KELAS UFA# KEJAYAAN DIAWALI UJIAN, JANJI IBLIS, EFEK MAKSIAT, JAGA LISAN, QALBUN SALIM
- KELAS UFA# Materi 34-35-36-37-38 : MODEL2 UJUB
- KELAS UFA#Materi 29-30-31-32-33 : BAHAYA UJUB
- KELAS UFA#Materi 25-26-27-28: RIYA TERSELUBUNG – UJUB
- KELAS UFA#Materi 1-2-3-4: MEMPELAJARI AMALAN HATI
- KELAS UFA#Materi 5-6-7-8-9 : Amalan Hati – IKLHAS
- KELAS UFA# KEJAYAAN DIAWALI UJIAN, JANJI IBLIS, EFEK MAKSIAT, JAGA LISAN, QALBUN SALIM
- KELAS UFA#Materi 10-11-12-13-14 : FAIDAH IKHLAS
- KELAS UFA# Materi 39-40-41-42-43 : Tawakal
- KELAS UFA# Materi 44-45-46-47-48 : KEUTAMAAN TAWAKAL
- KELAS UFA# Materi 49-50-51-52-53 : HAKIKAT TAWAKAL
Diterbitkan pertama kali pada: 28-Jun-2021 @ 09:41
6 menit membacaKelas UFA 07.06.2021
➡️ FAIDAH – KEJAYAAN DAN KEBERHASILAN DIAWALI DENGAN UJIAN
Ini kalimat emas ini dari kisah Nabi Yusuf alaihissalam.
Nabi Yusuf mendapatkan kedudukan yang mulia setelah melewati berbagai ujian.
1. Di hasadi saudaranya
2. Dipisahkan dari ayah yang sangat dicintai (puluhan tahun)
3. Dibuka baju dan dimasukkan ke dalam sumur
4. Dijual oleh kakak-kakaknya sebagai seorang budak
5. Jadi pembantu / budak di keluarga Mesir
6. Dituduh sebagai orang yang akan menzinahi majikan wanita nya sendiri
7. Dipenjarakan
Ujian-ujian ini adalah awal kejayaan Nabi Yusuf alaihissalam.
Oleh karena itu bila kita mendapatkan ujian kita harus husnudzon kepada Allah ﷻ.
Sebagaimana disebut dalam hadits.
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu, beliau bertanya: Wahai Rasulullah, Siapakah manusia yang paling berat ujiannya? Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اَلْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ فَإِنْ كَانَ دِيْنُهُ صُلْبًا اِشْتَدَّ بَلَاؤُهُ
“(Orang yang paling berat ujiannya adalah) para nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya, diuji seseorang sesuai dengan kadar agamanya (keimanan) , kalau kuat agamanya (keimanan) maka semakin keras ujiannya, .”
Kita semua diuji dan seorang akan mulia tergantung bagaimana sikap dia dalam hadapi ujian tersebut.
Bila sabar dan bertakwa dia akan memperoleh kejayaan.
Maka ketika Nabi Yusuf menjelaskan kepada kakak-kakak nya di kemudian hari setelah mereka sadar bahwa mereka bersalah , Nabi Yusuf berkata.
إِنَّهُۥ مَن يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ
Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.
Maka hadapi ujian dengan takwa dan sabar.
➡️ TADABUR 26 – Janji Iblis Menghiasi Kemaksiatan Dengan Keindahan
IBLIS KETIKA dilaknat Allah berjanji akan menghiasai kebatilan sehingga umat manusia terjerumus ke dalamnya,
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
Iblis berkata, ‘Ya Rabbku! Karena Engkau telah menghukumku tersesat, pasti aku akan menghiasi maksiat di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” [QS. Al-Hijr/15:39]
Diantara cara iblis menggoda Adam dan keturunan adalah menghiasi maksiat bahkan menjadi candu
Dimulai dari Adam..
Allah halalkan semua makanan di surga dan hanya haramkan 1 pohon.
