This entry is part 42 of 42 in the series Bulughul-maram
4 menit membaca

📖 *BULUGHUL MARAM-43*
🖋️ Ibnu Hajar as-Asqalani
Ustadz Muhammad Anwar, Lc MPd
6 Rabi’ul Akhir 1448H/19 September 2026
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Kitab ini berisi 1350 an hadits yang berkaitan dengan fikih.

✅ Tentang Sholat Musafir Dan Yang Sakit

🔹 HADITS KE-348

وَعَنْ أَنَسٍ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا اِرْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ اَلشَّمْسُ أَخَّرَ اَلظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ اَلْعَصْرِ, ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا, فَإِنْ زَاغَتْ اَلشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى اَلظُّهْرَ, ثُمَّ رَكِبَ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةِ اَلْحَاكِمِ فِي “اَلْأَرْبَعِينَ” بِإِسْنَادِ اَلصَّحِيحِ: ( صَلَّى اَلظُّهْرَ وَالْعَصْرَ, ثُمَّ رَكِبَ ) وَلِأَبِي نُعَيْمٍ فِي “مُسْتَخْرَجِ مُسْلِمٍ”: ( كَانَ إِذَا كَانَ فِي سَفَرٍ, فَزَالَتْ اَلشَّمْسُ صَلَّى اَلظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا, ثُمَّ اِرْتَحَلَ )

Anas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Biasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila berangkat dalam bepergian sebelum matahari tergelincir, beliau mengakhirkan sholat Dhuhur hingga waktu Ashar. Kemudian beliau turun dan menjamak kedua sholat itu. Bila matahari telah tergelincir sebelum beliau pergi, beliau sholat Dhuhur dahulu kemudian naik kendaraan. Muttafaq Alaihi.

Dalam suatu hadits riwayat Hakim dalam kitab al-Arba’in dengan sanad shahih: Beliau sholat Dhuhur dan Ashar kemudian naik kendaraan. Dalam riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Mustakhroj Muslim: Bila beliau dalam perjalanan dan matahari telah tergelincir, beliau sholat Dhuhur dan Ashar dengan jamak, kemudian berangkat.

🔸 Keterangan.

Qashar dan Jamak tidak satu kesatuan.
Jamak terkait dengan kesulitan.
Qashar terkait dengan Safar.

Kalau berangkat sebelum Dhuhur, saat masuk Dhuhur boleh terus, sholat di waktu Ashar ➡️ Jamak Takhir.

Kalau berangkat setelah Dhuhur, maka sholat Dhuhur dulu.

Hadits ke tiga, ini karena beliau ﷺ menjamak karena ada keperluan.

Jamak berhubungan dengan kebutuhan dan kesulitan.
Qashar berhubungan dengan Safar.

Qashar dimulai saat sudah meninggalkan batas akhir kota.

Jamak taqdim – dikerjakan di awal waktu gabungan, misal Dhuhur Ashar dikerjakan dengan jamak di Dhuhur.
Tanpa niat khusus. (lihat bagian jamak takhir).

Jamak takhir – dikerjakan di akhir waktu gabungan, Dhuhur Ashar dikerjakan di waktu Ashar.

Harus ada niat kita akan kerjakan sholat Dhuhur nya di waktu Ashar. Supaya tidak tertuduh lalai sholat Dhuhur dan tidak hormati waktu sholat Dhuhur.

Ada istilah jamak suri – dikerjakan di masing-masing waktu. Tapi ini tidak boleh sering-sering dilakukan.
Misal – sholat Dhuhur dikerjakan saat menjelang akhir waktu Dhuhur selesai, tunggu sebentar – masuk Ashar dan baru sholat Ashar.

Ini boleh dikerjakan misal saat jadi pengantin..

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ:
صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا، وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا، فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا سَفَرٍ

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
“Rasulullah ﷺ pernah mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar secara jamak, serta Maghrib dan Isya secara jamak, bukan karena takut dan bukan pula karena safar.”
— HR. Muslim

Dalam riwayat lainnya, setelah ditanyakan mengapa Nabi ﷺ melakukan hal tersebut, Ibnu Abbas menjawab:

أَرَادَ أَنْ لَا يُحْرِجَ أَحَدًا مِنْ أُمَّتِهِ
“Beliau menghendaki agar tidak menyulitkan seorang pun dari umatnya.”
— HR. Muslim

🔹 HADITS KE-349

وَعَنْ مُعَاذٍ رضي الله عنه قَالَ: ( خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ، فَكَانَ يُصَلِّي اَلظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا, وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Muadz Radliyallaahu ‘anhu berkata: Kami pernah pergi bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dalam perang Tabuk. Beliau Sholat Dhuhur dan Ashar dengan jamak serta Maghrib dan Isya’ dengan jamak. Riwayat Muslim.

Ini menjelaskan boleh sholat jamak saat ada kebutuhan.

Boleh jamak saat tidak Safar, dalam kondisi :
1. Turun hujan lebat (saat seseorang berada di Masjid dan saat sholat Dhuhur/Maghrib).
2. Kondisi sakit
3. Kebutuhan yang sangat mendesak (misal dokter yang akan operasi pasien).

