KELAS UFA#Materi 29-30-31-32-33 : BAHAYA UJUB
- KELAS UFA# Materi 34-35-36-37-38 : MODEL2 UJUB
- KELAS UFA#Materi 25-26-27-28: RIYA TERSELUBUNG – UJUB
- KELAS UFA#Materi 1-2-3-4: MEMPELAJARI AMALAN HATI
- KELAS UFA#Materi 5-6-7-8-9 : Amalan Hati – IKLHAS
- KELAS UFA#Materi 10-11-12-13-14 : FAIDAH IKHLAS
- KELAS UFA#Materi 29-30-31-32-33 : BAHAYA UJUB
- KELAS UFA# Materi 39-40-41-42-43 : Tawakal
- KELAS UFA# Materi 44-45-46-47-48 : KEUTAMAAN TAWAKAL
- KELAS UFA# Materi 49-50-51-52-53 : HAKIKAT TAWAKAL
- Kelas UFA : Materi : 54-55-56 : TAWADHU & Tadabur-1
Diterbitkan pertama kali pada: 19-Feb-2021 @ 21:24
7 menit membacaKelas UFA – PEKAN 7
➡️ Materi 29
Kita masih berbicara tentang salah satu penyakit hati yang berbahaya yaitu ujub.
Rasulullah ﷺ telah memperingatkan kita, diantaranya dalam suatu hadits,
ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ وَ هَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
Tiga perkara yang membinasakan,
1. Rasa pelit disertai tamak yang ditaati
2. Hawa nafsu yang diikuti
3. Dan seorang ujub terhadap dirinya
Kenapa berbahaya dan membinasakan? (salah satunya ujub)
Karena ujub ini bisa menimbulkan keangkuhan dan menjerumuskan orang dalam takabur dan memasukkan orang ke dalam neraka Jahanam.
Karenanya Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala dalam kitabnya Al Wabil Al sayyib menjelaskan “bisa jadi seorang melakukan dosa namun dengan dosa tersebut menyebarkan dia masuk surga dan bisa jadi seseorang melakukan ketaatan namun ketaatan tersebut menjadikan dia masuk neraka”.
Kok bisa?
Seorang melakukan dosa kemudian dia menyesal, selalu ingat akan dosanya, kedua mata sering meneteskan air mata, timbul ibadah rasa takut kepada Allah ﷻ, merasa hina di hadapan Allah, minta ampun kepada Allah, maka akhirnya mengantarkan dia masuk surga.
Dan sebaliknya, seorang yang melakukan ketaatan yang hebat tetapi dia menjadi ujub/hebat dan mengantarkan kepada takahur dan akhirnya menghantarkannya masuk neraka Jahanam.
Benarlah kata seorang penyair, “hati-hati lah engkau dari penyakit ujub, Sesunguhnya penyakit ujub itu berbahaya, akan menggeret amalan pelakunya ke dalam arus yang deras arusnya, yaitu sirna amalannya.”
➡️Diantara dampak buruk penyakit ujub, yaitu seorang,
1. lenyap sifat tunduk/hina dihadapan Allah ﷻ
2. apalagi tidak tawadhu di hadapan manusia.
3. Antarkan sifat sombong dan angkuh yang bisa sebabkan diri masuk neraka
4. Menjadi hamba yang kurang bersyukur.
Kapan seseorang menjadi hamba yang bersyukur? Bila dia merasa semuanya dari Allah dan tidak ada apa-apanya.
Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ ingatkan bahaya ujub :
لَوْ لَمْ تَكُوْنُوا تُذْنِبُوْنَ خَشِيْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبَ الْعُجْبَ
“Jika kalian tidak berdosa maka aku khawatir apa yang menimpa kalian lebih parah daripada dosa yaitu sifat ujub! , sifat ujub! ”
Al Munawi ketika mensyarah hadits ini beliau mengatakan, ” Rasulullah ﷺ ulang perkataan ujub, untuk menegaskan harus dijatuhi sifat ini. Kenapa Rasulullah ﷺ lebih takut orang punya sifat ujub dari pada yang berbuat maksiat? karena orang yang bermaksiat dia ngaku dia tahu dia sadar bahwasanya dia berdosa, dia tahu kekurangannya dan masih bisa diharapkan dia bertaubat.
