Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc MATematikTazkiyatun Nafs

KELAS UFA# TADABUR 21-22-23-24-25 : JAGA KELUARGA -SOMBONG-Al ABRAR-Nabi Yusuf.

This entry is part 18 of 37 in the series kelasUF

Diterbitkan pertama kali pada: 07-Jun-2021 @ 08:55

7 menit membaca

KELAS UFA# TADABUR 21-22-23-24-25
KELAS UFA. 09.05.2021

➡️Tadabbur Quran 21 – Saudaraku, Jagalah Keluarga Kita Dari Api Neraka

Kali ini kita akan mentadabburi Alquran, Surat At-Tahrim ayat 6 dan 10,11

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ‎

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim : 6)

Surat ini mengingatkan kita bahwa masing-masing akan bertanggung jawab atas dirinya. Tidak bisa ditolong oleh orang lain.

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang kepala rumah tangga mendakwahi anak dan istrinya., dia tidak boleh egois untuk dirinya sholeh.. Tapi kalau anak istrinya tidak beriman maka dia lepas tanggung jawab, yang penting sudah berusaha.

Maka, setelah itu Allah sebutkan kisah istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth.

 ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ

Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Luth

 كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ

Bahwasanya dua orang ini adalah istri dua orang sholeh (Nabi).

فَخَانَتَاهُمَا
Namun kedua orang istri ini ternyata berbuat syirik.

 فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

Kata Allah. Kedua Nabi tersebut tidak bisa membantu kedua istrinya sama sekali

وَقِيلَ ادْخُلا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ
Bahkan ketika masuk neraka tidak bisa belakangan.
Bukan karena istri Nabi, nanti belakangan aja.
Tapi barengan dengan yang lain karena syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian Allah sebutkan

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ آمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ

Tentang istri Firaun. Yang suami nya kafir, istrinya sholehah.
Kekafiran suaminya tidak mempengaruhi dirinya..

Suaminya, Firaun di neraka yang paling dasar (kemungkinan), sementara istrinya, Asyiah binti Muzahim di surga Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ini menunjukkan bahwa kita masing-masing akan bertanggung jawab.

Makanya Allah juga berfirman

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا

Wahai manusia sekalian, Takutlah kalian kepada suatu hari dimana ayah tidak bisa menolong anaknya dan anak tidak menolong ayahnya.
Masing-masing akan kabur meninggalkan yang lainnya.

(يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ * وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ * وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ)

pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. (‘Abasa: 34-36)

Maka, kita kerja sama dalam keluarga untuk saling menasihati, ajak keluarga untuk menjadi sholeh…. Bila tidak mau sholeh maka masing-masing akan tanggung jawab sendiri-sendiri.

➡️ Tadabbur Quran 22 – Sombong dan Melampaui Batas, Saat Merasa Dirinya Sudah Cukup

Kali ini kita akan mentadabburi Alquran, QS. Al-‘Alaq : 6 – 7

كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ . أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. (QS. Al-‘Alaq : 6 – 7)

Kalau manusia merasa berkecukupan, merasa sudah kaya, sudah gak butuh sama yang lain, dia melakukan thughyan (melampui batas).

Seperti firman Allah..

إِنَّا لَمَّا طَغَا ٱلْمَآءُ حَمَلْنَـٰكُمْ فِى ٱلْجَارِيَةِ

Sesungguhnya Kami, tatkala air telah lampoi batas (sampai ke gunung-saat banjir Nabi Nuh) Kami bawa kalian , ke dalam bahtera,
Surat Al-Haqqah (69) Ayat 11

Demikian manusia ketika miskin, maka tawadhu. Namun bila sudah punya jabatan, kekayaan maka dia melakukan hal-hal yang melampaui batas.

Pada hakikatnya dia tetap fakir, makanya Allah menggunakan ungkapan..

أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ
Tatkala dia merasa dirinya berkecukupan, padahal hakikatnya dia tidak pernah bisa mencukupkan diri dari kenikmatan yang Allah berikan kepadanya.

Bagaimana pun dia tetap butuh kepada bumi Allah, butuh udara Allah, butuh Allah untuk membuat jantung tetap berdetak.
Dia tidak pernah tidak butuh kepada Allah..

Makanya Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ

Wahai manusia sekalian, kalian sesungguhnya senantiasa fakir, butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tapi dia lupa bila melihat dirinya sudah hebat.
Makanya kita harus hati-hati… Bila sudah merasa hebat, karena hati ini sulit untuk dikontrol.

Ayat ini sebenarnya turun tentang Abu Jahal yang dirinya merasa hebat karena dia dari bani makhzum, anak buah banyak dan harta yang banyak (terkumpul 3 kelebihan), sehingga berbuat yang melampaui batas terhadap Nabi ﷺ dan para sahabat.

