This entry is part 20 of 26 in the series Bulughul-maram
4 menit membaca

📖 *BULUGHUL MARAM-20*
🖋️ Ibnu Hajar as-Asqalani
Ustadz Muhammad Anwar, Lc MPd
17 Jumadil Awal 1447H/8 Nopember 2025
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Kitab ini berisi 1350 an hadits yang berkaitan dengan fikih.

✅ *Tentang Syarat Syarat Sholat —lanjutan*

🔹HADITS KE-165

وَعَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ رضي الله عنه قَالَ : ( رَأَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ زَادَ اَلْبُخَارِيُّ ( يُومِئُ بِرَأْسِهِ وَلَمْ يَكُنْ يَصْنَعُهُ فِي اَلْمَكْتُوبَةِ )
وَلِأَبِي دَاوُدَ : مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ : ( كَانَ إِذَا سَافَرَ فَأَرَادَ أَنْ يَتَطَوَّعَ اِسْتَقْبَلَ بِنَاقَتِهِ اَلْقِبْلَةِ فَكَبَّرَ ثُمَّ صَلَّى حَيْثُ كَانَ وَجْهَ رِكَابِهِ ) وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ

Amir Ibnu Rabi’ah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sholat di atas kendaraannya ke arah mana saja kendaraan itu menghadap. Muttafaq Alaihi.

Bukhari menambahkan: Beliau memberi isyarat dengan kepalanya namun beliau tidak melakukannya untuk sholat wajib.

Jadi sholat di atas kendaraan itu hanya untuk sholat sunnah, kecuali keadaan tertentu.

🔹Dalam riwayat Abu Dawud dari hadits Anas Radliyallaahu ‘anhu : Apabila beliau bepergian kemudian ingin sholat sunat maka beliau menghadapkan unta kendaraannya ke arah kiblat. Beliau takbir kemudian sholat menghadap ke arah mana saja kendaraannya menghadap. Sanadnya hasan.

Dalam shalat sunnah, boleh tidak hadap qiblat.

Hukum asal sholat wajib hanya boleh dilaksanakan di darat dan dengan gerakan yang sempurna.

Kalau di dalam kendaraan yang memungkinkan kita sholat secara sempurna dan maka boleh dilaksanakan sholat wajib.

Dalam keadaan darurat – boleh melaksanakan sholat wajib di atas kendaraan. Darurat misalnya waktu sholat sudah lewat bila menunggu perjalanan sampai tujuan.

🔹HADITS KE-166

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ رضي الله عنه عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ( اَلْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا اَلْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ ) رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَلَهُ عِلَّةٌ

Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Bumi itu seluruhnya masjid kecuali kuburan dan kamar mandi. Riwayat Tirmidzi tetapi ada cacatnya.

Faidah – belahan bumi mana saja boleh jadi tempat sholat kecuali kuburan dan kamar mandi.

Kamar mandi – identik dengan kotoran dan najis.

Kamar mandi
– diatas rooftop Yang bawah nya ada kamar mandi, ada yang memakruhkan, karena tempat berkumpulnya syetan.

🔹HADITS KE-167

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا-]قَالَ] : ( نَهَى اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ يُصَلَّى فِي سَبْعِ مَوَاطِنَ : اَلْمَزْبَلَةِ وَالْمَجْزَرَةِ وَالْمَقْبَرَةِ وَقَارِعَةِ اَلطَّرِيقِ وَالْحَمَّامِ وَمَعَاطِنِ اَلْإِبِلِ وَفَوْقَ ظَهْرِ بَيْتِ اَللَّهِ ) رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَضَعَّفَهُ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang untuk sholat di tujuh tempat:
1. tempat sampah
2. tempat penyembelihan hewan
3. pekuburan
4. tengah jalan
5. kamar mandi/WC
6. kandang unta dan
7. di atas Ka’bah. (karena tidak hadap arah kiblat)
Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dinilai lemah olehnya.

Kandang unta tidak harus berupa bangunan tapi tempat parkir unta.
Walaupun hadits ini lemah tapi maknanya benar.

Unta punya sifat yang ada kemiripan dengan sifat syetan. Contohnya dendam.

🔹HADITS KE-168

وَعَنْ أَبِي مَرْثَدٍ اَلْغَنَوِيِّ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتَ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : ( لَا تُصَلُّوا إِلَى اَلْقُبُورِ وَلَا تَجْلِسُوا عَلَيْهَا ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Abu Murtsad Al-Ghonawy berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Janganlah engkau sholat menghadap kuburan dan jangan pula engkau duduk di atasnya. Riwayat Muslim.

