SHIRAH # HAMZAH BIN ABDUL MUTHALIB (1)
- SHIRAH # HAMZAH BIN ABDUL MUTHALIB (1)
- SHIRAH # HAMZAN BIN ABDUL MUTHALIB (2) & ABBAS BIN ABDUL MUTHALIB
- SHIRAH # BILAL BIN RABAH
- SHIRAH # SA’AD BIN ABI WAQQASH (1)
- SHIRAH # SA’AD BIN ABI WAQQASH(2) – Perang Qadisiyyah
- SHIRAH # ABDULLAH IBNU UMMI MAKTUM
- SHIRAH # SA’ID BIN ZAID
- SHIRAH # ABU UBAIDAH BIN AL JARRAH
- SHIRAH # MUSH’AB BIN UMAIR
- SHIRAH # THALHAH BIN UBAIDILLAH
Diterbitkan pertama kali pada: 01-Jul-2020 @ 21:38
6 menit membacaShirah Sahabat – Hamzah bin Abdul Muthalib
Ustadz Muhammad Anwar, Lc MPd
24 Rabi’ul Akhir 1441 H
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
Para sahabat adalah mereka yang membawa dan menyebarkan syariat Allah yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Salah seorang paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan saudara sepersusuan beliau adalah Hamzah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdu Manaf al-Qurasyi al-Hasyimi. Mereka berdua disusui oleh Tsuwaibah, bekas budak Abu Lahab.
Usia Hamzah lebih muda (2 atau 4 tahun) dari usia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Hamzah seibu dengan Shafiyah, yaitu Halla bintu Wuhaib.
Halla ini adalah sepupu dari Aminah binti Wahab (Ibu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam)
Hamzah diberi gelar sebagai Asadullah – Singa Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda: “Demi dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sesungguhnya Hamzah bin `Abdul Muththalib telah ditulis di langit ke tujuh bahwa dia adalah singa Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya”
Di jaman jahiliyah, Hamzah tidak terlalu berperan secara sosial.
Hamzah hanya dikenal sebagai orang yang kuat dan mahir bergulat.
Hanya dua sahabat yang dikenal sebagai jagoan ketangkasan gulat yaitu Hamzah dan Umar bin Khaththab.
Hamzah bila tidak bertanding gulat, melatih ketangkasan dengan berburu singa.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memilih Hamzah sebagai utusan Nabi saat meminang Khadijah.
Khadijah mengutarakan ketertarikan kepada Nabi Muhammad karena mengenal Beliau shallallahu alaihi wasallam dalam urusan perniagaan yang amanah dan pandai berdagang.
Ternyata Hamzah ini tidak hanya kuat secara fisik namun juga kuat dalam segi bahasa.
Dakwah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam selalu dihalangi oleh kaum Quraisy seperti Abu Jahal dkk.
Mereka selalu mencerca dan mencaci maki Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Abu Jahal di lingkungan kawannya dikenal sebagai Abul Hakam (bapaknya orang bijaksana)
Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memilih diam dan tidak membalas cercaan dan caci maki Abu Jahal.
Ketika seorang budak wanita dari ‘Abdullah bin Jud’an menyaksikan kejadian tersebut, sang budak mengadukan kepada Hamzah bin Abdul Muthalib.
Oleh karena itu, Hamzah yang baru pulang dari berburu singa pun menuju Masjidil Haram untuk mencari Abu Jahal.
Hamzah pun berjalan menuju Abu Jahal dan ketika Abu Jahal berdiri menyambutnya, maka Hamzah mengangkat busur panahnya dan memukulkan pada kepala Abu Jahal sampai terluka dengan luka yang cukup serius.
Hamzah lalu berkata, “Apakah kamu mencaci maki Muhammad? Aku sekarang mengikuti agamanya dan mengucapkan kalimat yang ia ucapkan. Silakan kamu balas perlakuanku ini jika kamu berani.” (padahal saat itu Hamzah belum memeluk Islam)
Maka ada beberapa orang laki-laki dari Bani Makhzum yang berdiri hendak membantu Abu Jahal, tetapi Abu Jahal melarang mereka karena Bani Hasyim pasti akan membelanya.
Sesampainya di rumah Hamzah merenungi ucapan-ucapannya kepada Hamzah karena takut dianggap murtad dari agamanya. Namun hatinya tenang dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Akhirnya di malam hari Hamzah tidak bisa tidur seraya berdo’a..:
“ Ya Allah jika yang kukatakan ini adalah petunjuk yang benar maka tunjukilah, jika yang aku ucapkan kepada Abu Jahal adalah keliru maka Luruskanlah. “
Keesokan harinya Hamzah menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan menceritakan semua kejadian yang dialaminya.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terus menasihati Hamzah dan Hamzah pun menyatakan keislaman dan meminta Rasulullah shallallahu alaihi untuk berdakwah secara terang-terangan dengan jaminan keamanan dari Hamzah bin Abdul Muthalib.
Dan selang 3 hari ditambah kabar gembira dengan masuk lslamnya Umar bin Khaththab.
