This entry is part 8 of 8 in the series Hadits-Albani
6 menit membaca

📖 *SILSILAH HADITS SHAHIH-12*
✒️ Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani yang disusun oleh Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman.
Ustadz Badrusalam, Lc
5 Rabi’ul Akhir 1448H/ 17 September 2026
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima Bekasi

➡️ BAB 1: Akhlak, Perbuatan baik dan Hubungan sesama manusia.

➡️ Hadits No. 49

٤٩- عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: طَافَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَاحِلَتِهِ الْقَصْوَاءِ يَوْمَ الْفَتْحِ، وَاسْتَلَمَ الرُّكْنَ بِمِحْجَنِهِ، وَمَا وَجَدَ لَهَا مَنَاخًا فِي الْمَسْجِدِ حَتَّى أُخْرِجَتْ إِلَى بَطْنِ الْوَادِيْ، فَأُنِيْخَتْ، ثُمَّ حَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: (( أَمَا بَعْدُ، يَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّ اللهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ. النَّاسُ رَجُلَانِ: بَرٌّ تَقِيٌّ كَرِيمٍ عَلَ رَبِّهِ، وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ عَلَى رَبِّهِ. ثُمَّ تَلَا: ﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا﴾ … حَتَّى قَرَأَ الْآيَةَ، ثُمَّ قَالَ: (( أَقُوْلُ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ. ))

Dari Ibnu Umar, ia menuturkan: “Rasulullah ﷺ berkeliling dengan mengendarai unta beliau yang terpotong ujung telinganya pada hari ketika penaklukan kota Makkah. Ketika sudah mendatangi Ka’bah, beliau pun tidak menyentuh rukun Ka’bah dengan tongkatnya.

Beliau tidak menemukan tempat untuk menambatkan unta di dalam masjid hingga akhirnya unta tersebut dikeluarkan menuju perut lembah, lalu unta itu ditambatkan/diderumkan di sana.

Kemudian Rasulullah ﷺ mulai berpidato, memuji Allah serta menyanjung-Nya. Sesudah itu, beliau bersabda: ‘Amma ba’du. Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah ﷻ telah menghilangkan dari diri kalian fanatik Jahiliyah (seperti berbangga-bangga terhadap nenek moyang).

Manusia terbagi dua: ada yang sholeh /taat, bertakwa, mulia di mata Allah; dan ada pula yang berbuat hina kepada Rabbnya.’

Kemudian beliau membaca ayat (yang artinya): ‘Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal …’ hingga akhir ayat (QS. Al-Hujurât [49:13]).

Lalu beliau melanjutkan perkataannya: ‘Inilah yang aku sampaikan, bahwa aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku dan untuk kalian semua.'” [no. 2803] — (HR. Ibnu Hibban)

🔹 Faidah
1. Bolehnya tawaf diatas unta. Tapi menurut ulama yang paling utama adalah tawaf dengan berjalan kaki. Boleh juga dengan motor listrik.
2. Sucinya kotoran unta. Karena saat tawaf, ada kencing dan kotoran unta. Sehingga diqiyaskan kotoran binatang adalah tidak najis. Bukan berarti.

Khilaf ulama terkait kotoran hewan.

Syafi’i – semua kotoran hewan najis
Malikiyah – semua kotoran hewan suci
Pendapat ketiga –
Halal daging – kotoran tidak najis (unta, kambing, sapi)
Haram daging –

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنِ الْمَاءِ وَمَا يَنُوبُهُ مِنَ الدَّوَابِّ وَالسِّبَاعِ، فَقَالَ:
إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَنْجُسْ

“Rasulullah ﷺ ditanya tentang air dan hewan-hewan yang datang minum kepadanya, termasuk binatang buas. Beliau bersabda: Jika air itu mencapai dua qullah, maka tidak menjadi najis.”

3. Boleh memberi nama hewan. Nama Rasulullah ﷺ adalah Qoswah.
4. Kalau tidak mampu cium hajar Aswad boleh dengan tongkat dan cium tongkat yang terkena hajar Aswad.

5. Sunnah sebelum khutbah adalah memuji-muji Allah Subhanahu wa Ta’ala.
6. Sesudah memuji-muji Allah mengucapkan Ammaa ba’du.
7. Haramnya berbangga-bangga dengan keturunan.

