HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-12 )
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – perhiasan bagi penuntut ilmu (bagian-1)
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – perhiasan bagi penuntut ilmu. (bagian-2)
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-3)
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-4)
- *HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-5)
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-12 )
- *HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-6 )
- *HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-7 )
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-8 )
- HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu (bagian-9 )
Diterbitkan pertama kali pada: 30-Jan-2022 @ 06:44
2 menit membaca*HILYAH THOLIBIL ‘ILMI – Perhiasan bagi Penuntut Ilmu* (bagian-12 )
Karya Syaikh Bakar Abu Zaid
Ustadz Muhammad Anwar, Lc MPd
27 Jumadil Akhir 1443H
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
Kita lanjutkan..
➡️ *25. AMBISI besar dalam menuntut ilmu*
Jangan terpedaya dengan angan-angan. Tapi harus punya ambisi untuk benar-benar serius dalam menuntut ilmu.
Ali bin Abi Thalib berkata, “Seseorang akan bernilai dengan keahlian yang dia miliki”.
Jangan terpedaya dengan anggapan bahwa ilmu itu sudah dipelajari dan diselesaikan oleh para ulama.
Kita harus punya azzam bahwa banyak ilmu yang ditinggalkan para ulama yang harus kita pelajari.
🖍️Nasihat Imam Syafi’i kepada muridnya, “Wahai saudaraku, tidak mungkin engkau dapatkan ilmu kecuali mempunyai 6 perkara:
1. Sehat akal
2. Ambisi
3. Semangat dengan disertai kesabaran
4. Modal, mau berkorban harta
5. Belajar dengan ustadz/guru
6. Panjang nya waktu belajar”.
🖍️Ahmad bin Abduljahil berkata, ‘orang mulia tidak mungkin sama dengan orang yang hina. Begitu pun, orang cerdas tidak serupa dengan orang lain dungu. Nilai seseorang adalah semua keahliannya. Itulah pesan Ali bin Abi Thalib”.
➡️ *26 PERJALANAN MENUNTUT ILMU*
Syaikh mengatakan, “Orang yang tidak banyak melakukan perjalanan (dalam menuntut ilmu), tidak akan layak menjadi tujuan perjalanan (guru)”.
Orang yang melakukan perjalanan akan memiliki azzam dan keseriusan yang lebih daripada orang yang tidak melakukan perjalanan.
Syaikh melanjutkan, ⛔”Waspadalah terhadap kemalasan melakukan perjalanan menuntut ilmu gara-gara angan ilmu khiraq (ilmu yang di dapat dengan tiba-tiba, ilmu laduni)”. ⛔
Mereka yang meyakini adanya ilmu khiraq, sampai ada yang berpemahaman tidak perlu menjalankan beban syariat, bahkan ada yang meyakini bisa menyatu dengan Allah.
Mereka Berdalil dengan *hadits sangat dhaif, bahkan palsu* ” Siapa yang beramal dengan ilmunya, Allah akan menurunkan ilmu yang tidak dia pelajari”.
Mereka juga salah dalam memahami firman Allah, (ada kata mil ladunnaa).
فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَا دِنَاۤ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا
“lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 65)
✔️Lihatlah bagaimana Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang sangat fokus dalam menuntut ilmu, termasuk golongan ahlu suffah, yang tinggal di masjid Nabawi dekat rumah Rasulullah ﷺ.
➡️ *27. JAGALAH ILMU DENGAN CARA MENCATATNYA*
Bersungguh-sungguh dalam menjaga ilmu (dengan menulis), karena mengikat ilmu dengan tulisan akan menghindarkan dari kehilangan dan memperpendek waktu pencarian ketika membutuhkan.
Salah satu manfaat besar adalah ketika usia semakin tua dan kekuatan semakin lemah.. Kita bisa melihat cacatan kita.
Manusia dinamakan insan (Nisyan) karena punya sifat lupa.
Catatlah Faidah-Faidah baru dari ilmu diajarkan guru kita.
Kumpulkan catatan-catatan tersebut dalam himpunan tema.
➡️ *28. JAGALAH ILMU DENGAN PERHATIAN DAN DIAMALKAN*
Yaitu dengan cara mengamalkan dan Ittiba Rasulullah ﷺ.
Imam Al Baghdadi berkata, ‘Wajib penuntut ilmu ikhlas dalam belajar dan bertujuan mencari ridha Allah”.
Jangan sampai menuntut ilmu ini menjadi jembatan untuk meraih kenikmatan dunia.
Orang yang seperti ini terancam oleh hadits Nabi ﷺ, yang tidak mencium bau surga (tidak masuk surga).
*Hati-hati dengan sikap sombong, menampakkan diri orang berilmu.*
Hindari menuntut ilmu dengan niat memperbanyak pengikut.
Hendaknya orang yang menuntut ilmu itu punya keistimewaan tersendiri yang membedakan dengan orang awam.
Tampakkan nilai-nilai mulia dari ilmu yang kita pelajari dalam pergaulan.
Semoga bermanfaat..
##$$-aa-$$##