Iblis hiasi dengan memberi nama pohon tersebut dengan pohon keabadian.
Dan akhirnya Adam memakan buah pohon yang dilarang tersebut.
Begitu juga anak turunan Adam. Misalnya rokok padahal tidak enak, tidak keren..
Juga orang yang punya istri cantik, iblis hiasi wanita lain supaya terjerumus kepada kemaksiatan..
Demikian juga iblis memberi nama yang indah seperti ahlu bidah yang terjerumus dalam kesesatan dengan nama yang indah.
Contoh, Rafidhah ketika MENGKAFIRKAN para sahabat dengan syiar cinta kepada Ahlilbait. Syetan menghiasi dengan seakan-akan untuk mencintai ahlulbait dengan MENGKAFIRKAN Abu Bakar, Umar, Utsman dan sahabat lainnya..
Demikian juga mu’tazilah ketika punya 5 pokok pemikiran diantara nya mereka namakan dengan Ingkarul munkar – maksud nya wajib MEMBERONTAK kepada penguasa muslim jika terjerumus ke dalam dosa besar. Juga pemikiran khawarij.
Akhirnya kemudhorotan yang timbul.
Ini melanggar hadits-hadits Nabi yang menyuruh dengan kesabaran.. Syetan hiasi maksiat dan bidah..
➡️ EFEK BERMAKSIAT DAN KURANG ISTIGHFAR
Dari sahabat Aghor Al Muzany, Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Sesungguhnya hatiku sedang ada masalah {pernah lalai dari zikir kepada Allah) , (oleh sebab itu) susungguhnya aku beristighfar kepada Allah seratus kali dalam sehari.”
Tatkala Nabi ﷺ sedang gelisah (ada sesuatu yang tidak enak dalam hatinya) , maka beliau istighfar..
Dalam sebuah hadits yang lain (hasan) disebutkan,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) »
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan/dosa, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” HR Tirmidzi
Kalau orang sering berbuat maksiat maka hatinya kotor tidak pernah bersihkan hatinya, kalau hati kotor maka semua maksiat akan terlihat biasa bagi dirinya. Tidak ada yang gelisah baginya..
Yakinlah bahwa semua maksiat akan memberi kemudhorotan bagi kita dan yang pertama adalah adanya titik hitam di hati kita.
Semakin banyak titik hitam, semakin sulit mengenal kebenaran, semakin sulit beribadah..(misalnya malas).
Ibnul Qayyim mengatakan “Seandainya hati itu bersih, maka kalau ada perkara yang terhalang darinya perkara kebaikan tentunya hatinya akan terpotong-potong karena sedih.”
Seperti orang yang biasa sholat malam, namun terlewat maka dia sedih, atau orang yang terlewat sholat subuh misalnya.
Kalau hati sudah hitam, dia cuek aja bila berbuat kemaksiatan (marahin, dhalim, durhaka kepada orang tua, dll).
Untuk hilangkan itu semua hendaklah istighfar.
➡️ JAGA LISAN! PENGARUH KUAT LISAN DALAM HATI
Agar hati kita bersih hendaklah menjaga lisan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ ، وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ
“Tidaklah lurus iman seorang hamba sampai lurus (istiqomah) hatinya, dan tidaklah lurus (istiqomah) hatinya sampai lurus lisannya.” (HR. Imam Ahmad).
Lisan punya pengaruh kuat terhadap hatinya.
Kata para ulama hati adalah wadah dan siap diisi apa saja, sumbernya ada 3,yaitu : lisan, pandangan dan pendengaran.
Maka seorang hendaklah menjaga apa yang dia ucapkan, jaga pendengaran dan jaga pandangan.
Betapa banyak orang yang suka mendengar lagu, maka susah akan ingat Allah.
Hal sangat penting terutama saat sakaratul maut. Yang akan dia ucapkan adalah apa yang sering dia sibukkan dengan hatinya.
Kalau selalu sibuk atau ingat Allah, ingat syariat maka itulah yang akan keluar saat sakaratul maut, beda kalau yang sibuk dengan dunia…
Iblis akan kerahkan seluruh upaya nya untuk sesatkan manusia saat sakaratul maut.