Tapi orang ujub, dia tidak merasa dia berdosa, dia merasa hebat, dia terpedaya dengan dirinya/amalnya, maka orang seperti ini sulit untuk bertaubat. ”
➡️ Materi 30
Telah kita ketahui bahwa ujub adalah penyakit hati yang berbahaya, sampai-sampai Ibnul Mubarok pernah berkata,” Aku tidak mengetahui pada orang-orang yang sholat perkara yang lebih buruk daripada ujub.” (jadi ujub adalah yang paling buruk).
Kita tahu bahwa riya dan ujub bukan menyerang orang-orang yang melakukan kemaksiatan akan tetapi sering menyerang orang-orang yang dalam ketaatan, rajin ibadah.
Bagaimana cara hindari ujub?
1. Kita harus menyadari bahwa kita berhasil semata-mata karena Allah baik urusan dunia maupun urusan akhirat.
Dalam urusan akhirat Allah ﷻ berfirman,
وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ
Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, niscaya tidak seorang pun dari kalian akan bersih yaitu sholeh selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Qs An Nur :21
Yaitu Allah menjadikan orang sholeh siapa yang dikehendakinya.
Ini menunjukkan bahwa kita bisa sholeh semata-mata dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Oleh karenanya ketika Nabi ﷺ menggali parit, Nabi ﷺ berkata,
وَاللَّهِ لَوْلا اللَّهُ مَا اهْتَدَيْنَا وَلا تَصَدَّقْنَا وَلا صَلَّيْنَا
” demi Allah kalau bukan karena Allah.. kita tidak dapat Hidayah..Kita tidak bisa bersedekah, kita tidak bisa sholat”
Nabi ﷺ mengakui dan juga para sahabat.
Inilah pengakuan kaum Mukminin ketika mereka masuk ke dalam surga.
Allah ﷻ berfirman,
وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ ۖ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ
Dan Kami pun cabut segala macam penyakit hati yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai (dalam surga) dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau bukan Allah yang memberi petunjuk.” Qs Al A’raf:43.
Mereka mengakui bahwasanya mereka bisa sampai ke surga dengan amal sholeh semuanya semata-mata dari Allah.
Demikian juga dalam urusan dunia (cerdas, pengalaman banyak, bisnis) semua semata-mata dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
➡️ Materi 31
Perkara kedua, Agar kita bisa melawan ujub,yaitu : kenapa kita harus ujub dengan amal sholeh kita.
Amal sholeh kita penuh kekurangan. (sholat malam, haji, umroh). Sehingga kita disyariatkan untuk istighfar.
Dari Tsauban radhiallahu’anhu,
إذَا انْصَرَفَ مِن صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا
Jika selesai shalat, beliau beristighfar 3x
Kalau Nabi ﷺ istighfar, bagaimana dengan kita?
Dan Allah menjelaskan orang-orang sholeh yang sholat tahajud, dalam surat Ali Imran.
Allah berfirman,
قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ (15) }
Katakanlah, “Inginkah aku kabarkan kepada kalian apa yang lebih baik dari yang demikian itu (dunia dan seisinya) ?”
Yaitu apa ? Tentang surga.
Bagi orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Mereka akan dapatkan istri-istri yang disucikan serta keridaan Allah. Dan Allah Maha Melihat para hamba-hamba-Nya. Qs Ali Imran ayat 15.
{الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (16) الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالأسْحَارِ (17) }
(Yaitu) orang-orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (yaitu) orang-orang yang sabar, yang jujur imannya, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang beristighfar di waktu sahur. Qs Ali Imran, ayat 16-17
Mereka orang yang sholeh,siang hari beramal sholeh, malam hari melakukan sholat malam dan ditutup dengan istighfar.
Demikian juga setelah haji,
ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (yaitu dari ‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah ; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [al-Baqarah/2: 199]
(setelah di padang Arafah, dimana wukuf di padang Arafah adalah inti dari ibadah haji), dan Allah tetap perintahkan kita istighfar.
