ALKABAIR – HATI DAN LISAN#32
- ALKABAIR-#01 – MUQADIMAH
- ALKABAIR-#02 – Dosa terbesar
- ALKABAIR-3
- Alkabair-4
- Alkabair-5 (Riya’ dan Sum’ah)
- ALKABAIR – HATI DAN LISAN#32
- Alkabair-6 – GEMBIRA YANG TERLAKNAT
- Alkabair-7 : PUTUS ASA DARI RAHMAT Allah Dan Merasa Aman dari Adzab Allah
- Alkabair-8 :BAB PENYEBUTAN Buruk Sangka terhadap Allah
- Alkabair-9 :BAB PENYEBUTAN keinginan bertindak sewenang-wenang dan berbuat kerusakan
🗞️ *ALKABAIR – HATI DAN LISAN#32*
✒️ Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
🎤 Ustadz Dr Firanda Andirja Lc MA
🗓️ 25 Muharam 1447H/ 20 Juli 2025
Ba’da Maghrib
➡️ *BAB Mencela orang yang taat kepada Allah dan Mengolok-olok orang yang lemah.*
Dalam sebuah hadits,
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:
لَمَّا نَزَلَتْ آيَةُ الصَّدَقَةِ كُنَّا نَحْمِلُ عَلَى ظُهُورِنَا، فَجَاءَ رَجُلٌ فَتَصَدَّقَ بِشَيْءٍ كَثِيرٍ، فَقَالُوا: مُرَائٍ، وَجَاءَ رَجُلٌ فَتَصَدَّقَ بِصَاعٍ، فَقَالُوا: إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنْ صَاعِ هَذَا، فَأُنْزِلَتْ هَذِهِ الآيَةُ: ﴿الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ فِي الصَّدَقَاتِ …﴾
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Ketika ayat sedekah diturunkan, kami (para sahabat) memikul (bekal sedekah, kayu dst) di punggung kami. Lalu datang seorang laki-laki yang bersedekah dengan jumlah besar, lalu mereka (orang munafik) berkata: ‘Ia riya.’
Kemudian datang lagi seorang yang hanya mampu bersedekah dengan satu sha’, maka mereka berkata: ‘Allah tidak butuh sedekah sekecil ini.’ Maka Allah menurunkan ayat yang menjelaskan hakikat orang munafik,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَلَّذِيْنَ يَلْمِزُوْنَ الْمُطَّوِّعِيْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ فِى الصَّدَقٰتِ وَا لَّذِيْنَ لَا يَجِدُوْنَ اِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُوْنَ مِنْهُمْ ۗ سَخِرَ اللّٰهُ مِنْهُمْ ۖ وَلَهُمْ عَذَا بٌ اَلِيْمٌ
“(Orang munafik) yaitu mereka yang mencela orang-orang beriman yang memberikan sedekah dengan sukarela dan yang (mencela) orang-orang yang hanya memperoleh (untuk disedekahkan) sekadar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka, dan mereka akan mendapat azab yang pedih.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 79)
Surat Taubah disebut surat pengungkap, yaitu mengungkap orang-orang munafik.
Contoh kemunafikan orang munafik adalah pasukan yang mundur pada perang Uhud, demikian juga pada perang Tabuk.
Kalau saat ayat-ayat Allah turun sudah ada orang munafik, apalagi jaman sekarang.
Diantara sifat mereka adalah suka mengejek orang yang jalankan ketaatan.
Yang menakjubkan diawal hadits, saat turun ayat perintah sedekah, sahabat sangat semangat sedekah, bekerja keras untuk bisa sedekah dan mereka infakkan harta yang mereka cintai.
Bahkan yang gak punya harta, mereka bekerja keras dulu supaya bisa sedekah.
Dan Allah membela orang-orang miskin di kalangan para shahabat. Dan Allah balas orang-orang munafik dengan adzab yang pedih.
Dalam hadits, 1 keping dirham mendahului 1000 keping dirham.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bersabda.
سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ
قَالُوا: وَكَيْفَ؟
قَالَ: “رَجُلٌ لَهُ مَالٌ كَثِيرٌ، أَخَذَ مِنْ عُرْضِ مَالِهِ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ فَتَصَدَّقَ بِهَا، وَرَجُلٌ لَهُ دِرْهَمَانِ، فَأَخَذَ أَحَدَهُمَا فَتَصَدَّقَ بِهِ”
“Satu dirham mendahului (lebih utama dari) seratus ribu dirham.”
Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana bisa?”
Nabi ﷺ bersabda, “Ada seseorang yang memiliki banyak harta, lalu ia bersedekah sebanyak seratus ribu dirham dari hartanya itu. Sedangkan orang lain hanya memiliki dua dirham, lalu ia sedekahkan salah satunya.”
(HR. An-Nasa’i, Ahmad, dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Sedekah tidak harus tunggu uang banyak.
Nabi ﷺ bersabda,
اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
“Lindungilah diri kalian dari neraka walaupun hanya dengan (sedekah) setengah butir kurma. Jika tidak ada, maka dengan ucapan yang baik.” HR Bukhari dan Muslim
➡️ *BAB Mengolok-olok*
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ، وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lewat di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.
Qs Al Muthaffifin 29-30.
Dan nanti orang kafir dibalas dengan siksa neraka Jahanam.
Mereka mengejek orang-orang beriman.
Karena itulah maka dalam surat ini disebutkan:
{فَالْيَوْمَ}
Maka pada hari ini. (Al-Muthaffifin:34)
Maksudnya, di hari kiamat.
{الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ}
Orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir. (Al-Muthaffifin:34)
Kata أَجْرَمُوا lebih tepat nya bermakna kriminal. Ini untuk menggambarkan betapa buruknya kelakuan mereka.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَا تَّخَذْتُمُوْهُمْ سِخْرِيًّا حَتّٰۤى اَنْسَوْكُمْ ذِكْرِيْ وَكُنْتُمْ مِّنْهُمْ تَضْحَكُوْنَ
“Lalu kalian jadikan mereka buah ejekan, sehingga kalian lupa mengingat Aku, dan adalah kalian (selalu) menertawakan mereka,” (QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 110)
Ayat sebelumnya, ciri mukmin.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّهٗ كَا نَ فَرِيْقٌ مِّنْ عِبَا دِيْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَاۤ اٰمَنَّا فَا غْفِرْ لَـنَا وَا رْحَمْنَا وَاَ نْتَ خَيْرُ الرّٰحِمِيْنَ
“Sungguh ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa, “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, Engkau adalah pemberi rahmat yang terbaik.””
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 109)
Seringlah berdoa dengan doa seperti ini.
Dan balasan sabar atas ejekan orang kafir,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنِّيْ جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوْۤا ۙ اَنَّهُمْ هُمُ الْفَآئِزُوْنَ
“sungguh pada hari ini Aku memberi balasan kepada mereka, karena kesabaran mereka; sungguh mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 111)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّنْ نِّسَآءٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۚ وَلَا تَلْمِزُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَا بَزُوْا بِا لْاَ لْقَا بِ ۗ بِئْسَ الِا سْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِ يْمَا نِ ۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 11)
Dua ayat pertama adalah ejekan orang kafir kepada orang mukmin. Ini karena keimanan.
Ayat ketiga adalah ejekan orang mukmin kepada orang mukmin, biasanya karena perkara duniawi.
Ayat 11 surat Al Hujarat.. Ahli tafsir menjelaskan orang yang mengejek karena Ujub / sombong. Maka yang diejek lebih baik dari pada yang mengejek.
Al Qurthubi menjelaskan kenapa wanita disebut khusus? Karena potensi untuk saling mengejek di kalangan wanita lebih banyak dari pada di kalangan laki-laki. ❗
Bisa jadi indah di mata manusia namun hina di sisi Allah.
Kalimat وَلَا تَلْمِزُوْۤا اَنْفُسِكُمْ maksud nya mencela sebagian yang lain seperti mencela diri sendiri.
Memberi gelar yang buruk itu termasuk kefasikan.
