This entry is part 24 of 48 in the series dosabesar_MBAW
5 menit membaca

🗞️ *ALKABAIR – HATI DAN LISAN#25*
✒️ Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
🎤 Ustadz Dr Firanda Andirja Lc MA
🗓️ 22 Syawal 1446H/ 20 April 2025
Ba’da Maghrib

➡️ *BURUK SANGKA TERHADAP MUSLIMIN*

Hukum asal adalah sesama muslim harus berbaik sangka terhadap muslim yang lain.

Sesungguhnya sesama muslim itu bersaudara.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَ صْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَا تَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 10)

Juga disebutkan sifat orang munafik yang berprasangka buruk, seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an, kisah tuduhan Aisyah berzina dengan sahabat (Sufyan bin Muathah As Sulamy).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَوْلَاۤ اِذْ سَمِعْتُمُوْهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُوْنَ وَا لْمُؤْمِنٰتُ بِاَ نْفُسِهِمْ خَيْرًا ۙ وَّقَا لُوْا هٰذَاۤ اِفْكٌ مُّبِيْنٌ

“Mengapa orang-orang mukmin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri, ketika kamu mendengar berita bohong itu dan berkata, “Ini adalah (suatu berita) bohong yang nyata.””
(QS. An-Nur 24: Ayat 12)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۗ اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّا بٌ رَّحِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 12)

Maka nya saat Nabi Yusuf bermimpi, ayahnya melarangnya untuk menceritakan mimpi tersebut kepada Kakak-kakak nya karena kuatir mereka akan berbuat buruk.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَرَفَعَ اَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوْا لَهٗ سُجَّدًا ۚ وَقَا لَ يٰۤاَ بَتِ هٰذَا تَأْوِيْلُ رُءْيَايَ مِنْ قَبْلُ ۖ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّيْ حَقًّا ۗ وَقَدْ اَحْسَنَ بِيْۤ اِذْ اَخْرَجَنِيْ مِنَ السِّجْنِ وَجَآءَ بِكُمْ مِّنَ الْبَدْوِ مِنْۢ بَعْدِ اَنْ نَّزَغَ الشَّيْطٰنُ بَيْنِيْ وَبَيْنَ اِخْوَتِيْ ۗ اِنَّ رَبِّيْ لَطِيْفٌ لِّمَا يَشَآءُ ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ

“Dan dia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. Dan mereka (semua) tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). Dan dia (Yusuf) berkata, “Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”
(QS. Yusuf 12: Ayat 100)

Kenapa kita gak boleh suudzon? Karena syetan mendikte kita.

Usahakan kita dahulukan husnudzan.. Jangka suudzon kecuali ada alasan yang kuat.

Seperti saat Yakub alaihissalam berprasangka buruk terhadap saudara-saudara Yusuf. Kenapa?

1. Mimpi nabi Yusuf, belum terjadi
2. Ada indikasi mereka akan berbuat buruk
3. Baju berlumuran darah tapi tidak robek-robek.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَجَآءُوْ عَلٰى قَمِيـْصِهٖ بِدَمٍ كَذِبٍ ۗ قَا لَ بَلْ سَوَّلَتْ لَـكُمْ اَنْفُسُكُمْ اَمْرًا ۗ فَصَبْرٌ جَمِيْلٌ ۗ وَا للّٰهُ الْمُسْتَعَا نُ عَلٰى مَا تَصِفُوْنَ

“Dan mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) darah palsu. Dia (Ya’qub) berkata, “Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.””
(QS. Yusuf 12: Ayat 18)

Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

إياكم والظنَّ، فإنَّ الظنَّ أكذب الحديث

“jauhilah prasangka, karena prasangka itu adalah seburuk-buruk pembicaraan (lebih dusta dari dusta asli) ” (HR. Bukhari-Muslim).

Kedustaan yang timbul dari prasangka buruk lebih parah dari dusta yang asli.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah kamu melakukan tajassus (mencari-cari keburukan orang). [Al-Hujurat/49: 12]

Semakna ayat ini, disebutkan di dalam hadits yang shahih.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الحَدِيثِ، وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Jauhilah persangkaan, karena sesungguhnya persangkaan itu berita yang paling dusta. Dan janganlah kamu melakukan tahassus, tajassus, saling hasad, saling membelakangi, dan saling benci. Jadilah kalian bersaudara, wahai para hamba Allâh!”. [HR. Al-Bukhari]

Hati-hati dengan sesuatu yang benar apalagi yang salah yaitu prasangka.

Yang lebih mengerikan adalah prasangka buruk antara kakak adik, suami dan istri..