Maka jangan sibuk dengan nonton film, dengar musik, nyanyi, dan lisan yang buruk karena hatinya akan terisi dengan hal-hal itu.
Maka benarlah hadits Nabi ﷺ tersebut.
Maka hati-hati dengan lisan kita, jaga lisan kita dari ghibah, Namimah, dan jangan bicarakan kejelekan orang lain.. Dan hati-hati dengan apa yang kita tulis, karena kata para ulama, apa yang kita tulis hukumnya sama dengan apa yang kita bicarakan.
Hati – hati dalam menulis sesuatu dalam medsos.. (status, komentar, IG).
Dalam hadits lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا
Jika anak Adam memasuki pagi hari sesungguhnya semua anggota tubuhnya berbicara kepada lisan (mengeluh) , “Bertakwalah kepada Allah untuk kami, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika engkau istiqomah, maka kami juga istiqamah, jika engkau menyimpang (dari jalan petunjuk), kami juga menyimpang. (H.R. Tirmidzi)
Ini adalah dalil bahwa lisan pengaruh nya luar biasa dalam menjaga lurusnya hati.
Kalau nulis, sampaikan sesuatu, pilih kata-kata yang baik, jangan merendahkan.
Coba dulu kata-kata tersebut untuk diri kita sendiri.
Abu Bakar radhiyallahu anhu pernah memegang lisannya, “Inilah yang membuat saya terjebak dalam berbagai kehancuran.”
Beliau pun kuatir dengan lisannya padahal sudah dijamin surga.
Orang yang baik maka lihat lah lisannya.
➡️ Qalbun Salim – Hati yang Selamat
Sesunguhnya perhatian syariat terhadap hati sangatlah besar.
Nabi Ibrahim ‘Alaissalam pernah berdoa kepada Allah ﷻ,
وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ . يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ . إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(Yaa Rabb-ku) dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari ketika manusia dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” [QS. Asy-Syu’ara: 87—89]
Ini menunjukkan bahwasanya yang menjadi patokan utama adalah hati seseorang.
Ini ditekankan dalam banyak hadits juga.
Nabi ﷺ bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.”
Hati diperhatikan, amal diperhatikan, tapi hati lebih utama.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah ﷺ menjelaskan seorang wanita hitam penghuni surga.
عن عَطَاءٍ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ قَالَ: قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ: “أَلَا أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟” قُلْتُ: “بَلَى!” قَالَ: “هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللهَ لِي!”. قَالَ: “إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُعَافِيَكِ”. فَقَالَتْ: “أَصْبِرُ” فَقَالَتْ: “إِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللهَ لِي أَنْ لَا أَتَكَشَّفَ”، فَدَعَا لَهَا”.
Atha’ bin Abi Rabah bertutur, suatu saat Ibnu Abbas berkata padaku,“Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni Surga?”
Aku menjawab, “Tentu”.
Beliau berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) (atau dimaknai diganggu jin dan mneggeliat terkapar) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah agar Allah Menyembuhkanku.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jika engkau berkenan, bersabarlah niscaya engkau mendapatkan Surga. Namun jika engkau menghendaki, maka aku akan mendoakanmu agar Allah menyembuhkanmu.”
Wanita itu menjawab, “Aku pilih bersabar”. Lalu ia melanjutkan perkataannya, “Tatkala penyakit ayanku kambuh, auratku terbuka, maka tolong doakanlah agar auratku tidak tersingkap.”
Maka Nabi pun mendoakannya.” [HR. Bukhari]
Dia seorang wanita biasa saja, berkulit hitam dan bersabar, dan mulia di sisi Allah.
Allah perhatian pada hati dan amalan kita.
Membersihkan hati itu perlu perjuangan
Kita harus berusaha memperbagus amalan dan hati kita, karena inilah yang akan menjadi barometer muslim sejati.

