This entry is part 16 of 16 in the series Tafsir AlAnam

Diterbitkan pertama kali pada: 28-Mar-2021 @ 21:08

6 menit membaca

📖 TAFSIR QS AL AN’AM#16 : AYAT 154-165
👤Ustadz Dr Firanda Andirja MA
🗓️ 16 Syaban 1442H
🕌 Masjid AlIkhlas Dukuh Bima (zoom)

✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

ثُمَّ اٰتَيْنَا مُوْسَى الْـكِتٰبَ تَمَا مًا عَلَى الَّذِيْۤ اَحْسَنَ وَتَفْصِيْلًا لِّـكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لَّعَلَّهُمْ بِلِقَآءِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُوْنَ

“Kemudian Kami telah memberikan kepada Musa Kitab (Taurat) untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, untuk menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman akan adanya pertemuan dengan Tuhannya.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 154)

Kenapa Allah sebutkan Taurat setelah sebutkan 10 wasiat, pada ayat-ayat sebelumnya.. Itu ternyata sudah ada pada syariat-syariat sebelumnya. Sudah diserukan oleh seluruh para nabi.

الَّذِيْۤ اَحْسَنَ
Tafsir 1: Nabi Musa
Yahudi yang muhsinin yang bisa ambil faidah dari Taurat.
Yahudi ghoiru muhsinin, yang tidak ambil Faidah dari Taurat.

Taurat adalah penjelasan, petunjuk, rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَهٰذَا كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ مُبٰرَكٌ فَا تَّبِعُوْهُ وَا تَّقُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ  ۙ 

“Dan ini adalah Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan dengan penuh berkah. Ikutilah, dan bertakwalah agar kamu mendapat rahmat,”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 155)

Selain Taurat Allah turunkan Al Qur’an yang lebih sempurna, selain 10 wasiat juga WASIAT-WASIAT yang lain. AL-QUR’AN jauh lebih sempurna dari Taurat.

لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Semakin seseorang Tadabur maka makin banyak mendapat rahmat Allah.

✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَنْ تَقُوْلُـوْۤا اِنَّمَاۤ اُنْزِلَ الْـكِتٰبُ عَلٰى طَآئِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا  ۖ وَاِ نْ كُنَّا عَنْ دِرَا سَتِهِمْ لَغٰفِلِيْنَ  ۙ 

“(Kami turunkan Al-Qur’an itu) agar kamu (tidak) mengatakan, “Kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan sebelum kami (Yahudi dan Nasrani) dan sungguh, kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca,””
(QS. Al-An’am 6: Ayat 156)

Allah turunkan Al Qur’an sebagai hujjah khususnya bagi kaum musyrikin Arab dan manusia seluruhnya pada umumnya.

Kaum musyrikin arab tidak tertarik pada Yahudi dan Nasrani. Namun mereka tetap menolak ayat-ayat Allah dengan berbagai alasan.

✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَوْ تَقُوْلُوْا لَوْ اَنَّاۤ اُنْزِلَ عَلَيْنَا الْـكِتٰبُ لَـكُنَّاۤ اَهْدٰى مِنْهُمْ  ۚ فَقَدْ جَآءَكُمْ بَيِّنَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ  ۚ فَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَّبَ بِاٰ يٰتِ اللّٰهِ وَصَدَفَ عَنْهَا  ۗ سَنَجْزِى الَّذِيْنَ يَصْدِفُوْنَ عَنْ اٰيٰتِنَا سُوْٓءَ الْعَذَا بِ بِمَا كَا نُوْا يَصْدِفُوْنَ
“atau agar kamu (tidak) mengatakan, “Jikalau Kitab itu diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk daripada mereka.” Sungguh, telah datang kepadamu penjelasan yang nyata, petunjuk dan rahmat dari Tuhanmu. Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling darinya? Kelak, Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan azab yang keras, karena mereka selalu berpaling.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 157)

Allah jelaskan bahwa Al Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab supaya kaum musyrikin Arab tidak punya alasan lagi. Sehingga udzur mereka tidak bisa diterima.

