KELAS UFA#Materi 1-2-3-4: MEMPELAJARI AMALAN HATI
- KELAS UFA# Materi 34-35-36-37-38 : MODEL2 UJUB
- KELAS UFA#Materi 29-30-31-32-33 : BAHAYA UJUB
- KELAS UFA#Materi 25-26-27-28: RIYA TERSELUBUNG – UJUB
- KELAS UFA#Materi 5-6-7-8-9 : Amalan Hati – IKLHAS
- KELAS UFA#Materi 10-11-12-13-14 : FAIDAH IKHLAS
- KELAS UFA#Materi 1-2-3-4: MEMPELAJARI AMALAN HATI
- KELAS UFA# Materi 39-40-41-42-43 : Tawakal
- KELAS UFA# Materi 44-45-46-47-48 : KEUTAMAAN TAWAKAL
- KELAS UFA# Materi 49-50-51-52-53 : HAKIKAT TAWAKAL
- Kelas UFA : Materi : 54-55-56 : TAWADHU & Tadabur-1
Diterbitkan pertama kali pada: 17-Des-2020 @ 11:45
10 menit membacaMEMPELAJARI AMALAN HATI
Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc. M.A.
MATERI#1
Mengapa kita mempelajari amalan hati, yaitu amalan-amalan hati yang dianjurkan dan juga penyakit-penyakit hati yang berbahaya yang harus kita jauhi.
Urgensi kita belajar amalan hati.
1. Kedudukan dan derajat seseorang tergantung akan bersihnya hati, oleh karenanya diantara doa Nabi Ibrahim alaihissalam
وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ (87) يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)
(Ibrahim berdoa), “dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) hari dimana tidak bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat. Qs Asy-Syu’ara’, ayat 83-89
Dan juga dalam ayat lain,
إِذْ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
(Ingatlah) ketika dia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci,
QS. As-Saffat : 84
Juga ditegaskan dalam sebuah hadits yang ditegaskan oleh Abdullah bin Amr bin Ash,
Ketika ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ,
“Siapa orang yang paling afdhal?”
Para sahabat ingin tahu siapa orang yang paling afdhal agar mereka bisa menjadi orang tersebut.
Maka Nabi ﷺ menjawab, “Yaitu seorang yang dibersihkan hatinya dan jujur lisannya”.
Para sahabat bertanya, “Kami paham orang yang jujur lisannya, Apa yang dimaksud dengan hati yang dibersihkan Yaa Rasulullah?”
Maka Nabi ﷺ menjelaskan, “Yaitu hati yang beetaj8, yang bersih. Tidak ada dosa, tidak ada melampaui batas, tidak ada kedongkolan, tidak ada kedengkian”.
Oleh karena itu dalam hadits lain Nabi ﷺ menjelaskan, “Sesunguhnya Allah tidak melihat rupa dan jasad kalian, tetapi yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian”.
Jadi yang jadi barometer Allah dalam menilai seseorang adalah hatinya, baru kemudian amalnya.
Betapa banyak orang yang mulia, tetapi dia budak seperti Bilal bin Rabah yang dibebaskan oleh Abu Bakar.
Demikian juga Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma pernah berkata kepada Atha bin Abi Rabah, “Wahai Atha bin Abi Rabah, malah aku tunjukkan engkau seorang penghuni surga?
Maka Atha menjawab,” Tentu Yaa Ibnu Abbas”.
Maka Ibnu Abbas berkata, ”Wanita berkulit hitam ini (orangnya). Ia telah datang menemui Nabi shallallahu’alaihi wasallam lalu berkata:
“Sesungguhnya aku berpenyakit ayan (atau kemasukan jin), yang bila kambuh maka tanpa disadari auratku terbuka. Do’akanlah supaya aku sembuh.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika engkau kuat bersabar, engkau akan memperoleh surga. Namun jika engkau ingin, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.”
Maka ia berkata:”Aku akan bersabar.” Kemudian karena punya rasa malu yang tinggi, kuatir aurat nya kelihatan, ia berkata:”Sesungguhnya aku (bila kambuh maka tanpa disadari auratku) terbuka, maka mintakanlah kepada Allah supaya auratku tidak tersingkap.” Maka Beliau shallallahu ’alaihi wasallam pun mendo’akannya. (HR Al-Bukhari 5652)
Apa yang membuat wanita ini berkulit hitam ini masuk surga? Ia punya amalan hati, yaitu sabar.
Ini adalah peringatan kepada para Ikhwan dan Akhwat yang terlalu perhatian pada penampilan dhahirnya (bagus tapi jangan lupa) juga perhatian pada amalan hatinya.