Dari Al Hasan al Bashri , dia berkata : Rasulullah ﷺ bersabda : ” Sesungguhnya orang-orang yang suka mengolok-olok orang lain akan dibukakan untuk salah seorang dari mereka di akhirat satu pintu surga. Kemudian dia dipanggil : ‘Kemari kemari’ kemudian dia datang dengan kesempitan dan kesedihannya. Jika dia telah mendatangi nya, pintu itu ditutup. Kemudian dibukakan satu pintu lain untuknya. Kemudian dia dipanggil : ‘Kemari kemari’ kemudian dia datang dengan kesempitan dan kesedihannya. Jika dia telah mendatangi nya, pintu itu ditutup. Terus menerus demikian hingga salah seorang dari mereka dibukakan untuknya salah satu pintu surga, kemudian dipanggil ‘Kemari’, namun dia tidak mendatanginya karena putus asa. HR Al Baihaqi.
Hadits mursal dan dhaif.. Tapi maknanya benar. Mursal karena Hasan Al Bashri adalah tabiin yang tidak jumpa Rasulullah ﷺ. Jadi ada sanad yang terputus.
Dan dalam riwayat Ibnu Abi Hatim dan lainnya dari Ibnu Amr bin Ash secara marfu ‘ :
من مات همّازا لمّاز ا ملقبا للناس كان علامته أن يسمه الله على الحر طوم من كلا الشد قين
Barangsiapa yang mati sebagai seorang yang suka mengumpat, mencela, dan memberi julukan manusia, ciri-cirinya pada hari kiamat bahwa Allah memberi tanda padanya di belalai (batang hidung) nya dari masing-masing dua sudut bibir.
HR Thabrani.
➡️ *BAB Mengejutkan seorang muslim.*
Saat ini yang ngetrend ada Prank…
Dari ‘Abdur-Raḥmān bin Abi Layla, ia berkata:
“Para sahabat Nabi ﷺ menceritakan bahwa mereka sedang bepergian bersama Baginda ﷺ. Seorang di antara mereka tertidur, lalu ada yang mengambil tali miliknya sehingga terbangun dan ketakutan. Nabi ﷺ bersabda:
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ أَخَاهُ
‘Tidak halal bagi seorang Muslim untuk mengejutkan saudaranya.’ HR Abu Dawud.
Makna kejutan di hadits tersebut..
1. Terkejut beneran
2. Memang barang hilang
Hal semacam ini dilarang.
Seorang muslim hendak nya memberi ketenangan kepada orang lain.
Muslim sesungguhnya adalah orang yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangan (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).
Dalam sebuah hadits, Nabi ﷺ bersabda,
لَا يَأْخُذْ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ أَخِيهِ لَاعِبًا وَلَا جَادًّا، وَمَنْ أَخَذَ عَصًا أَخِيهِ فَلْيَرُدَّهَا إِلَيْهِ
“Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya, baik dalam keadaan main-main ataupun sungguhan. Barangsiapa mengambil tongkat saudaranya, hendaklah ia mengembalikannya kepadanya.” HR Abu Dawud.
➡️ *BAB Orang yang merasa puas dengan perkara yang bukan miliknya.*
Dalam sebuah hadits,
عَنْ أَسْمَاءَ،
أَنَّ امْرَأَةً أَتَتِ النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَتْ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ لِي ضَرَّةً، فَهَلْ عَلَيَّ جُنَاحٌ إِنْ تَشَبَّعْتُ مِنْ زَوْجِي غَيْرَ الَّذِي يُعْطِينِي؟
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
“الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ، كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ.”
Dari Asma’ (binti Abu Bakar), ia berkata:
Seorang wanita datang kepada Nabi ﷺ lalu bertanya:
“Wahai Rasulullah, aku memiliki madu (saudari sesama istri/satu suami). Apakah berdosa jika aku membuatnya mengira bahwa aku telah mendapatkan sesuatu (pemberian) dari suamiku, padahal aku tidak mendapatkannya?”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang yang mengaku-ngaku mendapatkan apa yang tidak diberi kepadanya (merasa puas) , seperti orang yang memakai dua pakaian kebohongan.” HR Bukhari dan Muslim.
Jangan mencari-cari pujian, apalagi dengan berbohong. Nah ini sudah dosa dua kali.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat tentang bintang jatuh… Seorang sahabat menjawab, namun sahabat tersebut mengatakan dia melihat bintang jatuh karena tidak bisa tidur dengan sebab tersengat binatang berbisa.
Semoga bermanfaat.
#alkabaair #sunnah #dosa #dusta #hadits #prank #gaya
##$$-aa-$$##