Kebanyakan manusia sekarang baru punya kelebihan sedikit sudah melampaui batas, lupa diri bahwa dia tercipta dari air mani yang hina, di dalam perutnya ada kotoran yang bau dan kalau mati akan jadi bangkai yang hina.

Hal-hal yang membuat Kita lupa diri harus kita jauhi.

Nabi ﷻ bersabda..

 وَالْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ عِنْدَ أهلِ الخيلِ والإبلِ

“Kesombongan dan kekerasan hati itu ada pada para pemilik kuda dan pemilik unta .

وَالسَّكِينَةُ وَالْوَقَارُ فِي أَصْحَابِ الشَّاءِ

Adapun ketenangan hati, kerendahan hati bersama pemilik kambing”. 

Maka untuk barang-barang mewah sekarang berpotensi membuat orang sombong sangat besar.

Kalau tidak bisa dihindari dan memiliki karena keperluan maka dia harus melawan dirinya untuk hidup sederhana..

➡️ Tadabbur Quran 23 – Kisah Yusuf dengan Wanita-wanita Istana

Kisah Nabi Yusuf alaihissalam, yang dihadirkan dihadapan para Ibu-Ibu di kota Mesir.

Nabi Yusuf disuruh lewat di depan mereka..

Kata Allah Subhanahu wa Ta’ala,

فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً وَآتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِّنْهُنَّ سِكِّينًا وَقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ ۖ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَٰذَا بَشَرًا إِنْ هَٰذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ

Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka”. Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia”. (QS. Yusuf : 31)

Allah menggunakan kata,
وَقَطَّعْنَ

Ada yang mengartikan lukanya sampai dalam tetapi mereka tidak sadar saking terpesona kepada ketampanan Nabi Yusuf.

Intinya, bagaimana para ibu-ibu tersebut di puncak syahwat, mereka lupa diri.
Dan inilah kondisi manusia apabila di puncak syahwat mereka tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan.

Maka Islam melarang kita terjebak dalam kondisi demikian, contohnya Nabi ﷺ berkata kepada Ali radliyallahu ‘anhu,

يَا عَلِيّ ُ! لاَتُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ, فَإِنَّمَا لَكَ الأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الأَخِيْرَةُ
“Wahai Ali janganlah engkau ikutkan pandangan (pertama yang tidak sengaja) dengan pandangan (berikutnya), karena bagi engkau pandangan yang pertama dan tidak boleh bagimu pandangan yang terakhir (pandangan yang kedua)”

Maksudnya kalau sudah melihat segera tundukkan..

Pandangan pertama hukumnya halal
Pandangan kedua dan seterusnya hukumnya haram.

Pandangan pertama bila diikuti pendangan kedua dan ketiga, maka syahwat akan bergelora dan susah mengontrol diri.

Orang beriman, jika dia sudah merasa digoda syetan, maka dia ingat Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا اِذَا مَسَّهُمْ طٰٓئِفٌ مِّنَ الشَّيْطٰنِ تَذَكَّرُوْا فَاِ ذَا هُمْ مُّبْصِرُوْنَ 
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 201)

Kalau dia biarkan dirinya, dia terjebak pada sesuatu yang dia tidak sadar.

Seperti wanita-wanita tadi yang tidak sadar tangan terluka saat syahwat bergelora.
Begitu juga laki-laki bila syahwat sudah bergelora hilang seluruh akalnya.

Hati-hati dengan HP yang berseliweran tontonan yang haram.

Menundukkan pandangan (pertama) itu mudah, yang susah bila sudah 3x melihat..

➡️ Tadabbur Quran 24 – Sifat Al-Abrar dan Al-Muqarrabun

Allah berbicara tentang penghuni surga.

Kali ini kita akan mentadabburi Alquran Surat Al-Muthaffifin: 22-28

(إِنَّ ٱلۡأَبۡرَارَ لَفِی نَعِیمٍ)
[(عَلَى ٱلۡأَرَاۤىِٕكِ یَنظُرُونَ)
(تَعۡرِفُ فِی وُجُوهِهِمۡ نَضۡرَةَ ٱلنَّعِیمِ)
(یُسۡقَوۡنَ مِن رَّحِیقࣲ مَّخۡتُومٍ)
(خِتَـٰمُهُۥ مِسۡكࣱۚ وَفِی ذَ ٰ⁠لِكَ فَلۡیَتَنَافَسِ ٱلۡمُتَنَـٰفِسُونَ)
(وَمِزَاجُهُۥ مِن تَسۡنِیمٍ)
(عَیۡنࣰا یَشۡرَبُ بِهَا ٱلۡمُقَرَّبُونَ)

_Sesungguhnya orang yang Al Abrar (orang-orang yang baik, Al Abrar diantaranya diambil dari Al Bar artinya dataran yang luas, yaitu yang lakukan kebaikan yang banyak)
Sedekah banyak
Dzikir banyak
Sholat banyak
berbakti juga banyak….. itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga), mereka (duduk) di atas (Al Aroik- dipan-dipan yang sudah dihias) sambil memandang. (semua yang dipandang adalah kenikmatan).

Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan.

Mereka diberi minum dari رَّحِیقࣲ (khamr yang sangat lezat)
yang dilak (tempatnya), laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah._ (QS. Al-Muthaffifin : 22-28)

Disini Allah sebutkan dua tingkatan penghuni surga, yaitu Al Abrar dan Al Muqorrobun (lebih tinggi)

Al Abrar minum air campur tasnim. (rahiq)
Al Muqorrobun minum tasnim semua.

Maka kita harus berlomba-lomba beramal sholeh karena surga bertingkat-tingkat.

➡️ Tadabur 25: Kiat Lari dari Maksiat, Faidah dari kisah Nabi Yusuf

Nabi Yusuf alaihissalam digoda dengan godaan yang luar biasa oleh istri Sang Menteri yang konon namanya Zulaikho, dalam kondisi menutup pintu, dia berhias, merayu, tidak ada yang melihat.

Bagaimana cara Yusuf selamat?

وَقَا لَتْ هَيْتَ لَـكَ

Ketika Yusuf diajak berzina,

1. Yusuf berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

قَا لَ مَعَا ذَ اللّٰهِ

Aku berlindung kepada Allah
Ini godaan dan dia ucapkan, dia ingatkan pada dirinya dan pada sang wanita.

2. Mengingat kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala

اِنَّهٗ رَبِّيْۤ اَحْسَنَ مَثْوَايَ

Sesungguhnya RabbKu telah berbuat baik kepada ku.

Ada dua tafsiran.

A.

رَبِّيْۤ
Maksudnya adalah majikanku, yaitu suamimu sangat baik kepadaku, bagaimana aku bisa membalas dengan berzina dengan istrinya.

B. Maksudnya Allah, Allah sudah baik kepada ku, banyak nikmat yang Allah berikan kepada ku. Bagaimana aku membalas nikmat yang banyak dengan membangkang perintah Allah.

Ini sebab yang kuat, Allah bisa cabut kenikmatan bila Allah berkehendak.

اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الظّٰلِمُوْنَ

Sesungguhnya tidak akan beruntung orang yang berbuat dosa /dzalim.

3. NABI Yusuf kabur dari lokasi kemaksiatan.

وَا سْتَبَقَا الْبَا بَ
Dia pun kabur / lari dari lokasi kemaksiatan.

Oleh karenanya tentang Kisah pembunuh 100 nyawa, dia bertanya kepada orang alim ingin bertobat, “Apakah masih bisa?”

Orang alim jawab, “Bisa, tapi pergi ke kampung lain. Tinggalkan orang-orang yang lama beribadah bersama orang kampung tersebut”

Jadi orang yang ingin tinggalkan maksiat harus meninggalkan tempat kemaksiatan tersebut.. Sebab-sebab kemaksiatan harus ditinggalkan. Nabi Yusuf kabur dengan lari, bukan cuma pelan-pelan.

4. NABI Yusuf berdoa kepada Allah.

Seorang tidak boleh Pede dengan iman yang dia miliki.

قَا لَ رَبِّ السِّجْنُ اَحَبُّ اِلَيَّ مِمَّا يَدْعُوْنَنِيْۤ اِلَيْهِ ۚ وَاِ لَّا تَصْرِفْ عَنِّيْ كَيْدَهُنَّ اَصْبُ اِلَيْهِنَّ وَاَ كُنْ مِّنَ الْجٰهِلِيْنَ

“Yusuf berkata, “Wahai Rabb ku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh / maksiat .””

Nabi Yusuf akui dirinya lemah.

Dan Akhirnya Allah kabulkan doa Nabi Yusuf.

Dan kadang kita hadapi pilihan.
Maksiat atau penderitaan, maka pilihlah penderitaan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا سْتَبَقَا الْبَا بَ وَقَدَّتْ قَمِيْصَهٗ مِنْ دُبُرٍ وَّاَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَا الْبَا بِ ۗ قَا لَتْ مَا جَزَآءُ مَنْ اَرَا دَ بِاَ هْلِكَ سُوْٓءًا اِلَّاۤ اَنْ يُّسْجَنَ اَوْ عَذَا بٌ اَلِيْمٌ
“Dan keduanya berlomba menuju pintu dan perempuan itu menarik baju gamisnya (Yusuf) dari belakang hingga koyak dan keduanya mendapati suami perempuan itu di depan pintu. Dia (perempuan itu) berkata, “Apakah balasan terhadap orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan siksa yang pedih?””
(QS. Yusuf 12: Ayat 25)

kelasUF

KELAS UFA# TADABUR 16-17-18-19-20 : Bersyukur – Bertakwa KELAS UFA# KEJAYAAN DIAWALI UJIAN, JANJI IBLIS, EFEK MAKSIAT, JAGA LISAN, QALBUN SALIM
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?