Amalan hati ini sangat penting karena menjadi barometer penilaian Allah Subhanahu wa Ta’ala.
MATERI#2
Urgensi mempelajari amalan hati.
Poin kedua : Pahala yang Allah berikan itu bertingkat-tingkat, dan tingkatan-tingkatan pahala pada satu amalan yang sama itu berbeda-beda dan kembali kepada perbedaan amalan hati.
Bakar Al Muzani rahimahullah pernah mengatakan, “Tidaklah Abu Bakar mengungguli para sahabat yang lain bukan dengan banyaknya sholat tetapi dengan sesuatu yang terpatri dalam dadanya, yaitu suatu amalan hati.”
Sebagian ulama mengatakan bahwa yang terpatri dalam dadanya adalah hubullah – Mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Demikian juga Fatimah bintu Malik, istri Umar bin Abdul Aziz, ketika Umar bin Abdul Aziz telah meninggal dunia, dia ditanya tentang amalan suaminya.
Maka jawaban Fatimah, “Demi Allah, Umar bin Abdul Aziz bukanlah orang yang paling banyak sholatnya, bukan pula yang paling banyak puasanya, tetapi Demi Allah aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih takut kepada Allah seperti Umar bin Abdul Aziz”.
Ini menunjukkan bahwa amalan hati bisa mendapatkan pahala yang besar.
Dalil yang menunjukkan hal ini sangat besar,
Diantaranya, ketika Rasulullah ﷺ menjelaskan pahala sholat, “Tidaklah seorang selesai dari sholat kecuali tercatat baginya catatan pahala hanya sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, setengahya”.
Para ulama mengatakan ini karena perbedaan pahala ini karena kekhusyu’an, semakin khusyu’ maka pahala semakin besar,dan khusyu’ adalah salah satu amalan hati.
Kemudian juga dalam hadits, Nabi ﷺ bersabda, ”
Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu dibukakan kepadanya sembilanpuluh sembilan catatan amal maksiat. Setiap catatan sejauh mata memandang. Allah berfirman : ‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua hal ini ?. Apakah pencatatan-Ku (malaikat) itu telah mendhalimimu ?’. Orang itu berkata : ‘Tidak, wahai Tuhanku’. Allah berfirman : ‘Apakah engkau mempunyai ‘udzur/alasan atau mempunyai kebaikan ?’. Orang itu pun tercengang dan berkata : ‘Tidak wahai Rabb’. Allah berfirman : ‘Bahkan engkau di sisi kami mempunyai satu kebaikan’. Tidak ada kedhaliman terhadapmu pada hari ini’. Lalu dikeluarkanlah padanya sebuah kartu (bithaqah) yang tertulis : Asyhadu an Laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluh (aku bersaksi bahwasannya tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya). Allah berfirman : ‘Perlihatkan kepadanya’. Orang itu berkata : ‘Wahai Rabb, apalah artinya kartu ini dengan seluruh catatan amal kejelekan ini ?’. Dikatakan : ‘Sesungguhnya engkau tidak akan didhalimi”. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Lalu diletakkanlah catatan-catatan amal kejelekan itu di satu daun timbangan. Ternyata catatan-catatan itu ringan dan kartu itulah yang jauh lebih berat. Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat daripada nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (HR. Ahmad)
Kartu Lailahailallah lebih berat daripada kemaksiatan tersebut.
Dan setiap muslim punya kartu ini tetapi kualitasnya berbeda-beda.
Semakin tinggi Tawakal, semakin kuat keikhlasannya maka semakin berat kartu Lailahailallah bila ditimbang di akhirat kelak.
Ini dalil bahwa ganjaran berbanding lurus dengan kuatnya amalan hati.
Demikian juga kisah seorang wanita dari Bani Israil, seorang pelacur yang memberi minum anjing yang sangat kehausan namun tidak mampu mengambil air dari dalam sumur. Wanita tersebut melepaskan sepatutnya kemudian turun ke dalam sumur mengambil air dengan sepatunya dan naik ke atas lantas air tersebut diberikan untuk anjing tersebut.
Nabi ﷺ mengatakan, “Maka Allah ampuni dosa-dosanya”, yaitu gara-gara amalan tersebut.
Para ulama membahas bahwa tidak semua orang yang memberi minum hewan mendapatkan pahala sebesar itu, tetapi dia mendapatkan pahala yang besar karena ada amalan hati, yaitu keikhlasan.