Sehingga dengan jaminan Hamzah dan Umar bin Khaththab, Rasulullah shallallahu alaihi mulai lebih menampakkan dakwah beliau shallallahu alaihi wasallam.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar dan Hamzah tidak diganggu oleh Quraisy namun kaum muslimin lainnya masih mendapatkan qangguan.
Untuk menyelamatkan agamanya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengizinkan mereka untuk hijrah.
Mereka akhirnya hijrah (ke Habasyah dan akhirnya ke Madinah).
Kisah-Kisah Keberanian Hamzah Dalam Berperang.
Ketika itu, panji pertama yang dibuat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah untuk Hamzah bin Abdul Mutthalib Radhiyallahu anhu .
Ibrah yang bisa kita ambil adalah menjadikan diri kita sebagai orang yang pertama dalam beramal shaleh (shaf pertama dalam shalat, sedekah dll)
Beliau mengutusnya bersama 30 Muhajirin, untuk menghadang kafilah dagang Quraisy. Sebagai balasan atas perlakuan mereka pada kaum muslimin.
Rombongan dagang itu datang dari Syam, dipimpin oleh Abu Jahal dengan 300 orang Quraisy. Sampailah Hamzah dan orang-orang yang bersamanya di Saiful Bahr dari arah al-Ish.
Dia bertemu dengan Abu Jahal dan para pengikutnya, dan kemudian kedua kelompok itu memilih berperang dan menghunus pedang-pedang mereka, kecuali Majdi bin Umar al-Juhani yang mempunyai hubungan erat dengan 2 kelompok itu. Ia berjalan di antara dua kelompok itu dan memisahkan mereka, sehingga perang pun tidak terjadi.
Perang badar yang diikuti sekitar 314 sahabat, sebenarnya seperti kisah sebelumnya tidak ada niat untuk perang namun hanya memberi balasan atas perlakuan mereka kepada kaum muslimin.
Kali ini khafilah dagang kaum Quraisy dipimpin oleh Abu Sufyan. Namun rencana kaum muslimin ini diketahui oleh kaum Quraisy, dan mereka memilih jalan lain yang memutar dan lebih lama 1 minggu.
Abu Jahal dengan sombongnya meremehkan kaum muslimin dan meminta Abu Sufyan untuk kembali ke Makkah dan Abu Jahal yang akan menghadapi kaum muslimin.
Nabi ﷺ duduk khusyuk bermunajat kepada Rabbnya. Memohon pertolongan kepada Maha Penolong. Beliau ﷺ berdoa:
اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِيْ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِيْ اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ
“Ya Allah, penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan pasukan Islam ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini.” (HR. Muslim no 1763).
Sampai-sampai rida’ beliau terjatuh dari pundaknya karena begitu tingginya beliau mengangkat tangannya ke arah langit. Melihat keadaan demikian, Abu Bakar merasa tak sampai hati. Ia taruh kembali rida’ Nabi ﷺ di atas pundaknya dan mendekapkannya. Kemudian Abu Bakar berkata, “Wahai Nabi Allah, munajatmu kepada Rabbmu telah mencukupi. Dia pasti memenuhi apa yang Dia janjikan kepadamu”
Aswad bin Abdul-Asad dari kelompok Quraisy ke luar dari barisan dengan langsung menyerbu ke tengah kelompok Muslimin.
Serangan Aswad bin Abdul Asad ini ingin minum dan menghancurkan sumur air yang dibuat kaum Muslimin untuk menjaga pasukan dari dahaga..
Namun serangan Aswad itu dihadang Hamzah bin Abdul-Muthalib dengan satu pukulan, mengenai kakinya dan jatuh tersungkur….
Hamzah pun memukulnya sekali lagi hingga Aswad tewas.
Hamzah adalah pejuang terdepan dalam mubarazah (perang tanding atau duel). Ali Radhiyallahu anhu berkata : “
Utbah bin rabiah maju, kemudian diikuti oleh anak laki-laki dan saudaranya. Ia berseru : “Siapa yang akan maju tanding?” kemudian beberapa pemuda Anshar pun meladeninya.
Utbah bertanya : “Siapa kalian?” Mereka pun memberitahukan diri mereka. Lalu Utbah berkata : “Kami tidak ada urusan dengan kalian, yang kami butuhkan hanyalah kaum kami.”
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “ Berdirilah wahai Hamzah, berdirilah wahai Ali, berdirilah wahai Ubadah bin al-Harits.” Kemudian Hamzah mendatangi Utbah, aku (Ali) mendatangi Syaibah, sedangkan Ubadah dan al-Walid saling memukul 2 pukulan. Setelah kami (Ali dan Hamzah) mengalahkan musuh, lalu kami menuju al-Walid dan membunuhnya. Kami membawa Ubadah kembali ke pasukan kaum Muslimin.”
Insya Allah bersambung..
Semoga Bermanfaat…. ditutup dengan doa kafaratul Majelis..
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنتَ أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إليكَ
SUBHAANAKALLOHUMMA WA BIHAMDIKA, ASY-HADU ALLA ILAHA ILLA ANTA, AS-TAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIK
(Mahasuci Engkau, wahai Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku meminta ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu)


