TematikAdab & AkhlakUstadz Muhammad Anwar, Lc MPd

*HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-5)

This entry is part 5 of 21 in the series Hilyah_thalibil_ilmi

Diterbitkan pertama kali pada: 07-Nov-2021 @ 07:26

2 menit membaca

*HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-5)
Karya Syaikh Bakar Abu Zaid
Ustadz Muhammad Anwar, Lc MPd
1 Rabi’ul Akhir 1443H

♦️Telah dijelaskan perhiasan : Rendah hati dan tidak sombong, dan punya sifat qonaah serta zuhud.

Kita lanjutkan…

➡️ *Hiasi diri kita dengan keindahan ilmu.*

Yaitu dengan sikap yang baik, perilaku yang sholeh.
Konkretnya adalah dengan tetap tenang, wibawa, khusyu (konsentrasi) , rendah hati dan konsisten dalam kebenaran dan jauhilah dengan hal-hal yang berlawanan dengan dirinya.

Artinya tidak sembarangan dalam lisan dan sikap/tindakan.

📌Ibnu Sirin: “Dulu kami belajar sikap sebagaimana kita belajar ilmu.”

📌Roja bin Haiwah kepada seorang laki-laki : “ceritakan kepada kami, tapi jangan ceritakan kepada kami orang-orang pemalas. Dan jangan ceritakan kami orang-orang yang suka mencela” (jangan ikuti pemalas dan yang suka mencela).
“Wajib hukumnya bagi penuntut ilmu hadits (dan lainnya) untuk menjauhi beberapa perkara :

▶️ banyak main,
▶️ melakukan perbuatan yang sia-sia,
▶️ melakukan perbuatan yang tidak baik,
▶️ perbuatan tertawa yang terbahak-bahak, ▶️ terlalu banyak tertawa/canda (jangan sampai kecanduan dalam canda), boleh canda kecil dan jarang selama candaan tidak keluar batas kesopanan dan dari dari metode ilmu yang dipelajari/disampaikan.

Banyak bercanda akan menurunkan muruah (wibawa) seseorang.

Syaikh Bakar berkata, “Siapa orang yang memperbanyak sesuatu maka dia akan dikenal dengan sesuatu itu. Oleh karena itu penuntut ilmu harus menjaga sesuatu yang akan menurunkan kewibawaan dirinya.”

Al Ahnab bin Qais mengatakan, “Hindari untuk berbicara tentang perempuan dan makanan karena Sesunguhnya aku benci laki-laki yang suka cerita perempuan apalagi sampai ada unsur porno dan terlalu terlalu sering bicara urusan perutnya”.

Syaikh Bakar mengatakan, “Amirul mukminin pernah berkata – Orang yang menghiasi dirinya dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya, maka Allah akan hinakan dirinya.”

➡️ *Penuntut ilmu hendaknya menjaga kesopanan/kesantunan, dan menjaga sesuatu yang membawa kesantunan*

Konkretnya,
▶️ Yaitu jaga diri untuk selalu amalkan akhlak yang baik dengan selalu nampakan wajah yang ceria.
▶️ Dengan menebarkan salam kecuali dua orang yaitu :
⛔orang yang sudah di hajr/boikot (oleh penguasa – untuk memberi pelajaran) ini terjadi pada pada sahabat Ka’ab bin Malik.
⛔Dan orang kafir kecuali mereka ucapkan salam terdahulu. (salam adalah doa keselamatan).

▶️ Bisa membantu meringankan beban orang lain.
▶️ Menjaga diri dari sifat sombong dan tetap jaga kemuliaan diri.

➡️ *Jaga jiwa kesatria pada dirinya*

Harus berani sampaikan kebenaran.

Sebagai contoh sikap Ali bin Abi Thalib yang berani menggantikan posisi Nabi ﷺ di tempat tidur Nabi saat hijrah ke kota Madinah.

Kisah lain adalah Abu Dzar Al Ghifari (pemuda Yastrib/Madinah yang datang ke Mekkah) saat masuk Islam dan menampakkan keislamannya dengan bangga umumkan Islamnya di hadapan orang-orang Quraisy dengan berhala-berhalanya (yang saat itu kondisi Islam belum kuat). Sampai-sampai orang-orang Quraisy itu menyiksa Abu Dzar dan diselamatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib.

📌Penuntut Ilmu tidak lepas dan akhlak baik dan berusaha untuk tidak terlepas dari jalan yang baik walaupun perlu biaya, dicerca, dicela.dst.
Sampai kita mengira bahwa tidak ada orang lain yang mendahului amalan itu.

Semoga bermanfaat.

##$$-aa-$$##

Hilyah_thalibil_ilmi

HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-4) *HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-6 )
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?