This entry is part 12 of 12 in the series Kaidah Kehidupan Dalam AlQuran

Diterbitkan pertama kali pada: 14-Mar-2021 @ 10:47

6 menit membaca

📖 KAIDAH KEHIDUPAN AL QUR’AN #12
👤 Ustadz Dr Firanda Andirja Lc MA
🗓️ 27 Rajab 1442H

➡️ KAIDAH KE 48 : SETIAP ORANG MENGETAHUI SUMBER AIR MEREKA

Firman Allah,

عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍۢ مَّشْرَبَهُمْ

Setiap orang mengetahui dimana sumber air mereka.

Ayat ini lengkapnya,

۞ وَإِذِ ٱسْتَسْقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِۦ فَقُلْنَا ٱضْرِب بِّعَصَاكَ ٱلْحَجَرَ ۖ فَٱنفَجَرَتْ مِنْهُ ٱثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًۭا ۖ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍۢ مَّشْرَبَهُمْ ۖ كُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ مِن رِّزْقِ ٱللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.
Surat Al-Baqarah (2) Ayat 60

Ini cerita tentang mukjizat Nabi Musa alaihissalam, saat jalan dengan kaumnya dan kehausan dan Nabi Musa meminta kepada Allah.

Kenapa 12 mata air? Karena bani Israil ada 12 suku agar tidak rebutan. Karena masing-masing fokus dengan sumber airnya.

Maksud penulis disini adalah agar masing-masing sibuk dengan apa yang dimudahkan baginya…

Ini sama dengan firman Allah,

قُلْ كُلٌّۭ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِۦ
Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya / profesinya masing-masing”. Surat Al-Isra (17) Ayat 84

Nabi ﷺ juga bersabda, “Beramallah, setiap orang akan dimudahkan sesuai takdirnya”.

Ini yang dibutuhkan oleh setiap muslimin, untuk tahu kelebihan yang ada pada dirinya dan fokus dengannya.

Ibnu Abdil Bar, mengatakan nasihat Imam Malik. Sungguh indah perkataan Imam Malik bin Anas rahimahullahu Ta’ala ketika berdiskusi dengan seseorang yang menyibukkan dirinya dalam ibadah.

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ الْعُمَرِيَّ الْعَابِدَ كَتَبَ إِلَى مَالِكٍ يَحُضُّهُ إِلَى الِانْفِرَادِ وَالْعَمَلِ وَيَرْغَبُ بِهِ عَنِ الِاجْتِمَاعِ إِلَيْهِ فِي الْعِلْمِ فَكَتَبَ إِلَيْهِ مَالِكٌ

“Sesungguhnya ‘Abdullah bin Abdul Aziz Al-‘Umarri Al-‘Aabid, seorang ahli ibadah, menulis surat kepada Imam Malik. Beliau menyarankan (memotivasi) Imam Malik untuk menyendiri (uzlah) dan sibuk beribadah dalam kesendirian. Dan dengan motivasi itu, dia ingin menggembosi semangat Imam Malik dari mengajarkan ilmu. Imam Malik pun membalas surat tersebut dengan mengatakan,

أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَسَّمَ الْأَعْمَالَ كَمَا قَسَّمَ الْأَرْزَاقَ فَرُبَّ رَجُلٍ فُتِحَ لَهُ فِي الصَّلَاةِ وَلَمْ يُفْتَحْ لَهُ فِي الصَّوْمِ وَآخَرَ فُتِحَ لَهُ فِي الصَّدَقَةِ وَلَمْ يُفْتَحْ لَهُ فِي الصِّيَامِ وَآخَرَ فُتِحَ لَهُ فِي الْجِهَادِ وَلَمْ يُفْتَحْ لَهُ فِي الصَّلَاةِ وَنَشْرُ الْعِلْمِ وَتَعْلِيمُهُ مِنْ أَفْضَلِ أَعْمَالِ الْبِرِّ وَقَدْ رَضِيتُ بِمَا فَتَحَ اللَّهُ لِي فِيهِ مِنْ ذَلِكَ وَمَا أَظُنُّ مَا أَنَا فِيهِ بِدُونِ مَا أَنْتَ فِيهِ وَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ كِلَانَا عَلَى خَيْرٍ وَيَجِبُ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنَّا أَنْ يَرْضَى بِمَا قُسِّمَ لَهُ