فَإِنَّ اللهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ

sesungguhnya Allah ﷻ telah menghilangkan dari diri kalian fanatik Jahiliyah (seperti berbangga-bangga terhadap nenek moyang).

Hadits lain – tidak ada keutamaan orang Arab atas yang lain kecuali takwa.

Hadits lain,

وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ، سَلِينِي مِنْ مَالِي مَا شِئْتِ، لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

Wahai Fāṭimah binti Muhammad, mintalah kepadaku dari hartaku apa yang engkau kehendaki, tetapi aku tidak dapat memberikan pertolongan sedikit pun kepadamu dari Allah.

8. Kemuliaan di sisi Allah itu dengan ketakwaan.

Hadits nya..

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa-rupa kalian dan harta-harta kalian, tetapi Allah melihat hati-hati kalian dan amal-amal kalian.”

HR. Muslim no. 2564.

9. Setelah khutbah mengucapkan.

أَقُوْلُ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ

‘Inilah yang aku sampaikan, bahwa aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku dan untuk kalian semua.

➡️ Hadits No. 50

٥٠- عَنْ بِشْرِ بْنِ عَقْرَبَةَ، قَالَ: اُسْتُشْهِدَ أَبِيْ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ بَعْضِ غَزَوَاتِهِ، فَمَرَّ بِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَبْكِي، فَقَالَ: (( اُسْكُتْ، أَمَا تَرْضَى أَنْ أَكُوْنَ أَنَا أَبُوْكَ وَعَائِشَةُ أُمُّكَ؟ ))

Dari Bisyr bin Aqrabah, ia bercerita: “Ayahku gugur sebagai syuhada tatkala berperang (jihad) bersama Nabi ﷺ dalam salah satu perang yang dipimpinnya. Lalu Nabi ﷺ lewat di hadapanku yang ketika itu sedang menangisi ayahku. Beliau pun berkata kepadaku: ‘Diamlah, Nak! Sukakah kamu jika aku menjadi ayahmu, dan Aisyah menjadi ibumu?'” [no. 3249] — (HR. Al-Bukhari dan Ibnu Asakir)

🔹 Faidah
1. Anjuran untuk hibur orang yang terkena musibah.

Hadits – amalan utama adalah memasukkan kebahagian ke dalam hati orang lain.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الناسِ إلى اللهِ أنفعُهم للناسِ ، وأَحَبُّ الأعمالِ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ سرورٌ تُدخِلُه على مسلمٍ

“Orang yang paling Allah cintai adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia. Dan amalan yang paling Allah cintai adalah engkau memberikan kebahagiaan kepada seorang muslim.”
HR Thabrani.

2. Perintah untuk Sabar saat musibah.

➡️ Hadits No. 51

٥١- عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ سَرِيَّةً فَغَنِمُوْا وَفِيْهِمْ رَجُلٌ، فَقَالَ لَهُمْ: إِنِّيْ لَسْتُ مِنْهُمْ، عَشِقْتُ امْرَأَةً فَلَحِقْتُهَا فَدَعُوْنِيْ أَنْظُرْ إِلَيْهَا نَظْرَةً، فَإِذَا امْرَأَةٌ طَوِيْلَةٌ أَدْمَاءُ فَقَالَ لَهَا: أَسْلَمِيْ حُبَيْشُ قَبْلَ نَفَاذِ الْعَيْشِ:

أَرَأَيْتِ لَوْ تَبِعْتُكُمْ فَلَحِقْتُكُمْ ۞ بِحِلْيَةٍ أَوْ أَدْرَكْتُكُمْ بِالْخَوَانِقِ
أَمَا كَانَ حَقٌّ أَنْ يُنَوَّلَ عَاشِقٌ ۞ تَكَلَّفَ إِدْلَاجَ السُّرَى وَالْوَدَائِقِ؟

قَالَتْ: نَعَمْ، فَدَيْتُكَ، فَقَدَّمُوْهُ فَضَرَبُوْا عُنُقَهُ، فَجَاءَتِ الْمَرْأَةُ فَوَقَعَتْ عَلَيْهِ فَشَهِقَتْ شَهْقَةً، ثُمَّ مَاتَتْ فَلَمَّا قَدِمُوْا عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: (( أَمَا كَانَ فِيْكُمْ رَجُلٌ رَحِيْمٌ؟ ))

Dari Ibnu Abbas; Bahwasanya Nabi ﷺ mengutus satu pasukan kecil untuk berperang, lalu mereka memperoleh kemenangan dan harta rampasan. Ada seorang laki-laki (tawanan) yang ikut bersama mereka.