Lihatlah setelah Nabi ﷺ berdakwah 23 tahun, dengan keberhasilan yang luar biasa, Nabi ﷺ tidak ujub, dan Allah suruh Nabi ﷺ beristighfar,
Allah berfirman,
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ﴿١﴾وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا﴿٢﴾فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu melihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan beristighfarlah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. (an-Nashr/110: 1-3)
Kita tidak ibadah kita diterima atau tidak dan banyak kekurangan, maka janganlah kita ujub.
➡️ Materi 32
Perkara ke-3 agar bisa melawan ujub yaitu mau ujub dengan amal sholeh namun ada hal-hal yang bisa menggugurkan amalan kita.
Ibnul Qayyim pernah berkata, “bukan perkaranya engkau beramal sholeh tetapi yang paling penting adalah kau menjaga amalmu jangan sampai amalmu menjadi rusak atau gugur.”
Allah sudah peringatkan bahwa amalan bisa gugur,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُبْطِلُوا۟ صَدَقَٰتِكُم بِٱلْمَنِّ وَٱلْأَذَىٰ
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian batalkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan orang yang kau sedekahi
QS. Al-Baqarah : 264
Demikian dalam ayat lain,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengangkat suara di atas suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak gugur amalan kalian, sedangkan kalian tidak menyadari. Qs Al Hujurat ayat 2.
Karena Nabi ﷺ sudah wafat maka jaman sekarang amalan bisa gugur karena meremehkan hadits Nabi, membantah hadits Nabi.
Juga dalil dari hadits Nabi ﷺ,
مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ العَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ
Barangsiapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka telah gugur amalannya.
HR Bukhari.
Demikian juga sahabat Zaid bin Arqam yang melakukan transaksi dengan riba (system ‘ina). Maka Aisyah mengingatkan kepada sahabat tersebut, “Sesungguhnya Zaid bin Arqam telah membatalkan pahala jihadnya bersama Nabi ﷺ kecuali jika dia bertaubat.”
Bayangkan riba bisa gugurkan amalan kita.
➡️Diantara hal agar tidak ujub adalah jangan merasa bangga dihadapan orang lain.
Kita harus ingat bahwa yang utama adalah amalan hati…
Dalam hadits Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.”
Coba kita renungkan, secara dhahir kita dengan orang lain yang penampilan nya biasa2 saja, mungkin lebih banyak amalan (sholat, kajian, dst) tapi dalam hati kita tidak tahu, mungkin hati nya Ikhlas, sabar, tidak hasad, tidak dengki.
➡️ Materi 33
Diantara hal yang membantu kita melawan ujub dari hati kita adalah membaca sejarah orang-orang sholeh.
Misalnya :
1. Shirah Nabi ﷺ,
2. Shirah para sahabat yang luar biasa (sedekah nya Abu Bakar infak seluruh harta, khatam baca Al Qur’an nya Utsman dalam 1 rakaat , jihad para sahabat (Ja’far yang luka 70 di bagian depan) , dipanah saat sholat dan tetap sholat – Abad bin Bisyir yang baca Al Kahfi- dll)
3. Sejarah para Imam. Imam Ahmad dalam sehari sholat 300 rakaat sehari, kalau sakit 100 rakaat dan hafal 1 juta hadits.
Imam Bukhari yang punya guru 1000 lebih.
Sehingga kita akan tahu diri dan tidak merasa hebat dengan apa yang kita lakukan.
Syetan selalu bisikan ke hati kita supaya kita merasa hebat. Agar Kita hina dihadapan Allah.
Ibnul Qayyim, “Syetan tidak peduli bagaimana cara menggoda manusia, kalau manusia cenderung kepada maksiat maka syetan akan menghiasi maksiat. Kalau seseorang cenderung kepada ketaatan maka syetan hiasi amalan dengan mungkin ekstrim, atau tidak ikhlas)
Sehingga kita seharusnya berdoa bila beramal,
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا
اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Ya Allah, terimalah amal kamin (yang sedikit ini, jadikan besar di sisi Mu)
sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui
Kita ini gak ada pun tidak masalah bagi kaum muslimin, Allah akan ganti dengan orang lain yang lebih baik daripada kita.
Kita seharusnya bersyukur bahwa kita ini punya sumbangsih dalam sedekah, dakwah dll.
“Ya Rabb kami, terimalah amal kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”