Dalil lainnya adalah tujuh golongan yang akan mendapat naungan di akhirat kelak tatkala matahari berjarak hanya 1 mil, di padang Mahsyar.
Seperti :
# Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mencintai adalah amalan hati
# Seorang yang rindu untuk selalu ke masjid
# Seorang yang dirayu wanita yang cantik jelita dan dia berkata, “Aku takut kepada Allah” (amalan hati)
# Seorang yang sedekah dan disembunyikan, sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanannya. (saking ikhlasnya, amalan hati)
# Seorang yang bersendirian menangis karena ingat kepada Allah,karena amalan hati.
Jadi amalan hati akan membedakan besarnya pahala yang akan diperolehnya.
Seperti penjelasan Ibnu Taimiyyah, dua orang sholat berdampingan, cara sholatnya sama, tetapi pahala antara mereka berdua jauh antara langit dan bumi, itu karena perbedaan amalan hati.
Maka bila kita melakukan amalan ibadah, tata hati kita, menage hati kita…. Supaya bisa mendapatkan pahala yang besar.
MATERI#3
Urgensi mempelajari amalan hati.
Poin ketiga : kebahagiaan tempatnya di hati.
Kalau hati kita dipenuhi penyakit hati maka kebahagiaan kita semakin berkurang, akan tetapi semakin bersih hati kita maka kita semakin bahagia.
Sifat tamak susah bahagia, tetapi sifat Qonaah akan membuat kita bahagia..
Orang yang hasad juga akan susah bahagia..
Orang yang ikhlas juga akan mudah bahagia, karena yang ia pedulikan hanyalah komentar Allah terhadap amalan dia, yang penting Allah sudah lihat, sudah selesai.
Bayangkan orang yang tidak ikhlas, yang kebahagiaannya dia gantungkan pada jumlah viewer, jumlah like/suka, dan komentar netizen.
Demikian juga dengan penyakit dendam, tersiksa batinnya..
Perkara keempat yang penting dalam mempelajari amalan hati adalah bahwa banyak orang yang tidak sadar bahwa dirinya sedang tertimpa penyakit hati.
Beda bila tertimpa penyakit badan.. Yang lebih mudah diketahui.
Misalnya terkena,
# sombong, tetapi merasa tidak sombong
# riya, tetapi merasa tidak riya
# hasad, tetapi merasa tidak hasad
# pemarah, tetapi merasa bijak
Bila tidak merasa terkena penyakit hati, bagaimana kita bisa memperbaiki hati?
Sehingga kita harus sedini mungkin untuk mendeteksi penyakit hati pada diri kita, supaya kita bisa memperbaiki penyakit hati tersebut.
Sebagaimana penyakit badan bila dibiarkan akan semakin bertumpuk, maka demikian juga penyakit hati. Riya akan semakin riya, dendam semakin dendam, suudzon semakin suudzon.
Perkara kelima yang penting dalam mempelajari amalan hati adalah bahwa ternyata amalan hati adalah amalan yang agung.
Para ulama mengatakan amalan hati lebih afdhal dari pada amalan jawaryh (badan).
Terlalu banyak dalil yang menunjukkan amalan hati penyebab utama seseorang masuk surga.
Iman, ridho, yakin, khusyu, sabar, takut kepada Allah, berharap kepada Allah..
Karenanya Nabi ﷺ pernah menjelaskan seorang sahabat sebagai penghuni surga karena tidak hasad.
Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata:
“Kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliaupun berkata : “Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga”. Maka munculah seseorang dari kaum Anshoor, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di tangan kirinya. Tatkala keesokan hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan yang sama, dan munculah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula.
Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Aash (penasaran) mengikuti orang tersebut dan mencari alasan supaya bisa tidur di rumah orang tersebut.
Setelah Abdullah bin Amr bin Ash tidur tiga hari di rumah orang tersebut, dia tidak menemukan amalan-amalan yang luar biasa.
Sampai dia heran sehingga setelah tiga hari dia bertanya, “Wahai Fulan, Sesungguhnya saya ke sini saya hanya ingin tahu amalan kamu apa karena Rasulullah ﷺ tiga kali sebagai penghuni surga.’.
Orang tersebut menjawab,”Tidak ada yang aneh kecuali yang engkau lihat” (tidak disebutkan dia sholat malam yang banyak, tidak disebutkan dia baca Al Qur’an yang banyak, tidak disebutkan juga banyak Shodaqoh, maka Abdullah bin Amr bin Ash hera) . ”
Tatkala Abdullah bin Amr bin Ash akan pergi, orang tersebut berkata,”Amalan ku cuma yang kau lihat hanya saja aku tidak pernah hasad kepada nikmat yang Allah berikan kepada orang lain”
Ternyata inilah amalan yang luar biasa, kata Abdullah bin Amr bin Ash, “Inilah yang tidak mampu kami lakukan”.