Mereka tetap berpaling dari ayat-ayat Allah walaupun mereka sangat paham kebenaran Al Qur’an sehingga disebut sangat dzalim.

Al Majusi, tidak ada kitab yang pernah turun kepada mereka, sehingga mereka bukan ahli kitab.

✳️ Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّاۤ اَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلٰٓئِكَةُ اَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ اَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ اٰيٰتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِيْ بَعْضُ اٰيٰتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا اِيْمَا نُهَا لَمْ تَكُنْ اٰمَنَتْ مِنْ قَبْلُ اَوْ كَسَبَتْ فِيْۤ اِيْمَا نِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ انْتَظِرُوْۤا اِنَّا مُنْتَظِرُوْنَ

“Yang mereka nanti-nantikan hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka, atau kedatangan Tuhanmu, atau sebagian tanda-tanda dari Tuhanmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu. Katakanlah, “Tunggulah! Kami pun menunggu.””(QS. Al-An’am 6: Ayat 158)

Maksudnya.. Bahwa Kaum musyrikin tahu makna bahasa, tahu dengan baik Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.
Lalu kapan beriman? Ini adalah ayat celaan bagi mereka.

هَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّاۤ اَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلٰٓئِكَةُ اَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ
Apakah yang mereka tunggu,
+malaikat datang kepada mereka atau
+Rabb datang kepada mereka, atau +sebagian ayat-ayat Allah. (maksudnya matahari terbit dari barat)

Dalil bahwa Allah punya sifat datang, tidak bisa ditakwil. (sudah di rinci : ada 3 model kedatangan )

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَّجَآءَ رَبُّكَ وَا لْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا 
“dan datanglah Tuhanmu; dan malaikat berbaris-baris,” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 22)

♦️TAUBAT tidak diterima.

➡️1. Nyawa di kerongkongan (terkait dengan personal)

Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ.

“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama (ruh) belum sampai di tenggorokan” (HR. Tirmidzi)

➡️2. Matahari terbit dari barat. (umum)

Keduanya, taubat tidak diterima dalam kondisi Al Muayanah (lihat kavlingnya di surga atau neraka)

 يَوْمَ يَأْتِيْ بَعْضُ اٰيٰتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا اِيْمَا نُهَا لَمْ تَكُنْ اٰمَنَتْ مِنْ قَبْلُ اَوْ كَسَبَتْ فِيْۤ اِيْمَا نِهَا خَيْرًا 

Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu.

♦️⏩Maksudnya ada dua kelompok yang merugi.

➡️1. Tidak beriman
➡️2. Beriman tapi tidak beramal (menunjukkan bahwa amal harus sesuai dengan iman, dan iman konsekuensi nya adalah amal.

✳️ Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَا نُوْا شِيَـعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِيْ شَيْءٍ ۗ اِنَّمَاۤ اَمْرُهُمْ اِلَى اللّٰهِ ثُمَّ يُنَـبِّـئُـهُمْ بِمَا كَا نُوْا يَفْعَلُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan-golongan, sedikit pun bukan tanggung jawabmu (Muhammad) atas mereka. Sesungguhnya urusan mereka (terserah) kepada Allah. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 159)

Memecah belah agama (ahli kitab).

Ada dua qiroat
فَرَّقُوْا

Farroqu (memecah belah)
Faariqu (meninggalkan)

Salah satu tafsir ayat ini maksudnya para pelaku bid’ah.

✳️ Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مَنْ جَآءَ بِا لْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَا لِهَا ۚ وَمَنْ جَآءَ بِا لسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزٰۤى اِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ

“Barang siapa datang (pada hari kiamat) membawa kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa membawa 1 dosa dibalas seimbang (1) dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi).”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 160)

Ayat ini menunjukkan bahwa pahala minimal adalah 10 x lipat.