Faidah prasangka baik adalah kita hidup nyaman, tentram.

Jangan biarkan hati punya prasangka buruk, harus dilawan.. Dan tidak berdosa.

➡️ *PENJELASAN BERDUSTA ATAS NAMA ALLAH DAN Rasul ﷺ*

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ ۗ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang dzalim itu tidak mendapat keberuntungan. [Al-An’am/6: 21]

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ تَرَى الَّذِيْنَ كَذَبُوْا عَلَى اللّٰهِ وُجُوْهُهُمْ مُّسْوَدَّةٌ    ۗ اَلَيْسَ فِيْ جَهَنَّمَ مَثْوًى لِّلْمُتَكَبِّرِيْنَ

“Dan pada hari Kiamat engkau akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, wajahnya menghitam. Bukankah Neraka Jahanam itu tempat tinggal bagi orang yang menyombongkan diri?” (QS. Az-Zumar 39: Ayat 60)

Dari Anas, Rasulullah ﷺ  bersabda,

إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” HR Bukhari dan Muslim

Berdusta atas nama Nabi akan jadi syariat.
Ini hadits mutawatir. Berulang kali. Potensi dusta atas nama nabi itu sangat besar.

Penjual kopi buat hadits kopi
Dekat penguasa, buat hadits penguasa dst.

Ada hadits palsu tentang Nur Muhammad..

Dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘Anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ حَدَّثَ عَنِّيْ بِحَدِيْثٍ يَرَيْ أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ

“Siapa yang menyampaikan hadits dariku dengan suatu hadits yang masih diduga bahwa itu adalah dusta, maka ia termasuk salah satu dari dua pendusta.” (HR. Muslim)

Dusta pertama yang buat
Dusta kedua yang sebarkan.

Hati-hati dalam menyebarkan hadits.

✅ Contoh dusta tentang Allah – Aqidah. Disebutkan oleh Syaikh Sholeh Al Fauzan (no 1 dan 2)

1. Allah punya Anak (Nasrani dan Yahudi). Dan malaikat adalah putri Allah (kaum musyrikin Arab).

Musyrikin Arab dusta dua kali (Allah punya anak, dan anak Allah perempuan).

2. Berdoa harus lewat perantara. Ini membuat jarak dengan Allah.

3. Terkait halal dan haram.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَا تَصِفُ اَلْسِنَـتُكُمُ الْكَذِبَ هٰذَا حَلٰلٌ وَّهٰذَا حَرَا مٌ لِّـتَفْتَرُوْا عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ ۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُوْنَ 
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram,” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 116)

Hati-hati dengan menghukumi halal dan haram tanpa dalil.

✅ Dusta atas nabi lebih besar…

Misal seseorang mengaku tiap hari ketemu Nabi. Dan kata Nabi dia akan meningal umur 40 (dia mati umur 41).

➡️ *PENJELASAN TENTANG BERBICARA ATAS NAMA ALLAH TANPA ILMU*

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْـفَوَا حِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَ الْاِ ثْمَ وَا لْبَـغْيَ بِغَيْرِ الْحَـقِّ وَاَ نْ تُشْرِكُوْا بِا للّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 33)

Ini adalah rentetan dosa.

Abu Musa berkata,

من علمه الله علما فليعلمه الناس، وإيّاه أن يقول ما لا علم له به، فيكو ن من المتكلّفين ويمر ب من الدين

Barangsiapa yang diajari Allah satu ilmu, maka hendaknya dia mengajarkannya kepada manusia. Dan hati-hati dia mengatakan perkara yang dia tidak memiliki ilmu padanya, sehingga dia termasuk menjadi orang-orang yang memberat-beratkan diri dan melesat keluar dari agama. Ditakhrij Ibnu Sa’ad.

Dari Ibnu Amr, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan yang Dia lakukan dari hati-hati orang-orang , akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga jika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang/pemimpin bodoh. Kemudian Mereka ditanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Sehingga mereka sesat dan menyesatkan.“
HR Bukhari dan Muslim.

Bab ini lebih spesifik dari bab sebelumnya. Syaikh Sholeh al Fauzan menjelaskan.

Imam Malik, terkenal dengan jawaban saya tidak tahu, ketika ada banyak pertanyaan diajukan pada beliau.

Waspadalah ketika bicara syariat.

Semoga bermanfaat.

#alkabaair #sunnah #dosa #dusta #hadits #palsu

##$$-aa-$$##

dosabesar_MBAW

ALKABAIR – HATI DAN LISAN#24 ALKABAIR – HATI DAN LISAN#26
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?