Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc MATazkiyatun Nafs

KELAS UFA#Materi 10-11-12-13-14 : FAIDAH IKHLAS

This entry is part 6 of 37 in the series kelasUF

Diterbitkan pertama kali pada: 17-Des-2020 @ 11:53

7 menit membaca

FAIDAH IKHLAS
Ustadz Dr Firanda Andirja Lc. MA.
Kelas UFA – Materi pekan 3

➡️Diantara Faidah (7) keikhlasan adalah meraih kebahagiaan.

Sebagaimana diingatkan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, yang berkata,

“Karena poros dan sumber kebahagiaan itu 2,yaitu
1️⃣ Ikhlas kepada Allah
2️⃣ Berbuat baik kepada hamba-hamba Allah dengan berbagi macam perbuatan baik.

Dua perbuat baik ini adalah sumber kebahagiaan.
Barangsiapa semakin Ikhlas kepada Allah maka akan semakin bahagia
Barangsiapa yang Semakin membantu orang lain, dia akan semakin bahagia.

Syaikh As Sa’di mengatakan, ini adalah Madaarus Sa’adah, yaitu poros kebahagiaan.

Orang yang ikhlas tidak mementingkan komentar netizen, tidak memprihatinkan jumlah follower.
Bahkan orang yang banyak follower belum tentu bahagia, dan orang yang tidak punya follower akan bahagia bila punya hubungan sangat kuat dengan Allah, karena dia ikhlas.

CARI Kebahagiaan sulit? Maka Ikhlaskan hati anda…

✅ Faidah ke 8,adalah orang yang ikhlas akan tegar dalam menjalankan aktifitas ibadahnya.

Kalau dia dakwah akan tegar, tidak terputus di tengah jalan.
Kalau sedekah tidak putus sedekahnya
Kalau sholat malam akan terus sholat malam

Dia ikhlas, dia yakin Allah tahu apa yang ia lakukan. Ridho walaupun ganjarannya ditunda.
Dan dia sabar bila ada ujian.
Ini karena dia Ikhlas, dihadapi tulus.

Orang yang ikhlas perkara yang berat menjadi ringan.. Karena dia tahu orang yang beramal sholeh pasti ada ujian..

✅ FAIDAH keikhlasan yang ke 9,adalah ikhlas akan membentengi hati kita dari penyakit yang dengki, hasad, kejengkelan, dendam dll.

Dalam suatu hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

Ada tiga perkara yang jika dilakukan oleh seseorang maka hatinya tidak akan mengalami “ghil” yaitu penyakit hati.

✅1. Mengikhlaskan amalannya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ibnul Qayyim ketika menjelaskan hadits ini, beliau mengatakan, “Hatinya tidak akan membawa kebencian, kedendaman, hasad dll”.

Dengan ikhlas, seseorang berfikir buat apa dia dendam/hasad, dia ikhlaskan semua kepada Allah.

Orang Ikhlas hatinya akan bersih dari berbagi macam penyakit.

Jika seseorang mudah hasad, berarti Ikhlasnya bermasalah.

Jika seseorang mudah dendam, berarti Ikhlasnya bermasalah.

Jika timbul keinginan keburukan untuk orang lain maka hatinya kurang Ikhlas.

Orang Ikhlas hanya perhatian bagaimana penilaian Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadapnya sehingga tidak timbul penyakit hati, karena ikhlas membentengi hatinya.

➡️Materi 12 – Bahaya Riyaa’

Ikhlas perlu perjuangan, dan menjaga keikhlasan perlu perjuangan yang lebih.

Maka kita harus hindari segala penyakit yang mengotori keikhlasan kita.

Diantara penyakit itu yang terbesar adalah,
Riyaa’ dan ujub. Yang semacam dengan riya adalah sum’ah.

Dua penyakit ini, bukan menimpa orang-orang yang tidak sholeh tetapi justru menyerang orang-orang yang sholeh yang punya kelebihan dalam amal sholeh, yang rajin sedekah, rajin sholat, rajin dakwah, rajin ikut pengajian…
Kalau maksiat maka tidak ada yang akan diriyaa’kan, tidak ada yang diujubkan.

1️⃣ Riyaa’ dan sum’ah.