Yang dimaksud disini hadap kubur secara langsung. Batasan disesuaikan definisi adat daerah.

Sholat yang dibolehkan di kuburan adalah sholat jenazah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ

“Jika salah seorang dari kalian duduk di atas bara api, lalu terbakar baju dan kulitnya, itu lebih baik baginya daripada dia harus duduk di atas makam.” HR. Muslim

🔹HADITS KE-169

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ اَلْمَسْجِدَ فَلْيَنْظُرْ فَإِنْ رَأَى فِي نَعْلَيْهِ أَذًى أَوْ قَذَرًا فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيهِمَا ) أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

Dari Abu Said Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Apabila seseorang di antara kamu mendatangi masjid hendaklah ia memperhatikan jika ia melihat kotoran atau najis pada kedua sandalnya hendaklah ia membasuhnya dan sholat dengan mengenakannya. Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah.

Diantara syarat sah sholat adalah suci badan, pakaian dan tempatnya.

Masjid jaman dulu memungkinkan orang pakai sandal di dalamnya.

Bagaimana orang yang tahu ada najis di bagian pakaian.
1. Lupa sampai selesai – sah sholat nya

2. Lupa – ingat pas masih sholat.
2.1 Jika dimungkinkan hilangkan najis saat sholat maka hilangkan. Misal copot sandal nya.
2.2 jika tidak mungkin, ada khilaf. Tetap ganti, dengan batalkan sholat. Tetap lanjut tapi dapat dosa. ➡️Lebih baik dibatalkan.

2. Tahu – ada ulama yang membolehkan tapi berdosa. ➡️ Lebih baik ganti pakaian.

🔹HADITS KE-170

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا وَطِئَ أَحَدُكُمْ اَلْأَذَى بِخُفَّيْهِ فَطَهُورُهُمَا اَلتُّرَابُ ) أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Apabila seseorang di antara kamu menginjak najis dengan sepatunya maka sebagai pencucinya ialah debu tanah. Dikeluarkan oleh Abu Dawud. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

Jadi cukup digosokkan ke tanah.

Ummu Walad (budak wanita yang telah melahirkan anak untuk tuannya) milik Ibrahim bin ‘Abdirrahman bin ‘Auf pernah bertanya kepada Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhaa : Aku adalah wanita yang memanjangkan ujung/bagian bawah pakaianku sementara aku biasa berjalan di tempat yang kotor.”

Ummu Salamah menjawab: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

يُطَهِّرُهُ مَا بَعْدَهُ
“Tanah yang setelahnya akan membersihkan ujung pakaian itu.” 
HR. Abu Dawud.

🔹HADITS KE-171

وَعَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ اَلْحَكَمِ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِنَّ هَذِهِ اَلصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ اَلنَّاسِ إِنَّمَا هُوَ اَلتَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ اَلْقُرْآنِ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Muawiyah Ibnul Hakam Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Sesungguhnya sholat ini tidak layak di dalamnya ada suatu perkataan manusia. Ia hanyalah tasbih takbir dan bacaan al-Qur’an. Diriwayatkan oleh Muslim.

Gak boleh ngobrol.

🔹HADITS KE-172

وَعَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ رضي الله عنه قَالَ : ( إِنْ كُنَّا لَنَتَكَلَّمُ فِي اَلصَّلَاةِ عَلَى عَهْدِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يُكَلِّمُ أَحَدُنَا صَاحِبَهُ بِحَاجَتِهِ حَتَّى نَزَلَتْ : (حَافِظُوا عَلَى اَلصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ اَلْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ) ]اَلْبَقَرَة : ٢٣٨] فَأُمِرْنَا بِالسُّكُوتِ وَنُهِينَا عَنْ اَلْكَلَامِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

Zaid Ibnu Arqom berkata: Kami benar-benar pernah berbicara dalam sholat pada jaman Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam salah seorang dari kami berbicara dengan temannya untuk keperluannya sehingga turunlah ayat (Peliharalah segala sholat(mu) dan sholat yang tengah dan berdirilah untuk Allah dengan khusyu’) lalu kami diperintahkan untuk diam dan kami dilarang untuk berbicara. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Muslim.

Kalau dibutuhkan bicara saat sholat, dengan bahasa isyarat atau 1 kata, 2 kata.

Semoga bermanfaat,

#bulughulmaram #hadits #syarat #sah #sholat #sunnah #safar #kendaraan

##$$-aa-$$##

Digita Template

Bulughul-maram

BULUGHUL MARAM-19 BULUGHUL MARAM-21
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?