This entry is part 30 of 46 in the series dosabesar_MBAW
5 menit membaca

🗞️ *ALKABAIR – HATI DAN LISAN#31*
✒️ Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
🎤 Ustadz Dr Firanda Andirja Lc MA
🗓️ 4 Muharam 1447H/ 29 Juni 2025
Ba’da Maghrib

➡️ *Bab Barangsiapa Yang Mengaku-aku Yang bukan miliknya, dan orang yang jika bertengkar berbuat curang.*

Ada hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, dan juga diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud :

من قال أنا مؤمن فهو كافر، ومن قال هو في الجنّة فهو في النّار، ومن قال هو عالم فهو جاهل

Barangsiapa yang mengaku-aku ‘aku seorang mukmin’, maka dia kafir. Barangsiapa yang mengaku-aku bahwa dia di surga, maka dia di neraka. Dan barangsiapa yang mengaku-aku bahwa dia seorang yang berilmu, maka dia orang yang bodoh. HR Bukhari dan Muslim.

Lihat Ibnu Katsir, beliau menyebutkan di sana dan mengasalkannya kepada Ahmad dan Ibnu Mardawah.

Dalam bab ini, Dia berkata dia mukmin karena dia sedang memuji dirinya. Ini adalah rekomendasi terhadap diri sendiri.

Beda bila dia berkata saya mukmin maksudnya dia bukan kafir maka ini tidak apa-apa.

Jangan merekomendasikan diri sendiri, Allah lebih tahu orang yang bertakwa.

Lihatlah bagaimana Umar bin Khaththab yang banyak kemuliaan dan dijamin masuk surga, tetap merendah ketika dipuji orang.

Orang yang mengaku pasti surga itu aqidah yahudi.

Hadits kedua,

عَنْ أَبِي ذَرٍّ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏ “‏ لَيْسَ مِنْ رَجُلٍ ادَّعَى لِغَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُهُ إِلاَّ كَفَرَ وَمَنِ ادَّعَى مَا لَيْسَ لَهُ فَلَيْسَ مِنَّا وَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ وَمَنْ دَعَا رَجُلاً بِالْكُفْرِ أَوْ قَالَ عَدُوَّ اللَّهِ ‏.‏ وَلَيْسَ كَذَلِكَ إِلاَّ حَارَ عَلَيْهِ 

Dari Abu Dzar, dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tidak ada seorang lelakipun yang mengakui bapak kepada orang yang bukan bapaknya padahal ia tahu (kalau itu bukan bapaknya), kecuali dia telah kafir.

Barangsiapa yang mengaku sesuatu yang bukan haknya, berarti dia tidak termasuk golongan kami dan hendaklah ia menempati tempat duduknya dari api neraka.

Dan barangsiapa yang memanggil seseorang dengan panggilan “kafir” atau “musuh Allah” padahal dia tidak kafir, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh. HR Bukhari dan Muslim.

Kafir di sini maksudnya kafir asghar (kecil).

Dosa besar mengaku hebat padahal tidak hebat.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَن تَشَبَّعَ بما لَمْ يُعْطَ، فَهو كَلابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ

“Barangsiapa yang berpura-pura kenyang (mengaku punya sesuatu) padahal tidak diberikan kepadanya, maka ia seperti orang yang memakai dua baju kedustaan.” HR Bukhari dan Muslim.

Hati-hati dalam menuduh orang kafir.

➡️ *BAB mengaku-aku Berilmu untuk berbangga.*

Ini karena sombong.

Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma secara marfu :

يظهر الإسلام حتى تختلف التجار في البحر، وحتى تخوض الخيول في سبيل الله، ثم يظهر قوم يقرأون القرآن، فيقولون: مَن أقرأُ منا؟ مَن أعلمُ منا؟ مَن أفقهُ منا؟

ثم قال رسول الله ﷺ لأصحابه: «هل في أولئك من خير؟» فقالوا: «الله ورسوله أعلم»، قال: «أولئك منكم، من هذه الأمة؛ وأولئك هم وقود النار».

Akan nampak Islam (hingga keamanan terjamin) , hingga para pedagang akan berbolak-balik di lautan dan hingga kuda-kuda akan terjun di jalan Allah (jihad fii sabilillah) , kemudian akan nampak kaum-kaum yang membaca Al Qur’an, mereka berkata : siapa yang lebih pandai (membaca) dari pada kita?
Siapa yang lebih berilmu dari pada kita? Siapa yang lebih faqih dari pada kita? (ini karena ujub)

Kemudian beliau ﷺ berkata kepada para sahabatnya : apakah ada sebuah kebaikan pada mereka itu? Para Sahabat menjawab : Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Beliau bersabda : Mereka itu, dari kalian, dari umat ini. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka. HR Al Bazzar dengan sanad La Ba’sa bih (sanad tidak mengapa).
Juga riwayat Ibnu Abbas dengan makna serupa. Artinya banyak yang mendukung hadits ini.