🔹 HADITS KE-350

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم : ( لَا تَقْصُرُوا اَلصَّلَاةَ فِي أَقَلَّ مِنْ أَرْبَعَةِ بُرُدٍ; مِنْ مَكَّةَ إِلَى عُسْفَانَ ) رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيف وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ، كَذَا أَخْرَجَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jangan mengqashar sholat kurang dari empat burd, yakni dari Mekkah ke Usfan.” Diriwayatkan oleh Daruquthni dengan sanad lemah. Menurut pendapat yang benar hadits ini mauquf sebagaimana yang dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah.

Burud – jamak dari barid – pos (sekitar 20 km).

Sebagian ulama menghukumi hadits ini mauquf.

🔹 HADITS KE-351

وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( خَيْرُ أُمَّتِي اَلَّذِينَ إِذَا أَسَاءُوا اِسْتَغْفَرُوا, وَإِذَا سَافَرُوا قَصَرُوا وَأَفْطَرُوا ) أَخْرَجَهُ اَلطَّبَرَانِيُّ فِي “اَلْأَوْسَطِ” بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ وَهُوَ فِي مُرْسَلِ سَعِيدِ بْنِ اَلْمُسَيَّبِ عِنْدَ اَلْبَيْهَقِيِّ مُخْتَصَر

Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sebaik-baik umatku adalah mereka yang bila berbuat kesalahan memohon ampunan dan bila bepergian mengqashar sholat dan membatalkan puasa.” Dikeluarkan oleh Thabrani dalam Ausath dengan sanad yang lemah. Hadits tersebut juga terdapat dalam Mursal Said Ibnu al-Musayyab dengan ringkas.

Hukum asal musafir – boleh qashar sholat dan berbuka puasa.

Mana yang lebih Afdhal bagi musafir, puasa atau tidak?

Pendapat yang lebih benar adalah bila Safar nya berat maka tidak puasa.
Ini diambil dari kejadian saat penaklukkan kota Mekkah. Sahabat ada yang puasa dan ada yang tidak berpuasa.

🔹 HADITS KE-352

وَعَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( كَانَتْ بِي بَوَاسِيرُ, فَسَأَلْتُ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَنْ اَلصَّلَاةِ؟ فَقَالَ: “صَلِّ قَائِمًا, فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا, فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ” ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Imam Ibnu Hushoin Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku mempunyai penyakit wasir, bila aku menanyakan kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tentang cara sholat. Beliau bersabda: “Sholatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan duduk, dan jika tidak mampu maka dengan berbaring.” Riwayat Bukhari.

🔹 HADITS KE-353

وَعَنْ جَابِرٍ قَالَ: ( عَادَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مَرِيضًا, فَرَآهُ يُصَلِّي عَلَى وِسَادَةٍ, فَرَمَى بِهَا, وَقَالَ: “صَلِّ عَلَى اَلْأَرْضِ إِنْ اِسْتَطَعْتَ, وَإِلَّا فَأَوْمِ إِيمَاءً, وَاجْعَلْ سُجُودَكَ أَخْفَضَ مِنْ رُكُوعِكَ” ) رَوَاهُ اَلْبَيْهَقِيُّ. وَصَحَّحَ أَبُو حَاتِمٍ وَقْفَهُ

Jabir radhiyallahu anhu: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah menjenguk orang sakit. Beliau melihat orang itu sedang sholat di atas bantal, lalu beliau membuangnya.

Beliau ﷺ bersabda: “Sholatlah di atas tanah bila engkau mampu, jika tidak maka pakailah isyarat, dan jadikan (isyarat) sujudmu lebih rendah daripada (isyarat) ruku’mu.” Riwayat Baihaqi dan Abu Hatim membenarkan bahwa hadits ini mauquf.

🔹 HADITS KE-354

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( رَأَيْتُ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي مُتَرَبِّعًا ) رَوَاهُ النَّسَائِيُّ. وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ.

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sholat dengan bersila. Riwayat Nasa’i. Menurut Al-Hakim hadits tersebut shahih

Faidah 3 hadits di atas.

1. Sholat tidak gugur bagi yang sakit.
Kesulitan akan datangkan kemudahan.

Sholat Fardhu harus dilakukan dalam keadaan berdiri bila mampu.

Sesuatu yang mampu kita lakukan tidak akan gugur oleh sesuatu yang tidak mampu kita lakukan.

Misal – sholat, berdiri mampu tapi sujud tidak mampu, maka masih wajib berdiri.

Bila mampu berdiri, saat rukuk sebaik nya masih saat berdiri dengan isyarat kepala tunduk dan duduk saat sujud dengan isyarat kepala tunduk.

Rukuk lebih dekat dengan berdiri.

2. Isyarat sujud dan rukuk, badan tidak perlu ikut. Ini sering dilakukan saat sholat duduk, sujud dengan badan lebih merendah daripada gerakan rukuk.

Walaupun duduk, hindari sholat dengan keadaan bersandar pada tempat duduk.

Hindari siapkan meja depan kursi untuk sujud, cukup isyarat kepala saja. (lihat hadits sahabat sholat dengan bantal di atas).

Di pesawat/kendaraan , sholat wajib perlu dipastikan masih bisa berdiri atau tidak.

3. Kalau hanya mampu berbaring, badan miring ke kanan… Kepala di sisi utara.
Gerakan rukuk dan sujud dengan isyarat kepala saja (bila mampu).

Cara kedua, dengan telentang, tapi kaki hadap qiblat. Bantal dibuat lebih tinggi bila mampu.

Semoga bermanfaat,

#sholat #jamak #qashar #safar #udzur #sakit

##$$-aa-$$##

Bulughul-maram

BULUGHUL MARAM-42
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?