Ia berkata kepada anggota pasukan tersebut: “Aku bukanlah bagian dari mereka. Aku mencintai seorang wanita, dan aku telah bertemu dengannya. Maka biarkanlah aku memandang wajahnya walaupun sekejap saja. Sesudah itu, lakukanlah apa yang harus kalian lakukan terhadapku.” Ternyata, wanita itu adalah seorang wanita yang tinggi dan berkulit sawo matang. Laki-laki tadi pun berkata kepadanya:

“Terimalah hati yang tertawan ini, sebelum jiwa ini melayang. sukakah engkau jika aku mendatangimu lalu bertemu dengan membawa intan permata atau kalung berlian?
bukankah suatu kewajiban bagi orang yang memendam rindu
untuk menanggung beratnya perjalanan malam dan mengarungi
lembah pertempuran?”

Wanita itu berkata: “Kamu benar, aku sudah merelakanmu.”

Setelah laki-laki itu didatangi pasukan tadi, maka ia dipenggal oleh mereka. Lalu wanita itu berlari menghampiri jasadnya.

Ia berteriak histeris di sisinya kemudian meninggal dunia.

Setelah (pasukan kecil itu) pulang, mereka menemui Rasulullah ﷺ dan peristiwa itu pun diceritakan kepada beliau. Maka Rasulullah ﷺ berkata: “Apakah tidak ada seorang pun yang penyayang di antara kalian?” [no. 2594] — (HR. Ath-Thabrani, an-Nasa-i, al-Baihaqi)

🔹 Faidah
1. Memaafkan lebih baik dari pada memberi sangsi.
2. Anjuran untuk punya sifat sayang.
3. Seorang ahli ijtihad dan salah maka dimaafkan.
4. Hadits ini menunjukan keutamaan cinta. Jangan sampai cinta menjadi malapetaka.
Kesyirikan yang pertama terjadi karena terlalu pada orang sholeh.

➡️ Hadits No. 52

٥٢- عَنْ سَعْدٍ، قَالَ: لَمَّا كَانَ يَوْمُ فَتْحِ مَكَّةَ اخْتَبَأَ عَبْدُاللهِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِيْ سَرْحٍ عِنْدَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ، فَجَاءَ بِهِ حَتَّى أَوْقَفَهُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ بَايِعْ عَبْدَ اللهِ. فَرَفَعَ رَأْسَهُ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ ثَلَاثًا، كُلُّ ذَلِكَ يَأْبَى فَبَايَعَهُ بَعْدَ ثَلَاثٍ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى أَصْحَابِهِ، فَقَالَ: (( أَمَا كَانَ فِيْكُمْ رَجُلٌ رَشِيْدٌ، يَقُوْمُ إِلَى هَذَا حَيْثُ رَآنِيْ كَفَفْتُ يَدِيْ عَنْ بَيْعَتِهِ فَيَقْتُلُهُ. )) فَقَالُوْا: مَا نَدْرِيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا فِيْ نَفْسِكَ، أَلَا أَوْمَأْتَ إِلَيْنَا بِعَيْنِكَ؟ قَالَ: (( إِنَّهُ لَا يَنْبَغِيْ لِنَبِيٍّ أَنْ تَكُوْنَ لَهُ خَائِنَةُ الْأَعْيُنِ. ))

Dari Sa’ad bin Abi Waqash, ia menuturkan: “Pada hari penaklukan kota Makkah, Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh (terkenal suka menyakiti Rasulullah ﷺ secara berlebihan) bersembunyi di sisi Utsman bin Affan (sepupunya). Kemudian Utsman membawanya hingga sampai di hadapan Nabi ﷺ.

