Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB #1
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB #1
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB #2 (Minta izin)
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB #3 Adab Makan
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB #4 Adab Berbicara
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #5 Adab Tidur
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #6 Adab Bersin
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #7 Adab Menguap
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #8 Adab Bermajelis
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #9 ADAB DI JALAN
- Syarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB- #10 – Adab Berpakaian
Diterbitkan pertama kali pada: 09-Agu-2020 @ 11:36
9 menit membacaSyarah الاداب العشرة – SEPULUH ADAB (Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Hamad Al ‘Ushaimiy)
Ustadz Dr Abdullah Roy, Lc M.A.
19 Dzulhijjah 1441 H / 9 Agustus 2020
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang sedikitnya orang yang bersyukur, semoga kita termasuk di dalamnya.
Syaikh menyebutkan 10 adab yang paling penting..
Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Hamad Al ‘Ushaimiy Al Utaibi Lahir di Riyadh th 1391H, baru 50 tahun..
Beliau menuntut ilmu di berbagai negara seperti Mesir, Syam, Kuwait, Sudan, Jazair, India, Pakistan… Menunjukkan bahwa beliau pergi menuntut ilmu di berbagai negara..
Beliau juga telah menulis buku2 yang bermanfaat buat kita.
Pentingnya adab.
Para salaf mempunyai perhatian besar dalam belajar adab.
Abdullah bin Mubarok berkata,
تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين
“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”
Termasuk pengagungan terhadap ilmu adalah punya adab.
Para salaf belajar adab dulu baru belajar ilmu..
Ibnu Sirin berkata,
كانوا يتعلمون الهديَ كما يتعلمون العلم
“Mereka dahulu mempelajari alhadiya (adab) sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.”
Habib bin syahid (Ulama Bashrah) berkata pada anaknya Ibrahim bin Habib bin Syahid.
Nasihat beliau :
“Wahai anakku, bersahabatlah dengan para pakar-pakar fiqh dan para ulama. Belajarlah dari mereka. Ambil lah adab-adab mereka. Karena itu lebih aku sukai daripada hadis-hadis yang kau pelajari”
Ilmu sedikit tapi punya adab lebih baik daripada punya ilmu tapi tidak beradab..
Pengertian adab.
Secara istilah adalah segala sesuatu yang dipuji baik secara syariah ataupun kebiasaan yang baik manusia yang terjaga.
Jadi sumber adab adalah syariat dan adat asal tidak bertentangan dengan syariat.
Muaddab, adalah istilah orang Arab untuk orang-orang yang beradab.
Kenapa beliau menulis 10 adab?
1. Banyak dalil yang berbicara tentang 10 adab ini.
2. Karena 10 adab ini sering terjadi dan berulang-ulang.. Dan sangat kita butuhkan.
Ini adalah bagian dari hikmah dalam berdakwah..
10 adab yang dimaksud Syaikh adalah :
1. Salam
2. Minta izin
3. Makan minum
4. Berbicara
5. Tidur
6. Bersin
7. Menguap
8. Bermajelis
9. Duduk di pinggir jalan
10. Berpakaian
Ini menunjukkan sempurna nya ajaran Islam..
Yang mana sampai ada Yahudi yang berharap 1 ayat kesempurnaan agama untuk mereka.. Yang akan mereka jadikan hari Raya hari turunnya ayat tersebut (Qs Al Maidah ayat 3).
Syaikh memulai tulisan dengan Basmalah, meniru ayat pertama dalam Al Qur’an.
بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan menyebut Nama Allah, adalah seluruh nama Allah.
Ar Rahman Ar Rahim, keduanya ada rahmat Allah
Ar Rahman, sifat umum.. Baik orang beriman ataupun kafir..
Ar Rahim, rahmat khusus bagi orang-orang yang beriman..
Faidah didahului kalimat Basmalah dalam menulis kitab..
1. Mohon pertolongan kepada Allah
2. Untuk mencari keberkahan karena nama-nama Allah itu berbarokah..
اعلم
Maknanya adalah ketahuilah, belajarlah…
Murojaah, Menghafal dll.
Syaikh mendoakan untuk beliau sendiri dan pembaca (orang-orang yang didakwahi).