Oleh karenanya seseorang harus berusaha melakukan amalan hati sehingga bisa masuk surga dengan mudah, dan tidak hanya terkena pada amalan jawarih saja.
MATERI#4
Diantara urgensi mempelajari amalan hati, ternyata pahala amalan hati bisa dilipatgandakan tanpa batas, berbeda dengan amalan jawaryh (amalan tubuh) yang dibatasi dengan jumlah tertentu.
Al Imam Ibnul Qayyim rahaimahullahu dalam kitanya Madarijus Shalikin berkata,
“Sesungguhnya amalan jawaryh itu dilipatgandakan pahalanya sesuai dengan batasan yang diketahui (terhitung), adapun amalan-amalan hati maka tidak ada ujung perlipatgandaannya (terus-terusan), karena amalan jawaryh ada ujungnya oleh karenanya pahala amalannya berhenti sesuai dengan berhentinya amalan tersebut, maka balasan amalan jawaryh berdasarkan batasannya.
Adapun amalan hati maka dia adalah amalan yang terus-menerus tidak ada henti-hentinya, meskipun orang-orang tidak melihat”.
Misalnya : ikhlas, Qonaah, Khusyu, Takut kepada Allah, cinta kepada Allah – maka itu amalan yang melanggengi hati seseorang.
Dari sinilah Ibnul Qayyim mengatakan bahwa diantara keagungan amalan hati itu adalah pahalanya dilipatgandakan tanpa ada batasannya,
Makanya Allah mengatakan,
إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍۢ
Sesungguhnya hanya orang-orang yang sabar itu pahalanya dilipatgandakan tanpa ada batasannya. Surat Az-Zumar (39) ayat 10
Demikian juga, diantara keistimewaan amalan hati misalnya niat yang benar, ternyata amalan hati ini bisa menggantikan posisi amalan jawary (amalan anggota tubuh).
Sebagaimana di sebutkan dalam sebuah hadits, ketika Rasulullah ﷺ berjihad, ada sebagian sahabat tidak mampu untuk berjihad (sakit, tidak memiliki kendaraan) tetapi punya niat untuk berjihad, maka ketika Nabi ﷺ keluar bersama para sahabat yang ikut berjihad, Nabi ﷺ mengatakan, “Tidaklah kalian menempuh suatu jalan, tidaklah kalian menempuh suatu lembah, kecuali mereka (para sahabat yang tidak ikut perang) bersama kalian. Kenapa? karena mereka tidak bisa ikut kalian karena sakit”.
Apa yang membuat mereka mendapatkan pahala yang sama seperti ikut berjihad? Karena niat. Niat mereka yang luar biasa namun ada halangan.Namun niat mereka menjadikan mereka seakan-akan ikut berjihad.
Oleh karenanya dalam suatu hadits Rasulullah ﷺ mengatakan, “Barangsiapa yang meminta mati syahid dengan tulus, maka Allah akan membuat dia mencapai derajat para syuhada, meskipun dia meninggal di atas tempat tidur”.
Jadi karena niat – bisa mendapatkan amalan para syuhada.
Diantara yang menunjukkan agungnya amalan hati adalah seperti kata sebagian ulama bahwa amalan hati masih bisa dibawa seseorang bahkan dalam kuburannya.
Di dalam kuburan dia masih punya iman, punya kerinduan bertemu dengan Allah, dia masih punya ketakwaan sehingga nanti dia bisa menjawab pertanyaan malaikat munkar dan nakir, semuanya dengan imannya (amalan hati).
Inilah semua, poin-poin penting dalam belajar amalan hati, oleh karenanya ketika kita sedang beramal hati, sedang sabar, maka yakinlah kita sedang meraih pahala yang sabar.
Hal ini sering terlalaikan, sabar dianggap tidak mendapat pahala.
Seorang yang tawakal, husnudzon, yakin adalah amalan hati yang pahalnya jauh lebih besaer dari pada amalan jawaryh.
Dari sini kita tahu akan bahayanya orang-orang yang menyimpang dalam amalan hati seperti orang-orang yang terjerumus kepada kesirykan yang tawakalnya kepada jimat, yang tawakalnya kepada penghuni kubur. mereka itulah orang-orang yang sengsara, jauh dari rahmat Allah.