Riya diambil dari kata
الر ؤ ية
Yaitu melihat..
رَأى
Ra-aa

Kemudian dijadikan fi’il muta’addi yang memerlukan obyek dua menjadi
Ra-aa, yu ro i – riyaan
Artinya memperlihatkan, Memperlihatkan amal sholeh kepada orang lain.

Kata-kata riya dalam Al Qur’an banyak, seperti Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

بَطَرًۭا وَرِئَآءَ ٱلنَّاسِ
Seperti orang kafir yang keluar berperang dalam kondisi sombong dan riya.

كَٱلَّذِى يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ
Seperti orang yang berinfak karena riya

Kemudian Allah sebut dalam fi’il mudhori’

يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ
Allah menyebutkan orang-orang munafik kalau sholat yurooun (riya).

 فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6)

Celakaaah bagi orang-orang yang shalat, yang mereka lalai dalam sholat mereka dan mereka melakukan riya.

Riya adalah memperlihatkan, sedangkan sum’ah adalah memperdengarkan.

Riya adalah memperkenalkan amalan kepada orang lain dengan memperlihatkan
Sum’ah adalah memperkenalkan amalan kepada orang lain dengan memperdengarkan.

Kata Nabi shallallahu alaihi wasallam,

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ

Barangsiapa yang memperdengarkan amalannya karena ingin dipuji maka Allah akan bongkar niat buruknya tersebut pada hari kiamat kelak.

Contoh :
1. Dia bersedekah kemudian cerita
2 sholat malam kemudian cerita.

Dua ini adalah satu bab, yaitu sama-sama ingin agar orang lain tahu amal yang dia lakukan..

Dan riyaa’ ini adalah dosa besar dan sangat berbahaya karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menamakannya dengan “syirik”, kadang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengatakan:
, sedang bicara tentang fitnah Dajjal 6 sangat
1. Syirku khofii (samar)
2. Syirku syarooir (tersembunyi)

Riyaa’ ini dosa besar, lebih berbahaya dari fitnahnya Dajjal.
Kenapa bisa demikian, suatu hari para sahabat sedang berkumpul bicara masalah Dajjal di muncul di akhir zaman yang bisa turunkan hujan dari langit, bisa tumbuhkan tanaman pada tanah yang tandus.. Dan luar biasa kesaktuan Dajjal.

Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata,

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِى مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ ». قَالَ قُلْنَا بَلَى. فَقَالَ « الشِّرْكُ الْخَفِىُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّى فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ »

“Maukah kukabarkan pada kalian tentang suatu dari fitnah yang lebih berbahaya dari fitnah Dajjal?” “Tentu Yaa Rasulullah”, para sahabat bertanya apakah itu? Beliau shallallahu alaihi wasallam pun menjawab, “Syirikul khofi (syirik yang samar) – yang ternyata riyaa’.

Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam contohkan.

di mana seseorang berdiri kemudian shalat lalu ia perbagus shalatnya agar dilihat orang lain.”

Orang memandang orang ini Ikhlas tapi Allah Maha Tahu dia sedang riyaa’.

Kenapa lebih berbahaya dari fitnah Dajjal?

1. Dajjal muncul di akhir zaman sedangkan riyaa muncul setiap saat
2. Fitnah Dajjal kalau orang beriman Insya Allah bisa terhindar, sedangkan riyaa justru terkadang atau seringnya menyerang orang-orang beriman.

Dan bahkan seseorang tidak sadar dirinya sedang riyaa. Amal dia banyak tetapi tidak ada nilainya sama sekali. Ini karena saking halusnya riyaa tersebut

Allah memberi perumpamaan buruk riyaa,
Dalam
QS. Al-Baqarah : 264

كَٱلَّذِى يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٌ فَتَرَكَهُۥ صَلْدًا لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَىْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا۟

seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada pasir/tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka hilangkah tanah tersebut, tinggallah batu itu licin . Mereka tidak menguasai sesuatu apa pun dari apa yang mereka usahakan.

