah sudah menyiksa, maka tidak ada siksaan yang lebih keras dari siksaan Allah.
Namun Allah Maha menerima taubat.
نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُوْر ُالرَّحِيْمُ. وَ أَنَّ الْعَذَابِيْ هُوَ الْعَذَابُ الْعَلِيْمُ
“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sungguh Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, dan bahwa sungguh azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. al-Hijr: 49-50).
Kita harus hadirkan khouf dan roja, dalam ibadah kita. (antara takut (siksa) dan harapan)
Firman Allah,
مَّا عَلَى ٱلرَّسُولِ إِلَّا ٱلْبَلَٰغُ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ
Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan (amanat Allah), dan Allah mengetahui apa yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan.
QS. Al-Ma’idah : 99
Hidayah bukan ditangan Rasulullah ﷺ.
Tugas Rasulullah ﷺ adalah hanya menyampaikan.
Amalan-amalan hati juga diketahui Allah.
قُل لَّا يَسْتَوِى ٱلْخَبِيثُ وَٱلطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ ٱلْخَبِيثِ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Katakanlah (Muhammad), “Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya keburukan itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat, agar kamu beruntung.” QS. Al-Ma’idah : 100
Secara umum manusia kagum pada jumlah yang banyak walaupun itu keburukan.
Jangan terpedaya dengan jumlah yang banyak.
Termasuk hasil, hasil yang banyak tetapi buruk maka itu tidak baik disisi Allah.
Hal ini bisa mendatangkan keburukan di dunia (dan juga akhirat).
Faidah ayat ini juga dipakai para ulama, pada dasarnya sesuatu yang banyak bisa jadi penilaian bila itu adalah hal yang baik.
Dengan syarat bobot kebaikan sama.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَسْـَٔلُوا۟ عَنْ أَشْيَآءَ إِن تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِن تَسْـَٔلُوا۟ عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ ٱلْقُرْءَانُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا ٱللَّهُ عَنْهَا وَٱللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu (justru) menyusahkan kamu. Jika kamu menanyakannya ketika Al-Qur’an sedang diturunkan, (niscaya) akan diterangkan kepadamu. Allah telah memaafkan (kamu) tentang hal itu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. QS. Al-Ma’idah : 101
Ketika Rasulullah ﷺ membuka kesempatan bertanya kepada para sahabat, ada yang bertanya kepada Rasulullah ﷺ, yang bila dijawab akan membuat sahabat tersebut susah/sedih.
Kadang ada sahabat yang bertanya sesuatu yang tidak perlu yang mungkin akan memberatkan mereka. (kisah kewajiban haji yang hanya 1x seumur hidup, bagi yang mampu).
Allah ﷺ berfirman,
قَدْ سَأَلَهَا قَوْمٌ مِّن قَبْلِكُمْ ثُمَّ أَصْبَحُوا۟ بِهَا كَٰفِرِينَ
Sesungguhnya sebelum kamu telah ada segolongan manusia yang menanyakan hal-hal serupa itu (kepada nabi mereka), kemudian mereka menjadi kafir.
QS. Al-Ma’idah : 102
➡️ Ini beberapa tafsir.
1. Seperti umat terdahulu yang minta ditunjukkan mukjizat (kisah Nabi Sholeh, unta betina hamil tua keluar dari batu)
2. Kisah Bani Israil yang disuruh sembelih sapi (QS Al Baqarah). Sapi yang ditanyakan mereka menjadi sangat sulit ditemui.
Mereka bertanya hal yang tidak bermanfaat, dan hati mereka menjadi keras.
Faidah, jangan bertanya yang tidak bermanfaat kepada Ustadz.⛔
Allah melanjutkan,
مَا جَعَلَ ٱللَّهُ مِنۢ بَحِيرَةٍ وَلَا سَآئِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍ وَلَٰكِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يَفْتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلْكَذِبَ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ
Allah tidak pernah mensyariatkan adanya Bahirah, Sa’ibah, Wasilah dan Haam. Tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti. QS. Al-Ma’idah : 103
Itu adalah nama-nama hewan mereka.
Sa’ibah, unta yang melahirkan anak betina 5x
Bahirah,anak unta ke sepuluh yang betina, yang dikeramatkan.