Ini juga bagian dari kasih sayang antara guru dan murid.. Sering mendoakan juga menjadikan kita menjaga lisan kita.
Doakan diri sendiri baru orang lain..
Contoh doa Nabi Ibrahim..
( رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء)
Rabbij’alni muqimas salati wamin zurriyati rabbana wataqobbal du’a
“Ya Robbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yg tetap melaksanakan sholat… Ya Robb kami , perkenankanlah doaku” (QS. Ibrahim: 40 )
Doa untuk kebaikan adab..
اَللَّهُمَّ اهْدِنِى لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِى لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ
Allaahummahdinii li-ahsanil akhlaaq, laa yahdii li-ahsanihaa illaa anta, wash-rif ‘annii sayyi-ahaa, laa yash-rifu ‘annii sayyi-ahaa illaa anta.
Ya Allah, tunjukkanlah aku kepada akhlak yang baik, tidak ada yang dapat menunjukkannya kecuali Engkau. Dan palingkanlah dariku kejelekan akhlak, tidak ada yang dapat memalingkannya kecuali Engkau.
HR. Muslim no. 771, dari ‘Ali bin Abi Tholib.
Hidayah ini mencakup hidayah Irsyad (ajaran) dan Hidayah Taufik (untuk beramal).
Allah memuji akhlaq Nabi shallallahu alaihi wasallam..
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
Adab 1
1. Kalau engkau bertemu dengan seorang muslim ucapkan
اسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Dan bila dia ucapkan salam duluan , maka jawablah.
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Kalau engkau bertemu (laqiita) , maknanya berhadapan
1. Pertemuan hakiki
2. Pertemuan hikmah, hukum nya seperti bertemu misalnya SMS, WhatsApp, telpon.
Musliman = baik muslim laki-laki maupun perempuan..
Laki-laki ucapkan salam kepada perempuan perlu perincian apakah ada fitnah atau bukan..
Kalau bertemu dengan kafir maka kita tidak ucapan salam..
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
لا تبدأوا اليهود والنصارى بالسلام، وإذا لقيتم أحدهم في طريق فاضطروه إلى أضيقه
“Janganlah kamu memulai salam kepada orang-orang Yahudi dan juga orang Nasrani. Justru, sekiranya kamu berjumpa dengan mereka di jalan, jangan Anda berikan kepada mereka jalan yang longgar (sementara anda berada pada posisi sempit)” (HR. Ahmad).
Maka itu larangan lebih keras untuk salam kepada kaum musyrikin..
Sempit, bukan mendzalimi.
Bila mereka duluan yang ucapkan salam kepada kita, maka Nabi shallallahu’alaihi wasallam memberi solusi,
Dalam sabda beliau yang lain disebutkan.
إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ “
Jika ada ahli kitab yang mengucapkan salam kepada kalian maka jawablah wa alaikum. [Muttafaq Alaihi : Al-Bukhari dalam Al-Istidzan 6258, Muslim dalam As-Salam 2163]
Karena Allah memerintahkan dalam Al-Quran,
وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)” (QS. An-Nisa`: 86).
Bila kita bertemu dengan campuran orang muslim dan kafir, maka boleh kita ucapkan salam duluan karena tujuan nya untuk orang-orang muslim.
Hukum salam bukan wajib tapi sunnah
عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ وَنَهَانَا عَنْ سَبْعٍ أَمَرَنَا بِعِيَادَةِ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعِ الْجَنَازَةِ وَتَشْمِيتِ الْعَاطِسِ وَإِبْرَارِ الْقَسَمِ أَوْ الْمُقْسِمِ وَنَصْرِ الْمَظْلُومِ وَإِجَابَةِ الدَّاعِي وَإِفْشَاءِ السَّلَامِ
Dari Barâ’ bin ‘Azib Radhiyallahuanhu berkata:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami melakukan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara juga. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk menjenguk orang yang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang yang bersin, menunaikan sumpah, menolong orang yang terzhalimi, memenuhi undangan dan menebarkan salam.
[Al-Bukhâri dan Muslim].
Rasulullah shallallahu alaihi memotivasi kita untuk ucapkan salam..