Utsman pun berkata: ‘Wahai Rasulullah, Abdullah ingin berbaiat.’ Rasulullah ﷺ mengangkat kepala dan memandanginya. Beliau melakukan demikian sebanyak tiga kali, seraya tetap enggan membaiatnya. Namun setelah tiga kali, Rasulullah ﷺ membaiatnya juga.

Sesudah itu, Rasulullah ﷺ mengarahkan pandangan ke arah Sahabat-Sahabat beliau dan bersabda: ‘Tidakkah ada di antara kalian orang yang paham lalu segera bangkit mendatangi orang ini untuk membunuhnya saat melihat aku menahan tangan dari membaiatnya?’

Para Sahabat menyahut: ‘Kami tidak memahami apa yang terlintas di dalam hati engkau, wahai Rasulullah. Alangkah baik apabila engkau mengisyaratkan hal tersebut dengan pandangan mata ke arah kami.’

Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya tidaklah pantas bagi seorang Nabi memiliki pandangan mata khianat.'” [no. 1723]
(HR. Abu Dawud, an-Nasa-i, al-Hakim, Abu Ya’la)

🔹 Faidah
1. Buruknya sifat khianat dan Nabi tidak boleh punya sifat khianat, walaupun hanya mata. Semua nabi punya sifat amanah, amanah sampaikan risalah dari Allah.

Sehingga apabila seseorang berbuat bid’ah adalah menuduh Nabi ﷺ berkhianat dengan tidak sampaikan risalah. Karena Islam sudah sempurna.

2. Islam nya Abdullah bin Saad Bin Abi Shar bagus dan meninggal saat sholat (sujud).

➡️ Hadits No. 53

٥٣ – عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ، قَالَ: (( أَمَرَنِيْ خَلِيْلِيْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ:
١- أَمَرَنِيْ بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَالدُّنُوِّ مِنْهُمْ. ٢- وَأَمَرَنِيْ أَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ دُوْنِيْ وَلَا أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِيْ. ٣- وَأَمَرَنِيْ أَنْ أَصِلَ الرَّحِمَ وَإِنْ أَدْبَرَتْ. ٤- وَأَمَرَنِيْ أَنْ لَا أَسْأَلَ أَحَدًا شَيْئًا.
٥- وَأَمَرَنِيْ أَنْ أَقُوْلَ بِالْحَقِّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا. ٦- وَأَمَرَنِيْ أَنْ لَا أَخَافَ فِي اللهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ. ٧- وَأَمَرَنِيْ أَنْ أُكْثِرَ مِنْ قَوْلِ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ فَإِنَّهُنَّ مِنْ كَنْزٍ تَحْتَ الْعَرْشِ. )) [وَفِيْ رِوَايَةٍ: فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوْزِ الْجَنَّةِ]. ))

Dari Abu Dzar, (bahwa) ia bercerita: “Kekasihku, Rasulullah ﷺ, memerintahkanku tujuh perkara (yaitu):

(1) Beliau memerintahkanku mencintai orang miskin dan bergabung bersama mereka.

(2) Beliau memerintahkanku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat orang yang berada di atasku (dalam perkara dunia).

(3) Beliau memerintahkanku menyambung tali silaturahim walaupun mereka berpaling menjauh.

(4) Beliau melarangku meminta sesuatu apa pun kepada orang lain.

(5) Beliau memerintahkanku mengatakan yang benar walaupun (sebenarnya) itu pahit.

(6) Beliau memerintahkanku untuk tidak takut atas celaan orang yang mencela dalam membela agama Allah.

(7) Beliau memerintahkanku memperbanyak ucapan *Laa haula walaa quwwata illaa billaah* (Tiada daya dan upaya melainkan atas pertolongan Allah), sebab kalimat itu termasuk perbendaharaan di bawah Arsy.

[Dalam sebuah riwayat disebutkan: karena kalimat itu termasuk salah satu dari perbendaharaan Surga].” [no. 2166]
(HR. Ahmad, Ibnu Hibban, ath-Thabrani, al-Khara-ithi, al-Baihaqi)

Semoga bermanfaat.

#salaf #hadits #akhlak #cinta #amanah #khianat

##$$-aa-$$##

Hadits-Albani

SILSILAH HADITS SHAHIH-11
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?