BULUGHUL MARAM-12
📖 *BULUGHUL MARAM-12*
🖋️ Ibnu Hajar as-Asqalani
Ustadz Muhammad Anwar, Lc MPd
16 Muharam 1447H/12 Juli 2025
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
Kitab ini berisi 1350 an hadits yang berkaitan dengan fikih.
🔸 *Tentang Mandi Dan Hukum Junub*
Sebelumnya, diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu anhaa, Nabi ﷺ dalam mandi Junub.
1. Cuci kedua telapak tangan
2. Gunakan tangan tangan untuk memindahkan air ke tangan kiri dan bersihkan kemaluan (dengan tangan kiri)
3. Wudhu
4. Mandi dengan tidak sentuh area kemaluan.
Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Biasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam jika mandi karena jinabat akan mulai dengan membersihkan kedua tangannya kemudian menumpahkan air dari tangan kanan ke tangan kiri lalu mencuci kemaluannya kemudian berwudlu lalu mengambil air kemudian memasukkan jari-jarinya ke pangkal-pangkal rambut lalu menyiram kepalanya tiga genggam air kemudian mengguyur seluruh tubuhnya dan mencuci kedua kakinya. Muttafaq Alaihi dan lafadznya dari Muslim.
Menurut Riwayat Bukhari-Muslim dari hadits Maimunah: Kemudian beliau menyiram kemaluannya dan membasuhnya dengan tangan kiri lalu menggosok tangannya pada tanah.
Dalam suatu riwayat: Lalu beliau menggosok tangannya dengan debu tanah. Di akhir riwayat itu disebutkan: Kemudian aku memberikannya saputangan (handuk) namun beliau menolaknya. Dalam hadits itu disebutkan: Beliau mengeringkan air dengan tangannya.
Maimunah kebiasaannya memberikan handuk kepada Rasulullah ﷺ setelah wudhu dan Rasulullah ﷺ juga ambil handuk untuk keringkan tangan dari air wudhu.
Yang lebih baik adalah bersabar dengan sisa air wudhu.
➡️ *HADITS KE-102*
وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( قُلْتُ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ إِنِّي اِمْرَأَةٌ أَشُدُّ شَعْرَ رَأْسِي أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ اَلْجَنَابَةِ؟ وَفِي رِوَايَةٍ: وَالْحَيْضَةِ؟ فَقَالَ: لَا إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِي عَلَى رَأْسِكِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ ) رَوَاهُ مُسْلِم
Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku bertanya wahai Rasulullah sungguh aku ini wanita yang mengikat rambut kepalaku. Apakah aku harus membukanya untuk mandi jinabat? Dalam riwayat lain disebutkan: Dan mandi dari haid? Nabi ﷺ menjawab: “Tidak tapi kamu cukup mengguyur air di atas kepalamu tiga kali.” Riwayat Muslim.
Melepaskan ikatan rambut bagi wanita yang ingin mandi junub tidak dipermasalahkan.
Sehingga terjadi khilaf.
1. Tidak ada kewajiban untuk buka ikatan rambut saat mandi junub atau mandi biasa.
2. Rambut tidak tebal maka tidak perlu buka ikatan rambut.
3. Ada yang merinci. Jika mandi besar- mandi setelah haid – wajib buka ikatan rambut. Kalau junub tidak perlu buka ikatan rambut.
➡️ *HADITS KE-103*
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِنِّي لَا أُحِلُّ اَلْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلَا جُنُبٌ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَة
Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi orang yang sedang haid dan junub.” Riwayat bu Dawud dan hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah.
Muncul permasalahan, apakah wanita haid tidak boleh berdiam diri dalam masjid?
Ada khilaf..
1. Mutlak tidak boleh
2. Boleh
3. Jika ia dalam kondisi haid, boleh masuk ke dalam masjid dan diam diri dengan syarat darah haid tidak mengotori Masjid.
Ini beda dengan Junub. Karena Junub ada daya upaya untuk hilangkan hadats besar.