Kalau seseorang berkata dia tahu hal itu, hukum nya ini dalam rangka memberi faidah maka tidak mengapa.

Demikian juga Nabi Yusuf saat menawarkan diri jadi pejabat karena punya ilmunya dan ingin memberi manfaat.

Ilmu itu bukan untuk disombongkan tapi untuk disedekahkan.

Dalam shahih Muslim, tiga orang yang awal masuk neraka adalah orang ahli baca Al Qur’an (karena riya).

Alqur’an itu diturunkan untuk diamalkan sedangkan saat ini banyak orang hanya membatasi hanya sampai membaca Al Qur’an saja (tidak Tadabur dan diamalkan).

Hasan Al Bashri berkata : “Al‑Qur’an itu diturunkan untuk diamalkan, akan tetapi orang‑orang justru membatasi amalan hanya dengan membacanya.”

➡️ *BAB Penyebutan Mengingkari Nikmat.*

Nikmat = kebaikan.

Dalam sebuah hadits disebutkan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
أُرِيتُ النَّارَ، فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ
قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟
قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ كُلَّهُ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ.

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Aku diperlihatkan neraka. Ternyata mayoritas penghuninya adalah wanita. Mereka kufur.” Ada yang bertanya: “Apakah mereka kufur kepada Allah?”

Beliau menjawab: “Mereka kufur terhadap suami dan kebaikan. Bila engkau telah berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian ia melihat satu (saja) kesalahan darimu, ia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat satu pun kebaikan darimu!’” HR Bukhari dan Muslim.

Wanita yang ingkari kebaikan suami. Ini dosa besar yang banyak sebabkan wanita masuk neraka.

Rasulullah ﷺ berbicara tentang masa depan. Ini keadaan dimana saat itu wanita jumlahnya lebih banyak, sampai 1 orang laki-laki mampu mengurus 50 wanita.

Juga, wanita juga banyak melakukan sebab kemaksiatan. (pakai parfum, iklan). Sebab lain adalah kufur kepada suami.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

“Nabi ﷺ keluar (menuju lapangan) pada hari Idul Adha atau Idul Fitri. Beliau salat, lalu berkhutbah, kemudian beliau datang kepada para wanita, lalu menasihati mereka dan mengingatkan mereka, serta memerintahkan mereka untuk bersedekah. Maka para wanita itu pun mulai melemparkan anting-anting dan cincin mereka ke pakaian Bilal.” HR Bukhari dan Muslim.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

لا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لا يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak bersyukur kepada Allah, orang yang tidak berterimakasih kepada orang (lain)”.
HR Tirmidzi, hasan.

Ini adalah adab, kita berterima kasih pada sebab. Yang utama adalah bersyukur kepada Allah.

Yang gak boleh ingat sebab tapi lupa kepada Allah.

Dalam hadits lain,

عَنِ الْجَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
مَنْ أُعْطِيَ عَطَاءً فَوَجَدَ فَلْيُجْزِ بِهِ، فَإِن لَّمْ يَجِدْ فَلْيُثْنِ بِهِ، فَمَنْ أَثْنَى بِهِ فَقَدْ شَكَرَهُ، وَمَنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ

Dari Jabir Ibnu Abdillah radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda :

“Barang siapa yang diberi sesuatu (pemberian), lalu ia mampu membalasnya, maka hendaklah ia membalas. Apabila ia tidak mampu membalas, maka hendaklah ia memuji (pengasih/pemberi). Barang siapa memujinya berarti ia telah bersyukur, dan barang siapa menyembunyikannya berarti ia telah (kufur) mengingkarinya.” HR Abu Dawud.

Kalau gak bisa balas, maka doakan.
Kufur disini adalah yg ingkar terhadap kebaikan orang lain.

Ada dua hal..

1. Orang berbuat baik jangan harap dibalas kebaikan, atau ucapan terima kasih.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ ۖ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu hanyalah karena mengharap wajah Allah. Kami tidak menghendaki balasan darimu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.”

2. Yang menerima pemberian, adab nya ucapan terima kasih… Mendoakan dst.

Semoga bermanfaat.

#alkabaair #sunnah #doa #terimakasih #wanita #neraka #kufur #istri #suami

Digita Template

dosabesar_MBAW

ALKABAIR – HATI DAN LISAN#30 ALKABAIR – HATI DAN LISAN#32
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?