Ayat ini adalah penjelasan ayat yang lain.

{مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا}

Barang siapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya. (An-Naml: 89)

 وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضاعِفْها
dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya (An Nisa ayat 40)

Dalam hadits, disebutkan
lipat 700x lipat (QS AL Baqarah)
atau kelipatan yang banyak.

⏩ Ini dalil bahwa dosa tidak dilipatgandakan, tetapi dibesarkan dalam kondisi tertentu.
Misalnya
Maksiat di tanah haram
Maksiat di bulan haram.

Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi).
Yaitu orang yang bawa kebaikan (tidak dikurangi pahala), bahkan ditambah.
Yang bawa dosa tidak akan ditambah dosanya, tidak akan memikul dosa orang lain, tidak akan diambil pahalanya.

✳️ Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اِنَّنِيْ هَدٰٮنِيْ رَبِّيْۤ اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ ۚ دِيْنًا قِيَمًا مِّلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۚ وَمَا كَا نَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus. Dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik.””
(QS. Al-An’am 6: Ayat 161)

Nabi disuruh Allah untuk menjelaskan bahwa agama Islam adalah agama yang ikhlas, bukan kesyirikan.

✳️ Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اِنَّ صَلَا تِيْ وَنُسُكِيْ وَ مَحْيَايَ وَمَمَا تِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ 
“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, kehidupan , dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 162)

وَنُسُكِيْ
Sembelihan
Atau ibadah secara umum.

✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَا شَرِيْكَ لَهٗ ۚ وَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَ نَاۡ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ

“tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama berserah diri (muslim).””(QS. Al-An’am 6: Ayat 163)

Ini adalah ikrar keikhlasan.

وَ مَحْيَايَ
Semua kehidupan duniawi bisa bernilai ibadah dengan syarat Ikhlas karena Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

Ini juga bantahan kepada sekuler, yang mengatakan agama ya agama, pisah dengan kehidupan.
Dalam Islam semua ada aturannya.

✳️ Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اَغَيْرَ اللّٰهِ اَبْغِيْ رَبًّا وَّهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ ۗ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَـفْسٍ اِلَّا عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَا زِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى ۚ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْـتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Apakah (patut) aku mencari tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu. Setiap perbuatan dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitahukan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan.”” (QS. Al-An’am 6: Ayat 164)

✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَـكُمْ خَلٰٓئِفَ الْاَ رْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَاۤ اٰتٰٮكُمْ ۗ اِنَّ رَبَّكَ سَرِيْعُ الْعِقَا بِ ۖ وَاِ نَّهٗ لَـغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai penguasa-penguasa di Bumi dan Dia mengangkat (derajat) sebagian kamu di atas yang lain, untuk mengujimu atas (karunia) yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat memberi hukuman, dan sungguh Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 165)

وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَـكُمْ خَلٰٓئِفَ الْاَ رْضِ

خَلٰٓئِفَ
Bentuk jamak dari Khalifah (wakil atau pengganti)
Jadi silih berganti.

♦️❗✳️Ini dalil bahwasanya apa yang kalian miliki bukan milik kalian Sesunguhnya, karena kalian hanyalah wakil (Khalifah).

Allah manusia bertingkat-tingkat, agar kehidupan bisa berjalan.
Agar Allah uji dengan semua yang Allah berikan baik kebaikan ataupun keburukan.

Semua yang kita miliki ada tanggung jawabnya.

Allah sangat cepat adzab, hati-hati dengan maksiat.

وَاِ نَّهٗ لَـغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Ada lam taukid, sebagai penekanan.

Allah lebih besar ampunan dan rahmatnya.

Semoga bermanfaat

##$$-aa-$$##

Tafsir AlAnam

TAFSIR QS AL AN’AM#15 : AYAT 148-153
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?