‘Sesungguhnya Allah Ta’ala itu membagi amal (ibadah) sebagaimana Allah membagi rizki (maksudnya, ada yang sumber rizkinya dari berdagang, menjadi petani, dan seterusnya, pen.). Ada orang yang dibukakan untuknya pintu shalat, namun tidak dibukakan pintu puasa. Sedangkan yang lain, dibukakan pintu sedekah, namun tidak dibukakan pintu puasa. Yang lain lagi, dibukakan pintu jihad, namun tidak dibukakan pintu shalat. Adapun menyebarkan ilmu dan mengajarkannya termasuk di antara amal kebaikan yang paling utama. Dan sungguh aku telah ridha dengan apa yang telah Allah Ta’ala bukakan untukku. Aku tidak menyangka amal yang Allah mudahkan untukku itu lebih rendah dari amal yang Engkau kerjakan. Aku berharap bahwa kita berdua berada dalam kebaikan. Dan wajib atas setiap kita untuk ridha terhadap amal yang telah dibagi untuknya.” (At-Tamhiid, 7/158 dan Siyar A’laam An-Nubalaa’, 8/114)

Ini jawaban yang penuh tawadhu dari Imam Malik.

Masing-masing sudah tahu spesialisnya dimana supaya lebih produktif.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala suka jika salah seorang dari kalian mengerjakan suatu amalan, maka dia mengerjakannya dengan profesional.”.

Sahabat juga demikian, kecuali para Nabi, semuanya dibukakan segala teladan.
Sahabat yang menonjol dalam semua amalan adalah Abu Bakar, yang Rasulullah ﷺ doakan bisa masuk surga dari semua pintu surga.

Disebutkan dalam hadits shahih bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya :

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ صَائِمًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا، قَالَ: فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ جَنَازَةً؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا، قَالَ: فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مِسْكِينًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا، قَالَ: فَمَنْ عَادَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مَرِيضًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ، إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Siapakah diantara kalian yang puasa pada hari ini?” Abu Bakar Radhiyallahu anhu berkata, “Saya.” Nabi bertanya, “Siapakah diantara kalian yang mengiringi atau mengantarkan (pemakaman) jenazah pada hari ini?” Abu Bakar menjawb, “Saya.” Nabi bertanya lagi, “Adakah diantara kalian yang memberikan makan kepada orang miskin hari ini?” Abu Bakar menjawb, “Saya.” Nabi bertanya lagi, “Adakah diantara kalian yang menjenguk orang sakit pada hari ini?” Abu Bakar berkata, “Saya.” Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah kebaikan-kebaikan ini berkumpul pada seseorang kecuali dia akan masuk syurga”.
HR Muslim.

Demikian juga Ibnu Mubarok yang ahli ilmu, juga sedekah banyak dan unggul dalam jihad.

Jaman sekarang orang lebih cocok dengan spesialis, yang Allah mudahkan untuk kita.

✳️♦️Dari sini, seorang jangan hasad dengan orang lain dan kita ridha dengan kemudahan amal sholeh kita. ✔️

Jangan ditekuni semua yang akhirnya bisa gagal semua.

➡️ KAIDAH KE 49 : Tanyakan pada ahli ilmu bila tidak mengetahui

Allah ﷻ berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui”.

➡️Tanya pada yang pakar.

Ayat ini datang dalam dua ayat,

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًۭا نُّوحِىٓ إِلَيْهِمْ ۚ فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,
Surat An-Nahl (16) Ayat 43

وَمَآ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًۭا نُّوحِىٓ إِلَيْهِمْ ۖ فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. Surat Al-Anbiya (21) Ayat 7

Kenapa ayat ini turun kepada kaum musyrikin? Karena mereka tidak beriman dan sudah banyak Nabi-nabi sebelum Rasulullah ﷺ.

