Diterbitkan pertama kali pada: 01-Jul-2020 @ 21:00

5 menit membaca

Adab memuliakan tamu
Ustadz Muhammad Anwar
25 Jumadil Akhir 1440H

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari)

Siapa tamu? Dari segi makna syari, Tamu adalah setiap orang yang disebut musafir dan mampir ke rumah kita.

Sedangkan siapa yang mampir ke rumah yang bukan musafir itu adalah tamu secara urf (kebiasaan).

Firman Allah berikut tidak boleh diterapkan untuk tamu yang bukan musafir.

فَإِن لَّمْ تَجِدُوا۟ فِيهَآ أَحَدًۭا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّىٰ يُؤْذَنَ لَكُمْ ۖ وَإِن قِيلَ لَكُمُ ٱرْجِعُوا۟ فَٱرْجِعُوا۟ ۖ هُوَ أَزْكَىٰ لَكُمْ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌۭ
Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin.
Dan jika dikatakan kepadamu: “Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Qs An Nur 28.

Dikatakan kepada Ahmad rahimahullaah”: jika seandainya datang kepada seseorang, seorang tamu kafir apakah dia memuliakan tamunya ?

beliau berkata:” Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Malam bertamu adalah kewajiban atas setiap Muslim (untuk memuliakannya), dan hadits ini sungguh jelas, dan ketika seorang musyrik dimuliakan, ini menunjukkan bahwasanya

Dari Ahmad ada satu riwayat, sesungguhnya seorang tamu jika dia turun disuatu kaum dan mereka tidak menjamu tamunya, maka bagi tamunya berhak untuk mengambil harta mereka sebanding dengan jamuan tamunya, walaupun mereka tidak mengetahuinya, karena hadits ‘Uqbah bin ‘Amir radliallaahu ‘anhu bahwa dia berkata; “Kami bertanya; “Wahai Rasulullaah, sesungguhnya anda mengutus kami, lalu kami singgah di suatu kaum, namun mereka tidak menjamu kami, maka Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami: “Jika kalian singgah di suatu kaum, lalu mereka melayani kalian sebagaimana layaknya seorang tamu, maka terimalah layanan mereka. Jika mereka tidak melayani kalian, maka kalian boleh mengambil dari mereka hak tamu yang layak bagi mereka.” diriwayatkan oleh Al-Bukhari no ( 2461 ), dan Muslim ( 1727 ).

Siapa yang wajib menjamu tamu?
1. Pendapat pertama, hanya orang kampung karena susahnya cari penginapan, makan dll
2. Semua, baik orang yang tinggal di kampung maupun kota.

Pendapat kedua adalah jumhur ulama dan lebih muat.

“dari Abu Syuraih Al-Ka’bii radhiyallaah ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:” barangsiapa yg beriman kepada Allaah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya, memuliakannya sehari semalam, dan menjamu tamu adalah tiga hari, adapun setelah itu, maka itu adalah shadaqah, maka tidak dihalalkan baginya untuk bertamu kepadanya sehingga menyakitinya ( Muttafaqun ‘alaihi, HR.Al-Bukhari no 6135, dan Muslim no 14, 48 Kitab Al-Luqathah )diriwayat lain, para shahabat berkata:” wahai Rasulullah, bagaimana menyakitinya ?, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata:” sang tamu tinggal bersamanya, sedangkan ia tidak punya apa-apa untuk menjamu tamunya”. ( HR.Muslim no 4611 )

Ibnul Qayyim menyebutkan dari hadits di atas..
1. Wajib ( 1 hari)
2. Penyempurnaan sunnah (3 hari)
3. Sedekah (lebih dari 3 hari)

Adab ahlul bait dalam menyambut tamu..
1. Menampakkan rasa senang
2. Menempatkan tamu di kamar yang baik dan peralatan penunjang yang baik. Jika darurat, tidak mengapa dengan mencarikan penginapan lain.
3. Jangan menanyakan kepada tamu, “mau minum apa?” yang benar adalah hidangkan makanan dan minuman terbaik yang ada.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا ۖ قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ فَرَاغَ إِلَىٰ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ

“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaman,” Ibrahim menjawab: “Salamun” (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka, dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim berkata: “Silahkan kamu makan”. [Adz-Dzaariyaat /51:24-27].