Wasilah, kambing beranak betina 5x,dan jadi kambing keramat.
Haam, unta jantan yang kawin dengan unta betina 10x dan anaknya betina.
Orang yang pertama melakukan pengkeramatan hewan ini masuk neraka.
Yaitu Amr bin Luhay.
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ قَالُوا۟ حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَآ أَوَلَوْ كَانَ ءَابَآؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَلَا يَهْتَدُونَ
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (mengikuti) apa yang diturunkan Allah dan (mengikuti) Rasul.” Mereka menjawab, “Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami (mengerjakannya).” Apakah (mereka akan mengikuti) juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? QS. Al-Ma’idah : 104
Mereka berdalil dengan tradisi nenek moyang, menolak syariat yang dibawa Rasulullah ﷺ.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan, Ini adalah bahayanya orang-orang yang berfatwa karena mengatasnamakan Allah.
Imam Malik juga berat dalam menjawab pertanyaan agama.
Faidah, hati-hati dalam menjawab pertanyaan agama, harus dengan dalil..⛔
Allah berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهْتَدَيْتُمْ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan memberi mudhorot selama kalian telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kalian semua akan kembali, kemudian Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. QS. Al-Ma’idah : 105
Jika kondisi sangat parah, saat nahimunkar, maka orang-orang sesat itu tidak membahayakan kita.
Kita harus tetep berusaha untuk amar ma’ruf nahi munkar.
Jubair ibnu Nafir mengatakan bahwa ia pernah berada di tengah halqah sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ , dan dia adalah orang yang paling muda di antara kaum yang hadir. Kemudian mereka membicarakan perihal amar ma’ruf dan nahi munkar. Maka Jubair (perawi) mengatakan, “Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman di dalam kitab-Nya: Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk (Al-Maidah: 105) Maka dengan spontan mereka menyerangku dengan kalimat yang sama, ‘Kamu memetik suatu ayat dari Al-Qur’an, sedangkan kamu masih belum memahaminya dan belum mengetahui takwilnya.’ Jawaban tersebut membuat aku merasa menyesal akan kata-kata yang telah kulontarkan tadi. Kemudian mereka kembali berbincang-bincang; dan ketika pertemuan mereka akan bubar, maka mereka berkata (kepadaku), ‘Sesungguhnya kamu adalah seorang pemuda yang masih remaja, dan kamu telah memetik sebuah ayat tanpa mengetahui maknanya. Tetapi mudah-mudahan kamu bakal mengalami masa tersebut, yaitu apabila kamu melihat sifat kikir ditaati, hawa nafsu diikuti, dan setiap orang merasa kagum dengan pendapatnya sendiri; maka jagalah dirimu, niscaya tidak akan membahayakan dirimu kesesatan orang yang sesat apabila kamu mendapat petunjuk’.”
Allah berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ شَهَٰدَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ حِينَ ٱلْوَصِيَّةِ ٱثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِّنكُمْ أَوْ ءَاخَرَانِ مِنْ غَيْرِكُمْ إِنْ أَنتُمْ ضَرَبْتُمْ فِى ٱلْأَرْضِ فَأَصَٰبَتْكُم مُّصِيبَةُ ٱلْمَوْتِ تَحْبِسُونَهُمَا مِنۢ بَعْدِ ٱلصَّلَوٰةِ فَيُقْسِمَانِ بِٱللَّهِ إِنِ ٱرْتَبْتُمْ لَا نَشْتَرِى بِهِۦ ثَمَنًا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ وَلَا نَكْتُمُ شَهَٰدَةَ ٱللَّهِ إِنَّآ إِذًا لَّمِنَ ٱلْءَاثِمِينَ
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila salah seorang (di antara) kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan (agama) dengan kamu. Jika kamu dalam perjalanan di bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian, hendaklah kamu tahan kedua saksi itu setelah salat, agar keduanya bersumpah dengan nama Allah jika kamu ragu-ragu, “Demi Allah kami tidak akan mengambil keuntungan dengan sumpah ini, walaupun dia karib kerabat, dan kami tidak menyembunyikan kesaksian Allah; sesungguhnya jika demikian tentu kami termasuk orang-orang yang berdosa.”