➡️ *HADITS KE-104*
وَعَنْهَا قَالَتْ: ( كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ تَخْتَلِفُ أَيْدِينَا فِيهِ مِنَ اَلْجَنَابَةِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِزَادَ اِبْنُ حِبَّانَ: وَتَلْتَقِي
Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu pula dia berkata: Aku pernah mandi dari jinabat bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dengan satu tempat air tangan kami selalu bergantian mengambil air. Muttafaq Alaihi. Ibnu Hibban menambahkan: Dan tangan kami bersentuhan.
Faidah.
1.Tangan orang yang Junub itu suci dan boleh masuk ke dalam air dan air tetap suci.
2. Tidak ada batasan aurat bagi suami dan istri.
➡️ *HADITS KE-105*
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِنَّ تَحْتَ كُلِّ شَعْرَةٍ جَنَابَةً فَاغْسِلُوا اَلشَّعْرَ وَأَنْقُوا اَلْبَشَرَ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَضَعَّفَاه
وَلِأَحْمَدَ عَنْ عَائِشَةَ نَحْوُهُ وَفِيهِ رَاوٍ مَجْهُول
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya di bawah setiap helai rambut terdapat jinabat. Oleh karena itu cucilah rambut dan bersihkanlah kulitnya.” Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi dan keduanya menganggap hadits ini lemah.
Menurut Ahmad dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu terdapat hadits serupa. Namun ada perawi yang tidak dikenal.
Usahakan seluruh rambut termasuk bulu pada tubuh terkena air.
Ringkasnya – rukun mandi besar (termasuk Junub) hanya dua yaitu niat dan alirkan air ke seluruh tubuh. Misalnya orang yang Junub, punya niat hilangkan hadats besar maka dia nyebur ke kolam renang sudah cukup rukun nya.
Tidak ada keterangan doa yang dibaca setelah mandi Junub, maka cukup kita baca doa setelah wudhu.
Kapan wajib mandi?
1. Jima’
2. Keluar mani
3. Kematian
4. Haid
5. Nifas
Sunah dianjurkan mandi.
1. Mandi Jumat (pendapat lain wajib).
2. Sebelum sholat Ied
3. Sebelum sholat Istiqa’
4. Setelah memandikan jenazah
5. Setelah masuk Islam
6. Mandi Ihram.
7. Masuk kota Madinah/Mekkah.
🔸*TAYAMUM*
Makna tayamum – sengaja. Menyengaja diri untuk tempelkan dua tangan ke permukaan bumi (pasir, batu, atau yang ada debu) dan gunakan untuk usap wajah (ringan gak harus seperti wudhu) dan (punggung telapak) tangan.
Ada sebagian orang yang bertayamum dengan cara yang memberatkan.
Tayamum bukan hanya sebagai ganti wudhu tapi juga ganti mandi hadats besar Junub (bila tidak ada air bukan karena sulit air).
Boleh tepuk tanah dua kali (satu untuk wajah dan satu untuk satu tangan).
Tidak harus tertib karena Rasulullah ﷺ menggunakan kata و (dan).
➡️*HADITS KE-106*
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي اَلْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ أَدْرَكَتْهُ اَلصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ ) وَذَكَرَ اَلْحَدِيث
وَفِي حَدِيثِ حُذَيْفَةَ عِنْدَ مُسْلِمٍ: ( وَجُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ اَلْمَاءَ )
Dari Jabir Ibnu Abdullah bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Aku diberi lima hal yang belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelumku yaitu aku ditolong dengan rasa ketakutan (musuhku) sejauh perjalanan sebulan; bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud (masjid) dan alat bersuci maka siapapun menemui waktu shalat hendaklah ia segera shalat.” Muttafaq Alaihi.
Dan menurut Hadits Hudzaifah Radliyallaahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan: “Dan debunya dijadikan bagi kami sebagai alat bersuci.”
✅ Faidah
1. Dianjurkan untuk menampakkan/menceritakan nikmat kita kepada orang-orang yang tidak akan timbul dengki padanya.
2. Tunaikan sholat pada waktunya.
Semoga bermanfaat.
#tayamum #wudhu #junub #haid #nifas #sederhana #ringan