Ibnu Abbas berkisah, dia berkata, Abu Bakar keluar masjid di suatu siang, Umar melihatnya, dia berkata, “Wahai Abu Bakar, apa yang membuatku keluar di saat-saat seperti ini?” Abu Bakar menjawab, “Yang membuatku keluar tidak lain kecuali rasa lapar yang melilit perutku.” Umar berkata, “Sama dengan diriku, aku juga tidak keluar kecuali karena rasa lapar yang berat.”

Ketika keduanya dalam keadaan demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dan bertemu dengan mereka berdua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa yang membuat kalian keluar di saat-saat seperti ini?” Keduanya menjawab, “Demi Allah, yang membuat kami keluar tidak lain kecuali rasa lapar berat yang mendera perut kami.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku demi dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak keluar kecuali karena itu pula. Bangkitlah bersamaku.”

Maka mereka berangkat dan mendatangi Abu Ayyub al-Anshari. Abu Ayyub sendiri selalu menyimpan makanan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak datang kepadanya maka dia akan memberikannya kepada keluarganya.

Manakala mereka mendekati pintu, Ummu Ayyub menyambut mereka. Dia berkata, “Selamat datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang bersamanya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambertanya, “Di mana Abu Ayyub?” Abu Ayyub yang sedang bekerja di kebun yang tidak jauh dari rumah mendengar suara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia bergegas datang dan berkata, “Selamat datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang bersamanya.” Kemudian Abu Ayyub menambahkan, “Wahai Nabiyullah, ini bukan waktu di mana engkau biasa datang.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kamu benar.”

Lalu Abu Ayyub pergi ke sebuah pohon kurma dan memotong salah satu janjang yang berisikan kurma segar, yang sudah matang dan kurma setengah matang (yang sudah enak dimakan). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Aku tidak ingin kamu memotongnya, mengapa kamu tidak memetik buahnya saja.”

Abu Ayyub menjawab, “Ya Rasulullah, aku ingin engkau memakan buahnya, kurma segar yang sudah matang dan kurma setengah matang (yang sudah enak dimakan). Aku juga akan menyembelih kambing untukmu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan menyembelih hewan perahan.”

Maka Abu Ayyub pun menyembelih kambing muda dan dia berkata kepada istrinya, “Buatlah adonan dan roti untuk tamu kita. Kamu lebih tahu bagaimana membuatnya.” Abu Ayyub sendiri mengambil setengah dari kambing yang disembelihnya untuk kemudian memasaknya dan setengahnya lagi dia panggang. Manakala makanan sudah matang, dihidangkan di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kedua sahabatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil sepotong daging dan meletakkannya di atas sepotong roti, beliau bersabda, “Wahai Abu Ayyub, berikanlah ini dengan segera kepada Fatimah, karena dia tidak pernah makan seperti ini beberapa hari lamanya.” Lalu mereka makan sampai kenyang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Roti, daging, kurma, kurma segar dan kurma setengah matang.”

Tiba-tiba kedua mata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meneteskan air mata, kemudian beliau bersabda,

“Demi dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya ini adalah kenikmatan di mana kalian akan ditanya tentangnya di hari kiamat.”

4. Kita yang menghidangkan makan atau minum dengan adab (sebaiknya bukan pembantu)

5. Jangan cerita harga (makanan, minuman) walaupun ditanya.. Dikuatirkan akan jatuh larangan menyebut-nyebut kebaikan.

6. Jangan angkat makanan yang dihidangkan selagi tamu masih makan kecuali untuk hidangkan yang lain.

7. Ajak bicara tamu selagi tamu masih asyik mau ngobrol.

Hadits larangan ngobrol setelah Isya.. Kecuali
7.1. Ngobrol dengan istri
7.2. Mengulang pelajaran (diskusi ilmu)
7.3. Memuliakan tamu.

8. Apabila tamu pamit, kita antar sampai kendaraan (minimal keluar rumah).

##$$-aa-$$##

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?