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لَا تَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوْا ، وَلَا تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا ، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ ؟ أَفْشُوْا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
Tidak akan masuk surga sampai kalian
beriman, dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan maka kalian akan saling mencintai ? Sebarkanlah salam di antara kalian..
وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَلاَمٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( أيُّهَا النَّاسُ : أَفْشُوا السَّلامَ ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ ، تَدْخُلُوا الجَنَّةَ بِسَلاَمٍ )) رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ )) .
Dari ‘Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai manusia, tebarkanlah salam, bagikanlah makanan, dan shalatlah pada waktu malam ketika orang-orang sedang tidur, niscaya kalian pasti masuk surga dengan selamat.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih).
Para salaf adalah contoh terbaik suatu amalan,
Ibnu Umar ketika ke pasar, beliau ucapkan salam kepada siapapun yang dia jumpai baik yang sholeh, tidak sholeh, kaya, miskin, semuanya..
Dari Ath-Thufail bin Ubayy bin Ka’ab, bahwa suatu ketika ia mendatangi ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, lalu pergi bersamanya ke pasar.
Ia bercerita, “Ketika kami pergi ke pasar, tiap kali Abdullah berpapasan dengan pedagang kecil, pedagang besar, orang miskin, kecuali ia mengucapkan salam padanya.”
Ath-Thufail berkata, “Aku pun mendatangi Ibnu ‘Umar pada suatu hari lalu ia meminta kepadamu untuk menemaninya ke pasar.”
Aku berkata padanya, “Apa yang engkau lakukan di pasar, padahal engkau tidak berjual beli, engkau tidak bertanya-tanya tentang barang, tidak menawar barang pula, tidak pula duduk-duduk di pasar?” Aku berkata, “Ayo duduk di sini, mari kita berbincang-bincang.”
Ia menjawab, “Wahai Abu Bathon—karena Thufail memiliki perut yang tambun–, kita pergi ke pasar hanyalah untuk mengucapkan salam, kita mengucapkan salam kepada siapa saja yang kita jumpai.”
(HR. Malik dalam Al-Muwatha’ dengan sanad yang shahih). [HR. Malik, 2:961-962, dengan sanad shahih sebagaimana disetujui oleh Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali]
Doa dalam salam..
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Semoga keselamatan atas kalian, ini untuk keselamatan jiwa, harta dan agama..
Maka ketika ucapkan salam maka hadirkan hati dengan sungguh-sungguh.
Kita doakan rahmat dan keberkahan kepada saudara kita..
Lafaz yang ini adalah lafaz yang sempurna dan boleh ucapkan yang lebih sedikit
السلام عليكم
السلام عليكم ورحمة الله
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Dalam sebuah hadits..
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ. فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ ثُمَّ جَلَسَ، فَقَالَ النَّبِىُّ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ : «عَشْرٌ ». ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ. فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ، فَقَالَ: « عِشْرُونَ ». ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ، فَقَالَ « ثَلاَثُونَ » صحيح رواه أبو داود والترمذي وغيرهما.
Dari ‘Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: as-Salâmu ‘alaikum (semoga keselamatan dari Allah tercurah untukmu). Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas salam orang tersebut, kemudian orang tersebut duduk dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Dia mendapatkan) sepuluh kebaikan”. Kemudian datang orang lain kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: as-Salâmu‘alaikum warahmatullah (semoga keselamatan dan rahmat dari Allah tercurah untukmu). Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas salam orang tersebut, kemudian orang tersebut duduk dan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Dia mendapatkan) dua puluh kebaikan”. Kemudian datang lagi orang lain kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: as-Salâmu‘alaikum warahmatullahi wabarakâtuh (semoga keselamatan, rahmat dan keberkahan dari Allah tercurah untukmu). Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas salam orang tersebut, kemudian orang tersebut duduk dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Dia mendapatkan) tiga puluh kebaikan”
HR Abu Dawud.
Ada 2 adab :
1. Kita ucapkan salam
2. Kita balas ucapkan salam
Bagaimana dengan titip salam..
Ini boleh..