Ibnu Katsir menjelaskan, bahwasanya orang yang melakukan riyaa pada hakikatnya amalannya tidak diterima, seperti batu yang tidak bisa menumbuhkan tanaman. Kalau menumbuhkan tanaman perlu tanah.
Tetapi orang kalau lihat dari luar, dia lihat batu tersebut ada tanahnya. Orang-orang menyangka ini tanah yang subur mudah ditanami dengan tanaman ternyata tidak, tanah itu hanya diatas batu yang halus, buktinya ketika terkena hujan maka hilang semua tanah tersebut, dan yang tersisa hanyalah batu yang tidak bisa tumbuhkan tanaman.

Demikian pula orang yang riyaa, dia menyangka amalannya subur, mudah menumbuhkan pahala. Ternyata isinya kosong. Dia terpedaya dan orang-orang terpedaya.

➡️ Sebab-sebab riyaa

1. Dia tumbuh dalam keluarga yang memang keluarga tersebut sering melakukan riyaa (bapak, ibu sering upload amalan di medsos)

2. Salah bergaul. Dengan teman-teman yang suka pamer (termasuk pamer amalan).

3. Tidak mengenal Allah dengan pengenalan yang sesungguhnya. (mengenal hakikat Sesunguhnya Allah, Nama dan Sifat, Maha Kuasa Allah dll).

4. Ingin tampil, ingin diakui sehingga harus riyaa. Misalnya ingin menang Pilkada.

5. Tamak kepada apa yang dimiliki oleh orang lain.

6. Tidak kuat dipuji (penyakit suka dipuji) . (saat dipuji harusnya ingatkan bahwa semua karena Allah).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَهْلَكْتُمْ – أَوْ قَطَعْتُمْ – ظَهَرَ الرَّجُلِ

“Engkau telah mematahkan punggung orang tersebut”

Karena orang tidak kuat pujian, kepalanya jadi besar..

7. Syahwat Khofiyyah,
Ibnu Taimiyyah menamakan dengan Syahwat Ingin Diagungkan, Ingin tampil no 1.

Sama dengan orang yang punya syahwat untuk makan,
Seorang laki-laki yang lihat wanita dia punya syahwat.

Sama dengan syahwat ingin dipuji, ini penyakit.

Bahkan seseorang ingin disanjung sampai rela mengorbankan harta (ingin disebut dermawan) dan jiwanya.

Dalam sebuah hadits disebutkan, ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam :

Yaa Rasulullah, ada seorang berperang karena membela sukunya
Yaa Rasulullah, ada seorang berperang karena emosi
Yaa Rasulullah, ada seorang berperang karena ingin diketahui kedudukannya
Yaa Rasulullah, ada seorang berperang karena supaya dikenang
Mana diantara mereka yang di jalan Allah?
Kata Nabi shallallahu alaihi wasallam, Yang berperang Agar Meninggikan Kalimat Allah, Yang ikhlas itulah yang berperang karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bayangkan orang berperang yang bisa kehilangan nyawa karena ingin dikenang, ingin dipuji karena syahwat khofiyyah (tersembunyi).

➡️ Materi 14. TANDA TERJANGKITI RIYAA

1. Kalau lagi sendirian malas beribadah, dan semangat bila di depan banyak orang

2. Semangat kalau dipuji (tidak semangat bila dicela)

3. Tidak pernah ngecek niat kita beramal (di awal, tengah atau akhir). Seseorang harus berusaha check amalnya.

Oleh karenanya, dikatakan kepada Nafi’ bin Jubair rahimahullahu, “Apa kau tidak hadiri jenazah?“ maka kata Nafi’ bin Jubair rahimahullah,” tetap di tempatmu sampai aku niatkan dulu”.

Jadi dia tidak langsung jalan tapi dia niatkan/renungkan sebentar, baru jalan.

Ini menunjukkan bahwa orang yang ikhlas harus selalu mengecek niatnya.

Lihatlah perkataan Sulaiman bin Dawud Al Hasyimy, “Terkadang aku ingin menyampaikan sebuah hadits (dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam) dan aku memiliki niat yang benar, tatkala aku menyampaikan sebagian hadits tersebut, tiba-tiba niatku berubah, ternyata satu hadits saja butuh beberapa niat”.

Demikian juga bila seseorang sedang ceramah atau dakwah harus sering mengecek niatnya,agar tidak terjerumus ke dalam riyaa.

kelasUF

KELAS UFA#Materi 5-6-7-8-9 : Amalan Hati – IKLHAS KELAS UFA# Materi 39-40-41-42-43 : Tawakal
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?