QS. Al-Ma’idah : 106
Jika tidak ada orang muslim yang bisa jadi saksi maka boleh menjadikan orang kafir sebagai saksi,dalam kondisi darurat.
فَإِنْ عُثِرَ عَلَىٰٓ أَنَّهُمَا ٱسْتَحَقَّآ إِثْمًا فَـَٔاخَرَانِ يَقُومَانِ مَقَامَهُمَا مِنَ ٱلَّذِينَ ٱسْتَحَقَّ عَلَيْهِمُ ٱلْأَوْلَيَٰنِ فَيُقْسِمَانِ بِٱللَّهِ لَشَهَٰدَتُنَآ أَحَقُّ مِن شَهَٰدَتِهِمَا وَمَا ٱعْتَدَيْنَآ إِنَّآ إِذًا لَّمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ
Jika terbukti kedua saksi itu berbuat dosa, maka dua orang yang lain menggantikan kedudukannya, yaitu di antara ahli waris yang berhak dan lebih dekat kepada orang yang mati, lalu keduanya bersumpah dengan nama Allah, “Sungguh, kesaksian kami lebih layak diterima daripada kesaksian kedua saksi itu, dan kami tidak melanggar batas. Sesungguhnya jika kami berbuat demikian tentu kami termasuk orang-orang zalim.”
QS. Al-Ma’idah : 107
ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يَأْتُوا۟ بِٱلشَّهَٰدَةِ عَلَىٰ وَجْهِهَآ أَوْ يَخَافُوٓا۟ أَن تُرَدَّ أَيْمَٰنٌۢ بَعْدَ أَيْمَٰنِهِمْ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱسْمَعُوا۟ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ
Dengan cara itu mereka lebih patut memberikan kesaksiannya menurut yang sebenarnya, dan mereka merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) setelah mereka bersumpah. Bertakwalah kepada Allah dan dengarkanlah (perintah-Nya). Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
QS. Al-Ma’idah : 108
Seorang muslim Safar dengan orang-orang kafir dan tulis wasiat saat akan meninggal dunia. Tidak ada saksi yang muslim dan menjadikan orang kafir sebagai saksi.
Saksi yang kafir saat kembali bersaksi kepada kaum muslimin.
Bila dianggap jujur maka saksi tersebut diterima. (wasiat).
Bila dianggap dusta maka ahli waris lebih berhak dan wasiat nya tidak berlaku.
Faidah
1. Boleh Safar dan muamalah dengan orang kafir. Dan boleh memberi amanah kepada mereka.
2. Dalam kondisi darurat, persaksian mereka diterima.
Allah berfirman,
يَوْمَ يَجْمَعُ ٱللَّهُ ٱلرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَآ أُجِبْتُمْ قَالُوا۟ لَا عِلْمَ لَنَآ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّٰمُ ٱلْغُيُوبِ
(Ingatlah) pada hari ketika Allah mengumpulkan para rasul, lalu Dia bertanya (kepada mereka), “Apa jawaban (kaummu) terhadap (seruan)mu?” Mereka (para rasul) menjawab, “Kami tidak tahu (tentang itu). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.”
QS. Al-Ma’idah : 109
Kenapa para Rasul jawab tidak tahu?
Ada beberapa tafsir,
1. Mereka tidak tahu isi hati/ batin umatnya.
2. Para rasul sangat ketakutan
3. Para rasul beradab kepada Allah
4. Allah bertanya Rasul tentang jawaban umatnya setelah para Rasul meninggal. (Imam Qurthubi). Jadi tidak benar bahwa ruh para Rasul jalan-jalan seperti kisah kurofat bahwa ruh Nabi Muhammad ﷺ datang saat acara Maulid Nabi
QA –
1. Siksa Allah itu sangat pedih, dan sudah banyak diketahu orang. namun mengapa masih banyak orang yang berbuat maksiat?
Jawab :
– kurang beriman, terutama tentang hari akhirat
– terlalu mengandalkan sifat Allah yang Maha Pengampun
– terlalu percaya diri sudah cukup dengan tauhid – padahal bisa jadi tauhidnya tidak beres.
– menunda-nunda taubat setelah bermuat maksiat yang dianggap kecil
Semoga bermanfaat,
##$$-aa-$$##