Aisyah menceritakan,
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَا عَائِشَةُ هَذَا جِبْرِيلُ يَقْرَأُ عَلَيْكِ السَّلاَمَ ». فَقُلْتُ وَعَلَيْهِ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ. وَهُوَ يَرَى مَا لاَ أَرَى.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Wahai Aisyah, ini Jibril, beliau menyampaikan salam untukmu.” Aku jawab, ‘Wa alaihis Salam wa Rahmatullah.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat apa yang tidak saya lihat. (HR. Bukhari 3217, Muslim 6457 dan yang lainnya).
Diantara adab salam :
1. Yang sedikit kepada yang lebih banyak
2. Orang yang berdiri kepada yang duduk
3. Yang kecil kepada yang besar
4. Yang naik kendaraan kepada yang duduk.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah yang kecil memberi salam pada yang lebih tua, hendaklah yang berjalan memberi salam pada yang sedang duduk, hendaklah yang sedikit memberi salam pada yang banyak.” (Muttafaqun ‘alaih)
Ini sunnah TATA caranya , tapi bukan kewajiban.
Yang lebih tua lebih berhak untuk dihormati yang lebih muda.
Yang kendaraan, ucapkan salam duluan untuk mencerminkan ketawadhu’an, tidak sombong..
Orang berjalan kepada yang duduk, diserupakan dengan masuk rumah.
Orang yang banyak berarti lebih banyak hak..
Meninggalkan majelis maka dianjurkan untuk ucapkan salam.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian sampai di satu majelis, hendaklah ia mengucapkan salam. Lalu apabila ia hendak bangun (meninggalkan) majelis, hendaklah ia pun mengucapkan salam. Maka tidaklah yang pertama lebih berhak daripada yang terakhir.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan) [HR. Abu Daud, no. 5208; Tirmidzi, no. 2706; Ahmad, 2:230, 287, 439. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly berkata bahwa sanad hadits ini hasan].
Kalau kita ucapkan salam maka perdengarkan salam kita kepada orang yang kita beri salam.
Diriwayatkan oleh Tsabit bin ‘Ubaid:
أَتَيْتُ مَجْلِسًا فِيْهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ فَقَالَ: إِذَا سَلَّمْتَ فَأَسْمِعْ، فَإِنَّهَا تَحِيَّةٌ مِنْ عِنْدِ اللهِ مُبَارَكَةٌ طَيِّبَةٌ
“Aku pernah mendatangi suatu majelis yang di situ ada ‘Abdullah bin ‘Umar, Maka beliau berkata, ‘Apabila engkau mengucapkan salam, perdengarkan ucapanmu. Karena ucapan salam itu penghormatan dari sisi Allah yang penuh berkah dan kebaikan’.” (HR. Al-Bukhari).
Kita masuk rumah yang kosong pun kita ucapkan salam.
Dalam meminta izin rumah orang lain , kita ucapkan salam 3x, bila tidak ada jawaban maka kita kembali.
Ucapan salam bukan untuk yang dikenal saja, tetapi kepada semua muslim.
Faidah :
1. Menunjukkan keikhlasan
2. Tawadhu
3. Kita sangka tidak kenal ternyata kenal maka hilang kemungkinan sakit hati.
4. Menambah Ikhwah (saudara).
Bila sama-sama jumlahnya? Yang terlebih dahulu ucapkan salam adalah yang lebih afdhal.
Kalau terhalang pohon atau dinding, maka afdhal nya bila ketemu lagi kita ucapkan salam lagi.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bertemu dengan saudaranya hendaklah ia mengucapkan salam kepadanya. Lantas jika ada pohon yang menghalangi antara mereka berdua, atau dinding, atau batu, kemudian ia bertemu lagi dengannya, maka hendaklah ia mengucapkan salam lagi kepadanya.” (HR. Abu Daud)
Ucapkan salam juga kepada anak-anak, seperti dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dahulu.
Bila kepada wanita yang bukan mahram, ini boleh namun kita harus hindari yang bila dilakukan menimbulkan fitnah.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah ucapan salam kepada perkumpulan akhwat..
Intinya adalah tidak timbul fitnah.
Di sunnahkan juga bila bertemu untuk bersalaman, jabat tangan.
Juga kita iringi dengan senyuman..
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Jabir bin Sulaim,
وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ
“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud)
adab ketuk rumah adalah pelan bukan keras…
##$$-aa-$$##