❗❗✳️ Ayat ini mengajarkan kepada kita, kalau tidak tahu, jangan nekat.

▶️ Obat penyakit tidak tahu adalah bertanya, tanya kepada yang pakar. ❕❕

Tidak tahu =kejahilan.

Dari Sahabat Jabir berkata, “Kami pernah bepergian, kemudian salah seorang dari kami terkena batu sehingga kepalanya terluka. Kemudian ia bermimpi basah dan bertanya kepada sahabatnya, “apakah padaku ada keringanan untuk bertayamum?”. Maka sahabatnya mengatakan, “kami tidak menemukan keringanan untukmu sedang kamu mampu menggunakan air”, sehingga ia pun mandi, kemudian mati. Maka ketika kembali dan menemui Rasullah kami pun menceritakan hal tersebut, dan beliau bersabda, “Mereka telah membunuhnya dan semoga Allah membunuh mereka. Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengetahui? Karena obat tadi tidak tahu adalah bertanya. Padahal cukup baginya hanya dengan bertayamum dan menutup lukanya dengan kain kemudian mengusapnya.” (HR. Abu Dawud)

➡️✳️ Yang jadi masalah adalah banyak orang yang sakit (Jahil), terkadang sok tahu (Jahil murokab =jahil kuadrat).

Poin sangat penting adalah kepada siapa kita bertanya.

Kalau dalam urusan dunia kita selektif dalam memilih sumber yang ditanya, dalam urusan akhirat sering kita ngasal. Banyak yang asal praktek. ✳️➡️

❗❗▶️Hati-hati dalam memilih Ustadz yang asal Jawab, banyak Ustadz yang bermudah-mudahan dalam menghalalkan sesuai hawa nafsu. ❕❕

Bahaya berfatwa tanpa Ilmu.

Al imam Malik bin Anas rahimahullah berkisah,

Ada seseorang masuk menemui Rabi’ah ( guru imam Malik) dan mendapati beliau dalam keadaan menangis, maka orang tadi bertanya kepada beliau :
Apa yang membuat mu menangis?

Dia pun terkejut karena tangisannya orang itu kembali bertanya:
Apakah karena musibah telah menimpamu?

Dia menjawab:
Tidak, akan tetapi orang yang TIDAK MEMILIKI ILMU telah dimintai fatwa hingga muncullah perkara yang besar dalam Islam.

Rabi’ah berkata:
Sebagian orang yang berfatwa di sini lebih pantas di penjara dari pada para pencuri.

Padahal itu abad ke 2,bagaimana dengan abad ini yang makin banyak orang yang tidak punya ilmu dimunculkan seperti orang alim.

➡️ KAIDAH KE 50 : AL QUR’AN memberi petunjuk kepada jalan yang terbaik

اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰ نَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ

Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang terbaik.

Semua kaidah Al Qur’an adalah yang terkait dari semua sisi (aqidah, hukum, keluarga, ibadah, kehidupan, kepemimpinan, dll)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰ نَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَ يُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرًا  ۙ 

“Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar,”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 9)

Hukum Qisas adalah terbaik, bila diterapkan akan banyak orang takut melakukan kejahatan.

Al Qur’an ajarkan banyak hal tentang kehidupan.

Al Qur’an jelaskan beban ibadah, dengan sangat detail.

Dalam agama lain tidak ada seperti ini.

Kita harus yakin dengan firman Allah..

▶️✳️❗Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk yang terbaik.

➡️Bisa jadi orang tidak bisa lihat keindahan Alqur’an karena kekurangan pada dirinya.

Semoga bermanfaat,

##$$-aa-$$##

Kaidah Kehidupan Dalam AlQuran

KAIDAH KEHIDUPAN DALAM ALQUR’AN#11
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?